ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-10



...❄️❄️❄️...


.......


.......


.......


Juliet memilih beberapa buku yang sedang ia butuhkan untuk bahan-bahan referensi pada skripsi miliknya. Sebelumnya Juliet juga sudah membatalkan niat awalnya untuk menunda sidang skripsi nya hingga tahun depan..


Yang di katakan teman-temannya benar. Bagaimana pun Juliet ingin menunda, ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk melakukan semua itu. Juliet tidak bisa lari dari takdir nya. Karena semua harus terjadi seperti apa adanya.


"Sepertinya hidup ku tidak lebih baik dari novel ini." Juliet meletakan satu lagi buku dalam keranjang nya.


Selain buku-buku referensi yang di butuhkan sebagai bahan skripsi, Juliet juga membeli novel-novel yang sedang naik daun sebagai salah satu cara untuk mengurangi kejenuhan. Juliet termasuk salah satu wanita yang gemar membaca.


Karena itulah, ia lebih sering memanfaatkan waktu dikamar berkutat dengan buku-buku. Setelah bosan dengan buku, Juliet akan mengalihkan perhatian pada film-film romantis dari negeri sakura favoritnya. Begitulah kehidupan Juliet selama ini. Terdengar sangat biasa saja. Juliet pun mengakui hal itu.


...❄️❄️❄️...


Setelah memilih kurang lebih dua puluh buku bacaan, Juliet juga memilih beberapa buku bertema tentang pernikahan.


Juliet sangat menyadari jika pernikahan yang akan ia jalani nanti hanyalah sebuah kamuflase yang Juliet dan Romeo ciptakan sendiri. Pernikahan yang di jalani demi kebebasan dan keuntungan masing-masing dari kedua belah pihak.


Tapi meskipun begitu Juliet tetap harus mengetahui apa arti dari sebuah pernikahan. Menurut paham seorang Juliet, dengan otaknya yang cemerlang setidaknya ia harus mengetahui dasar-dasar dari sebuah pernikahan yang akan ia jalani nanti.


Dengan begitu, meskipun Juliet hanya menjalankan sebuah peran sebagai istri, setidaknya Juliet tahu bagaimana harus bersikap selayaknya seorang istri yang baik di depan keluarga besar nya dan juga di depan keluarga besar dari suaminya.


Juliet tidak ingin mengacaukan apa yang sudah ia dan Romeo rencana sejauh ini. Juliet sudah hafal benar apa yang harus di lakukan nya seperti yang tertulis di dalam surat perjanjian mereka. Hanya saja untuk urusan yang lainnya Juliet harus belajar sendiri.


"Huh! Kenapa gue harus repot gini ya? Kayanya bakalan lebih sulit dari pada ujian nasional deh. Juliet. Juliet. Lo juga sih main setuju-setuju aja. Gak mikir apa Lo? ribet kan? Mana Romeo nyebelin banget lagi. Sial banget hidup gue." Juliet mendumel seorang diri.


...❄️❄️❄️...


Sebuah tangan menyentuh bahu Juliet dengan begitu berhati-hati, "Hai, Lo disini juga?" Randy berdiri di belakang Juliet dengan ekspresi tidak menyangka bahwa mereka akan kembali bertemu. Sedang Juliet harus memalingkan badannya untuk melihat Randy.


"Rand, Lo ngapain di sini? nyari buku juga? tumben banget." komentar Juliet yang tidak menunjukkan ekspresi lain selain wajah penuh tanya di sertai tatapan intens kepada Randy.


"Iya. Gue nyari buku ini." Randy menunjukkan buku bertuliskan 'Good management' karya salah satu pebisnis muda terkenal dari Amerika. Randy berbeda jurusan dengan Juliet.


Dan sejak mereka berteman Juliet sudah tahu jika Randy adalah anak dari salah satu pengusaha tekstil ternama di dalam maupun diluar negeri. Juliet pun mengangguk, dan Randy tersenyum manis menerima respon Juliet padanya.


