ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-36



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Diruang utama, Romeo dan Wiratama sudah menunggu Juliet. Mereka sepakat untuk makan malam diluar. Karena Juliet masih bersiap-siap keduanya pun mengisi waktu dengan berbincang.


Dari ujung tangga, Juliet bisa mendengar suara percakapan keduanya, bahkan sesekali terdengar suara cekikikan dari sang suami.


"Pa, Juliet kelamaan ya siap-siap nya?" ujar Juliet menyela percakapan Romeo dan Wiratama. "Maaf ya." katanya lagi.


Wiratama tersenyum dengan lembut lalu berdiri, begitu juga dengan Romeo. "Tidak masalah nak Juliet. Papa dan Romeo hanya sedang berbincang-bincang. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu seperti ini."


Juliet merasa lega. Tadinya ia takut jika ia sudah membuat keduanya menunggu lama.


"Pa ayo kita berangkat." Romeo mengulurkan tangannya pada Juliet, memberi isyarat agar gadis itu menyambutnya. Juliet pun melakukan seperti yang Romeo inginkan.


"Ayo."


...❄️...


Dalam waktu kurang dari lima belas menit, mobil mereka sudah terparkir di basemen restoran. Mereka datang dengan mobil yang berbeda.


Romeo memang meminta agar mereka pergi dengan mobil masing-masing, sebab ia masih memiliki rencana lain setelah makan malam.


"Ini restoran favorit Lo?" ujar Juliet membuka percakapan keduanya. "Hem. Ini restoran favorit gue sama bokap. Gue harap makanan nya cocok sama selera Lo." jawab Romeo tersenyum simpul.


Saat memasuki dalam restoran, Juliet bisa mengerti mengapa restoran itu begitu terkenal dan banyak peminatnya..


Selain suasana yang nyaman karena menyuguhkan pemandangan yang indah, restoran itu juga memiliki koki kelas dunia, pantas saja jika restoran tersebut memiliki banyak pelanggan VVIP.


Bahkan dari yang ia tahu, ayah mertuanya saja sampai melakukan reservasi dari jauh-jauh hari.


"Nah, ayo. Kalian mau pesan apa?" ujar Wiratama bersikap hangat seperti biasa. Pria paruh baya itu terlihat begitu antusias meskipun itu hanya acara makan malam biasa.


"Romeo pesan menu yang biasa aja pa." yang dimaksudnya adalah menu favorit yang selalu ia makan. "Kalau kamu nak Juliet?"


"Aku,-


Juliet masih membaca menu yang tertera di sana. Ia tidak tahu menu yang mana yang enak, hanya saja sepertinya ia ingin tahu makanan seperti apa yang Romeo sukai.


"Juliet sama kaya Romeo aja deh pa." ujar Juliet, melirik sekilas pada Romeo yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya.


Dan hal itu tentu saja membuat Juliet tersipu. Ia pun balik tersenyum pada Romeo, tapi senyum yang diberinya adalah senyum penuh peringatan.


"Awas aja kalau Lo main trick gak bilang-bilang gue." begitu kira-kira arti tatapan Juliet pada suaminya.


"Selamat malam uncle." suara seorang pria tiba-tiba saja menyapa ketiganya. Itu adalah James. Sahabat Romeo. Satu-satunya sahabat dari suaminya yang menghadiri pernikahan mereka.


"James. Apa kabar Son?" Wiratama balik menyapa teman Romeo tersebut. Meskipun kurang menyukai James, Wiratama tidak akan menunjukkan hal tersebut kecuali didepan putranya.


"Hei bro.. kapan tiba di CF? kau tidak memberi kabar?" James beralih pada Romeo. Kemudian tersenyum pada Juliet, "Hai gorgeous."


Romeo menyeka mulutnya, berdiri dari kursi kemudian memeluk James. "Senang bertemu dengan mu sobat." balas Romeo yang memang dekat dengan James. Pria berambut gondrong dan pirang dengan style ala-ala preman menurut sang papa.


Sementara gadis cantik yang juga berdiri di belakang James hanya tersenyum tanpa suara. Dan Romeo mengenali siapa gadis itu, Jessie.


"Hai Jessie." sapa Romeo. "Hai Rom. Long time no see." gadis itu tersenyum ramah. Dari cara gadis itu bersikap, sepertinya ia adalah kekasih dari James, sahabat Romeo.


"Kalian ingin bergabung bersama kami?" tawar Romeo cepat.


