ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-24



...❄️...


...❄️...


...❄️...


...Pepatah mengatakan;...


...Jika sebuah bunga tidak cukup memuaskan. Maka berikan tongkat. Dengan begitu, orang akan memberikan apa yang kita inginkan....


Sama seperti yang Romeo lakukan pada Juliet. Karena gadis itu tidak bisa di bujuk dengan cara baik-baik, bahkan yang terbilang manis sekalipun, maka Romeo menggunakan sisi lain dari dirinya untuk bisa mengontrol seorang Juliet.


Melihat Juliet cukup patuh untuk menghabiskan makanan yang Romeo pesan membuat perasaan Romeo menjadi sedikit lebih baik. Setidaknya ia tidak akan membiarkan gadis itu kekurangan gizi ketika masih berstatus sebagai istrinya.


Sedangkan Juliet yang sejak tadi menerima tatapan tajam dari Romeo, merasa seperti bocah lima tahun yang sedang di awasi saat di minta menghabiskan bekal makan siang. Menyebalkan!


Bisa-bisa nya Romeo benar-benar duduk seperti seorang pengawas dengan wajah kaku tanpa ekspresi. Membuat selera makan Juliet hilang saja. Juliet benar-benar ingin melemparkan sendok kearah Romeo, hanya saja Juliet takut melihat kemarahan Romeo.


...❄️...


20 menit kemudian, tatapan Romeo pun jatuh pada sendok dan garpu yang di letakan sejajar di atas nampan. Sedangkan di atas piring masih meninggalkan sisa.


"Udah makannya?" kata Romeo membuat Juliet sedikit terkejut. "Hem. Udah." sahut Juliet enggan untuk berdebat. Karena sekarang ia merasa gugup. Takut jika Romeo kembali meninggikan suaranya.


"Gak susahkan makan. Tinggal kunyah, terus telan. Bisa-bisa nya Lo nahan lapar kaya gitu." omel Romeo lagi. "Biar gue yang beresin." Romeo mengambil nampan dari tangan Juliet dengan sendirinya. Romeo juga menyempatkan untuk membelai pucuk kepala Juliet.


Seperti nya pria itu memang menganggap dirinya seperti bocah. Dan untuk itu, Romeo benar-benar mendalami peran nya.


Setelah meletakkan nampan, Romeo kembali duduk di hadapan Juliet. Saat ini wajah Romeo sudah kembali lembut seperti sebelumnya. Syukurlah.


...❄️...


"Lo mau keluar jalan-jalan sama gue, atau kita ngomong di sini aja?" kata Romeo lagi setelah diam beberapa saat.


Ah, Juliet lupa. Jika pria itu tidak hanya ingin berperan sebagai seorang pengawas, tapi juga seorang penyidik.


Juliet melirik enggan pada Romeo, "Emangnya mau jalan kemana?" Jika di pikir lagi, diluar tentu jauh lebih baik dari pada mereka harus berada dalam satu ruangan seperti sekarang.


"Lo maunya kemana? gue ngikutin Lo aja. Yang penting Lo gak ngerasa keberatan jalan bareng gue." sahut Romeo dengan santai.


"Gue gak pernah ngerasa keberatan kok jalan sama Lo." Kenapa lagi sih ni mulut? Juliet berubah kikuk.


"Terus kenapa Lo gak bales chat gue? terus Lo juga diemin gue. Bukannya karena Lo ngerasa keberatan deket-deket sama gue?" tuduh Romeo membeberkan fakta yang dirasanya benar.


Juliet berubah kesal. "Udah gue bilang gue gak marah. Gue juga gak jauhin Lo. Kan gue udah bilang kalau gue yang salah."


Romeo masih bingung. Ia tidak mengerti jalan pikiran gadis itu. Adakah cara yang lebih sederhana untuk memahami seorang wanita?


"Lo gila atau bego sih?" perasaan Juliet benar-benar kesal sekarang. Perkataan Romeo membuat perasaan Juliet semakin buruk.


