
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Setelah meletakan koper di kamar. Romeo membantu Juliet untuk menyusun barang-barang mereka berdua. Romeo yang mengeluarkan isinya, Juliet yang merapikan kedalam lemari.
Meskipun barang-barang mereka tidak terlalu banyak, tetap saja Romeo tidak ingin membiarkan Juliet melakukan semua itu seorang diri.
"Biar gue aja." kata Juliet yang saat ini sedang menyusun satu persatu perlengkapan make up miliknya di atas meja rias. "Lagian ini gak banyak juga kok." tambahnya yang sudah hampir selesai.
Sementara Romeo masih melakukan bagiannya, kini ia kembali membuka koper terakhir. "Udah. Gak apa-apa kok. Karena cuma sedikit aja, makanya gue bantuin." sahut Romeo tidak keberatan. "Untuk sementara Lo gak masalah kan kalau kita tidur sekamar? soalnya.. ya Lo tau sendiri."
Mendengar hal itu, Juliet jadi teringat pada pertanyaan yang sama yang ia tanyakan saat mereka menginap dirumah keluarganya. Sepertinya Romeo juga memikirkan kenyamanan dirinya, sama seperti yang ia lakukan waktu itu.
"Santai aja. Lagian kitakan emang harus terbiasa. Dua tahun masih lama kali." celetuk Juliet seolah-olah semua itu adalah hal yang biasa bagi dirinya.
Padahal dulu gadis itu sangat menentang kedekatan diantara mereka berdua. Dalam hati Romeo sedikit merasa senang.
"Hem. Kalau ada yang bikin Lo gak nyaman bilang aja. Gue usahain biar kita bisa pindah kerumah kita secepatnya." Romeo tersenyum simpul.
"Iya. Gue bakal kasih tau kok."
Pekerjaan merapikan pakaian pun selesai. Kini tidak ada lagi yang bisa Juliet lakukan. Begitu pun dengan Romeo. Suasana kembali canggung. Seharusnya mereka sudah terbiasa, tapi entah kenapa keduanya tetap saja berdebar.
"Lo istirahat aja. Gue mau ketemu papa bentar." kata Romeo yang langsung meninggalkan kamar setelah Juliet mengangguk samar.
...❄️❄️...
...Tok..Tok.. ...
Romeo mengetuk pelan pintu ruang kerja papa nya..
"Pa, aku ganggu gak?" tanyanya mengintip dari balik pintu. Melihat putranya, senyum samar pun tersungging di wajah Wiratama. "Masuk aja Rom." ijin nya, kemudian menghentikan pekerjaan yang sedang dilakukan.
"Juliet mana? lagi istirahat ya?" Romeo mengangguk pelan. "Iya pah." Romeo mengambil tempat dan duduk di ujung sofa terdekat. "O, ya. Rencananya Romeo sama Juliet gak lama-lama tinggal di sini."
Wiratama mengernyit, "Kitakan masih pengantin baru pah. Jadi pengen ada privasi aja gitu." jelas Romeo yang bisa melihat ketidaksukaan yang tadi sempat muncul pada wajah papanya.
"Satu bulan gimana?" ujar Wiratama mulai membuat kesepakatan seperti biasa. Mendengar hal itu Romeo langsung menggeleng cepat. Tentu saja ia akan menolak. Terlalu berbahaya bagi keduanya jika terlalu lama tinggal bersama papanya.
"Kelamaan pa. Satu minggu aja." kata Romeo memutuskan. "Selama satu minggu ke depan Romeo bakal sibuk juga ngurusin kuliah, jadi Juliet bisa tinggal di sini dulu. Biar ada yang nemenin."
"Lagian Juliet belum tau daerah sini. Setelah urusan kuliah selesai, Romeo akan bawa Juliet pindah kerumah yang papa beli waktu itu." Ini adalah kesepakatan terbaik yang bisa Romeo buat dengan sang papa.
"Baiklah. Kalau begitu selama satu minggu ke depan papa akan ajak Juliet jalan-jalan. Sementara kamu bereskan semua urusan mu di kampus." Wiratama menyetujui kesepakatan yang diajukan putranya.
"Papa mau ajak Juliet kemana?" tanya Romeo sedikit penasaran. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam kepala papanya.
