
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Alas berukuran sedang sudah di bentangkan. Makanan pun sudah di susun rapi sesuai dengan tema kencan keduanya. Juliet mengambil tugas sebagai seorang penonton. Sedangkan Romeo lah yang sibuk mempersiapkan semuanya.
"Lo udah puas ngeliatin gue? Udah sini duduk." Romeo menarik tangan Juliet hingga Juliet tersentak dan langsung terduduk di sebelah Romeo.
"Gimana, cantik kan?" Romeo tersenyum puas dengan tempat kencan pilihan nya. Ia sudah memikirkan rencana dan mempersiapkan kencan pertama mereka dengan cukup matang. Meskipun hanya sebatas formalitas, Romeo tetap merasa bangga pada dirinya sendiri. Ia ingin menunjukkan sedikit kesan yang manis pada Juliet.
Juliet memperhatikan wajah Romeo yang sedang menikmati pemandangan yang tersuguh di hadapan mereka. Juliet pun turut tersenyum. Wajah Romeo terlihat begitu teduh dan lembut. Ditambah lagi dengan atmosfer yang mengitari keduanya.
Sungguh perasaan yang membuat hati terasa begitu tenang. Pemandangan pohon yang tinggi dan rindang sebagai tempat berteduh. Taman bunga yang bermekaran dengan begitu indah. Lahan hijau yang cukup luas membentang dengan berbagai dekorasi unik, serta orang-orang yang begitu menikmati indahnya sebuah kebersamaan. Membuat perasaan siapa saja yang menyaksikan nya menjadi semakin damai. Juliet bahkan hampir tidak mengingat kapan terakhir kali ia merasakan perasaan seperti ini.
"Jadi kencan yang Lo maksud adalah ngajakin gue duduk disini seharian?" Juliet memandangi sekitar. Ada beberapa pasangan yang juga sedang melakukan piknik tidak jauh dari tempat yang di pilihkan oleh Romeo.
Terdengar juga suara gelak tawa dari keluarga kecil yang sedang menghabiskan waktu bersama dengan begitu bahagia di bawah pohon yang sedikit jauh. Juliet menghela nafas perlahan. "Gue baru tau Kalau ada tempat kaya gini di Jakarta." jika saja Juliet tahu sebelumnya, mungkin ia bisa mengajak Lily ataupun Oma Dena untuk piknik bersama. Pasti sangat menyenangkan.
"Gak heran sih." Romeo tersenyum. "Cewek kaya Lo kan tau nya cuma nonton film romantis. Ketawa sendiri. Terharu sendiri. Menghalu gak jelas. Seharian di kamar, keluar kalau makan sama kuliah doang." yang di katakan Romeo memang benar. Tapi entah kenapa Juliet merasa sedikit kesal saat pria itu mengucapkan fakta tentang dirinya.
"Bukannya bagus ya kalau gue gak suka keluyuran? Lagian ngapain juga keluar rumah kalau gak penting. Banyak polusi tau." elak Juliet membela dirinya.
Romeo menyenderkan tubuhnya ke pohon yang berdiri tegak di belakang mereka, "Memang gak salah sih. Cuma sayang aja. Seharusnya Lo gak cuma ngehabisin waktu Lo cuma di kamar doang. Yah, seenggaknya, selagi Lo masih bisa dan gak terikat sama gue. Mungkin pergi kencan. Ya kan?" kata-kata Romeo membuat Juliet terdiam. Tiba-tiba saja otaknya memikirkan Randy.
Juliet sudah gila. Kenapa juga ia harus memikirkan temannya yang konyol itu. Dan kencan? Juliet sama sekali tidak tertarik dengan hubungan seperti itu, setidaknya untuk saat ini.
"Emangnya Lo juga sering piknik kaya gini? Sama siapa? Uncle atau Aunty? Kalian ngapain aja?" mata keduanya bertemu. Romeo tertegun. Mata Juliet memancarkan ketertarikan yang terlihat begitu sederhana. Sesuatu yang membuat Romeo merasa santai saat bicara dengan Juliet. "Gue udah lupa. Yang pasti, piknik kaya gini bikin perasaan gue lebih tenang" Juliet mengernyit. Pria seperti Romeo ternyata memiliki kegemaran yang sedikit unik. Tidak banyak pria yang menyukai kegiatan seperti yang mereka lakukan saat ini.
Semakin lama mengenal Romeo semakin Juliet ingin tahu lebih banyak tentang pria itu, "Gue boleh nanya lagi?"
"Hem. Tanya aja. Apa yang mau Lo tau?" hal yang tidak bisa Juliet pungkiri adalah ia menyukai senyum yang samar-samar muncul di wajah Romeo. Terlihat lebih lembut apalagi jika pria itu tidak bersikap menyebalkan seperti saat ini. "Mimpi Lo apa? Apa sama seperti uncle? jadi seorang pekerja sosial yang luar biasa dermawan?" hal ini membuat Juliet merasa sedikit penasaran. Ia ingin tahu apakah pria itu juga memiliki sisi lain seperti yang di miliki oleh ayahnya ataukah justru tidak sama sekali.
Romeo kembali tersenyum. "Mimpi? kayanya mimpi gue mau keliling dunia." Tidak sedikit pun Romeo menginginkan untuk menjadi seperti papa nya. Seorang pria dermawan yang memiliki banyak doa dari jutaan umat manusia.
Bukan karena Romeo tidak suka dengan perbuatan baik yang dilakukan oleh ayahnya. Hanya saja sebagai seorang pria, Romeo memiliki keinginan nya sendiri. "Terus, abis keliling dunia Lo mau ngapain lagi?"