"Lo mau beli itu semua? gak kurang? sini gue bantu bawain." Randy mengambil alih troli yang berisikan tumpukan buku-buku menggunung milik Juliet.


"Niat banget Lo jadi istri sampai beli buku beginian juga." Randy tertawa masam saat melihat referensi buku-buku pilihan Juliet yang berada di tumpukan teratas.


Juliet mendelik untuk memperingati Randy, "Gak usah godain gue deh. Gue cuma mau usaha aja. Jadi istri kan emang gak gampang. Gue juga harus persiapin mental gue dengan baik."


"Belum lagi gue juga harus belajar gimana cara bersikap yang baik di depan keluarga calon suami gue nanti. Karena gue gak tau apa-apa makanya gue belajar."


"Malah ngetawain gue lagi Lo." Juliet membuang wajah kesal. Randy memang sudah terbiasa mengatakan hal-hal yang mengkritisi perbuatan Juliet. Bukan hanya hari ini, bahkan sejak awal mereka bertemu.


Meskipun Juliet tidak harus menjelaskan kepada Randy apa tujuan sebenarnya melakukan semua itu, sejujurnya Juliet hanya merasa bahwa seseorang harus tahu jika ia sudah berusaha- setidaknya untuk pernikahan kontrak tersebut.


"Lo suka sama calon suami Lo?" kata Randy sedikit berhati-hati. Alkhirnya pertanyaan itupun keluar dengan mulus dari mulutnya. Bukan tanpa alasan, Randy masih merasa belum rela jika gadis yang selama ini diam-diam ia cintai akan menjadi milik orang lain hanya dalam hitungan minggu lagi.


Dan untuk kali ini saja, Randy tidak ingin menyimpan sebuah penyesalan dalam hatinya. Mungkin saja dengan ia menyatakan perasaannya saat ini, ia masih memiliki kesempatan untuk bersama dengan Juliet. Meskipun terkesan mustahil.


Juliet terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan perasaan nya saat ini. Terlebih jika itu berkaitan dengan Romeo. Romeo memang bukan pria jahat. Romeo juga berjanji tidak akan memaksa Juliet dengan pernikahan mereka.


Lagipula pernikahan mereka hanyalah sebuah sandiwara. Dalam surat kontrak pernikahan yang Romeo kirimkan, Romeo akan membebaskan Juliet jika pernikahan mereka sudah berjalan selama dua tahun lamanya.


Setelah itu Juliet berhak untuk memilih bagaimana ingin menjalani kehidupannya sendiri. Romeo tidak akan menahan nya. Karena mereka sama-sama tidak saling mencintai. Bahkan Romeo menjamin penuh untuk tidak menyentuh Juliet sedikit pun setelah mereka sudah menikah.


Dan yang terpenting lainnya, jika Juliet bertemu dengan seseorang yang nantinya membuat nya jatuh cinta, Romeo akan melepaskan Juliet sepenuhnya untuk mengejar kebahagiaan miliknya sendiri. Lantas bagaimana Juliet harus menggambarkan perasaan nya tentang Romeo?


"Calon suami gue baik kok. Seperti yang gue bilang sebelumnya, calon gue Good looking banget Lo udah liat kan tadi, di kampus?" Juliet tersenyum hambar.


"Orang nya juga ramah. Sopan juga sama keluarga gue. Lagian dia juga anak tunggal, jadi kaya anak papi gitu sih kesannya dewasa Banget. Keliatan banget sikap santun nya dan kayanya pekerja keras juga. Karena itu gue gak punya alasan buat nolak perjodohan ini kan?" Juliet menjawabi Randy dengan apa yang bisa ia pikirkan tentang Romeo.


Untuk selebihnya, Juliet masih belum mengetahui bagaimana seorang Romeo yang sebenarnya. Pria itu memiliki sisi misterius nya sendiri. Dan Juliet enggan untuk berurusan dengan Romeo seperti sebelumnya. Biarlah mereka seperti ini, hidup dengan urusan mereka masing-masing.


