ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-34



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Juliet tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan benar-benar mengikuti Romeo sampai seperti ini. Persetujuan yang malam itu ia ucapkan, kini membuat dirinya berada di belahan dunia yang berbeda.


Meskipun begitu, Juliet tidak pernah menyesali keputusannya sedikitpun. Sejak ia memutuskan untuk menerima takdirnya dan menjalankan kontrak pernikahan seperti yang telah mereka sepakati, Juliet tidak akan melarikan diri lagi.


Seperti apapun kehidupan pernikahan kontrak mereka setelah ini, Juliet akan tetap menjadi dirinya. Menjalankan perannya dengan baik, dan mengakhiri semuanya dengan baik. Itu saja.


Juliet tidak ingin mempersulit semuanya. Ia masih memiliki mimpi yang ingin ia raih, membuang waktu hanya untuk menentang takdir menurutnya adalah keputusan yang bodoh. Karena itulah ia sudah menetapkan hati untuk tetap menjalaninya.


Yang perlu mereka lakukan hanyalah menjalankan


peran mereka masing-masing. Juliet sebagai seorang istri, begitu pula dengan Romeo.


Dan satu hal yang harus selalu mereka jaga, yaitu


hati dan juga perasaan mereka masing-masing. Asalkan tidak melibatkan semua itu, maka semuanya akan baik-baik saja. Begitulah cara teraman baik bagi dirinya maupun Romeo.


Apalagi jika mengingat kebersamaan mereka selama


ini.Mereka yang sudah berusaha untuk saling menerima keberadaan masing-masing. Seharusnya


merekalah yang lebih tahu apa tujuan mereka yang sebenarnya, yaitu kebebasan.


Kebebasan untuk menjalani kehidupan mereka.


Kebebasan untuk mewujudkan mimpi yang mereka punya, dan kebebasan untuk menentukan dengan siapa mereka nantinya akan melabuhkan hati sebagai tempat persinggahan terakhir.


Dan untuk mewujudkan semua keinginan itu, mereka


harus mengorbankan sesuatu. Yaitu waktu mereka selama dua tahun ke depan.


Dengan begitu, hubungan yang mereka jalani saat ini


akan membuat mereka mendapatkan keuntungan yang sama. Dan selama itu juga, Juliet berharap, semuanya akan baik-baik saja seperti sekarang.


‘’Ayo. Pak supir udah nungguin kita.’’ Romeo


menggenggam tangan Juliet dan menuntun gadis itu saat keduanya meninggalkan airport.


‘’Lo gak keberatan kan kalau kita tinggal dirumah


papa untuk beberapa hari?’’ Tanya Romeo seraya diam-diam mengamati wajah Juliet.


‘’Hem. Gue gak keberatan kok. Santai aja.’’ Sahut Juliet dengan suara datar nyaris tidak berminta untuk membicarakan hal itu.


Juliet tahu bahwa ia tidak harus seharusnya mengkhawatirkan apapun selama ia tinggal di California. Meskipun jauh dari oma dan opa nya,


tapi hidupnya tidak akan berkekurangan, karena Romeo lah yang akan menjaganya disini.


Meskipun sebenarnya, Juliet merasa sedikit sungkan.


‘’Bagus deh kalau gitu. Papa pasti senang banget


ketemu Lo.’’ Romeo tersenyum simpul. ‘’Apalagi selama ini papa yang pengen banget jadiin Lo menantunya.’’


Juliet tidak tahu apakah itu pujian ataukah murni hanya perkataan yang perlu ia ketahui, jika dirinya bukanlah pilihan Romeo melainkan orang tuannya.


‘’Hem. Gue juga senang kok ketemu uncle.’’ Karena feeling gue bilang, kalau bokap lo bakal sayang sama gue. Dan gue bisa ngerasain kasih sayang dari bokap yang gak pernah gue dapat selama ini. Batin Juliet.


...❄️❄️...


Selama di dalam perjalanan menuju ke rumah keluarga Wiratama, Juliet tidak banyak bicara. Ia tidak ingin bertanya, ataupun mencoba mengeluarkan celotehan penuh kekaguman mengenai apa saja yang baru ia lihat saat tiba di California.


Juliet ingin menyimpan semua kenangannya saat itu


hanya untuk dirinya sendiri. Semua waktu yang ia lewatkan, dan juga semua pemandangan yang ia nikmati bersama Romeo, ia ingin menyimpan semua itu hanya untuk dirinya sendiri.


Mungkin bagi Romeo semua itu tidak berarti apapun,


karena pria itu memang telah lama tinggal di sana, namun berbeda dengan Juliet.


Hanya saja, ia tidak ingin menunjukan semua perasaan itu. Semua ketertarikan dan juga kekagumannya hanya ia simpan sendiri.


‘’Kalau lo capek tidur aja. Ntar gue bangunin kalau


‘’Hem. Gue gak apa-apa kok.’’ Juliet membuka sedikit jendela hingga semilir angin yang masuk mulai menerbangkan rambutnya yang sedikit terurai.


