ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-39



...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Hei... what's up bro? dimana sepupu cantik kita?" Gabe merangkul Romeo yang baru saja tiba kemudian menduduki salah satu kursi yang masih kosong.


Seperti angin lalu, Romeo sengaja mengabaikan pertanyaan Gabe. Ia masih kesal atas apa yang Juliet lakukan hari ini.


Dan itu jugalah yang menjadi alasan mengapa Romeo memilih untuk menemui teman-temannya, padahal sejujurnya ia akan betah tinggal dirumah jika saja Juliet ada di sana. Tapi kenyataannya, tidak.


Jika hanya berdiam diri sambil memandangi ponsel nya yang tidak kunjung mendapat balasan, rasanya hati Romeo akan bertambah kesal.


"Wah.. lihat. Ada apa ini? apa mood mu sedang tidak baik?" Gabe memicing. "Jangan bilang jika ayah dermawan kita akan mengirim mu lagi ke negeri antah berantah." Gabe mencoba menebak dengan wajah serius.


Gabe sendiri merasa heran dengan sikap diam Romeo. Biasanya pria itu akan banyak bicara dan melakukan apa saja selagi berkumpul bersama teman-teman nya. Tapi lihat, kali ini Romeo jelas berbeda. Dan ekspresi wajah itu, Gabe tau jika suasana hati temannya sedang bermasalah.


"Hem. Ini tidak seru!" cibir Gabe.


Romeo mendelik kemudian menyeringai masam pada sahabatnya itu. "Urus saja urusan mu Gabe. Aku baik-baik saja. Hanya perlu menjernihkan pikiran sebentar."


"Dan sepupu ku? tidak ada. Gadis itu tidak ada. Dia sedang bersenang-senang dengan tuan dermawan kita di El Monte. Ckck. Beraninya!" Romeo mendesis.


Mendengar jawaban Romeo, Gabe mengangkat kedua tangannya menunjukkan isyarat menyerah disertai senyuman misterius.


"Ya, ya baiklah. Sepertinya kau sedang kesal karena ayah mu direbut. Dasar bocah!"


Mendengar cibiran Gabe, Romeo hanya mendelik kesal. Ia bukan meributkan perhatian papanya terbagi, hanya saja yang membuat nya kesal kenapa Juliet mengabaikan pesannya. Itu saja.


"Kalau begitu yang kau perlukan hanyalah minuman kawan. Dan tentu saja seorang gadis cantik." seru Gabe di ikuti oleh suara tawa dan tepuk tangan yang bersahut-sahutan.


"Jessie sayang! Where are you?" panggil Gabe dengan cukup nyaring. "Apa yang kau lakukan? kenapa kau memanggil Jessie?" ujar Romeo mengerutkan keningnya tanda protes.


"Bukankah kau ingin di segarkan kawan? maka Jessie lah jawabannya." suara tawa kemudian terdengar lagi.


"Tidak. Tidak. Bukan itu maksud ku Gabe." di sudut lain, James hanya tersenyum menikmati kekikukan sahabatnya akibat dari candaan Gabe.


Jessie adalah salah satu bintang kampus yang selama beberapa bulan terakhir selalu hadir dalam tongkrongan James serta teman-teman nya. Gadis itu mudah bergaul dan juga menyenangkan.


Karena itulah James mengijinkan Jessie untuk berada di sekitar mereka.


"Sudahlah Gabe. Jangan menggoda Romeo terus. Kau seperti tidak tahu bagaimana bocah ini saja." Sela James menghentikan pria bertubuh gempal itu.


"Aku hanya memberikan solusi kawan. Dimana salahku? Benarkan? Pokok nya malam ini kita harus bersenang-senang. Biar aku yang traktir. Tidak ada yang boleh pulang sebelum mabuk."


"Setuju!"


...❄️❄️...


Malam itu, Juliet yang masih memperhatikan satu per satu isi dari galerinya seringkali mengulum senyum.


Semua itu tentu saja karena ia sedang memilah-milah dari sekian banyak gambar untuk menentukan mana Photo-photo yang harus ia tunjukkan pada Romeo.


Meskipun hari sudah begitu larut, Juliet masih belum bisa melupakan betapa menyenangkan perjalanan mereka hari ini.


Ia merasa begitu puas karena bisa menghabiskan waktu liburannya bersama papa Wiratama. Meskipun jauh dari Opa, Oma serta saudarinya Lily, namun Juliet tidak merasakan kesepian.


Semua itu tentu saja berkat kehadiran seseorang seperti papa Wiratama dan juga Romeo yang selalu ada disisi nya.


Bahkan Juliet yang tidak bisa jauh dari keluarganya pun, tidak pernah merasakan kehilangan kehangatan dari sebuah keluarga meskipun saat ini mereka tidak bersama.


...Ting...


...Ting...


...Ting...


...Ting...


Ponsel Juliet berbunyi. Kedua alisnya bertaut saat melihat ponsel itu tiba-tiba saja dipenuhi dengan notifikasi.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata notifikasi tersebut berasal seseorang yang sejak tadi bahkan telah mengabaikan panggilan nya. Romeo.


Juliet melirik jam di tangannya sekilas, waktu menunjukkan pukul 2 malam. Sungguh aneh. Kenapa pria ini baru membalas pesan ku selarut ini.


Juliet pun mengambil ponsel yang terus menyala dan membaca pesannya satu per satu.


