ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-53



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Saat Romeo dan James tiba di tongkrongan dan bertemu dengan teman-teman mereka yang lainnya, tak lama kemudian Jessie juga tiba di sana bersama dengan Kelly salah satu teman wanita itu.


Bisa dikatakan keempat nya datang diwaktu yang hampir bersamaan. "Hai..." sapa Jessie. Gadis itu berjalan memutari para pria yang sedang mengerumuni layar, dan langsung berdiri di dekat Romeo dan James. Sedangkan Kelly bergabung dengan kumpulan Gabe.


"Hai cantik." balas James memeluk dan mencium Jessie. Itu adalah sapaan biasa yang sering James lakukan pada sesama teman. Well, James memang memiliki sikap yang lebih terbuka pada siapa saja. "Hai Rom." sapa Jessie juga.


Romeo hanya mengangguk. Saat Jessie mendekat kearahnya, Romeo langsung menghindar. Pria itu berjalan kearah sofa kemudian mendaratkan bokongnya di sana. Sementara para pemuda lain sedang asik bermain video game. James hanya tersenyum sambil menggeleng samar.


Melihat sikap menghindar dari Romeo, Jessie pun mengalihkan dirinya pada lemari minuman dingin yang ada di sana. "Aku dengar juliet akan segera kembali ke Indonesia. Apa itu benar?" tanya Jessie sambil mengulurkan botol minuman yang ia pilih pada James.


"Apa, Juliet? Juliet si cantik kita?" sela Gabe memutar kepalanya kearah Jessie berdiri. "Ya. Juliet sepupu Romeo. Siapa lagi. Dia yang bilang sendiri." sahut Jessie dengan sebenarnya. Romeo menegang. Wajahnya juga berubah kaku.


"Bilang sendiri? maksud mu kamu bertemu langsung dengan Juliet, kapan?" tanya Romeo terlihat gusar. "Baru saja. Sebelum aku ke sini. Kelly saksinya." wanita itu menambahkan.


"Kau yakin itu Juliet?" sela James.


"Hello? kau pikir aku berhalusinasi." wanita itu berdecak. "Mana mungkin aku salah. Aku bahkan sudah pernah bertemu dua kali dengan Juliet dan juga kekasihnya belum lama ini. Bagaimana aku bisa salah." ujar Jessie tak terima.


Mendengar hal itu, tidak hanya raut wajah Romeo yang berubah, tapi juga James. Perasaan tak nyaman mulai meliputi Romeo. Aneh rasanya saat mendengar bahwa Juliet memiliki kekasih lain selain dirinya.


"Kekasih? bagaimana bisa kau bilang itu kekasih Juliet. Padahal kau juga tidak sedekat itu dengannya. Apa pria itu memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Juliet?" tangan Romeo mengepal.


Jessie diam. "Maksud ku.. memang tidak. Tapi mereka terlihat seperti sepasang kekasih, begitu."


"Tidak. Tidak. Mungkin kau salah sayang." kata James menyela Jessie. James merangkul pinggang Jessie untuk sedikit mencairkan suasana tegang di sana.


"Selama ini aku juga cukup dekat dengan Juliet, dan setahuku juliet tidak memiliki kekasih. Mungkin itu hanya temannya saja. Seperti kita." James tersenyum. "Meskipun aku memeluk mu seperti ini, tapi kita hanya teman bukan?" James sangat yakin jika saat ini ia bisa melihat kilat kemarahan bercampur keraguan dimata Romeo.


"Benarkah? apa kau juga kenal pria itu Rom? aku bertanya hanya karena penasaran saja pada sepupu mu. Aku tidak ada maksud lain sungguh."


Pria lain. Satu-satunya pria yang mungkin saja bertemu dengan istrinya diluar sana bukanlah orang lain. Yang terpikirkan oleh Romeo saat ini hanya satu, yaitu Randy.


Pria yang diam-diam masih menyimpan perasaan untuk istrinya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Jessie, Romeo langsung menyambar tas nya dan meninggalkan ruangan itu.


"Rom, mau kemana?" panggil James menyusul. "Aku mau pulang. Kami harus bicara." sahut Romeo acuh. "Ya. Ya.. aku tahu." James mencoba untuk menahan Romeo. "Hei dengarkan aku." serunya dengan suara cukup lantang.


Mau tak mau Romeo pun menghentikan langkahnya. "Dengar kawan. Meskipun kau marah mendengar perkataan Jessie. Tapi tolong tahan dirimu. Belum tentu hal itu benar bukan?"


"Bersikaplah seperti biasa jika kau tidak mau kehilangan Juliet." nasihat James. "Aku tahu." Setelah mengatakan semua itu, Romeo berjalan dengan cepat melewati James.


...❄️...


Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Romeo langsung masuk ke dalam rumah. Ia masuk dengan terburu-buru hingga mengejutkan Juliet yang saat itu sedang berada di pantry.


Mata keduanya bertatapan. Saat melihat wajah Juliet, tubuh Romeo yang tadinya tegang tiba-tiba saja terasa ringan. perasaannya jadi lebih baik. Romeo merasa lega sekaligus senang. Istrinya ada di sana, dirumah mereka. Bukan bersama pria itu.. tapi disini, di depannya.


"Juliet?" saat suara Romeo menyapa, Juliet langsung membalikkan badan. Juliet masih enggan untuk bicara pada Romeo. Hanya saja karena Juliet sedang memasak, ia tak mungkin pergi begitu saja meninggalkan masakannya.


