ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-43



...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Kenapa kamu gak bilang aja kalau kita sepupu, dan malah bilang kalau kita nikah? kamu gak takut kalau rahasia pernikahan kita kesebar?" tanya Juliet pada Romeo. Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil.


Romeo diam sesaat. Ia menghela nafas, kemudian menatap pada Juliet. "Apa menurut mu aku harus mengatakan kita sepupu, lagi?" sahutnya perlahan. Juliet mengernyit, ia tidak mengerti dengan pertanyaan tersebut.


Bukankah yang pertama kali menyatakan hubungan mereka sebagai sepupu adalah lelaki disampingnya?


"Apa maksud mu bertanya seperti ini?" balas Juliet. Ia tidak ingin membuat perspektif lain tentang hubungan mereka. Cukup lah apa yang sudah ia ketahui, dan yang sudah ia yakini.


Jika Romeo mengatakan A, bukankah seharusnya pria itu konsisten menyebutkan A sampai akhir? lantas apa alasannya sekarang? apakah karena gadis itu adik dari sahabatnya?


Tapi bukankah seperti itu justru lebih berbahaya? apalagi sepertinya gadis itu enggan untuk bekerja sama. Apakah ini yang dinamakan sebuah kepercayaan tak berdasar? aneh.


"Ehmm.. Entah lah." Kedua bahu pria itu terangkat samar. "Aku hanya merasa senang saat mengatakan jika kita benar-benar menikah. Kamu gak suka?" Lihatlah. Pria itu lagi-lagi melemparkan pertanyaan yang seharusnya ia jawab.


Kepala Juliet terasa pusing saat memikirkan semua pertanyaan itu. Dasar menyebalkan.


Terserah lah. Ia tidak akan penasaran lagi dengan keputusan pria yang saat ini telah menjadi suaminya itu. Mau mereka menikah atau hanya sepupu, masa bodoh dengan semuanya.


"Terserah Lo." balas Juliet seraya membuang muka.


Melihat reaksi Juliet, Romeo mengulum senyum samar. Ia memang bersikap sedikit kekanakan. Tapi itu semua hanyalah karena ia ingin menggoda Juliet. Rasanya Romeo benar-benar akan gila karena telah berani bermain dengan hubungan mereka.


Setelah melintasi perkotaan yang cukup padat, Romeo kembali melajukan mobilnya disepanjang pantai.


Di ujung jalan, tiba-tiba saja Romeo membelokkan mobilnya ke salah satu komplek perumahan yang belum Juliet ketahui. Pikirnya, kali ini entah siapa lagi yang ingin dijumpai oleh Romeo.


...❄️...


Setelah mobil mereka berhenti, Romeo cepat-cepat keluar agar bisa membukakan pintu bagi Juliet.


Juliet yang tidak tahu mereka akan bertemu siapa hanya bisa diam seraya menunggu saat yang tepat untuk kembali berakting. "Ayo." pria itu tersenyum sambil menggandeng tangan Juliet.


"Welcome home." ucap Romeo saat keduanya berdiri didepan pintu. Kali ini Juliet bukan hanya mengernyit, tapi mulutnya sedikit terbuka karena terkejut.


Melihat reaksi Juliet Romeo kembali tersenyum. "Ini rumah kita yang ku bicarakan sebelumnya. Dan besok kita sudah bisa pindah ke sini." jelas pria itu seakan tahu pertanyaan apa saja sedang memenuhi isi kepala Juliet.


Romeo kembali menarik tangan Juliet agar mereka bisa melihat ke dalam dengan lebih jelas. Dan, Yes. Juliet sedikit terperangah. Rumah itu benar-benar seperti rumah idaman nya.


"Gimana, kamu suka?" Romeo tiba-tiba saja berdiri di belakang Juliet, membuat tubuh gadis itu sedikit meremang.


"Hem. Rumahnya bagus. Dan terlihat nyaman juga." sahut Juliet sengaja menjauhkan diri dari Romeo. Ia berdebar. Ah.. sialan. Juliet pun melanjutkan langkahnya untuk melihat ke sekitar.


Rumah yang akan mereka tempati itu tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.


Memiliki halaman yang cukup, dan juga terdapat taman bunga kecil disampingnya. Pemandangan itu tentu saja mampu mengukir sebuah senyuman di wajah Juliet karena mengingatkan dirinya pada kebun kecil milik Oma Dena. Ah.. Juliet rindu Oma..


"Ayo, kita lihat-lihat ke sana. Aku membuatnya sambil mempertimbangkan apa saja yang kamu suka." ucap Romeo sedikit membanggakan usahanya.


Di bagian sisi lain, masih di lantai yang sama, Juliet berhenti sejenak untuk melihat kolam renang yang hanya di pisahkan oleh sebuah kaca.


Dalam hatinya, Juliet benar-benar merasa puas atas pilihan Romeo. Rumah mereka benar-benar terlihat nyaman.


"Kalau ada yang kurang atau mau dirubah, bilang saja. Aku mau rumah ini benar-benar jadi rumah yang nyaman untuk mu."


