ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-11



...❄️❄️❄️...


.......


.......


.......


Seperti sebuah mimpi. Juliet seakan tidak percaya dengan apa yang sedang di lihat nya saat ini. Waktu berjalan dengan begitu cepat, bahkan sebelum ia sempat mengedipkan matanya hampir setengah dari jalan hidup Juliet telah berubah.


Di saat Juliet baru saja menghela nafas, di waktu yang sama Juliet menyadari bahwa semua yang ada di depan matanya sudah berubah bahkan akan terganti dalam perhitungan yang tidak pernah terpikirkan oleh otak jeniusnya.


Bakan disaat seperti ini, saat kedua insan yang saling mencintai berdiri dalam jarak pandang Juliet bertukar cincin dan juga sumpah setia untuk mengikat hidup mereka menjadi satu kesatuan, tanpa Juliet sadari pula air matanya mengalir begitu saja. Ah, ini bukan saat yang tepat untuk menangis. Tapi kenapa air matanya tidak mau berhenti.


Lily Dominique telah resmi menjadi istri dari pria yang di cintanya, Bastian Dianzra. Peristiwa yang begitu haru membuat Juliet tidak bisa menahan luapan perasaan nya yang terus bergejolak. Ia merasa sangat bahagia namun juga sedih di saat yang bersamaan. Tentu saja. Sekarang saudarinya telah menemukan kebahagiaan nya sendiri. Kehidupannya sendiri. Dunia kecilnya. Lalu bagaimana dengan.......


"Juliet.. kemari lah." Juliet tersentak saat namanya di panggil dengan begitu lembut oleh Lily dari atas altar. "Aku?" Juliet menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya sambil menunjuk pada diri sendiri. Lily tersenyum sambil mengangguk. "Ya kau dan juga Romeo." pinta Lily bersamaan. Sementara semua mata langsung tertuju pada keduanya.


Romeo yang saat itu duduk di sebelah Juliet juga merasa heran kenapa namanya di panggil. Karena semua orang tengah menunggu mereka, Romeo pun berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangan kepada Juliet seperti Seorang kekasih, "Ayo?" dengan wajah yang bingung sekaligus heran Juliet menerima uluran tangan Romeo dan mereka pun berjalan menuju ke altar secara bersamaan.


"Kakak..." Juliet berdiri dengan kebingungan yang tidak berkurang sedikit pun, membuat Lily tersenyum kecil melihat tingkah adiknya. Sementara Bastian sendiri justru tersenyum lembut sekaligus gemas melihat wajah lugu dari Juliet. Romeo yang berdiri di samping Juliet hanya memperhatikan dalam diam. Ia sedang mengamati semua orang yang nanti akan menjadi bagian dari keluarga nya juga.


"Bunga ini akan ku berikan kepada adik ku satu-satunya Juliet Dominique. Aku berdoa agar kau juga mendapatkan kebahagiaan mu bersama orang yang tepat." Lily memindahkan buket bunga dari tangannya ke tangan Juliet kemudian mendekap Juliet dengan hangat.


Juliet yang masih bingung tidak bisa mengatakan apa-apa selain ucapan selamat, "Terimakasih kak. Dan selamat juga atas pernikahan mu." Juliet membalas pelukan Lily dengan sama hangat nya. Perasaan nya kini kembali bergejolak. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan tentang situasi saat itu. Juliet hanya bisa tersenyum samar. Setelah nya Juliet langsung berpaling pada Bastian.


"Kak, terimakasih sudah menikahi kakak ku yang cantik dan juga baik hati ini. Semoga kalian selalu bahagia sampai tua, sampai menjadi seperti Oma dan opa." Juliet memeluk kakak iparnya. Bahagia.


"Kau juga siput. Sebaiknya setelah menikah kau harus belajar meningkatkan kecepatan mu." ujar Bastian menggoda Juliet dan kemudian tersenyum pada Romeo. Ini adalah pertemuan pertama mereka.


"Tolong jaga adik ku. Dan cintai dia seperti kami mencintai nya." Lily membuat permintaan kecil dan lembut kepada Romeo. Meskipun tidak yakin apakah ia bisa menepati permintaan tersebut, Romeo hanya tersenyum sambil mengangguk samar.