"Terserah papa dong mau ajak mantu papa kemana. Memang nya harus laporan ke kamu?" kata Wiratama membuat Romeo mengernyit, rasa penasarannya mulai meningkat.
Pria itu menekuk wajahnya, keberatan dengan sikap rahasia yang papanya lakukan. "Iya dong pa. Romeo kan suami Juliet, masa Romeo gak boleh tau!" katanya menunjukkan sikap protes.
Wiratama sangat menyukai Juliet, bahkan sejak wanita itu kecil. Karena menurutnya Juliet berbeda. Jika Lily terlihat dewasa sejak usia muda, maka Juliet sebaliknya. Namun gadis itu memiliki hati yang lembut dan hangat.
Cih. "Papa mau merayu nih ceritanya." celetuk Romeo pada Wiratama. "Iya dong. Sebagai papa mertua, papa ingin menantu papa satu-satunya merasa bahagia. Memang nya tidak boleh?" Wiratama membalas kata-kata putranya, menantang.
"Iya deh... terserah papa aja. Semoga sukses ya pa." Romeo menyunggingkan senyum. "Asal papa tau aja, Juliet itu susah banget dibujuk." karena Romeo sudah pernah melakukannya. Dan itu benar-benar sulit.
Kening Wiratama mengernyit, "Masa sih? kamu nya aja mungkin yang kurang jago." Wiratama sedikit meragukan perkataan putranya. "Papa coba aja nanti. Romeo gak bohong kok." Romeo tetap pada keyakinan nya tentang Juliet.
Jika Juliet memang mudah dibujuk, mungkin mereka sudah tiba di CF sejak satu bulan yang lalu.
"Ya sudah. Gimana nya nanti aja." balas Wiratama lagi. "Kamu balik sana, masa istrimu di tinggal sendiri. Ingatin juga buat siap-siap untuk makan malam nanti. Papa udah reservasi di restoran kesukaan kamu itu." kata Wiratama tersenyum hangat.
"Yang benar pa? tumben. Biasanya papa gak mau buang-buang uang." Kini giliran Romeo yang tersenyum sumringah.
"Inikan buat menantu papa. Masa papa perhitungan juga."
Cih. Jadi sama Romeo aja nih ceritanya papa perhitungan? batin Romeo. Tapi didalam sana ada sesuatu yang menggelitik. Entah kenapa ia bahagia.
"Ya udah deh. Nanti Romeo bilangin Juliet. Romeo balik kamar dulu ya pa." kata Romeo yang langsung bangkit dari duduknya.
"Hem."
...❄️❄️...
Saat kembali ke kamar, Juliet sedang berada di dalam kamar mandi. Seperti nya gadis itu baru saja mematikan pancuran airnya.
"Juliet, Lo jangan keluar gak pake baju. Gue ada di kamar." teriak Romeo memperingati.
Mendengar hal itu, Juliet hanya mengulum senyum. Siapa juga yang akan bertindak ceroboh seperti itu. "Iya gue tau. Gue bawa baju kok." sahut Juliet.
"Beberapa menit kemudian, Juliet pun keluar dengan rambut yang terbalut handuk. Wanita itu mengenakan kaos yang longgar dan juga celana pendek seperti yang biasanya ia gunakan di Indonesia.
"Lo yakin mau pakai pakaian gitu?" Romeo melihat jam ditangannya. "Emang kenapa?" Juliet balik bertanya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan pakaiannya saat ini toh mereka hanya akan tidur.
"Gak apa-apa sih kalau kita di indo. Tapikan disini beda. Sebentar lagi suhunya akan berubah. Mending Lo ganti pakaian yang lebih hangat." peringat Romeo dengan sungguh-sungguh.
"Atau mending sekalian aja Lo ganti baju buat dinner. Soalnya papa ngajakin kita dinner diluar." Romeo menyunggingkan senyum samar sambil memperhatikan wajah serius Juliet saat mendengarkan dirinya.
"Ya udah, gue mau mandi juga. Lo siap-siap aja." Saat melewati Juliet sifat jahil Romeo kembali muncul. Tanpa Juliet sadari handuk di kepala gadis itu ditarik hingga lepas.
"Ih.. Romeo...!" kata Juliet kesal sambil manahan handuk di kepalanya. "Buruan dikeringin entar Lo masuk angin." balas Romeo sambil tertawa.
"Dasar Lo usil banget sih!"
...❄️...
...❄️...
...❄️...