ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-08



...❄️❄️❄️...


.......


.......


.......


Setelah makan malam bersama, Romeo pun segera mengantarkan Juliet seperti janjinya kepada Oma Dena.


"Makasih udah biarin gue ke apartemen Lo. Dan makasih juga buat makan malamnya. Dan juga karena Lo udah nganterin gue pulang." Ucap Juliet saat mobil Romeo sudah hampir sampai di depan gerbang rumah mewah milik keluarga Adam.


"Hem. Gue lakuin semua ini karena gue ngehargain oma sama opa Lo. Jadi biasa aja. Gak usah sungkan sama gue." balas Romeo.


Pria itu memang selalu terus terang dan tidak bisa bersikap manis sama sekali. Dan sedikit banyak Juliet sudah bisa mengerti bagaimana pria yang akan ia nikahi dalam waktu dekat.


"Ya udah, gue masuk. Lo hati-hati. Besok-besok gak usah kerumah gue atau bikin janji sama Oma gue lagi. Jadi gue gak akan nyusahin Lo kaya gini. Pulang sana Lo!" Juliet berkata ketus.


Entah kenapa ia merasa kesal atas sikap cuek yang di tunjukan Romeo padanya. Padahal Juliet tidak berharap apa-apa. Hanya saja ia benar-benar merasa kesal setiap pria itu membuka mulutnya.


Romeo yang tidak merasa melakukan kesalahan hanya bisa terdiam mendengar kata-kata sinis yang keluar dari mulut Juliet. Setelah pintu mobilnya tertutup dengan cukup keras Romeo hanya bisa menggeleng heran.


"Dasar cewek bar-bar. Gue benar-benar udah gila karena udah setuju nikah sama cewek kaya gitu." Romeo pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Adam Dominique dengan perasaan sedikit kesal.


...❄️❄️❄️...


Saat masuk kerumah, Oma Dena dan juga opa Adam sudah menunggu kedatangan Juliet. Keduanya kompak menunggu diruang keluarga. Tempat dimana Juliet akan lewat jika ingin naik ke kamarnya.


"Opa, Oma, kok belum tidur?" Juliet menghampiri keduanya, dan mencium mereka bergantian. "Oma lagi nungguin kamu sayang. Gimana jalan-jalan nya, nak Romeo pria yang baik kan?" tanya Oma Dena dengan binar keingintahuan yang cukup untuk membuat Juliet menggelengkan kepalanya.


"Jalan-jalan nya menyenangkan Oma. Romeo juga baik kok orang nya." jawab Juliet. Sedang di dalam hati ia merutuki sikap acuh dari calon suaminya.


"Syukurlah kalau begitu. Opa memang tidak salah memilihkan calon suami untuk cucu Oma." Dena tersenyum lembut kepada Juliet juga kepada suaminya.


"Cucu kita memang harus mendapatkan yang terbaik." tambah opa Adam. Juliet tersenyum hambar.


"Oma, opa, Juliet langsung naik ke atas ya. Juliet capek mau tidur. Besok pagi Juliet masih harus ke kampus. Tolong bangunin Juliet ya Oma." pinta Juliet yang memeluk Oma Dena manja.


"Iya iya. Besok pagi akan Oma bangunkan. Awas saja kalau kamu tidak bangun." Oma Dena menyipitkan matanya seperti membuat peringatan untuk Juliet. "Siap Oma. Kalau gitu Juliet naik ya. Selamat malam." sekali lagi Juliet mencium pipi Oma dan Opa nya.


"Selamat malam sayang."


"Ah. Akhirnya balik lagi ke kamar Gue. Emang gak ada yang bisa ngalahin nyamannya kamar sendiri." Juliet berbaring dengan lega di atas tempat tidurnya.


Tidak lama kemudian rasa kantuk pun datang menyerang dan membuat Juliet terlelap begitu cepat. "pa, ma.. selamat malam juga buat kalian."


...❄️❄️❄️...


"Randy, Lo udah tau kalau Juliet mau nikah? katanya di jodohin. Itu beneran?" Fela memajukan wajahnya mendekat kepada Randy karena penasaran dengan berita yang ia dengar tentang temannya itu.


"Hem. Gue juga datang waktu acara tunangan nya." jawab Randy singkat. "Serius Lo Rand?" sela Anes. Salah satu teman karib Juliet. Randy mendelik malas, lalu mengangguk. "Gila. Beneran nih. Terus Lo gimana, bukannya selama ini Lo naksir Juliet?" Anes bertanya serius.


Wajah Randy berubah tegang. Ia tahu itu adalah fakta. Karena selama ini ia memang memendam perasaan untuk Juliet. Tapi ia tidak mempunyai waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya kepada gadis itu.


Hingga pada suatu malam ia mendapati bahwa gadis yang ia sukai telah mengikat hubungan dengan pria lain. Itu adalah salahnya.


"Berisik Lo. Gak usah bahas itu. Gue udah ikhlas Juliet nikah sama orang lain. Lagian gue emang gak punya kesempatan." aku Randy sedikit kecewa atas kenyataan tersebut.


"Eh itu Juliet. Tumben banget datang pagi." sela Fela yang melihat ke arah Juliet. Randy dan Anes pun melakukan hal yang sama. "Jul? Juliet sini!" Fela melambaikan tangan kepada Juliet.