Mendengar penjelasan Juliet Randy langsung menghentikan langkahnya, "Lo gak mau pertimbangin calon suami lain Jul?" Juliet menatap Randy bingung karena sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, "Maksud Lo?"


Randy melepaskan tangannya dari troli dan berjalan mendekati Juliet, "Maksud gue, kalau ada cowok lain yang benar-benar cinta ama Lo di bandingkan cowok yang dijodohin itu, apa Lo mau pertimbangin calon suami lain buat jadi pendamping hidup Lo?"


Juliet semakin bingung, "Gue.." Randy selangkah lebih dekat lagi dengan Juliet, "Selama ini Lo tau kan Kalau gue suka sama Lo?"


Deg...


Juliet tersekat, "Lo..?"


Randy menghimpit Juliet hingga punggung Juliet menempel pada rak buku,


"Gue udah punya perasaan ini sejak pertama kita ketemu Jul. Gue cuma gak mau nyatain perasaan gue karena gak mau ngerusak hubungan persahabatan kita."


"Dan itu suatu kebodohan yang baru gue sadari. Dan sejak gue tau kalau Lo udah dijodohin, seberapa sering pun gue nahan diri dan nyadarin diri gue kalau Lo udah jadi milik orang lain, gue tetep aja gak bisa lupain Lo."


"Karena gue sadar, perasaan gue bukan perasaan yang baru satu atau dua bulan, tapi perasaan yang udah gue simpan selama empat tahun lamanya Jul. Dan perasaan gue gak pernah berubah buat Lo. Gue cinta sama Lo."


Randy adalah sahabat nya, dan pria itu baru saja mengakui perasaannya nya selama ini kepada Juliet. Sedangkan Juliet sendiri tidak memiliki perasaan lebih kepada Randy. Karena Juliet hanya menganggap Randy sebagai teman saja. Tidak lebih.


Apa ini semacam bantuan agar Juliet membatalkan pernikahan nya dengan Romeo? bisakah ia menganggap demikian? karena semua ini begitu kebetulan.


Tapi apa bedanya jika Juliet memilih antara Randy dan Romeo, dua-duanya adalah pria yang tidak Juliet cintai. Seandainya Juliet memilih Randy sekali pun Juliet tetap tidak akan bisa bahagia. Randy bukan lah pilihan yang tepat atau pun sebuah solusi untuk Juliet.


"Rand, Lo kenapa sih, Lo aneh banget." Juliet menegang. Mulut nya terasa kering. Juliet menatap Randy dengan manik yang terus bergerak, "Maksud gue, gue gak tau. Gue gak bisa. Lo tau kan kalau kita selama ini sahabatan, dan gue.."


Wajah Randy menunjukkan ekspresi sendu, ia menatap Juliet dengan tatapan seorang yang mulai putus asa, dan Juliet tidak tahu harus berbuat apa di saat seperti ini.


Seharusnya ia bahagia. Tapi kenapa ia justru merasa bersalah. Juliet sungguh tidak ingin kecanggungan hadir di antara dirinya dan Randy. Perasaan seperti ini akan merusak pertemanan yang sudah mereka jalin.


Bagi Juliet, perasaan Randy dan juga persahabatan mereka sama berharga nya. Juliet tidak ingin salah satunya menjadi rusak setelah semua pengakuan tiba-tiba yang keluar dari mulut Randy.


Juliet mendorong pelan dada Randy hingga Randy memberikan jarak di antara mereka, "Rand, sorry banget. Tapi Gue benar-benar gak bisa. Gue udah punya tunangan, Lo tau itukan? Dan gue akan tetap sama pilihan gue."


"Maafin gue. Gue harap kita tetap seperti ini, sebagai teman. Gue mungkin egois. Gue benar-benar minta maaf." Juliet melewati Randy dengan perasaan bersalah, kemudian mengambil alih troli nya.


