ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-16



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Mata Juliet baru saja terbuka. Beberapa kali ia mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


Langit sudah tidak seterik sebelum nya. Dan udara sudah berubah menjadi lebih sejuk. Rupa-rupa nya ia sudah tertidur cukup lama.


Juliet berbalik untuk melihat pria yang seharusnya ada di samping Juliet. Apakah Romeo juga sama seperti dirinya, tertidur?


"Lo udah bangun?" Juliet mendapati Romeo sedang memandangi dirinya sambil tersenyum. Pria itu masih dengan posisi sebelumnya. Bersender pada pohon dengan buku di dalam tangannya. Ah, tampannya.


Sejak kapan ada buku di sini? pikir Juliet sesaat. "Ah, gue ketiduran rupanya." Juliet bangun dengan gesture tubuh yang sedikit kikuk. Ia tidak tahu berapa lama Romeo sudah memperhatikan dirinya.


Ah, memalukan. Bagaimana bisa ia tertidur di tengah-tengah area piknik seperti ini? Juliet merutuki dirinya sendiri.


"Kalau Lo masih ngantuk tidur aja lagi. Gue bisa kok nungguin sampai,"


"Gak. Udah cukup kok." tolak Juliet cepat. "Udah jam berapa? sorry banget. Gue udah bikin Lo nunggu lama. Padahal Lo juga pasti punya kesibukan lain." Juliet merasa sedikit menyesal.


Romeo tersenyum. Dan tentu saja setiap pria itu memunculkan senyum samar di wajahnya, ada sesuatu yang aneh yang Juliet rasakan.


Plak. Romeo menggetok pelan buku yang di pegang nya pada kepala Juliet. "Aww.." Juliet meringis seraya memegang keningnya. "Lo mikir apaan coba? kan udah gue bilang hari ini me time nya kita sebagai pasangan. Jadi waktu gue sepenuhnya buat Lo."


Seandainya saja mereka tidak dalam posisi hubungan kontrak, mungkin Juliet akan berbunga-bunga saat mendengar pernyataan Romeo. Hanya saja, Juliet terlalu sadar jika sikap baik Romeo hanyalah formalitas semata. Karena pria itu ingin mereka menjadi sedikit lebih dekat. Hanya itu.


"Gak usah getokin pala gue juga kali." protes Juliet mengerucutkan bibirnya hingga terlihat menggemaskan bagi Romeo.


Tidak ingin perhatian nya teralihkan oleh perasaan asing yang tidak ia kenali, Romeo menyimpan bukunya dan segera berdiri. "Kalau Lo udah selesai, sebaiknya kita pulang. Lo gak berencana buat nginap di sini kan?" Romeo tersenyum mengejek.


Dengan wajah yang masih cemberut, Juliet juga mengikuti Romeo untuk membantu pria itu membereskan semua peralatan piknik yang mereka gunakan.


"Ah, akhirnya selesai juga. Makasih ya. Gue senang banget. Baru kali ini gue ngerasa nyaman waktu berada di luar." ucap Juliet. "Selama ini, gue pikir tempat ternyaman cuma rumah gue. Ternyata ada tempat kaya gini juga."


Romeo memperhatikan senyuman di wajah Juliet. Semua yang gadis itu pikirkan terlihat jelas di wajahnya.


"Ini masih biasa. Masih ada banyak tempat yang mau gue tunjukin ke Lo." Sahut Romeo. "Itu pun kalau Lo mau ikut sama gue." lanjut nya.


Juliet mengerutkan keningnya, "Maksud Lo?" Romeo tertawa kecil. "Maksud gue. Kalau Lo mau ketempat lain, gue bisa kok temenin Lo. Banyak tempat-tempat indah yang mau gue datangin juga. Dan menurut gue, pergi bareng Lo gak ada ruginya." jelas Romeo.


"Kuliah Lo gimana? Kuliah Lo kan belum selesai. Lo mau jadi mahasiswa abadi?" sela Juliet. Bukan ingin bersikap munafik. Juliet suka pergi jalan-jalan seperti yang Romeo katakan. Hanya saja jika pria itu harus mengabaikan pendidikan nya, Juliet lebih baik mengatakan-Tidak!


