
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Aku tak pernah menyangka jika akan merasa sebahagia ini karena wanita yang kucintai sedang tertidur dalam pelukanku." Romeo memandangi wajah Juliet sambil membelainya dengan hati-hati karena takut membangunkan Juliet yang tertidur pulas.
Romeo menyunggingkan senyum kecil saat kembali memperhatikan wajah teduh istrinya. Bulu mata yang lentik, hidung kecil dan lancip, alisnya yang tegas, serta bibir ranum yang berisi.
Ditambah lagi dengan wangi tubuh Juliet yang menguar dengan begitu harum. Semua tentang wanita itu kini telah memenuhi kepala Romeo, bahkan semua hal dari Juliet telah berubah menjadi candu bagi Romeo.
Jantung nya bahkan berdegup cepat setiap kali membayangkan hal apa saja yang bisa mereka lakukan berdua..
Kali ini Romeo benar-benar telah kalah dalam permainannya sendiri. Ia jatuh hati pada wanita yang dulunya hanya sebagai alat untuk mendapatkan segala keuntungan.
Tapi sekarang, semuanya jauh berbeda. Romeo bahkan berani bersumpah, jika kebahagiaan yang dirasakannya sekarang adalah yang pertama dalam hidupnya karena telah menikahi wanita seperti Juliet.
Juliet adalah keuntungan yang tak terhingga..
Ada sesuatu yang hangat namun bergelora setiap kali mereka bersentuhan. Terlebih lagi disaat seperti sekarang. Dimana Romeo bisa merasakan Juliet sepenuhnya. Semua perasaan itu membuat sesuatu dalam diri Romeo terus bergejolak. Semakin besar dan terus bertambah besar, hingga rasanya Romeo sendiri tak tahan untuk menanggungnya.
Setelah melewati semua tahap dalam suatu hubungan, seruan tentang kepemilikan terhadap Juliet terus berdengung dengan nyaring ditelinga Romeo. Bahkan mulutnya sendiri tak mampu menjelaskannya semua perasaan itu dengan kata-kata.
"Kamu sudah menjadi milik ku Juliet, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan mu." berbisik kemudian sekali lagi mengecup pelan bibir Juliet.
Ah.. gila. Ini benar-benar gila.
Bahkan saat Romeo mengecup bibir Juliet yang tertidur, sesuatu dalam dirinya kembali bergelora dengan begitu dahsyat.
"Aku benar-benar harus mengendalikan diriku. Harus! Tahanlah.. jangan berpikir.. dan tidur.. " Romeo memotivasi diri. Usaha yang cukup sulit untuk dilakukan, percayalah!
Meskipun merasa enggan, tapi Romeo tak bisa melakukan sesuatu yang lebih selain kembali memeluk Juliet dan perlahan-lahan membenamkan wajahnya agar bisa terlelap..
...Saat terbangun besok pagi, kamu adalah orang pertama yang ingin ku lihat.....
...bermimpi lah yang indah sayangku.....
...❄️...
Bias cahaya mentari pagi yang mengintip dari balik jendela menyilaukan mata Juliet. Sedikit demi sedikit kesadaran nya mulai kembali.
Juliet juga ingat bahwa sebelumnya ia sudah menghabiskan malam bersama Romeo. Bisa dibilang ini adalah malam pertama untuk mereka setelah resmi menjadi suami istri.
Aih, kalau tahu rasanya akan seperti ini, kenapa tidak dari dulu saja..
Wajah Juliet kembali menghangat. Mengingat bagaimana mendebarkan dan juga bersemangat nya mereka semalam, membuat Juliet tak bisa berkata-kata. Romeo terlalu luar biasa.
Saat Juliet ingin membalik tubuhnya, ia sadar bahwa tangan Romeo masih melingkar di tubuhnya. Pantas saja rasanya hangat, Romeo memeluknya sepanjang malam.
"Selamat pagi Rom.." bisik Juliet. Tidur Romeo bahkan tidak terganggu sedikit pun saat Juliet memberikan morning kiss..