Sementara Randy sendiri masih tidak bergeming. Randy membiarkan Juliet pergi begitu saja. Dan Juliet pun sangat berharap agar Randy tidak akan mengejar dirinya.


Dengan begitu Juliet bisa menganggap jika yang terjadi sebelumnya hanyalah sebuah khayalan semata. Karena bagaimana pun bagi Juliet mereka adalah sahabat. Dan selama nya akan tetap seperti itu.


...❄️❄️❄️...


Juliet menggerakkan kakinya yang setengah masuk ke dalam air kolam. Ia duduk merenung di sana sejak beberapa jam yang lalu. Ada begitu banyak pikiran yang tiba-tiba saja memenuhi kepala Juliet.


Tidak hanya tentang Randy dan pengakuan cinta nya yang sedikit mengejutkan, tapi juga tentang pernikahan nya dengan Romeo dan juga tentang masa depan nya nanti.


Juliet benar-benar di buat bingung dengan jalan hidup nya. Juliet pikir ia bisa menjalani hidupnya seperti di drama-drama yang sering ia lihat. Menyelesaikan pendidikan.


Mendapatkan pekerjaan. Bertemu dengan seorang pria lalu jatuh cinta. Menikmati hidup dan bahagia selamanya. Juliet pikir hidupnya akan seperti itu. Tapi kenyataannya sungguhlah di luar ekspektasi.


"Hei lagi ngapain?" Lily menghampiri Juliet dan duduk di sebelah adiknya. Mengikuti apa yang dilakukan Juliet, Lily juga memasukkan setengah kakinya ke dalam air.


"Gak lagi ngapa-ngapain kak." Juliet menjawabi Lily dengan wajah yang terlihat murung sambil menunduk lesu. Melihat Juliet yang kehilangan antusias, Lily tersenyum kecil. "Nih buat kamu." Lily memberikan kotak berukuran besar dengan pita merah maroon kepada Juliet. "Apaan?"


Lily tersenyum dengan alis yang terangkat, "Gaun buat kamu." jawab Lily singkat. "Buat apaan kak?" Juliet membuka pita dan membuka kotak tersebut untuk melihat isinya. "Buat acara pernikahan gue."


Juliet terperangah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, "What? nikah? kakak sama kak Bastian? seriusan? Kapan?" ucap Juliet setengah memekik. Lily mengangguk untuk membenarkan hal yang baru Juliet beberkan tersebut.


"Aku tau kalau kamu juga sedang sibuk mengurus pernikahan mu dengan Romeo. Karena itu aku sengaja tidak memberitahu mu. Kami akan menikah Minggu depan. satu minggu lebih cepat dari pernikahan mu." Jelas Lily.


"Oma sama opa tau kak?"


Lily kembali mengangguk seraya tersenyum, "Kok bisa sih tenang banget. Padahal kakak udah mau nikah gini. Baru aja aku mau protes kenapa aku harus nikah duluan dari kakak, ternyata kakak malah udah siapin semuanya kaya gini." Juliet merasa sedikit kecewa karena tidak melakukan apa-apa untuk pernikahan kakaknya.


"Kami sudah merencanakan pernikahan sejak enam bulan yang lalu. Selain karena permintaan opa yang mengharuskan aku menikah lebih dulu dari mu, aku dan Bastian memang sudah bulat dengan keputusan kami untuk melanjutkan hubungan kami ke tahap selanjutnya, yaitu pernikahan." Lily menjelaskan dengan begitu tenang, sementara perasaan Juliet semakin terasa bercampur aduk.


"Bagaimana dengan persiapan pernikahan mu? apa semua nya baik-baik saja? Dan bagaimana dengan perasaan mu saat ini. Kamu tidak terlihat sehat."