"Tidak. Kami baru saja selesai. Kami akan pergi ke tempat selanjutnya. Bergabunglah bersama kami nanti kalau kau punya waktu luang." ajak James.


"Benar Rom. Kau sudah lama tidak bergabung bersama kami. Malam ini Gabe membuat pesta yang cukup besar." Sambung Jessie.


Ehhmm. "Son, bisakah kita makan dulu. Juliet juga pasti sudah lapar." ujar Wiratama menyela percakapan ketiganya.


"Akan ku pikirkan." sahut Romeo.


"Baiklah. Uncle, kami permisi, selamat malam." pamit James. Sementara Wiratama hanya mengangguk samar.


"Setelah menikah, seharusnya kau mengurangi pergaulan mu bersama anak itu. Kau harus fokus pada studi yang tertunda, terlebih ada nak Juliet yang saat ini sudah menjadi tanggung jawab mu." nasihat Wiratama pada Romeo tepat setelah James menghilang dari pandangan mereka.


Walaupun sebenarnya Juliet tidak merasa keberatan akan hal itu. Karena dalam perjanjian yang sudah mereka sepakati, bahwa mereka tidak akan ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing. Dan Juliet benar-benar tidak akan membatasi Romeo.


"Iya pa. Romeo tau." sahut pria itu dengan tenang.


...❄️...


Setelah menyelesaikan makan malam, Romeo dan Juliet kembali dengan mobil mereka. Sedang Wiratama kembali bersama sopirnya terlebih dahulu.


Romeo membawa Juliet berkendara melewati pinggiran kota yang berbatasan langsung dengan laut.


Disepanjang mata memandang, Kilauan cahaya lampu yang dipantulkan langsung dari laut menarik perhatian Juliet.


"Gimana, Lo suka sama pemandangan malamnya?" Romeo mengalihkan tatapan sekilas pada Juliet.


"Hem. Suka kok." sahut Juliet tenang.


Juliet mengernyit, melihat pada Romeo. "Harus banget ya hari ini?"


"Ya gak juga sih. Kalau Lo capek juga gak masalah kita tunda aja dulu."


"Hem, oke deh." Juliet menyetujui permintaan Romeo. Baginya, kencan yang Romeo maksud tidak lah berarti apa-apa. Sebab ia tahu bahwa pria itu hanya bersikap sopan pada dirinya yang hanyalah seorang tamu.


Setelah melewati beberapa tempat, ternyata kencan yang Romeo maksud adalah mendatangi sebuah rumah tempat dimana party yang disebutkan James sebelumnya diadakan.


"Lo gak masalahkan kalau kita mampir sebentar? gue mau ketemu temen-temen gue di dalam." kata Romeo. Itu bukanlah sebuah permintaan ijin, sebab keduanya sudah berada di sana. Melainkan sebuah ajakan yang mengharuskan Juliet untuk ikut.


"Hem. Gue gak apa-apa kok." Meskipun kurang menyukai party, tapi mau tak mau Juliet pun mengikuti Romeo. Lagi pula pria itu terlihat senang.


Sesampainya di dalam, Juliet yang tidak mengenal siapapun hanya mengekor dibelakang Romeo.


"Rom..?" suara seorang wanita membuat Juliet juga berbalik ke arah sumber suara. Itu adalah gadis yang tadi mereka jumpai di restoran.


"Jess? Hai. dimana James?" ujar Romeo yang sejak tadi mencari-cari sahabatnya itu. "James sedang bersama Gabe dan yang lainnya di taman samping. Kau datang dengan siapa?" gadis bersama Jessie itu melihat pada Juliet.


"Aku, ah.. perkenalkan ini Juliet." Romeo menarik tangan Juliet dan membuat gadis itu berdiri di sebelahnya. Ia tidak menyangka bahwa Romeo akan memperkenalkan dirinya pada teman-teman pria itu seperti ini.


Ia kira Romeo akan bersikap seolah-olah mereka adalah orang asing.


"Hai, aku Jessie. Aku dan Romeo satu kampus. Senang bertemu dengan mu Juliet. Ini adalah pertama kali kita bertemu." ujar gadis itu. Dan menurut Juliet, gadis itu cukup ramah.


"Heiii... coba lihat siapa ini?" seorang pria lain merangkul pundak Romeo, seolah-olah sedang mencekiknya. "Kemana saja kau bocah. Kau menghilang begitu saja bahkan tanpa pamit." ujar pria bertubuh tinggi dan cukup berisi itu.