"Tidurmu lelap sekali.." Juliet tersenyum. Tangan lentiknya menjelajahi wajah Romeo dengan begitu leluasa. Bahkan cukup lama Juliet memandangi wajah Romeo dalam diam.
"Aku rasa aku benar-benar jatuh cinta pada mu Rom. Bahkan sepertinya perasaan ku padamu melebihi rasa suka ku pada Park seo Joon." gumam Juliet tersipu malu.
Tak ingin tertangkap basah saat mengamati wajah Romeo, Juliet pun buru-buru bangun dari atas ranjang.
Karena tidak menemukan kunci kamarnya yang semalam Romeo sembunyikan, alhasil Juliet hanya bisa mengenakan pakaian yang sama.
Juliet juga menggunakan kamar mandi Romeo untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai Juliet benar-benar meninggalkan Romeo yang masih tertidur pulas didalam kamar.
...❄️...
"Juliet....?" Panggil Romeo dengan langkah kaki terburu-buru. Bahkan pria itu nyaris terjerembab. "Juliet kamu dimana...? Jangan pergi!" Kali ini Romeo berlari menerobos sampai ke halaman.. bahkan dengan kaki yang telanjang ditengah-tengah cuaca yang mencapai 2°celcius.
"Juliet...? ku mohon jangan pergi. Juliet!" teriak Romeo histeris. Pria itu jatuh terduduk di tengah rerumputan dengan kepala yang perlahan-lahan ditenggelamkan diantar kedua kakinya yang ditekuk.
Melihat keadaan Romeo yang seperti itu, Juliet pun berlari sekuat tenaga untuk menghampirinya, "Rom, kamu kenapa, Hem? ayo bangun lah.." suara nafas Juliet memburu saat menghampiri Romeo. Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Juliet dengan mata berkaca-kaca.
"Juliet...?" suaranya serak. Apa Romeo menangis?
"Aku pikir kamu pergi meninggalkan aku." Romeo meraih tubuh Juliet dengan cepat dan membenamkan wajahnya serta mengeratkan pelukan tangannya hingga nyaris membuat Juliet tak bisa bernafas.
"Rom, tenang dulu. Aku di sini, aku gak pergi kemana-mana" Juliet mencoba menenangkan Romeo "Apa kamu bermimpi buruk?" Juliet menepuk pelan punggung Romeo yang bergetar.
Pria itu tidak menjawab namun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Hah.. Syukurlah. Juliet bernafas lega. Hanya sebuah mimpi buruk.
Juliet benar-benar khawatir saat melihat Romeo yang tiba-tiba saja menerobos keluar seperti itu. Ia pikir sesuatu yang buruk tengah terjadi. Bahkan saat ini jantung Juliet berdegup kencang karena memikirkan hal itu.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Aku di sini. Aku tidak akan pergi kemanapun." sekuat tenaga Juliet mencoba untuk menarik tangan Romeo. "Ayo bangun, kakimu akan membeku kalau terlalu lama duduk di sana."
Romeo seperti orang linglung. Bahkan ia benar-benar tak merasa dingin. Ia lupa kalau saat ini tak mengenakan pakaian hangat apalagi alas kaki.
"Duduklah. Akan aku buatkan minuman hangat untuk mu." Juliet mengambil selimut lalu menutupi tubuh Romeo yang sedang duduk di sofa.
Ada apa dengan ku?
Romeo melihat ke sekeliling. Kini kesadarannya sudah mulai kembali sepenuhnya.
Aih, malunya. Apa yang sudah ku lakukan? Romeo membenamkan wajahnya dalam-dalam ke balik selimut. Semua ini gara-gara mimpi sialan itu.
Bahkan dengan mata terbuka seperti inipun, Romeo bisa merasakan jika semua yang ia lihat dan alami sebelumnya adalah sebuah kenyataan. Sakitnya begitu nyata..
"Ini, minumlah." Juliet mengulurkan secangkir minuman hangat dengan asap yang masih mengepul. "Terimakasih. Maaf sudah membuat keributan seperti ini." ucap Romeo. "Apa aku menakuti mu?" Baguslah kalau kau sadar.
