ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-52



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Sejak keduanya meninggalkan hotel, dan masuk ke dalam mobil, Juliet tidak berkata sepatah katapun. Begitu juga dengan Romeo. Pria itu hanya melampiaskan kemarahannya dengan membuat mobil yang mereka kendarai melaju dengan begitu cepat di jalan raya.


Romeo masih menahan diri. Mereka bisa bicara nanti, saat tiba dirumah. Banyak hal yang harus ia menanyakan banyak hal pada istrinya. Ditambah lagi, bagaimana bisa Juliet mengijinkan pria asing untuk berdansa dengan dirinya padahal jelas sudah Romeo peringati sebelumnya.


Tapi bisa-bisanya ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri istrinya sudah berada dalam pelukan pria lain, ditambah lagi Romeo bisa melihat dengan jelas bagaimana pria itu menatap istrinya. Cih, sialan. Rasanya, dada Romeo benar-benar seperti terbakar.


Menyadari apa yang dilakukan Romeo saat ini, Juliet masih tidak bergeming. Ia tidak peduli pada apa yang Romeo lakukan. Jika pria itu berharap ia akan menjerit ketakutan dan memohon pada pria itu, mimpi saja. Sampai matipun, Juliet tidak akan melakukan itu.


Ia benci dengan kenyataan bahwa selama ini ia sudah percaya dan mulai membuka hati untuk Romeo. Sedangkan pria itu justru mengkhianati nya dengan berbohong seperti ini.


Jika saja Maxim dan Troy tidak mengatakan tentang hubungan nya dengan wanita bernama Rebecca itu, maka selamanya Juliet hanya akan menjadi wanita bodoh yang terus menyukai pria yang sebelumnya sudah memiliki kekasih.


...❄️...


Saat mobil keduanya sudah memasuki pekarangan dan mulai berhenti, dengan cepat Juliet keluar dari mobil lalu membanting pintunya. Begitu juga dengan Romeo, ia buru-buru mematikan mesin mobil lalu keluar dari dalam sana untuk mengejar Juliet secepatnya.


"Juliet! Berhenti!" teriak Romeo. Tapi seperti orang yang tuli, Juliet hanya berlari memasuki rumah begitu saja. Ia melempar tas nya ke lantai, begitu juga dengan sepatunya. Juliet masih diam. Juliet benar-benar ingin mengabaikan Romeo. Ia tidak peduli lagi dengan perkataan bohong yang akan pria itu katakan. Persetan dengan semuanya. Juliet menaiki tangga dengan cepat menuju ke kamarnya.


"Juliet tunggu aku!" panggil Romeo lagi. "Hei ada apa dengan mu? dan apa-apaan itu tadi? kau berdansa dengan Troy? seru Romeo yang berlari tepat di belakang Juliet.


"Kau tahu siapa dia? pria itu bukan pria yang bisa berada di dekatmu begitu saja. Kenapa kau membiarkan Troy untuk berdansa dengan mu, Juliet!"


"Jangan bicara dengan ku. Aku benci pada mu. Kau pembohong sialan! Brengsek! aku benci padamu!" Juliet balas berteriak, ia berlari dan langsung masuk kedalam kamar lalu mengunci pintunya.


"Juliet dengarkan aku. Apa yang membuat mu marah seperti ini? apa aku melakukan kesalahan? huh? bukankah ini aneh? aku yang seharusnya marah. Apa-apaan ini! Ada apa dengan mu, Juliet!" Romeo menggedor pintu didepannya dengan cukup keras. "Buka pintu nya! Kita harus bicara, Juliet ku bilang buka pintunya!"


...Doooorr! Doooorr!...


"Pergi sana. Aku benci kamu, Rom! aku gak mu liat muka kamu lagi. Pergi! Pergi!" teriak Juliet histeris dari dalam kamar. Wanita itu terjatuh tersungkur di depan pintu sambil terisak. Betapa bodohnya ia selama ini?


"Kamu bohong. Kamu bohong Rom. Aku benci sama kamu." katanya lagi sambil terisak. Romeo yang tidak menyadari dimana letak kesalahan hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kamar Juliet.


"Kamu marah sama aku? aku ngelakuin apa? aku gak tau dimana salah aku Juliet. Kenapa kamu kaya gini? buka pintunya. Kita harus bicara!"


Sepertinya apapun Romeo membujuk, pintu di depannya tidak bergerak sedikitpun. Suara Juliet juga sudah tidak terdengar lagi.


"Juliet," panggil Romeo dengan nada yang lebih lembut. "Juliet, buka pintunya sayang. Kita harus bicara. Apa salah ku padamu, Hem? aku minta maaf kalau tadi aku sudah membentak mu di sana. Aku minta maaf. Sekarang buka pintunya. Ku mohon."


...Tokkk.. Tokkk......


"Juliet... buka pintunya...!" tidak ada jawaban. Sepertinya kali ini Juliet benar-benar sedang mengabaikan dirinya.


Romeo mengusap kasar wajahnya, berulang kali memukul ke udara. Sialan. Ada apa sebenarnya ini? kepalanya mulai berdenyut.


