ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-19



...❄️...


...❄️...


...❄️...


...President Suite Room...


Juliet menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang pengantin yang sudah di hiasi dengan begitu banyak kelopak bunga mawar putih diatasnya.


Tangan Juliet meraih sebagian kelopak bunga mawar dan menatap nya sejenak.


"Apa mereka tidak tahu jika kelopak bunga bisa menimbulkan alergi?" Juliet membersihkan salah satu sisi ranjang hingga kini lantailah yang terlihat lebih ramai.


Setelah acara resepsi pernikahan nya selesai, Juliet langsung kembali ke dalam kamar. Kaki Juliet terasa pegal karena sudah berdiri terlalu lama saat menerima ucapan selamat dari tamu undangan.


Mata Juliet kini tertuju pada langit-langit kamar hotel yang akan menjadi kamar pengantin nya bersama Romeo. Tiba-tiba saja wajah Juliet menghangat.


"Apa yang Lo pikirin sih Juliet. Jangan sampai Lo berubah autis cuma gara-gara mikirin malam pertama yang gak akan pernah terjadi!" Juliet memarahi dirinya sendiri.


Malam pertama hanya untuk pengantin yang sebenarnya. Tapi untuk dirinya dan Romeo, hal seperti itu tidak akan terjadi.


Tapi malam ini mereka akan berada di kamar yang sama? atau justru pria itu sudah menyiapkan kamar lain untuk dirinya. Jika memang begitu Juliet bisa merasa sedikit lega.


Tidak lama kemudian ada suara ketukan yang berasal dari pintu kamar Juliet. Apakah itu Romeo?


"Jul. Lo di dalam?" benar. Itu adalah suara pria yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya. "Masuk aja." Juliet merubah posisinya dari terlentang menjadi duduk.


Dalam hitungan detik Juliet merdengar suara pintu terbuka dan suara pintu itu tertutup kembali.


Romeo terpaku sesaat melihat Juliet yang saat ini duduk di atas ranjang. Wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya.


Romeo mendekat dengan canggung. "Lo gak keberatan kan kalau kita satu kamar dulu?" Dan Juliet bisa mengerti maksud pria itu. Karena Juliet tahu jika mereka tidak hanya berdua di hotel itu.


Keluarga dan sahabat mereka juga menginap di hotel yang sama.


"Gak masalah kok. Gue ngerti. Kamar ini bahkan muat untuk lima orang." Sahut Juliet.


Romeo merasa lega. Setidaknya suasana dikamar itu tidak menjadi aneh karena keberadaan dirinya.


Romeo berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Romeo juga melepaskan jas nya, dan hanya menyisakan kemeja berwarna pastel.


"Gue belum ngucapin makasih sama Lo. Gue ngerti banget pengorbanan Lo buat pernikahan ini." Romeo memulai pidato kecilnya.


Apakah ini kata-kata mutiara dari mempelai pria untuk mempelai wanita? Juliet diam mendengarkan.


"Gue akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab gue sama Lo. Gue juga akan pastiin kalau Lo gak akan nyesal udah nikah sama gue." Romeo menatap dalam mata Juliet.


"Meskipun sedikit terlambat. Gue cuma mau bilang, gue bersyukur karena Lo yang jadi istri gue, bukan orang lain."


Ada sesuatu yang menohok ke dalam hati Juliet. Romeo memang terdengar tulus, tapi kenapa hatinya terasa sakit.


Juliet memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa berkata-kata jika harus menatap mata pria itu. "Gue juga kok. Gue bersyukur karena pria itu adalah Lo."


Seharusnya, saat-saat seperti ini adalah moment paling membahagiakan bagi Romeo dan Juliet. Tapi yang di rasakan keduanya justru ada perasaan lain yang sangat membebani.


...Bukan rasa bersalah......


...Tapi rasa ketidakberdayaan. ...