ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-47



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Menyelesaikan laporan tugas akhir mungkin adalah pekerjaan yang cukup melelahkan bagi seorang mahasiswa.


Begitu juga untuk Romeo, karena hal ini cukup banyak menyita waktunya. Ia jadi lebih banyak menghabiskan waktu di kampus dibandingkan bersama Juliet.


Sungguh sesuatu yang sangat disayangkan sebenarnya, tapi apa boleh buat. Sejak ia bertekad untuk menjalin hubungan yang sesungguhnya, Romeo juga bertekad untuk segera menyelamatkan studi nya secepat mungkin.


Karena itulah sejak pagi Romeo sudah berada di kampus untuk menyelesaikan tugasnya dan juga menghadiri kelas bimbingan.


James yang berbeda jurusan selalu saja mendatangi kelas Romeo apabila mata kuliahnya sudah berakhir. Karena itulah, saat melihat kelas Romeo sudah dibubarkan James langsung menghampiri sahabatnya itu.


"Hei," James menyentuh pundak Romeo kemudian memutari nya. "Aku dengar kalian sudah pindah dari rumah uncle, apakah itu benar?" James mengambil tempat agar keduanya bisa duduk berhadap-hadapan.


"Hem. Itu benar. Aku dan Juliet sudah pindah ke rumah kami." Sahut Romeo sambil merapikan isi ranselnya. Sontak saja perilaku tak biasa tersebut memberikan satu pertanda bagi James.


Romeo yang biasanya selalu berhati-hati saat membicarakan tentang Juliet, apalagi tentang hubungan diantara mereka justru menjawab seakan itu adalah hal yang biasa untuk dibahas.


"Kami?" James memberikan senyum misterius. Pemuda itu juga menaikkan satu alisnya menunggu penjelasan dari Romeo.


Menyadari senyum aneh dari James Romeo juga menaikkan satu alisnya. Apa ada hal aneh dengan kata kami? "Ya, rumah kami. Apa lagi? Rumah ku dan Juliet. Kami tinggal bersama jadi, ku rasa.."


James semakin memperbesar senyuman nakalnya, "Yo broo... sepertinya sesuatu sudah terjadi diantara kalian, dan aku yakin jawabannya ya, benar?" James menebak dengan tepat. Biasanya, firasat seorang sahabat tidak pernah salah.


Dan benar saja, sebuah senyuman samar muncul dibalik bibir Romeo. Ia mendelik malu, karena telah diketahui dengan mudah.


Tapi di sisi lain Romeo memang tidak berniat menyembunyikan kebenaran tentang hubungan diantara dirinya dan Juliet. Terutama pada James.


"Yah, bisa dibilang begitu." aku Romeo. Gesture aneh mulai ditunjukkan oleh sahabatnya, dan James sudah sering melihat hal ini. Seperti gerak-gerik seseorang yang sedang jatuh cinta.


"Kami memutuskan untuk memulai semuanya dari awal lagi." kata Romeo berbinar. "Dan aku rasa, aku beruntung karena telah menikahi Juliet."


"Nah, apa ku bilang." Sela James sedikit terperanjat. "Ini yang namanya senjata makan tuan kawan. Kau menuai apa yang selama ini kau tabur." Pasalnya sejak awal, James sudah menduga jika hal seperti ini pasti akan terjadi.


Sejak bertemu dengan Juliet, James tahu jika sahabatnya itu tidak akan menang dengan taruhan klise yang mereka sepakati. Dan ternyata semuanya bahkan berjalan lebih cepat dari dugaannya.


"Aku tidak tahu jika menikahi Juliet akan membuat ku merasa seperti ini." Romeo tersenyum. "Kau tahu sendiri bagaimana aku bukan? aku sedikit bingung bagaimana harus mengatakan nya." pria itu menengadah, kemudian menarik turun pandangannya.


"Aku rasa aku mulai jatuh cinta." atau mungkin bahkan jauh sebelumnya, Romeo telah merasakan perasaan itu. Setiap kali menghabiskan waktu bersama Juliet, Romeo selalu saja berdebar. Meskipun ia berusaha menyembunyikan hal itu.


Tapi sekarang, sepertinya ia tak bisa lagi mengelak. Bahkan ia sudah melupakan tujuan awalnya menikahi Juliet.


"Lalu apa rencana mu? apa kau akan mengumumkan berita ini pada teman-teman kita dan mengakui bahwa sebelumnya kau telah berbohong."


"Aku belum memikirkan hal itu. Tugas ku saat ini hanyalah membuktikan pada Juliet bahwa aku benar-benar menyukainya." itulah hal terpenting bagi Romeo.


Hubungan mereka memang sudah cukup dekat, bahkan lebih dekat dari sebelumnya, tapi bagi Romeo, semua ini belum cukup untuk membuat Juliet memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


Romeo harus lebih sungguh-sungguh lagi menunjukkan perasaannya.


"Tidak apa-apa kawan. Kau memang harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang kau inginkan. Dengan begitu kau akan lebih menghargainya." sebagai sahabat hanya inilah yang bisa James lakukan. Memberikan dukungan.


...Bip..Bip.....


...From: J❤️...


..."Aku pergi keluar untuk berbelanja. Ps. Makan siang sudah siap jika kau pulang lebih cepat."...


Romeo tersenyum saat membaca pesan dilayar ponselnya. Kemudian ia juga mengetik sebuah balasan dengan cepat,


...Reply: ...