Walaupun terdengar sederhana, Romeo sangat menyadari bahwa permintaan Lily adalah permintaan yang besar. Dan Romeo tidak ingin membuat komitmen seperti itu kepada orang lain. Janji yang tidak mungkin bisa ia tepati. Apalagi janji tersebut mengikat Romeo untuk selamanya. Romeo sungguh tidak ingin terikat.


Dalam hitungan detik suara tepuk tangan dari para tamu undangan membuyarkan pikiran Romeo dan juga membuat aula pernikahan sedikit lebih semarak dari sebelumnya. Bahkan tidak sedikit yang juga turut merasakan haru dengan pemandangan yang di suguhkan dari depan altar.


Romeo dan Juliet sama-sama tidak menduga adanya respon seperti itu. Seperti nya Romeo harus lebih melatih keterampilan berakting sebagai seorang pasangan. Terlalu bahaya membiarkan segala nya berjalan tanpa skenario.


"Ayo. Kita harus turun." Romeo kembali menggandeng tangan Juliet dan membawanya kembali ketempat duduk semula.


...❄️❄️❄️...


Disudut ruangan, Romeo diam untuk mengamati Juliet dari kejauhan. Selain memperhatikan wajah sendu Juliet, Romeo juga sedang memberi waktu kepada Juliet untuk menenangkan diri setelah melepaskan perasaan nya. Romeo memperhatikan dengan seksama bagaimana gadis itu menyembunyikan dirinya sambil menangis.


Romeo sedikit bisa memahami perasaan Juliet saat membayangkan dirinya berada di posisi yang sama. Seumur hidup hanya memiliki seorang saudari, kemudian orang itu menikah dan memutuskan untuk meninggalkan rumah dan membangun keluarga kecilnya sendiri. Sebagai anak bungsu, mungkin perasaan Juliet sama dengan perasaan Romeo yang selama ini hanya hidup berdua dengan ayahnya. Romeo dan Juliet pastilah akan selalu merasakan rasa kesepian yang selalu bersembunyi di dasar hati.


"Ini." Romeo memberikan sekotak tisu kepada Juliet. "Masih banyak air mata Lo? mata Lo udah sembab gitu. Mau jalan-jalan keluar aja gak?" Romeo merasa kurang nyaman jika terus-menerus melihat Juliet menangis. Lebih baik jika gadis itu bersikap bawel dan ceroboh di bandingkan melihat dirinya rapuh seperti saat ini. Romeo sedikit tidak menyukai atmosfir nya.


Juliet mengambil tisu pemberian Romeo dan menyapukan tisu pada pipi juga hidungnya yang terasa basah, "Mau kemana?" tanya Juliet. Romeo kembali mengulurkan tangannya, "Mau ke apartemen gue aja? hari ini kan film kesukaan Lo tayang." Juliet mengerutkan kening. Kembali terheran karena ternyata Romeo bisa mengingat jadwal tayang dari drama favorit nya. Sedang Juliet sendiri saja sampai lupa karena terlalu larut dalam kesedihan dan kegelisahan hatinya.


Juliet kembali menengadah, "Tapikan jamuan pestanya belum selesai." ujar Juliet merasa enggan.


"Lo mau nunjukin muka Lo yang kaya gitu? mau bikin Oma sama opa Lo cemas. Iya?" Romeo masih menunggu. Juliet terlihat ragu sesaat, tapi setelah nya Juliet pun menggandeng tangan Romeo. Ia tidak bisa memungkiri fakta tersebut. Dan Juliet sendiri pun tidak ingin membuat opa dan Oma nya mencemaskan dirinya.


Romeo menggenggam tangan Juliet cukup erat. Romeo ingin menyalurkan rasa simpati nya pada gadis itu. Berharap Juliet bisa merasakan sedikit ketulusan Romeo, bahwa ia tidak ingin gadis itu terlalu larut dalam kesedihan yang tiba-tiba menyelimuti.


"Gue baru tau ternyata Lo cengeng juga." ucap Romeo seraya tertawa kecil. "Gue gak cengeng. Gue juga gak tau kenapa, tapi air mata gue ngalir sendiri. Padahal gue gak mau nangis." Sahut Juliet terdengar membela diri dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh Romeo.


Mendengar hal itu Juliet langsung mencubit tangan Romeo karena kesal, "Udah gue bilang gue gak cengeng. Ini cuma kebetulan aja. Rese banget sih Lo!"


"Masa sih? ngaku aja lah kalau Lo cengeng. Gak usah alasan."


