ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-14



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Juliet merasa terganggu dengan adanya getaran yang tidak kunjung berhenti disebelah bantalnya. Padahal mata Juliet masih begitu berat.


"Hem. Halo?" sahut Juliet masih dengan mata terpejam. "Ini gue Randy." seketika suara pria itu membuat Juliet membuka mata dengan cepat. "Ada apa? gak ada yang harus kita bicarain lagi kan?" ujar Juliet sengaja terdengar enggan.


"Maaf atas pengakuan gue yang bikin Lo gak nyaman. Tapi gue harap, pertemanan kita setelah ini gak akan berubah." Juliet semakin heran mendengar pernyataan yang baru saja menggaung di pendengaran nya. Bagi Juliet Randy memang pemuda yang baik. Hanya saja dua pernyataan yang sedikit bertolak belakang terkesan sedikit aneh.


"Iya. Gue paham kok maksud Lo. Ada lagi? gue masih ngantuk." balas Juliet enggan berpikir terlalu jauh dan meng'iya kan begitu saja ucapan Randy. "Gak ada lagi kok. Maaf ya untuk sebelumnya, dan terimakasih untuk sekarang." Juliet menutup telepon tepat setelah Randy menyelesaikan kalimatnya.


Juliet masih tidak mengerti dengan jalan pikiran para laki-laki. Baru saja mereka mengatakan A, dan beberapa waktu setelah nya meraka akan langsung menyesali apa yang sudah mereka ucapkan. Jika pada akhirnya akan menyesal, mengapa memilih untuk melakukan hal tersebut? benar-benar diluar logika.


"Sungguh makhluk yang tidak praktis." cibir Juliet terhadap jenis yang berbeda golongan dengan dirinya.


Baru saja Juliet ingin melanjutkan untuk menutup mata, dari arah pintu kamarnya terdengar suara ketukan pelan, "Nona, tuan Romeo berada di bawah dan sedang menunggu anda." ujar salah satu pelayan di keluarga Dominique yang menyampaikan pesan dengan hati-hati.


Ah, sial banget sih. "Ya. Suruh tunggu sebentar bi. Terimakasih." sahut Juliet.


Dengan rasa enggan, Juliet bangun dari atas ranjang untuk menyiapkan dirinya. Meskipun tidak berminat untuk pergi, tapi Juliet sudah bertekad pada dirinya untuk tidak melarikan diri lagi. Terutama dari Romeo. Juliet akan menghadapi pria itu langsung.


...❄️...


...❄️...


Di ruang tamu, Romeo menunggu seorang diri. Juliet sedikit merasa heran karena tidak biasanya Oma Dena membiarkan tamu nya tidak ditemani, terutama jika tamu yang datang adalah Romeo.


Juliet berjalan meliuk ke arah ruang keluarga dan melihat seorang pelayan di sana, "Bi, apa Oma sedang keluar?" asisten nya mengangguk pelan, "Benar nona. Nyonya sedang tidak ada dirumah." jelasnya singkat. Kini giliran Juliet yang mengangguk, "Baiklah."


Melihat di depan Romeo sudah tersedia minuman, Juliet pun langsung menghampiri calon suaminya itu. "Hai." sapa Juliet terdengar sedikit canggung. "Hai." Romeo juga terlihat sedikit canggung, tapi berbeda dengan Juliet pria itu tidak bisa menghilangkannya aura dingin dari wajahnya.


"Jadi, mau kemana dulu nih? mau langsung ke butik atau?" Belum lagi Juliet menyelesaikan kalimatnya, Romeo sudah menyela, "Makan siang dulu. Gue lapar." ujar Romeo yang langsung bangun dari duduknya dan meraih tangan Juliet untuk menggandeng nya. Apa Romeo ingin mereka berakting disini? di depan keluarga nya?


Kali ini Juliet tidak melakukan protes sedikit pun. Ia mengikuti Romeo begitu saja, seakan pria itu memang layak untuk di turuti dalam setiap perkataan maupun tindakan nya.


Setelah membukakan pintu dan Juliet masuk ke dalamnya, Romeo pun menyusul kemudian keduanya langsung meninggalkan kediaman Dominique.


"Lo gak ditanyain apa-apa sama Oma waktu Lo pulang?" Romeo membuka percakapan. "Gak kok. Tenang aja." jawab Juliet singkat. "Ya gue gak enak aja. Mana Lo pulang gak bilang-bilang lagi. Gue takut nya Lo di culik aja." mendengar kecemasan Romeo tentang dirinya tanpa sadar membuat Juliet tertawa.


"Lo sehatkan ya?" balas Juliet masih merasa lucu. Romeo menatap Juliet sesaat, "emang gue gak boleh khawatir sama calon istri gue?" entah itu sebuah kalimat yang tidak di sengaja untuk Romeo ucapkan atau kah pria itu sengaja mempermainkan dirinya, tapi ucapan Romeo sukses membuat wajah Juliet merona.


