ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-50



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Menggandeng istrinya dengan begitu mesra, Romeo melupakan jika sebelumnya ia telah mengkonfirmasi jika wanita itu hanyalah sepupu jauh untuk nya. Begitulah yang diketahui oleh para sahabat dan juga teman-temannya.


Namun ditempat ini, mustahil mereka akan bertemu dengan orang-orang tersebut. Karena pikirnya ini hanyalah pesta ulang tahun seorang gadis yang baru saja berusia tujuh belas.


Yang akan mereka temui hanyalah James dan juga keluarganya. Keluarga pria itu sudah seperti keluarga Romeo sendiri. Dan mereka pun sudah mengetahui mengenai pernikahannya dengan Juliet.


Karena itulah, dengan bersikap santai, Romeo memperlakukan Juliet seperti seorang kekasih pada umumnya.


Ia menggandeng tangan wanita itu, menatapnya dengan cinta dan juga memberikan banyak pujian. Juliet sangat cantik, apalagi dengan balutan gaun yang senada dengan jas yang ia kenakan.


Malam ini seperti mereka berdua lah bintangnya. Diam-diam Romeo tersipu. Sebagai suami, tentu saja ia merasa sedikit berdebar saat akan memamerkan wanita secantik Juliet di sisinya. Romeo memang sengaja ingin menunjukkan kemesraan mereka didepan sahabatnya, James.


Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Juliet. Ia merasa senang dan juga sedikit berdebar saat Romeo mengatakan akan memperkenalkan dirinya sebagai kekasih pria itu.


"Di sini tempatnya? aku kira pestanya akan diadakan dirumah mereka." kata Juliet. Keduanya baru saja turun dari mobil dan tengah berjalan memasuki lobi hotel sambil bergandengan tangan.


"Kau tahu." kata Romeo. "Rachael adalah adik kesayangan James. Dan juga satu-satunya anak perempuan dalam keluarga itu. Jadi wajar saja jika acaranya diadakan sampai seperti ini." jelasnya kemudian tersenyum saat menerima anggukan Juliet.


"Benar-benar gadis yang beruntung." sahut Juliet, perlahan. "Kau juga beruntung sayang. Dan aku pun." sambung Romeo, ia menepuk-nepuk tangan Juliet yang melingkar ditangannya. Keduanya berjalan beriringan dengan begitu mesra.


Layaknya pesta perayaan ulang tahun seorang gadis remaja pada umumnya, pesta kali ini juga mengambil tema seorang princess.


Segala sesuatunya bahkan disiapkan dengan sangat sempurna. Bahkan tamu-tamu yang datang pun tidak hanya berasal dari teman-teman sekolah gadis itu, tapi juga rekan-rekan kerja orang tuanya, bahkan juga teman-teman James, tentu saja.


Semua tamu yang berpapasan dengan mereka juga sama mengenakan pakaian formal. Bahkan bisa dikatakan sedikit berlebihan hanya untuk perayaan pesta ulang tahun seorang gadis remaja.


Juliet hanya memperhatikan. Pasalnya hal-hal seperti ini sudah sering ia temui, mungkin hampir sama dibelahan dunia manapun. Orang yang memiliki uang dan juga jabatan. Semuanya sama saja.


Dari kejauhan, James yang berdiri ditengah-tengah rombongannya sudah melihat sosok yang sangat ia kenali saat kedua pasangan itu melewati red karpet.


Ia pun meninggalkan teman-teman nya dan berjalan menghampiri pasangan yang cukup banyak mencuri perhatian "Hei, kalian datang?" James memeluk Romeo singkat, kemudian beralih pada wanita disampingnya.


James sempat terpukau untuk sesaat, lalu buru-buru memperbaiki sikapnya. "Juliet, senang melihat mu lagi, kau terlihat sangat cantik malam ini. Ah, tidak, kau memang selalu cantik setiap kita bertemu." puji James bersikap ramah.


Juliet hanya tersenyum sambil membalas uluran tangan James. Pria itu selalu ramah dimana pun mereka berbincang. Sepertinya, James adalah teman Romeo yang sedikit disukai Juliet.


"Terimakasih. Kau juga terlihat tampan. Senang melihat mu lagi " balas Juliet. Dengan posesif, Romeo langsung melingkarkan tangannya di pinggang Juliet. Ia sadar bahwa banyak mata yang saat ini sedang melirik pada istrinya. Termasuk sahabat yang berdiri didepan mereka saat ini. Sialan.