Romeo menjatuhkan tasnya dan buru-buru menghampiri Juliet. Dengan kedua tangannya Romeo memeluk erat tubuh Juliet dan menahan wanita itu agar tetap berada di sana.


"Aku tidak mau hal seperti ini terjadi lagi diantara kita." tubuh Juliet menegang saat Romeo memeluk nya lebih erat. Ada perasaan yang tidak nyaman juga. Semua itu karena Juliet masih belum bisa memaafkan kebohongan Romeo pada dirinya.


"Ku mohon bicaralah sesuatu. Jangan diamkan aku seperti ini. Aku bersalah dan aku minta maaf. Hem. Maafkan aku?" kata Romeo tak henti-hentinya memohon.


"Romeo lepaskan aku." kata Juliet. Tapi Romeo enggan untuk menuruti perintah Juliet. Karena Romeo tak mau melakukan apa yang dikatakannya, maka Juliet lah yang harus mengalah.


Juliet mematikan api di depannya, kemudian kembali bicara pada Romeo:


"Bukannya kita mau bicara?" Romeo mengangguk. Tapi pelukannya masih enggan untuk di lepaskan. "Kalau begitu ayo kita bicara." Juliet menarik dirinya agar lepas dari pelukan Romeo.


Wanita itu menatap nya dengan sorot tajam yang mulai menggelitik hati Romeo. Tubuh Romeo terasa kaku tapi jantung nya berdegup cepat. "Aku tahu malam itu aku melakukan kesalahan. Tidak seharusnya aku menarik tanganmu dan mempermalukan mu seperti itu. Aku minta maaf." ujar Romeo mengakui perbuatannya yang mungkin saja telah melukai harga diri Juliet.


"Aku tidak tahu kau akan semarah ini. Malam itu aku terlalu cemburu melihat pria lain memeluk mu seperti itu. Karena itu aku lupa untuk berlaku sopan padamu, aku menyesal."


Mendengar semua pengakuan itu keluar dari mulut Romeo, Juliet hanya menatap pria itu tak percaya. Sepertinya Romeo memang tidak tahu dimana letak kesalahannya yang membuat Juliet marah.


"Kamu pikir aku marah karena itu?" kata Juliet dengan nada sinis. Romeo diam, tapi setelahnya mengangguk. Cih.


"Aku marah padamu karena kau bohong padaku Romeo. Kamu dan James!" kata juliet. "Malam itu kamu bertemu dengan wanita itu bukan, cinta pertama mu." Romeo mengernyit.


"James bilang kalian ingin bertemu dengan tamu penting, tapi nyatanya orang penting yang kalian temui adalah perempuan itu. Perempuan yang mungkin masih begitu berkesan untuk mu." kata Juliet, hatinya masih saja terluka.


Seandainya saja ia tak memiliki perasaan apapun untuk pria ini..


"Sayang. Bukan begitu. Aku dan,-


"Kamu marah melihat aku berdansa dengan pria lain sedangkan kamu sendiri bagaimana? apa kamu juga memikirkan bagaimana perasaanku waktu aku melihat kamu dan wanita itu bermesraan malam itu?."


"Padahal sebelumnya kamu sudah berjanji bahwa tidak akan ada wanita lain yang bisa menyentuh mu. Cih.." Juliet mendelik marah. "Tapi lihat, malam itu kau bahkan tidak keberatan saat wanita itu menempel dengan mesra padamu."


"Jujur saja. Aku marah. Aku sangat marah. Karena kamu tidak menghargai bagaimana perasaan ku. Yang kamu pikirin selama ini cuma perasaan kamu aja Rom. Tapi enggak sama perasaan aku."


"Sayang gak gitu." Romeo mencoba meraih tangan Juliet tapi dengan cepat Juliet menepisnya begitu saja. "Gak usah pegang-pegang aku. Aku gak suka." kata Juliet semakin marah.


"Juliet aku minta maaf. Tapi semua itu gak seperti yang kamu pikirin. Aku gak ada hubungan apa-apa sama Rebecca. Dia memang mantan pacar aku, tapi itu udah lama. Aku gak punya perasaan apa-apa lagi sama dia. Sumpah."


"Gak usah sumpah-sumpah segala deh. Lagian aku juga gak peduli." Juliet melewati Romeo begitu saja meninggalkan pantry, tapi sekali lagi Romeo masih bisa menahan Juliet dengan erat.


"Kamu mau kemana? kita masih belum selesai bicara." suara Romeo terdengar rendah. Romeo tidak mau masalah mereka terus berlanjut seperti ini.


"Gak ada yang perlu kita omongin lagi Rom. Aku gak mau dengar apa-apa. Lepasin!" Juliet menarik kuat tangannya, tapi usaha itu tak berarti apa-apa. Tenaga yang dimilikinya tak sebanding dengan kekuatan Romeo.


"Gak mau! Kamu gak bisa pergi gitu aja. Gak sebelum kamu maafin aku, tangan kamu gak bakal aku lepasin." kata Romeo.


Juliet yang masih meradang benar-benar tak suka saat Romeo menahannya seperti ini. "Kamu nyebelin. Aku benci kamu!" teriak Juliet.


"Tapi aku sayang sama kamu Juliet. Aku gak peduli kamu benci sama aku atau apapun. Perasaan aku gak akan berubah buat kamu. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu." balas Romeo dengan suara yang sama dengan teriakan Juliet.


"Kamu harus percaya sama aku. Satu-satunya orang yang aku pedulikan sekarang cuma kamu, Juliet Dominique. Kamu, istri aku."


...❄️...


...❄️...


...❄️...