ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-51



...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Hai, kau pasti Juliet. Aku Maxim." dua orang pria tak dikenal menghampiri Juliet sambil mengulurkan tangan. Juliet bergeming sambil mengerutkan keningnya, pasalnya ia sama sekali tidak pernah melihat kedua pria itu sebelumnya.


Pria berambut coklat dengan lesung pipi, serta pria berambut hitam yang tinggi nya mungkin diatas 180cm.


"Ah, maaf. Kau pasti bingung. Kami teman Romeo, kami pernah melihat mu sebelumnya, di pesta Gabe. Dan ini teman ku, Troy." kata pria bernama Maxim itu. Pria yang memiliki lesung pipi. "Ya. Aku tidak begitu ingat. Maaf." kata Juliet bersikap ramah seadanya.


Saat ini Juliet memang sedang sendirian, karena sebelumnya Romeo pergi bersama James untuk bertemu dengan seseorang yang katanya adalah tamu penting dari keluarga James. Juliet tidak menanyakan apapun, karena katanya mereka hanya pergi sebentar. Dan ia diminta tidak pergi kemanapun.


Karena itulah dengan patuh ia menunggu di seberang meja yang sedikit jauh dari kerumunan. Tapi meskipun begitu, Juliet sendiri lah yang memutuskan untuk tidak ingin mengakrabkan diri dengan siapapun. Termasuk dengan teman-teman dari suaminya. Bisa berbahaya jika ia melakukan sesuatu diluar kendali. Apalagi ia tidak mengenal siapapun, kecuali James dan Rachael.


"Jika kalian ingin bertemu Romeo, seperti kalian harus menunggu, Romeo sedang pergi bersama James. Jadi kalian,-


Maxim, pria itu tertawa kecil, membuat Juliet memandangi keduanya dengan dahi berkerut. Apa ada yang lucu dari perkataan ku? "Maaf jika aku bersikap tak sopan." Maxim masih menahan tawa. "Kami disini bukan untuk bertemu Romeo. Tapi kami ingin bertemu dengan mu. Kau tidak keberatan kan kalau kami disini bersama mu?"


"Bicara?" apa yang ingin mereka bicarakan? apa mereka benar-benar tidak peka? sejak kapan aku terlihat senang bersama mereka? "Apa?" kata Juliet tak ingin berbasa-basi. "Kami hanya ingin tahu lebih banyak tentang mu. Kau terlihat menarik." pria yang bernama Troy menyela. Pria itu juga tersenyum, dan sedikit lebih tampan dibandingkan pria bernama Maxim.


"Tentang aku?" Juliet tertawa hambar. "Aku yakin tidak ada apapun yang menarik tentang ku." katanya, "Lagi pula mungkin kita tidak akan bertemu lagi." ujar Juliet asal.


"Kenapa? kau sudah mau pulang ke negara mu? ataukah kau akan pergi ke negara lain lagi?" Juliet mendengus. Ia tidak tahu jika kedua pria itu memiliki keingintahuan yang lebih terhadap dirinya sampai seperti ini. "Ya. Aku akan kembali dalam waktu dekat."


Padahal yang dimaksud Juliet bukan seperti yang para pria itu pikirkan, tapi biarlah. ia terlalu malas untuk menceritakan lebih banyak tentang dirinya. Toh mereka memang tidak akan bertemu lagi. "Sayang sekali kalau begitu." Sela Troy lagi. "Padahal akan menyenangkan jika kita bisa berkumpul lebih sering untuk mengakrabkan diri. Apalagi kalau kau bisa lebih akrab dengan kekasih dari sepupu mu." katanya sedikit menyayangkan.


Kekasih sepupuku? maksudnya Romeo? Juliet kembali bergeming. "Kakak sepupu ku memiliki seorang kekasih? siapa?"


"Kau tidak tahu?" Juliet menggeleng. Tentu saja ia tidak tahu. Jika ia tahu Romeo memiliki kekasih, mungkin saja sejak awal ia sudah memiliki alasan untuk menolak perjodohannya. Tapi selama ini Romeo tidak pernah mengatakan apapun tentang kekasih, ataupun mantan kekasih. Tidak pernah.


"Kau tahu siapa yang ditemui mereka saat ini?" pertanyaan aneh. Sekali lagi Juliet menggeleng dengan disertai dahi berkerut. "Yang ditemui Romeo bersama James adalah putri dari keluarga Troner. Tepat nya Rebecca Troner. Putri dari wakil PM." tambahnya.


"Aku ingat, selama kami berteman, Becca adalah wanita pertama yang membuat manusia es seperti Romeo bisa mencair." cerita keduanya dengan bangga, karena bisa membagikan kisah asmara Romeo yang tidak sedikit pun Juliet ketahui.