...From : Romeo...


..."Apa kau begitu bahagia saat pergi jauh seperti ini?apa karena itu juga kau mengabaikan pesan ku?"...


..."Sebegitu nya kau tidak ingin bicara padaku?"...


..."Lihat. Lagi-lagi kau mengabaikan pesanku."...


"Baiklah. Aku tidak akan mengirimkan pesan lagi."


...Ting...


..."Juliet..?"...


...Ting...


..."Kau benar-benar mengabaikanku?"...


...Ting...


..."Heii...!"...


..."Kau marah? maaf, aku bukan sengaja mengabaikan pesan mu sebelumnya."...


...Ting...


..."Ku mohon balas pesan ku!"...


...Ting...


..."Sial. Kenapa juga kalian harus menginap di sana."...


Juliet mengernyit. Ia bingung saat pesan Romeo datang bertubi-tubi seperti hujan. Tapi disisi lain ia juga ingin tertawa. Tidak biasanya Romeo bersikap seperti ini. Lucu.


"Kenapa lagi sih sama manusia satu ini?" Karena penasaran, Juliet pun akhirnya menghubungi Romeo. Ia ingin bertanya secara langsung mengapa pria itu mengirimkan begitu banyak pesan.


"Hem? akhirnya Lo nelpon gue. Ju-liet. Juli-et. Ju-li-et. Lo marah?" suara pria itu terdengar serak. "Lo kenapa sih? gue gak marah kok. Justru gue heran, apa maksud pesan Lo barusan." sahut Juliet dengan jujur.


Terdengar suara mendesah disertai tarikan nafas yang cukup panjang dari seberang sana, tak lama kemudian suara itu berubah hening.


"Rom, Lo baik-baik aja kan? jam segini Lo masih belum tidur, abis ngapain? Lo abis dari party temen-temen Lo lagi ya?" Juliet hanya menebak. Tapi sepertinya dugaan itu benar adanya.


"Gue sendirian. Gak ada siapa-siapa dirumah. Ya gue pergi. Lagian ngapain juga gue dirumah, Lo kan gak ada." sekarang giliran Juliet yang dibuat menghela nafas.


"Lo mabuk?" tanya Juliet dengan suara dingin. Romeo tersenyum simpul. "Dikit." Juliet kembali diam. Jika sudah seperti ini, apa boleh buat. Sebaiknya mereka berhenti.


"Sebagai sepupu Lo yang baik, gue saranin mending Lo tidur deh. Oke. Telponnya gue matiin ya." kata Juliet ingin menyudahi panggilan tersebut. Percuma saja ia bicara di saat seperti ini. Toh besok pagi Romeo akan melupakan semuanya.


"Siapa sepupu gue? Lo? Lo bukan sepupu gue Juliet. Bukan. Lo gak akan pernah jadi sepupu gue sampai kapanpun."


Tanpa di katakan pun Juliet tahu akan hal itu. Mana ada sepupu ketemu gede seperti ini. Sudah begitu, harus menyetujui kontrak pernikahan. Dasar aneh. Batin Juliet menggerutu.


"Kan Lo yang bilang sendiri kalau kita sepupu. Ckck. Dasar aneh." balas Juliet. Karena waktu sudah malam, Juliet pun membaringkan dirinya. Ia juga lelah.


"Itukan bohong. Lo itu istri gue. Dan Gue suami Lo. Kita bukan sepupu." sepertinya Romeo benar-benar mabuk. Juliet hanya bisa menghela nafas. Ia tidak berpengalaman menghadapi seorang pria yang tengah mabuk alkohol.


"Ya. Ya. Suami kontrak kan maksud Lo? dan gue juga istri kontrak Lo, gue tau kok." sela Juliet tak ingin di ingatkan terus-menerus akan hal tersebut.


Romeo kembali diam. "O, ya gue mau nunjukin sesuatu sama Lo."


"Sssttthhhh.. Jul, dengerin gue." Romeo menyela. "Gue mau bilang sesuatu dulu...."


Juliet kembali mengernyit, "Ya ..?" Hening untuk sesaat.


"Dengerin gue baik-baik. Please, jangan jatuh cinta sama gue. Gue ini cowok brengsek. Gue gak akan bisa bahagiain Lo. Gue bukan cowok yang pantes juga buat Lo. pokoknya gue gak bisa jadi suami Lo Jul. Jadi.. gue..Jadi.. please jangan. Meskipun gue..."


Setelah semua perkataan itu, lagi-lagi Romeo terdiam. Begitu pula dengan Juliet. Ia tidak tahu harus berkata apa. Namun ia masih menunggu Romeo untuk menyelesaikan kalimatnya.


Juliet memang bukanlah pihak yang sedang jatuh cinta. Hanya saja, ia tidak akan keberatan untuk berada di dekat Romeo. Setidaknya sampai kontrak mereka berakhir.


"Rom? Lo tidur?" Juliet melihat layar ponselnya yang masih menyala, yang artinya panggilan itu masih terhubung. Tapi suara nafas Romeo sudah terdengar teratur. Sepertinya, pria itu sudah terlelap meninggalkan Juliet yang tiba-tiba saja kehilangan rasa kantuk.


"Dasar aneh. Siapa juga sih yang jatuh cinta sama Lo! Sampai kapan pun gue gak akan jatuh cinta sama Lo. Sialan!"


...❄️...


...❄️...


...❄️...