Baru kali ini seseorang menanyakan bagaimana perasaan Juliet. Dan orang itu adalah kakaknya sendiri, membuat perasaan Juliet semakin terenyuh. Tanpa bisa di tahan lebih lama, air mata Juliet mengalir dengan begitu deras dalam hitungan detik.


"Kakak..." Juliet merengek dan menangis di depan Lily. Lily pun berusaha menenangkan adiknya sambil memeluk Juliet. "Tidak apa-apa. Menangis lah." Lily menepuk pelan bahu Juliet. Saat itu juga perasaan yang mengikat Juliet selama ini sedikit demi sedikit terurai.


"Aku sebenernya gak mau nikah sama Romeo kak. Aku gak cinta sama dia. Tapi Juliet gak bisa nolak. Karena ini permintaan opa. Juliet gak tahu harus gimana. Juliet takut kak." Juliet masih terisak dalam pelukan Lily.


Lily tau betul apa yang di rasakan oleh adiknya, Lily sempat mengalami nya dulu tapi untung lah saat itu juga ia bertemu dengan Bastian, "Kakak tau. Kalau kamu memang merasa keberatan, masih belum terlambat untuk memohon kepada opa untuk membatalkan pernikahan mu Juliet." ujar Lily memberi sebuah solusi.


"Tapi bagaimana kalau opa sama Oma kecewa sama Juliet kak? Juliet gak mau bikin mereka kecewa. Juliet mau mereka bahagia. Lagian Romeo juga di posisi yang sama kaya Juliet. Romeo juga gak bisa nolak. Kami harus gimana kak?" Juliet menangis pilu. Ia tidak punya teman untuk bertukar pikiran.


Karena itulah selama ini Juliet memendam semua seorang diri. Tapi lihat betapa tersiksanya Juliet. Ia tidak bisa melanjutkan semuanya seperti ini.


Lily bisa memahami bagaimana perasaan adiknya. Selama ini mereka hidup tanpa orang tua. Dan satu-satunya yang menggantikan peran penting tersebut dalam hidup mereka adalah opa Adam dan Oma Dena.


Jadi sangat wajar jika adiknya merasa demikian. Hanya saja, meskipun ingin membahagiakan opa dan Oma mereka, kebahagiaan adiknya tetap lah yang terutama.


"Kau yakin dengan keputusan mu Juli? Tidak ingin membujuk opa sekali lagi? Jika kau mau, kakak akan menemani mu. Masih belum terlambat untuk mengubah keputusan opa. Kakak akan mendukung mu." bujuk Lily.


Ia benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk adiknya. Dan membujuk opa Adam untuk merubah keputusan nya adalah satu-satunya cara untuk membuat adiknya bahagia.


Juliet melepaskan pelukannya kepada Lily. Kali ini dengan sikap yang lebih tenang, Juliet mengusap air mata yang masih membasahi pipinya.


"Hem. Juliet gak apa-apa kak. Juliet akan terima bagaimana pun konsekuensi dari keputusan ini nanti. Juliet gak mau ngecewain opa sama Oma. Juliet bisa kok nanggung semuanya. Kakak jangan khawatir. Juliet pasti bisa nemuin kebahagiaan Juliet."


Lily tersenyum sambil mengusap pelan pipi Juliet yang basah, "Adik kecil kakak sudah lebih dewasa sekarang. Kakak doakan agar kamu bisa meraih kebahagiaan mu sendiri. Terlepas kamu menikah ataupun tidak dengan Romeo. Semua orang harus menemukan jalannya masing-masing."


Mendengar kata-kata Lily, Juliet merasa tali yang melilit dadanya selama ini satu persatu mulai terlepas, dan semua itu berkat dukungan orang yang peduli padanya. Peduli pada kebahagiaan Juliet.


"Juliet juga berdoa agar kakak dan kak Bastian hidup bahagia sampai kakek nenek kaya Oma dan opa. Bahagia sampai maut memisahkan kalian."


...❄️...


...❄️...


...❄️...