"Katanya Becca baru kembali minggu lalu. Dan memiliki rencana untuk menetap di sini lagi bersama keluarganya. Aku yakin Romeo pasti sedang berbunga-bunga saat ini. Bagaimana pun, dulu mereka pasangan yang hebat." Kini Maxim lah yang bercerita dengan sedikit antusias.


"Tentu saja. Ditambah lagi Becca adalah wanita yang cantik. Banyak putra pengusaha lain yang juga sedang mengejar-ngejar nya. Bahkan diawal kepulangan nya saat di airport. Aku melihat beritanya." keduanya tertawa lepas.


Mendengar cerita-cerita yang sama sekali tidak pernah ia ketahui sebelumnya membuat kepala Juliet berdenyut. Bagaimana bisa Romeo tidak pernah menyinggung hal seperti ini sebelumnya? ditambah lagi, seorang kekasih? Cih. Bisa-bisanya.


Dari tempatnya berdiri, tanpa sadar Juliet melihat keberadaan Romeo yang baru keluar dari balik pintu, tepat di seberang sana. Memang cukup jauh dari tempatnya, dan dibelakangnya... ada seorang wanita menyusul. Apa itu orangnya?


"Kau lihat." suara Maxim yang saat ini sudah berdiri di samping Juliet melihat kearah yang sama. Juliet tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan pria itu, karena musik yang sedang dimainkan.


"Gadis itu bernama Becca. Kekasih Romeo." tambah nya sedikit berteriak. Juliet yang sejak tadi terus mengamati kearah Romeo merasa jengkel atas kenyataan yang baru saja diketahui. Kekasih? Cih. Yang benar saja. "Mau minum?" tawar Troy yang juga berdiri di sebelah kanan Juliet.


Saat ini ketiganya sudah seperti sekelompok pengamat yang tidak memiliki kegiatan apapun selain memperhatikan dan menjejalkan beberapa fakta tentang apa yang sedang mereka lihat. Salah satunya tentang Romeo.


Brengsek. Katanya kau mau mengakui hubungan Kita. Tapi apa sekarang? kau punya kekasih tanpa sepengetahuan ku? huh! Cinta pertama mu? Juliet benar-benar merasa meradang. Bisa-bisanya ia percaya dengan semua perkataan Romeo sedangkan dibalik semua itu pria itu tidak pernah mengatakan apapun tentang dirinya.


Hatinya benar-benar terasa sakit. Ia pikir hubungan mereka sudah baik-baik saja. Ia pikir tidak ada yang perlu mereka tutup-tutupi lagi. Tapi apa semua ini? cinta pertama? kekasih yang datang kembali?


Mata Juliet kembali membulat sempurna dengan rasa panas yang mulai merayapi bertanya. Saat melihat wanita yang berdiri di depan suaminya itu sedang tersenyum tidak jelas sambil bergelayut manja. Benar-benar bodoh jika aku percaya padamu sekarang!


Menyebalkan! pemandangan di depan sana benar-benar membuat sakit mata.


Kau pikir cuma dirimu yang bisa mempermainkan perasaan ku seperti ini? dasar pria brengsek. Pembohong. Juliet mencaci Romeo dalam hati.


"Mau berdansa?" Saking marahnya melihat Romeo bersama wanita lain, Juliet pun ingin melakukan apa saja untuk membalas perbuatan pria itu pada dirinya. Karena itulah ia mengajak salah satu dari pria yang ada di dekatnya untuk berdansa. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa melakukan apa saja tanpa Romeo.


Masa bodoh dengan tidak boleh menarik perhatian. Masa bodoh dengan jangan berbicara dengan orang asing. Masa bodoh juga dengan hanya milikmu! Kau pembohong!


"Kau mengajakku? tentu." Dengan senang hati Troy menyambut tangan Juliet, dan menerima ajakan wanita itu untuk berdansa. Tanpa tahu bahwa saat ini wanita itu hanya memanfaatkan dirinya untuk membuat pria yang berdiri di seberang sana merasakan apa yang saat ini sedang ia rasakan. Itupun jika Romeo memang benar-benar perduli pada dirinya.


Ditengah-tengah lantai dansa yang dipenuhi oleh beberapa pasangan dansa, Troy menggenggam tangan Juliet dan melingkarkan tangan di pinggang wanita itu hingga posisi keduanya benar-benar menjadi dekat.


Tubuh Juliet meremang. Jujur saja ia merasa sedikit tak nyaman berada sedekat ini dengan orang asing. Tapi untungnya, sepertinya Troy bukan pria yang suka mencari kesempatan.