"Ih di bilang gak juga. Maksa banget."


"Masa...? kok gue gak yakin. Gue malah yakin kalau Lo emang cengeng. Anak bungsu kan gitu."


"Terus Lo bangga karena Lo anak tunggal? Dasar rese." Balas Juliet. Keduanya berjalan menuju parkiran.


"Dari pada cengeng, mendingan juga rese."


"Terserah Lo. Bodo amat!" ujar Juliet yang sudah berhenti menangis karena perasaan nya sudah berubah menjadi dongkol.


"Gitukan enak. Muka Lo jelek kalau nangis. Mending juga jutek kaya gitu." Balas Romeo seraya menyembunyikan senyum nya.


...❄️❄️❄️...


Sesampainya di apartment, Juliet langsung pergi ke ruang ganti untuk menukar gaunnya dengan kemeja dan juga celana pendek yang mereka beli sebelumnya. Juliet terlihat lebih diam saat di perjalanan. Gadis itu bahkan tidak mendebat Romeo sedikit pun meskipun Romeo sudah mengajukan beberapa pertanyaan konyol. Alhasil Romeo di buat bingung dengan sikap Juliet.


"Lo pakai aja kamar gue. Gue mau telpon papa bentar sekalian beli makanan." Kali ini Romeo akan memberi toleransi kepada Juliet. Ia sedang tidak ingin membuat suasana hati gadis itu bertambah kacau. Karena itulah Romeo mengijinkan Juliet untuk menggunakan kamarnya untuk menonton film. Semoga saja saat ia kembali gadis itu sudah kembali normal.


"Saya mau cake dengan tumpukan buah strawberry yang banyak. Satu cinnamon cake with cheese dan juga pay Apple. Apa toko ini memiliki Le grand Louis Jika ada aku ingin satu." Pinta Romeo menyebutkan pesanannya.


"Baik tuan. Ada lagi?"


"Tidak. Itu saja."


Mengingat petuah ayahnya yang mengatakan bahwa di saat seorang gadis mengalami hal yang berat, mereka tidak membutuhkan hal lain selain sesuatu yang manis.


Berharap Romeo bertingkah manis, itu sangat mustahil. Karena itulah Romeo membelikan beberapa kotak cake dan juga cokelat. Semua itu Karena katanya; para gadis sangat menyukai makanan manis.


Dengan makanan manis perasaan mereka yang awalnya buruk akan menjadi lebih baik. Romeo sedikit berharap Juliet juga akan begitu. Entah lah kenapa Romeo harus merasa peduli. Ia hanya tidak suka dengan perubahan yang tiba-tiba.


...❄️❄️❄️...


Sekembalinya ke apartemen, Romeo langsung membawa semua makanan yang di belinya ke dalam kamar. Romeo ingin memberikan semua makanan itu langsung kepada Juliet. Tapi anehnya, tidak terdengar suara apapun dari dalam kamarnya. Kamar Romeo juga terlihat gelap, karena semua tirai masih tertutup dengan rapat.


"Bukannya gue udah bilang dia boleh nonton di kamar gue, kemana lagi itu cewek?" Romeo menutup kembali kamarnya dan mencari Juliet ke balkon. Tapi gadis itu juga tidak ada di sana.


Dengan perasaan sedikit kesal Romeo mengambil ponselnya untuk menghubungi Juliet. Namun panggilan nya juga di abaikan begitu saja.


Romeo berjalan kembali ke kamarnya dan memeriksa dengan lebih teliti. Semua barang-barang Juliet masih ada di sana. Termasuk ponsel nya.


"Kenapa semua nya masih disini? Apa sebaiknya gue telpon Oma?" Romeo kembali menyentuh layar ponselnya hendak menghubungi Oma Dena. Tapi belum lagi ia menekan 'Call' Romeo sudah mendengar suara aneh yang terdengar dari kamar lain dalam apartemen nya. Suara itu terdengar jelas saat Romeo mendekati tembok. Terdengar dari ruang lain di sebelah kamar tidurnya.


Dengan langkah cepat Romeo keluar dari kamarnya,, lalu membuka ruangan yang ia maksud. Dan benar saja, di sanalah Romeo melihat Juliet, di perpustakaan kecil milik nya. Sedang bersembunyi di balik rak buku. Kembali meringkuk dan menangis.


.......


.......


.......