Padahal, baru saja ia dibuat pusing dengan pertemuan tak terduga nya dengan Rebecca, sekarang ia harus menghadapi Juliet yang seperti ini. Romeo sampai tak bisa berkata apa-apa. Malam yang seharusnya menjadi malam yang indah bagi keduanya, entah kenapa justru berakhir seperti ini.


...❄️...


Di dalam kamar, Juliet yang masih menangisi dirinya enggan untuk melihat Romeo. Jangankan bertemu, untuk bicara dengan pria itu saja rasanya ia tidak mau.


Kak, bagaimana ini? ternyata aku adalah orang ketiga. ketik Juliet, lalu mengirimkan pesan singkat itu pada saudarinya, Lily.


"Oma, Juliet kangen Oma. Juliet pengen peluk Oma."


...❄️...


Sepanjang malam Romeo sudah berpikir keras. Ia tidak bisa terpejam sedetik pun karena memikirkan dimana letak kesalahan dirinya. Tapi ia tidak menemukan apapun.


Justru ia tak habis pikir apa yang membuat Juliet malah beraksi seperti itu terhadapnya, padahal sebelumnya mereka baik-baik saja. Jika pun ada pihak yang seharusnya marah, itu adalah dirinya. Bukan Juliet.


Tapi yang terjadi saat ini, justru sebaliknya. Romeo benar-benar tak bisa berpikir.


...Tok...Tok.....


"Juliet.. buka pintunya. Kamu masih marah? aku minta maaf. Sekarang bisa kan kita bicara?" kata Romeo dengan suara membujuk.


"Aku minta maaf kalau aku sudah melakukan kesalahan padamu. Aku mau kita bicara. Juliet....?" Romeo masih menunggu dengan sabar. Namun sepertinya, Juliet tidak berniat untuk membuka pintu.


Setelah cukup lama membujuk Juliet dengan hasil nihil, Romeo pun memilih untuk pergi ke kampus. Masih ada yang harus ia kerjakan hari ini.


...Tok.. Tok......


"Juliet, aku sudah membuatkan sarapan untuk mu. Jangan lupa makan kalau sudah bangun nanti." kata Romeo.


Dari balik gorden kamarnya, Juliet memperhatikan Romeo yang masuk ke dalam mobil. Pria itu sempat melihat ke arah jendela kamar juliet, namun tak bisa melihat Juliet yang berdiri di balik tirai.


...❄️...


Di kampus, Romeo bertemu dengan James. Melihat raut wajah Romeo yang kacau, James bisa menyadari jika sesuatu telah terjadi dengan sahabatnya itu.


"Wow, sepertinya matahari tidak akan terbit hari ini. Awan hitamnya banyak sekali." celetuk James yang sudah memutar kursi di samping Romeo. Pria itu tersenyum mengejek, membuat hati Romeo semakin kesal saja.


"Apa kau sedang memikirkan Becca? kau masih berdebar olehnya?" sekali lagi James tersenyum mengejek. Sialan. "Jangan semakin memperburuk keadaan James. aku sedang pusing. Jangan memperburuk keadaan. Dan satu lagi, tidak punya waktu untuk memikirkan Becca." kecam Romeo yang merasa jengkel dengan cibiran dari James.


"Wow... easy man. Ada apa dengan mu. Aku hanya bergurau." balas James lagi. "Jika bukan karena Becca, apa ini tentang Juliet? kalian bertengkar lagi?"


Melihat Romeo yang tidak membantah pertanyaan nya, James bisa mengerti jika saat ini sahabatnya itu sedang dilanda kegalauan yang berlapis. Setiap hal yang menyangkut Juliet akan membuat sahabatnya itu frustasi seperti ini.


"Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi kawan. Saran ku, apapun masalah antara kau dan Juliet, sebaiknya cepat kau selesaikan. Kalian terlihat serasi saat bersama. Aku sungguh-sungguh." nasihat James sambil tersenyum.


"Andai saja aku tahu dimana letak kesalahan ku. Tapi ini, aku benar-benar tidak tahu apa yang membuat nya marah padaku. Juliet bahkan tidak mau bicara satu patah pun. Jangankan bicara, Juliet bahkan tidak ingin keluar dari kamarnya. Wanita memang sulit untuk dimengerti." keluh Romeo.


Hal seperti ini memang bukan keahlian James, ia tidak tahu solusi apa yang tepat untuk dikatakan pada sahabatnya itu. Hanya saja, apapun yang terjadi, James akan tetap mendukung Romeo.


"Sepertinya kau masih harus berjuang kawan. Inilah yang dinamakan dengan pernikahan." mendengar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut pria yang ada didepannya membuat Romeo mendesis. "Jangan sok bijak di depan ku. Seperti kau sudah pernah menikah saja." elak Romeo lalu membuang muka.


"Meskipun belum pernah menikah, tapi aku akan tetap jadi pendukung mu." sahut James, tertawa. "Bagaimana kalau kita pergi ke tongkrongan dan berkumpul dengan yang lain? bengong seperti ini tidak akan membuat mu keren. Kau seperti orang bodoh."


"Kau yang bodoh. Sialan."


"Ayolah. Lupakan masalah mu sebentar. Lagi pula Juliet tidak akan pergi kemanapun."


...❄️...


...❄️...


...❄️...