Romeo terlihat berpikir, "Gak ngapa-ngapain sih. Ngabisin duit bokap aja. Kalau Lo gimana?" kini giliran Juliet yang berpikir untuk menyusun kata-kata nya. "Mimpi gue jadi Art direktor yang terkenal. Gue mau punya perusahaan sendiri dan nama gue di tulis dengan desain yang gue bikin sendiri." mimpi yang membuat Juliet begitu mengagumi bakat yang dimiliki nya.
Wajah Juliet yang berseri-seri membuat Romeo juga merasakan sebuah keinginan untuk mewujudkan mimpi kecil gadis itu.
"Gue bisa kok bikinin perusahaan kaya yang Lo mau. Anggap aja sebagai hadiah pernikahan kita nanti." mendengar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Romeo membuat Juliet tertawa kecil. Selain arogan dan diktator ternyata calon suaminya adalah tipe yang enggan untuk berpikir keras. Memiliki orang tua yang kaya raya seperti nya membuat Romeo berpikir jika uang sangat mudah di dapat dan juga mudah untuk di gunakan.
"Bilang aja Lo gak percaya kan sama gue? tapi gak masalah sih. Lo tunggu aja, setelah kita nikah dan balik ke California, gue bakal buktiin ucapan gue." ujar Romeo dengan yakin.
California. Kata-kata itu seperti menggaung keras di kepala Juliet seperti sebuah alarm.
"California? maksud nya Lo mau langsung balik?" bukan sesuatu yang mengagetkan bagi Juliet mendengar rencana Romeo. Terlebih karena ia tahu jika calon suaminya juga masih seorang mahasiswa di sana. Hanya saja Juliet kira jika Romeo akan tinggal lebih lama setelah mereka menikah. Tapi ada baiknya jika mereka tidak menjadi terlalu dekat. Menjadi terbiasa sangatlah menakutkan.
"Gak cuma gue. Tapi Lo juga?" pernyataan Romeo langsung membuat Juliet tertegun. "Tunggu. Maksud Lo gue ikut Lo ke California?" Romeo mengangguk membenarkan. Tidak ada salahnya memberitahu Juliet sekarang. Cepat atau lambat Juliet memang harus tau tentang rencana nya yang ingin membawa gadis itu ke California bersama nya.
Tapi bagi Juliet rencana Romeo adalah sesuatu yang tidak terduga. Juliet belum siap meninggalkan kota kelahirannya. Terlebih lagi jika ia harus meninggalkan opa dan Oma nya sendirian. Jika Juliet pergi, maka ia tidak bisa lagi melihat keluarga kecilnya untuk waktu yang lama.
"Di kontrak gak tertulis kalau gue harus ikut Lo ke California. Jadi," perkataan Juliet tertahan.
"Maksud Lo setelah nikah kita langsung pisah rumah? gue balik ke California dan Lo tetap tinggal disini? lalu untuk apa kita nikah?" Juliet tau rencana Romeo, hanya saja untuk pindah ke California dan mengikuti Romeo untuk tinggal di sana adalah hal yang berbeda dan tidak tertulis di dalam kontrak pernikahan yang pria itu berikan padanya.
"Gini deh. Gue memang gak akan maksa Lo buat ikut gue tinggal lama di sana. Anggap aja Lo ikut gue karena kita lagi bulan madu. Cuma untuk sementara. Setelah bokap gue liat Lo pulang sama gue, maka semua nya selesai. Lo bisa balik lagi ke Jakarta setelah satu atau dua bulan. Gimana menurut Lo?"
Romeo sangat ingin meyakinkan Juliet jika rencananya adalah rencana yang sudah ia pikirkan dengan matang. Romeo tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan yang di milikinya. Terlebih jika rencana itu berkaitan erat dengan masa depannya nanti.
"Kasih gue waktu. Gue gak bisa.."
"Gue juga udah bicara sama opa dan Oma. Mereka juga setuju kalau Lo ikut gue ke California, lagian mereka juga mau pergi ke Korea. Makanya," kali ini giliran Juliet yang menyela.
"Tunggu. Lo bilang apa? opa sama Oma mau ke korea? kapan? kok gue gak tau. Kok Lo bisa tau rencana mereka?" Romeo terdiam sejenak. Ia juga baru tahu jika ternyata rencana itu hanya di ketahui oleh dirinya. Selebihnya Romeo memang tidak tahu apapun.
"Ya gue juga gak tau. Kita cuma ngobrol dan opa cerita ke gue. Katanya sih mau liburan hari tua sama Oma. Masalah mereka gak cerita sama Lo, mungkin lebih tepatnya kalau mereka cuma belum cerita aja." ujar Romeo memberi pengertian.
"Jadi gimana? Lo mau kan ikut gue ke California?" Romeo sungguh berharap Juliet akan menyetujui permintaan nya untuk pergi bersamanya setelah mereka menikah.
Romeo sudah meminta pada papanya untuk menyiapkan apartemen baru untuk mereka tempati selama di California. Ia benar-benar ingin menjalani kehidupan nya sendiri. Karena itulah ia membutuhkan Juliet.
"Gue gak tau Rom. Gue pikir-pikir dulu. Pergi ke California gak Sama kaya pergi ke Depok atau pun Tanggerang. Gue gak bisa pulang pergi sesuka gue. Gue juga',
"Iya. Gue ngerti kok. Lo pikir-pikir aja dulu. Tapi bukan untuk nolak permintaan gue. Tapi untuk nyiapin diri Lo."
...❄️...
...❄️...
...❄️...