...Kenapa tidak menunggu ku. Padahal aku ingin pergi bersama mu. 😒 ps. Aku sedang bersama James. Dan sepertinya kami akan makan siang bersama....


Disebelah Romeo, diam-diam James mengulum senyum saat memperhatikan sahabatnya itu.


Saat Romeo tengah asik dengan ponselnya, ponsel milik James juga ikut bergetar. Ia juga mendapat sebuah pesan.


...❄️...


...Ditempat lain.....


Juliet yang kesusahan membawa barang-barang belanjaannya sedang menunggu taksi di depan persimpangan.


Tapi sebelum taksi datang tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti didepan Juliet, tak lama setelah Caka mobil terbuka Juliet melihat kearah kemudi, ternyata pemilik mobil itu adalah Randy.


Randy yang mengenali Juliet langsung buru-buru keluar dari dalam mobil, "Lo mau pulang?" tanya Randy memperhatikan semua barang belanjaan Juliet.


"Iya. Gue lagi nungguin taksi. Tapi kayaknya taksinya pada sibuk." sahut Juliet masih celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Mungkin karena masih baru Juliet belum tahu dimana jalur menunggu taksi.


"Udah gue antar aja. Sampai besok juga Lo gak akan dapat taksi kalau Lo nunggu disini." kata Randy langsung mengambil alih beberapa kantor belanjaan Juliet.


"Serius Lo?" Pantas saja sejak tadi tidak ada satupun taksi yang menghampiri dirinya. "Hem. Ini bukan jalurnya. Ntar gue tunjukin tempatnya. Ayo."


Sebelum mengantar Juliet pulang, Randy mengajak Juliet untuk makan siang bersama. Kebetulan saat itu Randy memang keluar untuk mengisi perut.


Dan di sini mereka berdua, makan siang sambil berbincang. "Gimana kerjaan Lo selama disini? kaya nya Lo betah ya?" tanya Juliet sambil melirik sekilas pada Randy.


Pria itu tersenyum setelah menyeruput sedikit minumannya. "Kabar gue baik kok. Meskipun awalnya gue juga ngerasa kurang nyaman, tapi akhir-akhir ini gue jadi suka kok tinggal disini. Setidaknya disini gak terlalu macet seperti di Jakarta." balas Randy.


Baginya alasan seperti ini adalah alasan teraman yang bisa ia ucapkan. Walaupun sebenarnya, ia mulai menyukai tempat ini setelah pertemuan mereka beberapa waktu lalu.


"Kalau Lo sendiri gimana? Lo bakal stay atau balik lagi?" Randy balik bertanya. "Kabar Oma sama opa gimana, udah lama banget gue gak denger kabar mereka."


"Oma sama opa lagi liburan ke Korea. Curang banget gak sih. Gue disuruh pergi ke sini sedangkan mereka liburan berdua aja."


"Ya, Lo kan tinggal nyusul aja."


"Ya juga sih, tapi males banget pergi sendiri. Apalagi sekarang Romeo lagi sibuk banget." mendengar hal itu, Randy tersenyum samar.


"Gue senang ternyata Lo bahagia sama pernikahan Lo. Syukurlah." ucap Randy. Meskipun masih menyimpan perasaan pada Juliet, tapi Randy masih bisa ikut berbahagia untuk wanita itu.


Juliet mengangguk dengan binar bahagia diwajahnya. "Hem. Gue juga awalnya gak nyangka. Tapi yah seperti kata Lo, syukurlah semuanya bisa baik-baik aja kaya gini." meskipun ia sendiri tidak menduganya, tapi Juliet benar-benar merasa lega.


Setelah selesai makan siang, saat keluar dari restoran Juliet bertemu dengan Jessie dan juga teman-teman nya.


"Juliet. Hai ..kamu dengan siapa? sendirian?" sapa Jessie yang saat itu belum melihat Randy.


"Hai, Jessie." sapa Juliet salah tingkah. Pasalnya ia tidak begitu mengenal wanita itu, dan ia juga tidak menyangka jika wanita itu akan menyapanya seperti ini.


"Aku tidak sendiri." Juliet mencari Randy, dan saat itu pria itu juga sudah berjalan kearahnya. "Aku bersama temanku." Juliet tersenyum saat memperkenalkan Randy.


"Kenalkan, ini sahabatku, Randy." kata Juliet. "Randy, ini Jessie. Teman satu kampus Romeo."


"Hai.. aku Jessie. Senang bertemu dengan mu." Setelah menjabat tangan Randy, Jessie kembali beralih pada Juliet.


"Kapan-kapan datanglah lagi untuk main bersama kami. Karena kau sepupu Romeo, kami juga akan memperlakukan mu dengan baik. Aku harap kita juga bisa berteman." ujar Jessie menyentuh tangan Juliet.


Randy mengernyit. Ia bisa menangkap jika saat itu raut wajah Juliet berubah tidak nyaman. Namun melihat Juliet yang tidak merespon perkataan gadis didepannya, Randy pun tidak bersuara.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai nanti Juliet."


"Ya. Sampai nanti."


Juliet tersenyum canggung pada Randy, tapi karena menyadari Juliet tidak ingin membahas hal Sebelumnya, Randy pun tidak bertanya. Lagipula itu bukanlah urusannya.


Ditambah lagi dengan sikap diam Juliet. Hal itu sudah menjelaskan sesuatu baginya, bahwa sebenarnya ada sesuatu yang sedang wanita itu tutupi.


"Ayo. Aku akan mengantarmu pulang."


...❄️...


...❄️...


...❄️...