"Gila Lo. Ada-ada aja." Juliet memalingkan wajahnya yang terasa menghangat. Sedangkan Romeo justru sebaliknya, ia merasa heran. Apa yang lucu dari mengkhawatirkan seseorang. Terutama jika orang tersebut akan menjadi calon pendampingnya kelak.


"Makanan favorit Lo apa?"


Pertanyaan kedua Romeo yang membawa Juliet mengernyitkan dahi. Apa saat ini Romeo menginginkan agar mereka menjadi lebih dekat? karena jika ya, maka Juliet tidak punya pilihan lain selain melakukan hal yang sama. Hanya saja, Juliet tidak ingin berspekulasi terlalu jauh tentang hubungan mereka. Karena pada dasarnya semua hanyalah hubungan kontrak.


"Ada rekomendasi tempat makan yang enak di sini? jujur aja gue kurang tau." Kali ini Juliet yakin seratus persen jika Romeo benar-benar ingin membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat, setidaknya lebih seperti seorang teman di bandingkan orang asing.


Karena tidak suka sesuatu yang rumit dan menghabiskan waktu terlalu lama untuk menunggu, Juliet pun merekomendasikan restoran nasi padang kepada Romeo, dan merasa lega karena Romeo menyukai makanan khas nusantara yang Juliet pilihkan.


...❄️...


...BOUTIQUE...


"Bagaimana tuan dengan tampilan terakhir dari mempelai wanita?" tanya sang designer tersenyum puas saat melihat Juliet berdiri dengan begitu anggun di depan mereka.


"Tidak buruk. Dan tolong buatkan penutup kepala yang cantik. Aku kurang suka dengan yang di pakainya sekarang." Romeo memberikan pendapat.


Baginya Juliet memang terlihat sangat cantik, terutama saat gadis itu muncul di hadapannya. Bahkan jantung Romeo berpacu dengan cepat saat melihat senyum malu-malu yang muncul samar di wajah Juliet, hanya saja, Romeo ingin segala sesuatu nya menjadi jauh lebih sempurna, karena itulah ia memberikan sebuah permintaan khusus sebelumnya.


"Baik tuan. Akan saya buat seperti permintaan anda."


Juliet sendiri enggan memberikan kritik pada gaunnya. Karena bagi Juliet gaun yang ia kenakan sudah jauh lebih cantik dan indah dari sebelumnya. Dan gaun tersebut benar-benar mirip dengan gaun impian nya selama ini.


"Lo gak cobain punya Lo?" tanya Juliet saat Romeo tidak juga berganti pakaian saat dirinya sudah selesai. "Gak usah. Gue udah liat kok hasilnya, dan menurut gue udah pas." Juliet mengangguk samar. "Lo udah selesai?" ujar Romeo lagi, "Hem. Udah."


Setelah keluar dari butik, Romeo mengajak Juliet pergi ke salah satu taman yang di gunakan sebagai tempat piknik buatan yang masih berada di sekitar kota, "Lo pernah ke sini?" Sekali lagi Romeo tersenyum. Seperti nya pria itu terlihat lebih santai dari hari-hari sebelumnya yang pernah Juliet lihat. Dan Juliet cukup menyukai senyum pria itu.


"Emang di sini mau ngapain?" Juliet memperhatikan Romeo yang mengeluarkan beberapa kotak dari dalam bagasi mobil. "Kencan." sahut Romeo singkat.


"What?"


"Lo gak budek kan ya? kita mau kencan." ulang Romeo membuat Juliet semakin terperangah.


"Kencan? di sini? sekarang?" Sangat jauh dari pikiran Juliet jika pria dingin dan arogan plus diktator di hadapan nya itu mengajak nya untuk melakukan sesuatu yang romantis seperti layaknya seorang pasangan. Tapi tidak. Juliet yakin kencan yang Romeo maksud bukanlah kencan seperti yang Juliet pikirkan.


"Bantuin gue bawain kotak yang satu nya. Kunci mobil nya juga." perintah Romeo saat Juliet hanya menatap tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh dirinya.


Bukannya Bergerak dengan cepat, lagi-lagi Juliet mematung seperti ucapan Romeo masih berproses di dalam kepalanya.


"Halo? pikiran Lo gak tiba-tiba hilang kan, Juliet Dominique?" Romeo menatap wajah Juliet dari jarak yang cukup untuk bisa membuat gadis itu tersadar.


"Hah? em-Ya. Oke. Gue bawa." suara Juliet yang terdengar gugup membuat senyuman tipis terukir di wajah Romeo.


"Saatnya kencan...!"


...❄️...


...❄️...


...❄️...