"Gak usah mikirin pendidikan gue. Gue tau apa yang harus gue lakukan. Lagian itukan urusan gue." suara Romeo terdengar berubah. Pria itu merasa tidak nyaman saat membicarakan hal-hal yang lebih pribadi.


"Maaf."


...❄️❄️❄️...


Juliet memang tidak berharap lebih dari hubungan yang akan ia jalani. Toh sejak awal mereka hanyalah orang asing yang di pertemukan karena perjodohan konyol yang sudah ditetapkan.


Tapi apakah salah jika Juliet memiliki sedikit harapan untuk bisa lebih mengenal bagaimana Romeo yang sebenarnya? ataukah memang dirinya yang terlalu serakah.


...❄️❄️❄️...


Hari yang Juliet khawatirkan akhirnya datang juga. Juliet pikir ia bisa menghindari nya lebih lama. Tapi ternyata, itu hanyalah angan nya saja.


"Bagaimana, kau suka Juliet?" Lily terlihat lebih bersemangat saat menunjukkan pemandangan di sekitar hotel kepada Juliet.


Saat ini mereka sudah berada di salah satu hotel termewah di Jakarta. Tempat dimana Juliet dan Romeo akan melangsungkan pernikahan mereka ke esokan harinya.


"Tempatnya bagus kak." Juliet menyuguhkan sedikit senyuman di wajahnya. Ia tidak yakin apakah perasaan nya saat ini adalah perasaan bahagia ataukah perasaan yang juga tidak ia kenali.


Melihat wajah Juliet yang sedikit muram, Lily kembali mengajak Juliet bicara. "Bagaimana perasaan mu dik? apakah masih sama seperti sebelumnya?"


Juliet tertegun. Memang tidak ada yang berubah dari hubungan mereka. Dan juga, tentang perasaannya. Semuanya masih sama.


"Aku percaya pada takdir kak." suara Juliet terdengar bergetar. "Jika ini memang takdirku, aku percaya pasti ada kebahagiaan di dalamnya." Juliet tersenyum getir.


"Meskipun tahu pernikahan ini hanyalah pernikahan karena perjodohan, entah kenapa aku tetap ingin menjalaninya. Bukankah kita tidak akan tahu bagaimana masa depan jika tidak mencobanya?"


Lily tersenyum, kemudian meraih tangan Juliet. "Kau benar dik. Kau tidak akan tahu bagaimana masa depan jika kau belum menjalani nya. Kakak doakan semoga kau akan menemukan kebahagiaan mu."


Memeluk Lily adalah salah satu kegiatan yang Juliet sukai akhir-akhir ini. Perasaan nya menjadi sedikit lebih baik saat ia mendapatkan dukungan dari Lily.


"Ehmm. Apa aku mengganggu kalian?" suara Romeo menginterupsi keduanya. Pria itu terlihat sedikit salah tingkah.


Entah karena besok mereka akan menikah ataukah karena pria itu baru saja menata dirinya, wajah Romeo menjadi sedikit berbeda. Terlihat lebih lembut dan juga sangat karismatik.


Lily tersenyum setelah melepaskan pelukannya. "Tidak. Tentu saja tidak Rom. Kau bisa menemui Juliet sekarang. Lagipula aku harus kembali pada suami ku." Lily memberi ruang bagi keduanya.


"Hai.." Romeo tersenyum canggung. "Hai." balas Juliet seraya memaksakan sedikit sunggingan di wajahnya.


Romeo menyerahkan bunga yang di bawanya kepada Juliet, "Ini buat Lo." kata Romeo. Juliet menerima bunga itu dan setelah nya tidak ada lagi kata-kata yang terucap.


"Lo baik-baik ajakan?" Romeo terlihat ingin tahu.


"Lo yakin itu pertanyaan yang tepat untuk saat ini?"


...❄️...


...❄️...