"Tidak apa-apa. Aku justru penasaran apa yang kau lihat dalam mimpi mu sampai kau berlari seperti itu." singgung Juliet. "Kamu bahkan tidak menghiraukan panggilan ku saat aku mengejar dari belakang mu. Kamu seperti orang kesurupan."
Kedua alis Romeo bertaut, sepertinya kata kesurupan bukanlah kata yang biasa digunakan ditempat ini. "Maksud ku kau kehilangan akal
mu." ralat Juliet lagi.
Romeo menunduk untuk meletakkan gelasnya kemudian beralih untuk meraih Juliet. "Itu mimpi terburuk selama aku hidup." gumam Romeo. Pelukannya semakin erat.
Dalam mimpinya; Romeo melihat Juliet yang pergi dengan semua barang-barang nya bersama dengan Randy. Bahkan sebelum pergi Juliet dengan jelas mengatakan bahwa dia tidak mencintai Romeo sedikitpun, karena selama ini yang dicintainya adalah Randy.
Awalnya Romeo tak percaya bahwa Juliet bisa mengatasi semua itu. Tapi setelah Juliet semakin menjauh tanpa menghiraukan dirinya, bahkan setelah Romeo memohon agar Juliet jangan pergi, tapi pada akhirnya ia kehilangan Juliet.
Benar-benar buruk. Mungkin karena itulah saat terbangun Romeo tak sadar telah menerobos keluar seperti orang kesetanan..
"Tidak mau menceritakannya padaku?" Juliet melirik pada Romeo..
Romeo mengangkat wajahnya. Menatap wajah Juliet cukup lama. "Ada apa?" Huupp.. Romeo mencium Juliet. Perlahan, semakin dalam, semakin menuntut..dan..
"Heemm tunggu dulu.." Juliet mendorong tubuh Romeo untuk melepas ciuman mereka. "Hei.. kenapa kamu begini..?" ujar Juliet dengan nafas sedikit memburu.
Juliet tidak marah. Hanya saja ia cukup terkejut dengan perlakuan Romeo yang tiba-tiba saja seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Apa kamu mencintai ku Juliet?" Romeo meraih tangan Juliet kemudian menciumnya dalam. "Apa kamu memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan? jawablah." Desak Romeo. Sementara ciumannya semakin naik hingga ke leher Juliet..
"Apa aku harus mengatakannya setelah apa yang kita lakukan semalam?" Deg. Romeo terhenti sesaat. Saat itu Juliet sangat yakin bahwa wajahnya sedang merona. Ini bukan pembicaraan yang bisa dikatakan begitu saja dan dimana saja.
"Tapi kamu belum mengatakannya dengan mulutmu sendiri. Aku ingin mendengarnya langsung. Apa kamu mencintai aku?" Romeo mengulang pertanyaannya.
"Hem. Aku mencintaimu Romeo." Jujurnya. Juliet tak akan menutupi perasaannya lagi. Bahkan dengan jelas ia akan mengatakan bahwa hatinya sudah lama dimiliki oleh pria didepannya.
"Benarkah? syukurlah." Romeo menghela nafas lega. "Kalau begitu aku tidak akan kehilangan mu lagi, bahkan di dalam mimpiku." sekali lagi Romeo memeluk Juliet dengan erat.
"Apa didalam mimpi mu aku mengatakan hal sebaliknya lalu aku tiba-tiba saja pergi meninggalkan mu sendiri. Karena itulah kau berlari seperti tadi?" Juliet menebak isi dari mimpi yang menggangu Romeo..
"Bagaimana kau bisa tau? Itu mimpi terburuk dalam hidupku." Sekali lagi Romeo memeluk Juliet dengan gelisah. Romeo takut jika semua itu akan menjadi kenyataan di kemudian hari.
"Kalau begitu aku tidak akan membuat mimpi itu menjadi nyata." Juliet menyunggingkan sebuah senyuman yang menenangkan.
"Karena aku mencintaimu Romeo." Juliet tersenyum. Hati Romeo terasa menghangat. "Itu cara yang luar biasa untuk mengucapkan selamat pagi.."
...❄️...
...❄️...
...❄️...