Melihat sikap Romeo, James hanya tersenyum. Pasalnya ia tahu bahwa Romeo akan sikap posesif pada orang-orang yang dipedulikan nya. James buru-buru mendekati Romeo lalu berbisik, "Berhati-hati kawan. Di sini ada banyak mata yang sedang memandang pada wanita di samping mu. Dan juga banyak serigala yang sudah bersiap menerkam gadis secantik itu." ujar James dengan sengaja.


Cengiran nakal khas milik James langsung terbit diwajahnya. Dan Romeo sedikit mendengus mendengar peringatan James, sahabat nya ternyata sadar akan apa yang ia takutkan. Sialnya lagi, Romeo bahkan mendapati beberapa pasang mata yang secara terang-terangan melihat pada istrinya.


Ingin rasanya Romeo segera menutupi Juliet dengan sepenuhnya. Rasanya bisa gila jika memiliki gadis secantik ini.


"Jaga saja matamu sendiri." kata Romeo mendengus kesal. Juliet hanya tersenyum kecil saat Romeo memperlihatkan sikap posesif atas dirinya. Ternyata rasanya seperti ini. Memiliki seseorang yang hanya menaruh perhatian hanya pada diri kita.


"Sepertinya kamu sudah menjinakkan pria ini Juliet." kata James lagi. "Jangan banyak bicara dengan istriku. Seharusnya kau menemui tamu-tamu yang lain saja." Masih dengan sikap yang sama, kini Romeo beralih untuk berdiri di depan Juliet untuk menutupi gadis itu dari tatapan pria yang ada di depan mereka.


"Tenang saja. Biarkan mereka yang menghampiri kawan. Aku cukup memasang senyum seperti ini."


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah berjalan kearah ketiganya; "Hai.. " Jessie sedikit kebingungan melihat tingkah aneh dari Romeo. Dengan spontan Romeo langsung buru-buru berpindah kesamping Juliet dengan jarak yang terbilang masih cukup dekat.


"Kalian juga datang rupanya." katanya, wanita itu terlihat cantik dengan gaun berwarna hitam yang menunjukkan belahan dadanya. Rambutnya dikuncir rapi, dan juga cara membawa diri yang sempurna. Tidak salah jika Jessie mendapat predikat gadis tercantik di kampusnya.


"Hai.." ujar Juliet terlihat canggung. Romeo yang menyadari tatapan Jessie langsung melepaskan tangan yang melingkari pinggang Juliet.


"Hai Rom, senang melihat mu lagi." Jessie menghampiri Romeo lalu mencium pipinya. "Kau tampan sekali." Jessie tersipu setelah menyampaikan pujiannya. "Kau juga." balas Romeo tak bermaksud apapun. Pria itu hanya bersikap ramah, tapi ternyata Jessie semakin tersipu.


Juliet yang mengamati di samping Romeo hanya memandangi keduanya lalu tersenyum samar. Ia bersikap seolah hal itu bukan masalah baginya. Sepupu. Ingatlah kau dan pria ini hanya sepupu Juliet. tidak lebih. Apa memang nya yang kau harapkan, huh?


Sepertinya, kali ini hubungan mereka masih sama seperti sebelumnya. Bodohnya karena Juliet telah berharap hal lain. Tapi di sana, James menyadari semuanya.


"Asal tahu saja, Rachael mengundang mereka secara pribadi." ucap James menarik Jessie untuk menjauhi Romeo. "Bisa dikatakan, Rachael sangat menyukai gadis ini." katanya, menunjuk pada Juliet. Juliet merasa sedikit bersyukur karena James bisa menyela kedekatan antara Romeo dan Jessie.


Romeo yang tak mengira akan ada kejadian seperti ini langsung berdiri lebih dekat pada James sambil menatap pria itu penuh tanya; ia pikir hanya dirinya dan Juliet lah teman-teman James yang akan pria itu undang. Tapi apa-apaan semua ini? Bagaimana bisa ia bertemu Jessie disini?


Jujur saja Romeo tidak menyukai jika rencananya berjalan seperti ini. Hampir berantakan. Sejak awal ia sudah berniat untuk menunjukkan hubungan nya dengan Juliet, hanya saja ia belum siap jika harus mengatakan yang sebenarnya pada teman-temannya yang lain, kecuali James.


