ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-37



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Juliet merapikan barang-barang yang sedikit berserakan diatas nakas. Setelahnya ia juga merapikan tempat tidur sebelum benar-benar meninggalkan kamar itu.


Romeo sendiri sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Katanya pria itu harus pergi untuk mengurus urusan kuliah nya yang selama ini telah tertunda. Sedangkan Juliet, ia memiliki janji untuk menemani papa mertuanya.


Mereka akan mengunjungi salah satu yayasan milik keluarga Wiratama yang baru saja di bangun dipinggiran kota El Monte. Ini adalah yayasan ke tujuh belas dari sekian banyak yayasan yang telah berdiri di berbagai kota dan juga negara diluar California.


Seperti yang Romeo ceritakan padanya, bahwa sang papa benar-benar seorang dermawan yang memiliki jiwa sosial setinggi langit.


Dan menurut cerita yang Juliet dengar langsung dari papa mertua nya, bahwa yayasan yang mereka bangun kali ini akan diberi nama Soyeon Park Foundation, sama seperti nama mendiang ibunda Romeo. Sebagai pengingat bahwa, wanita itu akan selalu menjadi bagian dari keluarga besar Wiratama.


Memikirkan hal seperti itu bisa ia saksikan secara langsung, membuat jantung Juliet berdegup cepat. Ia merasa haru disertai perasaan iri dengan apa yang papa mertuanya lakukan untuk mendiang istrinya.


Bagi Juliet, sangat jarang bisa menjumpai pria yang memiliki cinta dan kesetiaan yang tulus seperti yang ia lihat dari sosok papa mertuanya itu.


Meskipun kepergian sang istri sudah berlalu sejak berpuluh-puluh tahun lamanya, tapi Wiratama tetap menjaga semuanya sama seperti saat wanita itu masih ada dalam keluarga ini.


Dalam hati kecilnya, Juliet pun jadi memiliki keinginan yang sama. Yaitu, untuk menemukan pria yang akan mencintai dirinya dengan tulus seperti papa Wiratama.


Entah siapapun orangnya, Juliet harap ia bisa mendapatkan cinta dan ketulusan seperti yang ia lihat saat ini.


Tok..Tok.. Juliet mengetuk pelan pintu ruang kerja Wiratama yang terbuka lebar.


"Pa, Juliet sudah siap." kata Juliet saat mendapati Wiratama yang masih mengerjakan sesuatu di balik layar komputer nya. "Baiklah. Kalau begitu ayo kita berangkat." sahut Wiratama yang juga mulai beranjak dari sana.


Dalam perjalanan, Juliet sempat mengirimkan pesan pada Romeo, yang mengatakan bahwa mereka sudah akan pergi.


Karena jarak tempuh perjalanan kali ini hanya memakan waktu beberapa jam, alih-alih menggunakan helikopter pribadi, Wiratama memutuskan untuk membawa Juliet pergi menggunakan mobil.


Sekaligus Wiratama juga ingin menunjukkan beberapa tempat yang akan mereka lewati nanti. Agar putri menantunya itu mengenal bermacam-macam tempat selain San Jose, tempat mereka tinggal saat ini.


...❄️...


"Bagaimana nak Juliet, apa kau betah tinggal di sini? jika ada yang membuat mu tidak nyaman katakan saja. Papa akan pastikan bahwa kau mendapatkan semua yang terbaik." tanya Wiratama yang Juliet yakini bahwa pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Juliet tersenyum lembut, sambil menggeleng pelan pada Wiratama. "Tidak ada pa. Juliet betah kok tinggal di sini." jawab Juliet jujur.


"Yah meskipun di awal Juliet takut bahwa Juliet akan tidak kerasan, tapi ternyata Juliet baik-baik aja kok. Juliet happy pa.."


"Baguslah kalau begitu. Kalau ada yang kau inginkan, langsung katakan saja pada papa. Akan papa lakukan apapun untuk memenuhi keinginan mu itu." lagi-lagi Wiratama tersenyum hangat.


Sejak pertama mereka bertemu pun, Wiratama memang selalu bersikap hangat pada Juliet, karena itulah ia menyetujui kontrak yang Romeo tawarkan. Karena Juliet merasa senang dan akan baik-baik saja jika memiliki seorang ayah seperti Wiratama sebagai bagian dari hidupnya.


"Sebagai seorang ayah. Papa tahu jika Romeo belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu. Papa begitu mengenal bagaimana watak anak itu." Wiratama menghembuskan nafasnya gusar.


"Tapi papa mohon agar kau bisa memberikan waktu pada Romeo untuk bisa membuktikan dirinya. Dan juga agar Romeo bisa menjadi sosok yang kau inginkan."


Juliet bahkan tidak mengharapkan apa-apa dari pernikahan tersebut, karena itu bukanlah pernikahan yang sebenarnya, tapi apa yang bisa ia keluhkan? toh ia sudah terlanjur terlibat dalam semua skenario buatan Romeo.