Untuk ku? Juliet tersenyum. Hatinya sedikit menghangat karena mengetahui bahwa ternyata Romeo lebih memikirkan kenyamanan nya saat mereka tinggal di rumah itu.


"Hem. Aku mau lihat-lihat kelantai atas." Romeo pun membiarkan Juliet untuk melihat lebih jauh. Sementara itu, Romeo pergi ke pantry.


Ada juga beberapa photo yang diambil dari liburan mereka saat di Bali. Lagi-lagi hati Juliet kembali terenyuh. Kenapa Romeo harus memajang semua ini?


Pemikiran yang Juliet tanamkan sebelumnya kembali dihantam oleh kenyataan yang ada didepan matanya.


Seharusnya semua gambar-gambar itu tidak ada di sana. Karena pada dasarnya pernikahan mereka hanyalah sebatas pernikahan kontrak. Bagaimana jika teman-teman pria itu berkunjung? bukankah itu justru akan mempersulit mereka? Juliet benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Romeo.


"Apa yang sebenarnya kamu mau Rom?" hati Juliet terasa sakit tapi juga bahagia di saat yang bersamaan.


Dengan pemikiran yang sedikit kacau, Juliet pun melanjutkan langkahnya. Ia tidak bisa terlalu lama berada di sana.


Saat ia tiba di ujung tangga, ruangan pertama yang Juliet temui adalah sebuah kamar yang berukuran cukup besar dengan cat dan design yang cukup familiar. Sepertinya, ruangan itu adalah kamar yang akan Romeo tempati nanti. Ia hanya melihat sebentar, kemudian berlalu begitu saja.


Di pintu selanjutnya, Juliet masih menjumpai sebuah kamar namun berukuran lebih luas dari kamar sebelumnya. Dan dekorasi nya terlihat lebih feminim. Apakah ini kamar miliknya? Juliet hanya mengangguk. Karena ia cukup menyukai design ruangan itu.


Juliet kembali melanjutkan langkahnya. Sampailah ia di bagian ujung dari lorong itu, terdapat satu ruangan lagi yang ia jumpai sama seperti ruangan Sebelumnya.


Di sana terdapat satu set sofa santai dan juga sebuah perapian. Dan di bagian ujungnya, ada sebuah mini bar. Melihatnya sekilas, Juliet bisa tahu jika itu adalah ruangan yang mungkin akan sering di gunakan oleh Romeo nantinya.


Beginilah rumah mereka. Benar-benar terlihat nyaman dan juga hangat.


Saat Juliet ingin berbalik turun, suara langkah Romeo terdengar di ujung tangga, pria itu tersenyum saat tahu bahwa Juliet sedang memperhatikan dirinya.


"Bagaimana kau suka semua nya?" tanya Romeo memastikan sekali lagi. Deg.. bukannya menjawab pikiran Juliet justru teralihkan pada sesuatu yang lain. Yaitu bibir Romeo.


Saat melihat bibir itu, tubuh Juliet seakan bisa merasakan sentuhan nya dengan begitu nyata. Bahkan rasa nya pun masih begitu ia kenali. Padahal itu hanya mimpi. Tapi kenapa begitu nyata?


"Juliet?" Panggil Romeo saat gadis itu tidak menjawab. Tanpa sadar tangan Romeo sudah menyentuh pipi Juliet. Begitu halus dan lembut.


"Mau menginap? sepertinya kita harus melakukan sebuah uji coba." usul Romeo tiba-tiba pada Juliet. Tubuh mereka sangat dekat, bahkan hembusan nafas Romeo benar-benar bisa Juliet rasakan membelai wajahnya.


Deg..


"Malam ini?" apa yang kau katakan Juliet?


"Hem, malam ini."


"Bagaimana dengan papa?" omong kosong!


Romeo mengernyit, sedetik kemudian ia tersenyum. Menurut nya Juliet benar-benar menggemaskan. Bagaimana bisa ia baru menyadari hal ini.


"Papa bukan anak kecil Juliet. Hanya karena kita tidak pulang malam ini, tidak akan menjadi masalah yang besar untuknya. Lagi pula kita berada di sini. Dirumah kita. Tidak akan ada masalah yang terjadi."


Juliet kembali diam. Saat ini Romeo sudah benar-benar membuat tubuh Juliet terpojok. Lagi-lagi ingatan tentang mimpi malam itu kembali memenuhi isi kepala Juliet. Bukan hanya gadis itu, tapi saat ini tubuh Romeo pun memberikan reaksi yang sama.


Ia benar-benar ingin bersama Juliet malam ini. Entah gadis itu suka atau tidak.


"Tapi,-


Melihat keraguan dimata Juliet, membuat Romeo kembali berkata; "Kenapa, kau takut kalau kita hanya berduaan saja?" Pandangan Romeo tiba-tiba saja terhenti pada bibir Juliet dan terkunci di sana.


Bibir manis itu benar-benar akan membuatnya gila. Sial. Ini benar-benar sudah terlalu melenceng dari rencana.


Romeo Bergerak gusar. "Tapi kalau kamu,-


"Hem. Ayo menginap."


...❄️...


...❄️...


...❄️...