"Katakan yang sebenarnya James. Apa-apaan ini." protes Romeo, tak suka dengan semua kemungkinan yang ada didalam kepalanya.


Jessie masih aman. Karena bagaimanapun juga wanita itu tak bisa memiliki pengaruh apapun bagi Romeo terlebih dalam hubungan nya dengan Juliet, tapi berbeda halnya jika ditempat itu ada Gabe dan yang lainnya..


"Maafkan aku kawan. Tapi yang kau pikirkan itu benar. Kau tahu sendiri, bukan aku yang mengaturnya." kata James. "Rachael dekat dengan semuanya. Kau tahu itu."


James juga merasa tak enak hati. Seharusnya ia mengatakan lebih cepat pada Romeo agar pria itu bisa bersiap. Lagi pula ia juga tak mengira jika malam ini keduanya akan datang sebagai sepasang kekasih.


"Aku akan melihat gadis yang berulang tahun untuk memberikan ini." kata Juliet menyela ketiganya. Lagi pula sangat tak nyaman berada ditengah-tengah wanita yang menatap suaminya penuh ketertarikan seperti itu.


"Sebaiknya aku ikut." kata Romeo buru-buru berdiri di samping Juliet. Ia juga tak berniat untuk membiarkan istrinya pergi seorang diri. "Kami pergi dulu. Sampai nanti."


...❄️...


"Sepertinya aku harus selalu berhati-hati." kata Romeo berbisik di samping Juliet. "Aku bisa gila melihat semua pria menatap mu seperti ini. Kau itu hanya milikku." sambung Romeo masih bersikap posesif. Meskipun perkataannya sedikit berbanding terbalik dengan gesture tubuh nya, sebab Romeo sedikit menjaga jarak dari Juliet.


"Cih. Kau marah pada pria yang menatapku, tapi bersikap biasa saja pada gadis yang mencium mu?" balas Juliet ketus. Ia tak akan berbohong, jika sebenarnya ia sangat tak menyukai apa yang dilakukan Jessie tadi. Terlebih lagi karena Romeo menerimanya begitu saja.


Sangat menjengkelkan!


"Kau pikir aku akan tersenyum senang dengan hal seperti itu?"


Mendengar hal itu, Romeo langsung menarik tangan Juliet untuk menghentikan langkah gadis itu, "Kau marah? maafkan aku. Aku janji ini adalah yang terakhir. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh ku lagi Kecuali kamu."


"Aku juga tidak tahu jika Jessie akan melakukan itu. Sungguh." Romeo mengangkat tangannya, seperti sedang bersumpah bahwa ia benar-benar tak mengharapkan hal seperti itu terjadi.


Dada Juliet berdebar saat mendapati ada keseriusan dalam kata-kata Romeo. Tiba-tiba saja perasaan asing itu muncul lagi dan menjalar di seluruh tubuhnya. Ada rasa yang membuncah di dalam dada Juliet.


"Kau mau memaafkan aku kan sayang? aku tidak akan mengulangi nya lagi. Sungguh." Meskipun wajahnya terlihat dewasa, namun Romeo tak kehilangan sisi manis dalam dirinya. Dan hal itu meluluhkan hati Juliet.


"Hem." Juliet mengangguk samar. Ia percaya dengan kata-kata Romeo. Bagaimanapun ia ingin mempercayai semuanya. Karena ia mencintai pria yang saat ini berdiri di depannya.


Romeo tersenyum, kali ini ia melangkah lebih dekat, dan meraih tangan Juliet, lalu menggenggam nya erat. "Kalau begitu jangan marah lagi. Aku mencintaimu, istriku." entah kenapa kata-kata itu membuat perasaan Juliet terasa jauh lebih baik.


"Ada yang aneh dari mereka. Apa kau tahu sesuatu?" tanya Jessie. Ia masih memperhatikan Romeo dan Juliet dari kejauhan. "Yang terlihat jelas kadang bukanlah satu-satunya kebenaran." sahut James. "Aku mau minum. Kau mau ikut?"


"Hei, apa maksudnya itu?"


"Tidak ada. Hanya ingin mengatakannya saja."


...❄️...


...❄️...


...❄️...