"Katakan saja kalau aku membuat mu tidak nyaman." kata Troy yang saat itu memulai langkah pertamanya. Juliet tidak mengatakan apapun. Pikiran nya saat ini sedang dipenuhi oleh hal lain. Ia hanya bergerak mengikuti instingnya. Toh ia memang sudah terbiasa berdansa saat menemani opa Adam, dulu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Troy lagi, saat menarik Juliet untuk kembali menyatu dengan dirinya. "Hem. Aku baik-baik saja." kata Juliet. "Sudah lama aku tidak berdansa, jadi aku sedikit gugup."


Beruntungnya pria yang berdansa dengan Juliet saat ini adalah pria yang cukup peka dan juga pria yang sopan. Saat musik mencapai pertengahan, Troy kembali memutar tubuh Juliet dan sekilas Juliet bisa melihat tatapan Romeo yang saat ini tengah menatap tajam pada dirinya.


Deg...


Jantung Juliet berdegup cepat. Tapi bukan karena ia merasa senang. Justru sebaliknya, karena ia merasa marah melihat wanita yang katanya adalah kekasih dari suaminya terus menempel di samping suaminya seperti ulat bulu.


Nafas Juliet sedikit memburu saat sekali lagi ia harus berputar, dan dengan cepat Troy kembali menarik tangannya hingga tubuh mereka kembali pada posisi yang seharusnya, dan musik pun berakhir.


Troy membungkuk untuk memberikan penghormatan pada pasangan berdansa nya. "Kau hebat sekali. Aku bahkan hampir tak percaya kalau kau sudah lama tidak berdansa." puji Troy. Pria itu masih saja bersikap sopan, tanpa tahu bahwa Juliet hanya sedang memanfaatkan dirinya.


"Kau juga Troy. Sepertinya kau juga terbiasa dengan acara seperti ini." balas Juliet. "Yah, bisa di bilang begitu." Keduanya pun kembali ketempat mereka semula. Masih dengan nafas yang sedikit memburu Juliet hampir saja tersentak saat menyadari bahwa saat ini Romeo sudah berdiri tepat dihadapannya.


Mata keduanya saling bertemu. Sorot tajam dari netra Romeo membuat Juliet sedikit merinding. Hanya saja, ia tidak akan bergeming karena intimidasi pria yang sudah membohongi dirinya.


"Romeo. Kau di sini?" Troy berdiri di samping Juliet sambil tersenyum. "Aku mengajak sepupu mu untuk berdansa, tadi. Kau tidak keberatan kan?" ujar Troy memecah keheningan. Romeo tidak bergeming.


"Kalian sudah selesai bukan? aku harus membawa Juliet bersama ku." kata Romeo dingin. Ia mengabaikan keberadaan Troy yang tepat berdiri di samping Juliet. Sedang tatapan nya hanya tertuju pada wanita yang saat ini tengah mengobrak-abrik akal sehatnya. "Kami belum selesai. Aku masih memiliki hutang satu kali berdansa lagi." jawab Juliet cepat, ia mengaitkan kembali tangannya pada lengan Troy.


Troy yang tidak tahu ada hal seperti itu hanya diam saja mengikuti Juliet. "Kalau begitu kami permisi. Kau sibukkan? lanjutkan saja. Aku tidak akan menggangu." kata Juliet dengan tatapan sinis.


Saat ini ia sedang tidak ingin bertengkar dan membuat keributan di depan banyak orang. Namun Juliet juga tidak ingin diperlakukan seperti seorang wanita pengganti oleh pria yang menatapnya tajam seperti ini. Karena itu lebih baik ia menghindar.


"Ayo Troy." Juliet menarik tangan pria itu namun langsung di hadang oleh Romeo. "Siapa yang mengijinkan mu untuk berdansa lagi. Kita pulang sekarang." cegah Romeo penuh peringatan. Romeo juga menarik lepas tangan Juliet yang sebelumnya melingkar ditangan Troy.


"Wow.. bro.. tenanglah. Aku tidak melakukan hal yang aneh dengan sepupu mu." Sela Troy menyadari kemarahan Romeo.


"Pergi lah Troy. Ini urusan kami." kecam Romeo menatap tajam pria yang telah menyentuh wanitanya.


Juliet yang tidak ingin diseret didepan banyak orang menarik tangannya dengan cepat dari genggaman Romeo. Sudah cukup ia dipermalukan. Ditambah lagi ia juga harus menerima semua kebohongan Romeo. Juliet benar-benar tidak bisa menerima semuanya begitu saja.


"Lepas! Aku bisa jalan sendiri."


...❄️...


...❄️...


...❄️...