
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Romeo memutar-mutar gelas yang ada di tangannya. Sejak tadi segala sesuatu sedang berputar-putar dalam kepala Romeo.
Bahkan dingin nya cuaca malam sekalipun tidak lantas membuat pikiran Romeo kembali jernih. Justru sebaliknya, pikirannya semakin dibuat kalut.
Sudah tepatkah pilihan Romeo untuk melibatkan Juliet dalam rencana untuk membebaskan diri dari peraturan ayahnya selama ini?
Setelah apa yang di lihatnya dari gadis itu dalam beberapa hari terakhir, Romeo ragu apakah Juliet mampu menjalankan kontrak seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
Hati Romeo benar-benar di buat ragu. Sikap dan juga perhatian yang di berinya pada Juliet, akankah terus seperti itu adanya?
Sedangkan Juliet sendiri tidak seperti apa yang terlihat. Meskipun diluar gadis itu terlihat seperti seorang gadis bar-bar yang bersikap keras kepala, sok kuat dan ceria, tapi di balik itu semua Romeo bisa melihat dan merasakan bahwa Juliet sama seperti bunga. Begitu rapuh dan mudah tersakiti.
Romeo tidak ingin menjadi salah satu orang yang menyakiti perasaan Juliet. Meskipun di sisi lain Romeo juga tidak berniat untuk menjadi salah satu alasan yang membuat gadis itu bahagia. Romeo tidak ingin terlibat dalam takdir apapun dengan Juliet.
Terutama setelah menjalani pernikahan mereka nanti. Romeo hanya ingin fokus pada tujuannya. Dan setelah semua itu tercapai akankah Romeo tetap bisa bertahan dengan keyakinan hatinya?
Keyakinan untuk dapat hidup bebas. Hidup seperti yang ia mau. Dan juga menemukan cinta sejati nya layaknya sebuah takdir. Bukan seseorang yang di tentukan oleh ayahnya atau oleh siapapun. Tapi seseorang yang benar-benar membuat Romeo jatuh cinta dengan sebagaimana diri Romeo. Cinta yang seperti itulah yang ia inginkan. Dan Juliet tidak akan pernah masuk kedalam hitungan nya.
Romeo takut untuk terbiasa. Karena itulah ia harus kembali pada akal sehatnya. Romeo dan Juliet. Hanya merupakan cerita fiksi, bukan untuk kehidupan nyatanya.
...❄️...
Setelah berpikir panjang, tepat pukul satu dini hari Romeo pun meninggalkan balkon. Romeo mengambil bantal sofa dan meletakkan kepalanya di sana. Ia lelah. Sebelumnya Romeo sudah pergi ke kamar untuk memastikan gadis yang tertidur di sana baik-baik saja.
Dan setelah malam ini, Romeo berharap segalanya kembali normal lagi agar Romeo tidak terjebak dalam kisah yang bukan miliknya.
"Juliet. Selamat malam."
Pukul tiga dini hari, Juliet merasa tenggorokan nya begitu kering. Juliet pun terbangun dan memperhatikan sekitarnya. Romeo tidak kembali ke dalam kamar. Dan Juliet sangat berterimakasih untuk itu. Meskipun ia juga tidak membenci pria itu jika Romeo mengambil tempat di sebelahnya. Karena Romeo tidak akan melakukan apapun yang bisa membuat Juliet harus bersikap waspada.
"Kau tidak tidur di kamar mu, tapi memilih untuk tidur disini?" Juliet berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada. Tatapan nya tertuju pada wajah yang sedang tertidur dengan begitu lelap. Beberapa detik kemudian Juliet kembali ke kamar dan kembali lagi untuk membawakan selimut untuk Romeo.
Juliet membuka selimut dan menutupi tubuh pria itu.
Juliet menghela nafas lambat-lambat, "Thank udah kasih kamar Lo meskipun gue tau Lo gak bisa tidur kalau bukan di atas kasur. Dan juga buat cake nya." Juliet merasa terharu. Karena Romeo memikirkan dirinya. "Gue harap setelah ini, Lo gak akan terlalu baik sama gue atau gue gak akan bisa jalanin kontrak yang udah kita sepakatin. Maaf juga karena gue udah bersikap kekanak-kanakan dan udah ngerepotin Lo. Thank Rom. Semoga setelah ini, Lo gak marah lagi sama gue."
