
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Setelah mereka bicara dan membuat suatu kesepakatan, akhirnya Juliet bisa merasa sedikit lega. Setidaknya, setelah ini ia tidak akan merasa canggung saat berada di dekat Romeo. Begitu juga sebaliknya.
Juliet sangat sadar tentang perubahan sikapnya selama ini. Terutama jika hal itu berhubungan dengan Romeo. Dan Juliet tidak ingin mengacaukan apa yang telah mereka sepakati sejak awal.
Juliet tidak ingin melibatkan perasaan nya lebih jauh. Ia terlalu lelah untuk memikirkan bagaimana akhirnya nanti.
Ia hanya berharap agar satu tahun cepat berlalu. Dengan begitu mereka bisa berpisah dengan cara baik-baik. Dan memulai semuanya dari awal.
Juliet juga berharap sebaliknya. Setidaknya kesepakatan itu cukup untuk mereka berdua. Dengan tidak melibatkan hubungan secara emosional, Juliet berharap agar Romeo tidak menjauh dan berubah menjadi sosok yang asing. Hanya itu.
...❄️❄️...
"Lo yakin cuma mau kesini? masih banyak kok tempat-tempat indah lain yang bisa kita lihat selain tempat ini." Romeo berdiri menjulang di samping Juliet. Tangannya masih menggenggam erat tangan Juliet.
Merasa lelah, Juliet pun melepaskan tangannya kemudian duduk di atas tebing dengan memandangi laut sore yang begitu indah.
Ini adalah kali pertama bagi Juliet untuk bisa menikmati panorama seindah ini. Terlebih lagi karena keindahan tersebut bisa ia saksikan bersama Romeo.
"Gak deh Rom. Di sini aja udah cukup. Gue juga udah capek. Lo gak mau duduk?" Juliet ingin menyimpan setiap detik dan menit yang berharga bersama Romeo dalam memori nya.
Hanya saat-saat seperti inilah yang akan ia kenang nanti. Setiap hal-hal manis dan mendebarkan bersama suami kontrak nya. Romeo.
Akhirnya Romeo pun duduk di samping Juliet seraya mengedarkan pandangan ke arah yang sama. Romeo juga ingin membuat kenangan nya sendiri. Berada di tempat itu bersama Juliet, akan berarti lebih bagi dirinya.
"Lo ingat waktu hari pertama kita ketemu?" Romeo tersenyum dengan raut yang tidak bisa ditebak oleh Juliet. "Waktu itu gue benar-benar berharap agar gue gak ketemu sama Lo."
"Gue juga berharap setidaknya banyak hal dari Lo yang bisa ngubah pandangan bokap biar perjodohan kita di batalin." hal yang sama juga dirasakan Juliet saat itu.
Bahkan sampai saat inipun, Juliet masih belum bisa memahami apa maksud dari opanya begitu tergesa-gesa menjodohkan nya dengan Romeo. Padahal Juliet masih berusia dua puluh tahun.
Apakah Romeo menyukai dirinya ataukah kecewa karena gadis yang di jodohkan dengan Romeo adalah dirinya.
"Gue jadi gak punya alasan buat nolak perjodohan itu. Apalagi bokap suka banget sama Lo." mata Romeo kini mengunci tatapan Juliet.
"Lo terlalu sempurna buat gue. Sampai-sampai gue takut kalau gue nolak Lo gue bakal kena sial seumur hidup gue."
Pengakuan teraneh yang pernah Juliet dengar dari mulut Romeo. Tapi anehnya pengakuan itu membuat hatinya menghangat.
"Apa karena itu alasannya Lo ngajakin gue buat.."
Romeo menggeleng cepat, "Awalnya gue gak kepikiran." alis Juliet bertaut, "Tapi karena ternyata Lo juga gak suka sama perjodohan itu dan posisi kita sama-sama gak bisa nolak, jadi itu solusi tercepat dan terbaik yang bisa gue pikirin."
"Terus gimana kalau Uncle tahu tentang hubungan kita? maksud gue, bisa ajakan suatu saat bokap Lo tau. Gue sih gak kebayang aja gimana, pasti kacau banget."
"Gue sih lebih takut kalau opa Lo yang tau. Opa Lo galak dari bokap gue." ini adalah fakta yang tidak bisa Juliet pungkiri. Tidak ada satupun dalam keluarga mereka yang bisa menentang perkataan ataupun keputusan yang di buat oleh opa Adam.
"Kayaknya kita harus lebih hati-hati." Romeo mengangguk setuju. Ia juga tidak ingin keputusan mereka menjadi masalah di kemudian hari. Romeo hanya ingin menemukan hidupnya dengan cara yang benar. Begitu juga dengan Juliet.
"Makanya gue gak bikin kontrak secara lisan. Gue khawatir kalau salah satu dari kita bakal ceroboh dan BOOM. Kita ketahuan."
Juliet menarik kakinya dan melingkarkan kedua tangannya di sana. "Tapi kalau pun nanti salah satu dari keluarga kita tahu tentang hubungan kita, gue yang bakal tanggung jawab. Lo gak usah khawatir."
"Tanggung jawab gimana?" kata Juliet heran.
"Ya kita tinggal nikah beneran aja. Satu tahun kan cukup buat Lo kenal gue. Dan gue gak keberatan kok jadi suami Lo. Malah kayanya gue bakalan happy. Gimana...?"
Juliet tertawa kecil. "Cih! Awas aja kalau Lo malah nyalahin gue!"
...❄️...
...❄️...
...❄️...