"Lo gak ngerti atau pura-pura gak ngerti? kan gue udah bilang kalau gue gak marah. Gue cuma perlu waktu. Lo kan suami gue. Masa Lo gak ngerti?" Karena perasaan kesalnya meluap, Juliet pun melemparkan bantalan sofa ke arah Romeo.


Romeo yang tiba-tiba saja di marahi oleh Juliet benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ini adalah pertengkaran pertama mereka setelah menjadi suami istri.


"Gue kan udah bilang. Gue ini manusia. Gue mana bisa baca pikiran Lo." sahut Romeo dengan wajah membujuk.


"Gue juga gak nyuruh Lo buat jadi ahli supranatural atau ahli nujum kok." sela Juliet. "Gue cuma minta pengertian Lo. Lo ngerti bahasa manusia kan? Gue bilang gue perlu waktu. Makanya gue gak mau ketemu sama Lo." Juliet memalingkan wajahnya, kesal.


"Gue perlu waktu buat berpikir Rom. Itu aja. Gak sulit kok. Dan seharusnya Lo biarin gue. Bukannya kaya tadi." suara Juliet terdengar rendah.


Sebenarnya itu hanyalah sebagian kecil alasan Juliet untuk menghindari Romeo. Alasan lainnya yang lebih besar dari itu adalah satu ketakutan yang Juliet ingin kubur dalam-dalam.


Juliet takut jika nanti ia terlalu bergantung pada Romeo. Juliet tidak ingin hal seperti itu terjadi dalam hubungan mereka.


Romeo menggosok pelan kedua tangannya. Ia berdiam sesaat, kemudian menatap tajam pada Juliet.


"Maafin gue. Tapi gue tetap akan lakuin hal yang sama kalau Lo masih kaya sebelumnya tanpa bilang dulu ke gue." sahut Romeo bersikap tenang. Ketenangan yang membuat Juliet bergidik ngeri.


"Kalau Lo perlu waktu. Gue akan kasih Lo waktu seberapa lama yang Lo mau. Tapi gue gak membenarkan kalau Lo diemin gue tanpa ngasih alasan yang jelas."


"Sekalipun Lo sembunyi di bawah tanah. Gue bakal narik Lo keluar sampai Lo bicara sama gue. Dan sebagai su-a-mi Lo." Ucap Romeo penuh penekanan.


"Gue berhak dapat penjelasan dari Lo. Titik. Itu kesepakatan dalam kontrak kalau-kalau Lo lupa." Bukan hanya Juliet yang keras kepala. Romeo pun jauh lebih batu di bandingkan gadis itu jika prinsip nya di langgar.


Juliet hanya bisa diam. Ia tidak berani lagi membantah Romeo. Semakin mereka bicara, Juliet semakin tahu jika Romeo bukanlah pria yang mudah untuk di hadapi.


Hingga beberapa saat setelah keheningan yang cukup mencekam, Romeo pun akhirnya mengalah; ia bangun terlebih dahulu kemudian tertunduk di depan Juliet.


"Maaf kalau gue udah bikin Lo takut. Gue cuma khawatir sama Lo. Karena Lo udah jadi tanggung jawab gue. Lo istri gue sekarang." tatapan mata Romeo sayu seperti yang Juliet kenali. Mata yang menyiratkan sebuah perasaan nyaman dan aman.


...Jantung Juliet kembali berdebar....


"Gue balik ke kamar gue. Lo siap-siap aja. Gue jemput Lo 30 menit lagi." Ujar Romeo seraya tersenyum lembut. Tapi Juliet tidak bisa membalas senyuman itu.


...Bibirnya terasa kaku. Bahkan kakinya terasa lemas. Tenang lah Juliet. Ku mohon....


"Chat aja kalau Lo udah siap. Gue balik." pamit Romeo yang langsung meninggalkan kamar Juliet.


Setelah bunyi ceklek pada pintu, barulah Juliet merasakan darahnya yang membeku mengalir ke seluruh tubuh.


Romeo benar-benar menakutkan sekaligus mendebarkan. Pria itu bersikap hangat dan dingin di saat yang bersamaan. Benar-benar membuat Juliet bingung.


...Ya Tuhan. Hampir saja jantung ku berhenti berdetak....