"Juliet tau pa. Juliet pun masih banyak kekurangan sebagai seorang istri. Jadi Juliet akan meminta hal yang sama juga pada papa dan juga Romeo."


"Baguslah jika kalian berpikir seperti itu nak. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan kalian."


"Terimakasih pa."


"Terimakasih juga karena sudah mau menerima kehadiran Romeo dan papa dalam hidup mu."


...❄️...


"Hei, dimana istri cantik mu itu? kau tidak membawanya?" James menyeringai kemudian duduk tepat disebelah Romeo.


"Ssttt! Bisa kau jaga sedikit mulutmu? bagaimana kalau ada yang mendengar? Bukankah sudah kukatakan bahwa hubungan kami rahasia?" Romeo mendelik hati-hati pada James sesekali ia juga melihat ke sekitar.


Melihat tingkah sahabatnya itu James tertawa kecil sambil menepuk pundak Romeo berulang kali. "Siapa suruh kau membuat skenario seperti itu. Kenapa tidak kau akui saja bahwa Juliet adalah istrimu? bukankah pernikahan kalian sah? kau ada-ada saja." James menggeleng heran.


"Sepertinya, otak mu yang bermasalah." sahut Romeo setengah berbisik. "Sudah ku katakan bahwa pernikahan kami bukan pernikahan yang seperti itu. Apa kau lupa? Lagipula ini demi kebaikan kami bersama."


"Kau yakin begitu? bagaimana jika setelah kalian berpisah ternyata kau menyadari bahwa kau mencintai Juliet? atau bahkan sebaliknya? apakah hal seperti itu tidak akan mengubah perjanjian yang sudah kalian sepakati di awal?"


Ckck. Romeo tersenyum meragukan. "Hal seperti itu tidak akan terjadi. Hubungan kami hanyalah sebatas hubungan kontrak demi keuntungan kami masing-masing. Jadi kau jangan terlalu berharap." katanya pada James.


Romeo sendiri sejujurnya tidak yakin. Meskipun pada akhirnya ia akan kalah hingga memiliki perasaan yang tidak diharapkan pada Juliet, ia tetap akan menepati janjinya.


Sebab sejak awal, masing-masing dari mereka sudah berjanji untuk tidak akan menahan siapapun pihak yang ingin pergi. Sampai batas waktu yang sudah mereka sepakati dalam kontrak.


"Yah, baiklah. Kalau begitu bisa ku simpulkan bahwa kalian bebas untuk memilih pasangan lain bukan jika kontrak kalian berakhir?" tanya James. Romeo mengangguk samar.


"Kau yakin akan melepaskan Juliet begitu saja kawan? karena jujur saja, menurut ku Juliet adalah sosok gadis yang mudah mendapatkan perhatian dari banyak pria. Dan jika hal itu sampai terjadi, maka ku harap kau tidak akan menyesali keputusan mu." James memberikan senyuman asing pada Romeo.


Benarkah? Romeo tidak akan meragukan pendapat tersebut. Sekarang saja ia sudah memendam sedikit rasa pada Juliet.


Romeo sendiri menyadari bahwa Juliet memang lah sosok yang menarik. Bahkan sangat menarik jika mengabaikan sikap manja dan keras kepala yang di milikinya.


Dan jika suatu hari Juliet menemukan pria lain selain dirinya, apakah ia benar-benar akan bisa melepaskan wanita itu begitu saja?


Romeo menggeleng. "Tidak. Tidak akan. Kau tenang saja. Aku selalu memegang perkataan ku. Dan hubungan kami memang tidak seperti yang kau pikirkan. Itu saja."


...❄️...


Setelah menyelesaikan beberapa urusan di ruang dosen, Romeo pun keluar dan pergi menuju parkiran mobilnya.


Ia mengambil ponsel yang sejak pagi tersimpan rapi didalam salah satu kantong ranselnya. Romeo memang jarang memperhatikan ponsel jika sedang berada di kampus, sebab ia tidak ingin waktunya terganggu dengan urusan luar. Terutama permintaan mendadak dari papanya seperti dulu.


Karena itulah Romeo memilih untuk menyimpan ponselnya sampai urusan nya benar-benar telah selesai.


...From: Juliet...


...Pesan 1. "Kami pergi."...


...Pesan 2. "Kau belum pulang?"...


...Pesan 3. "Kami akan menginap."...


Romeo membaca semua pesan itu lalu buru-buru mengetik balasannya,


...To: Juliet...


..."Urusan ku baru selesai. Aku akan pulang sekarang. Kenapa kalian harus menginap? apa papa sedang bersama mu?"...


Romeo diam sesaat, ia menunggu. Pesan nya sudah terkirim, hanya saja Juliet belum membaca pesan tersebut.


Diam-diam Romeo mulai menghitung dalam hati. Masih tidak ada balasan juga dari Juliet meskipun ia sudah menghitung dengan irama sangat pelan. Akhirnya Romeo pun memutuskan untuk pulang.


...❄️...


...❄️...


...❄️...