Randy yang tadinya berwajah muram pun kini sedikit berbinar melihat gadis yang ia sukai berjalan ke arahnya. "Ehm. Rand, calon istri orang itu." goda Anes yang tidak sengaja melihat semu pada wajah sahabatnya.


"Hai. Gue gabung ya." Juliet mengambil tempat di sebelah Randy. Sedangkan Fela duduk bersebelahan dengan Anes.


"Jul, selamat ya. Gue denger Lo udah tunangan. Meskipun gue sedih karena gak di undang, tapi tetep aja gue mau ucapin selamat buat sahabat gue." Fela tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.


"Lo yang cerita?" Juliet melirik kepada Randy. "Gak. Dia tau sendiri." sahut Randy cepat.


"Udah lah Fel, gue males bahas itu. Tapi makasih udah di selametin. Meskipun sebenarnya gue berharap temen-temen gue gak ngelakuin itu." balas Juliet dengan wajah cuek.


"Lo gak bahagia? apa Lo di jodohin paksa?" Anes menyela di antara Fela dan Juliet. "Juliet menghela nafas samar.


"Udahlah ya gak usah dibahas. Males gue." elak Juliet merasa enggan. Ia tidak ingin kisah hidup nya di perbincangkan seperti sebuah lelucon.


Meskipun itu adalah sebuah perjodohan, tapi Juliet tidak ingin membuat orang lain berspekulasi tentang hubungannya. Apalagi tentang pernikahannya nanti.


"Gue bahagia kok. Lagian calon suami gue baik. Dan perhatian juga. Dan yang paling penting calon suami gue good looking." ujar Juliet membuat pembelaan untuk menjaga harga diri dari Romeo.


"Beneran Jul. Calon Lo segimana good looking nya, gue jadi penasaran. Kenalin ke kita-kita dong. Gini-gini Kitakan udah sahabat lama." Fela merengek kepada Juliet.


"Entar deh kapan-kapan gue kenalin." sahut Juliet malas. Diam-diam Randy masih mencuri pandang kepada Juliet. Seandainya saja ia lebih berani untuk mengungkapkan perasaan nya apakah saat ini situasi mereka akan berbeda?


"O,ya Rand. Lo jadi kerja di perusahaan bokap Lo?" Anes membuat percakapan baru setelah ketiganya hening. Randy mengangguk samar.


"Iya. Gue berangkat dua bulan lagi. Bokap nyuruh gue cepat-cepat ke sana. Katanya gue harus belajar mandiri biar bisa nerima tanggung jawab." ketiganya mengangguk.


"Skripsi Lo gimana?" kini giliran Juliet yang bertanya. Randy tersenyum samar, "Skripsi gue udah kelar. Tinggal ujian aja. Gue bisa ujian online. Lo sendiri gimana?" Randy balik bertanya. Juliet mendesah.


"Gue kayanya pengen nunda skripsi gue deh. Gue males pindah ke luar. Pengen tinggal di sini aja." Fela mengernyit, "Lo abis merried di suruh ikut suami Lo ya? kemana? Singapore? Amerika? Atau kemana?" Juliet mengangguk enggan. Membuat Fela semakin merasa penasaran.


"Tapi Lo kan murid genius. Gimana Lo bisa nunda? Lo mau pura-pura depresi gitu karena nyari bahan? kan gak mungkin." Anes tertawa kecil merasa lucu dengan rencana Juliet.


"Bisa jadi. Kaya nya gak rugi juga pura-pura depresi." Juliet tersenyum lebar seakan ide Anes sangatlah membantu dirinya. "Emang gila Lo ya Jul. Orang pengen cepetan kelar, lah Lo malah sebaliknya. Gak salah para dosen bilang Lo pinter tapi aneh."


...❄️❄️❄️...


"Lo mau gue antar pulang gak? lagian kita kan searah. Gue juga pengen ngobrol sama Lo." tawar Randy saat keduanya berjalan keluar dari kampus.


"Gak lah. Paling mang legend juga udah di parkiran. Gue balik sendiri aja." tolak Juliet. Saat mereka semakin dekat dengan parkiran, perhatian Juliet teralihkan karena kerumunan kecil yang tidak jauh dari keduanya.


"Ada apaan sih, ada yang kecelakaan ya?" ujar Juliet berjalan ke arah kerumunan. Sementara itu Randy juga menyusul di belakang Juliet. Keduanya sama-sama merasa penasaran.


"Ada apaan sih?" tanya Juliet pada salah satu mahasiswi yang berdiri di dekatnya. "Ada artis. Keren banget." sahut gadis itu dengan wajah berbinar penuh kekaguman. "Emang ada artis yang kuliah di kampus kita?" Juliet mengerutkan dahinya menatap pada Randy. Randy menggeleng karena tidak tahu informasi tersebut.


"Permisi. Permisi. Gue lewat sebentar." Juliet menyelinap di antara kerumunan. Dan tidak lama setelahnya Juliet pun sedikit tercengang atas apa yang ia lihat.


Seorang pria yang berdiri dengan sedikit menyenderkan tubuhnya pada mobil mewah keluaran terbaru saat ini layaknya seorang model profesional.


"Dasar cowok tebar pesona!"


"Hai Wife... i'm coming." Romeo melambaikan tangan nya kepada Juliet dengan senyum yang begitu memukau.


"Cari mati ni orang!"


...❄️...


...❄️...


...❄️...