Bulu mata lentik yang terus berkedip-kedip. Hidung


kecil nan mancung, serta bentuk bibir yang begitu sensual kini mulai menyita perhatian Romeo.


Wajah yang sejak tadi terus dipalingkan dari


dirinya, namun justru membuat Romeo yang tak mampu berpaling. Cantik. Mungkin kata itulah yang harus ia katakan pada Juliet.


Romeo mengulurkan tangannya melewati pundak Juliet dan menarik bahu gadis itu agar lebih dekat pada dirinya, ‘’Gue juga gak apa-apa kok kalau lo mau istirahat. Perjalanan nya masih cukup jauh. Jadi Lo istirahat aja.’’ Kata Romeo masih kekeh dengan keinginan untuk membuat Juliet bersandar di bahunya.


Karena Romeo yang memaksa untuk membuat dirinya


bersandar pada bahu pria itu, maka Juliet tidak memiliki alasan untuk menolak. Lagipula kedekatan seperti ini tidak berarti apapun bagi mereka.


Tangan Romeo yang membelai pelan rambutnya, membuat Juliet semakin merasa nyaman.


Tanpa disadarinya, perlahan-lahan kelopak mata


Juliet pun mulai tertutup. Entah itu karena angin yang terus bertiup menerpa wajahnya, ataukah karena kenyamanan bahu yang di tawarkan oleh Romeo, yang pasti perasaannya menghangat dan ia mengantuk.


Dalam hitungan detik, Juliet pun mulai tertidur. Antara mimpi atau tidak, Juliet bisa merasakan jika Romeo mencium pucuk kepalanya.


‘’Lo jangan ngambil keuntungan waktu gue tidur.’’ Peringat Juliet dengan suara rendah, sementara kedua kelopak matanya sudah terpejam.


Mendengar peringatan samar dari Juliet membuat Romeo tersenyum samar. Entah kenapa perbuatan nya pada Juliet membuat hati merasa


tergelitik.


Perlahan tapi pasti, Romeo menginginkan agar ia bisa


lebih dekat dengan Juliet. Dekat dengan gadis itu membuat hatinya menghangat. Keberadaan Juliet mengisi sesuatu yang selama ini kosong dalam hatinya.


...Apakah ini artinya ia mulai menyukai Juliet?...


...❄️❄️...


Setelah melewati beberapa kota kecil, akhirnya mereka pun tiba di kediaman keluarga Wiratama. Rumah dimana Romeo di besarkan selama ini.


Saat mobil sudah berhenti, Romeo pun kembali mengarahkan perhatiannya pada gadis yang masih tertidur pulas dalam pelukannya.


"Juliet.. Juliet." panggil Romeo pelan. "Juliet, bangun. Kita untuk sampai." kata Romeo bersuara pelan sambil mengusap pelan pipi Juliet yang kenyal. Mendengar panggilan samar-samar yang dekat dengan telinganya, membuat kesadaran Juliet perlahan-lahan kembali berkumpul.


Saat kelopak matanya terbuka. Juliet mendapati bahwa mobil mereka benar-benar telah berhenti. "Kita udah nyampe?" tanya Juliet seraya mengucek kedua matanya yang masih terasa berat.


"Hem. Kita udah nyampe dirumah. Lo mau jalan sendiri, atau gue gendong? gue gak keberatan kok." Lagi-lagi Romeo bersikap usil dengan menggoda Juliet.


"Gak usah. Gue bisa jalan sendiri kok." sahut Juliet pelan seraya merapikan rambut dan juga mantelnya.


Romeo yang pertama kali keluar dari mobil, kemudian di susul oleh Juliet. Dari depan pintu, Wiratama berjalan sedikit terburu-buru saat menyambut keduanya.


"Nak..?" Wiratama tersenyum hangat saat melihat kedatangan putra dan juga putrinya. "Selama datang dirumah Nak Juliet." ucap Wiratama, menggenggam tangan Juliet hangat.


"Terimakasih uncle." balas Juliet tersenyum ramah.


"Pah." Kini giliran Romeo yang memeluk Wiratama. "Welcome home Son. Akhirnya kalian datang juga."


Wiratama benar-benar merasa senang saat tahu bahwa putra dan juga menantunya akan kembali ke California.


Selain karena ia ingin putranya dan juga Juliet menjadi lebih dekat, Wiratama juga ingin segera mendapatkan seorang cucu kecil yang lucu dari keduanya.


"Ayo, masuk. Kalian pasti lelah." ajak Wiratama. "Semua keperluan kalian udah papa siapin. Kalau ada yang kurang bilang aja, nanti papa suruh pak Ferdy yang siapkan."


"Nak Juliet, semoga betah tinggal di sini ya." kata Wiratama sekali lagi.


"Iya, uncle. Terimakasih."


Dalam hati kecilnya, Romeo juga menginginkan hal yang sama, semoga Juliet merasa nyaman berada di dekatnya untuk waktu yang cukup lama.


...❄️...


...❄️...


...❄️...