"Hai Gabe. Lepaskan tangan mu sobat. Aku bisa mati saat ini juga." Romeo memukul tangan pria yang bernama Gabe.


Gabe pun melepaskan tangannya, membuat Romeo langsung tersenyum dan memeluknya sebagai salam pertemuan.


"Senang melihat mu lagi kawan. Jangan bilang Kalau kau merindukan aku. Sebab aku tidak sekali pun berpikir begitu." Romeo memicing. Setelahnya terdengar suara gelak tawa.


Juliet yang menyaksikan hal itu hanya bisa tersenyum, ia tidak tahu jika Romeo memiliki sisi friendly seperti yang ia lihat ini.


"Coba kita lihat siapa gadis ini. Kekasih mu?" Gabe beralih pada Juliet. "Hai. Juliet." Juliet mengulurkan tangan pada si tuan rumah yang tidak lain adalah sahabat dari Romeo.


"Juliet? nama yang cantik." puji Gabe. "Kemarilah." pria bertubuh gempal itu tiba-tiba saja menarik tangan keduanya. "Kau harus memperkenalkan kekasihmu pada semua orang sobat." ujar Gabe memaksa.


"Hei Gabe. Ini tidak seperti yang kau pikirkan sobat." Romeo mencoba menarik lepas tangannya. Namun sebelum ia berhasil mereka sudah tiba di tengah kerumunan.


"Hei.. Hei... coba lihat siapa ini..?" suara Gabe sedikit melengking. Yang bisa Juliet kenali dari segerombolan tersebut hanyalah James. Pria yang saat ini tersenyum misterius saat menatap dirinya.


"Si gunung es ini membawa seorang gadis cantik. Namun tidak berencana memperkenalkan nya pada kita. Bukankah itu tidak adil..?" Gabe sengaja mengompori teman-teman mereka.


Kenalkan...Kenalkan! suara teriakan dari yang lain. "Kau dengar suara itu sobat? sebaiknya lakukanlah.." ujar Gabe pada Romeo.


Romeo sendiri hanya tersenyum, pria itu sedikit merasa kerepotan karena ulah dari sahabat-sahabat nya.


"Ayolah Rom. Siapa gadis itu?" seruan lain muncul. Membuat Romeo menggelengkan kepala. "Baiklah. Baiklah, akan ku perkenalkan seperti permintaan kalian." ujar Romeo menyela suara-suara yang terus mendesak.


"Woooouuuuu!"


Romeo beralih pada Juliet, wajah gadis itu bersemu. "Lo gak apa-apa kan kalau gue kenalin sama teman-teman gue?" ijin Romeo. Juliet pun mengangguk samar.


Dadanya sedikit berdebar. Sebab ini pertama kalinya ia bertemu dengan orang-orang terdekat dari suaminya.


"Ini Juliet. Dari Indonesia. Kami baru tiba siang ini di CF." jelas Romeo, sementara teman-teman tersenyum sambil mendengarkan.


"Juliet akan tinggal di sini untuk waktu yang cukup lama. Dan ini adalah kunjungan pertama nya. Jadi aku harap kalian bersikap baik."


Romeo tiba-tiba mengalungkan tangannya diatas bahu Juliet, "Selama Juliet tinggal di sini, aku harap kalian tidak terlalu sering mengajak ku party. Karena aku harus menjaga gadis ini." Romeo tersenyum simpul saat tatapan keduanya bertemu.


Deg..


Juliet kembali berdebar.


"Woooouuuuu!" sorakan terdengar untuk kesekian kalinya. "Dan ingat. Jangan ada yang menggoda nya. Sebab gadis ini adalah sepupu ku yang berharga."


Deg...


Mendengar siapa dirinya bagi Romeo, Juliet sempat menatap mata pria itu sekilas, kemudian tersenyum samar.


James yang tahu kebenaran dari keduanya, hanya bertepuk tangan sambil tersenyum.


"Woooouuuuu! Kita punya sepupu yang cantik!" teriakan lain menggema. Romeo menurunkan tangannya dari bahu Juliet kemudian menghampiri kerumunan untuk menyapa teman-teman nya.


"Aku kira hanya aku yang akan tahu apa hubungan kalian sebenarnya." James berdiri sambil bersedekap di sebelah Juliet.


"Ku rasa kau pun tidak tahu. Seperti yang teman mu katakan. Kami hanyalah sepupu."


...❄️...


...❄️...


...❄️...