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Juliet merapikan kamar Romeo dan juga barang-barang pribadinya. Setelah itu Juliet pergi meninggalkan apartemen Romeo tepat pukul empat dini hari.
Sebelumnya Juliet menyempatkan diri untuk membuat segelas coklat panas dan meletakkan nya di atas meja yang tidak jauh dari tempat Romeo berbaring, "sebagai ucapan terimakasih." memo yang Juliet tulis tepat di sebelah cangkir.
Meskipun tahu segelas susu coklat tidak akan bisa membalas kebaikan Romeo, Juliet hanya berharap agar ketulusan nya cukup untuk meminta maaf Romeo tidak marah lagi. Entahlah kenapa Juliet harus peduli dengan perasaan pria itu.
Juliet hanya tidak ingin membuat hubungan mereka semakin terasa asing. Sudah cukup baginya untuk menikah dengan pria yang seumur hidup tidak pernah ia temui. Setidaknya setelah ini mereka bisa menjadi partner yang baik saat mereka harus menjalani kontrak pernikahan yang sudah keduanya sepakati.
Juliet pun akan belajar bersikap dewasa dan menerima takdirnya. Juliet juga harus fokus untuk menata kehidupan yang baru dan tidak akan bergantung pada siapapun. Dengan begitu, Juliet harap kebahagiaan akan perlahan-lahan menghampiri dirinya.
"Mang, terimakasih udah jemput Juliet jam segini. Maaf udah ngerepotin mamang." Ucap Juliet saat mobil sudah terparkir di bagasi.
Danang tersenyum lembut kepada nona mudanya, "Tidak apa-apa non. Sudah tugas mamang untuk mengantarkan dan menjemput nona kemanapun. Mamang selalu siap."
"Terimakasih mang. Dan satu lagi. Jangan bilang opa sama Oma Kalau Juliet minta jemput jam segini. Bilang saja Romeo yang antar."
Danang mengangguk tenang, "Siap non. Pokoknya beres."
...❄️...
...DOMINIQUE HOUSE...
Rutinitas di pagi hari setelah menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga, Dena selalu mengambil tugas untuk membangunkan cucu perempuan nya.
Dengan suara yang lebih lembut, Dena mengetuk dan memanggil nama Juliet.
"Juliet. Bangun sayang. Sudah pagi." panggil Dena kemudian mendaratkan beberapa ketukan di pintu. "Juliet, ayo bangun. Opa sudah menunggu di kita untuk sarapan." Dena masih memanggil dengan suara yang sama. Tapi pada akhirnya tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Sampai akhirnya setelah menunggu beberapa saat seorang asisten rumah tangga menghampiri Oma Dena, "Nyonya besar, nona Juliet sudah bangun sejak pagi. Sekarang sedang berada di taman bersama dengan Peron." ujar asisten itu menyebutkan nama anjing peliharaan Juliet.
"Benar nyonya."
Ini adalah pertama kalinya bagi Dena mendengar bahwa cucu perempuan nya bangun tanpa harus diteriaki oleh semua asisten termasuk juga dirinya.
"Baiklah. Tolong panggilkan Juliet untuk sarapan." perintah Oma Dena yang langsung di angguki oleh asisten tersebut.
"Baik nyonya."
Setelah kembali ke ruang makan, Dena duduk di sebelah suaminya, Adam. "Apa kau tau. Ini pertama kalinya aku mendengar cucu perempuan mu bangun sendiri di pagi hari. Bahkan kata asisten, dia sedang di taman bermain dengan Peron." cerita Dena sedikit bersemangat.
Adam mengernyit sesaat kemudian tersenyum, "Benarkah?" Dena mengangguk lagi. "Ku rasa cucu kita sedang beradaptasi sebelum pernikahan nya." tambah Adam merasa sedikit lega.
"Kau benar. Semoga saja setelah menikah Juliet akan terbiasa dengan hidup barunya. Aku sedikit khawatir. Apalagi kau tahu bagaimana karakter cucu kita. Aku takut Romeo tidak bisa memaklumi semua kekurangan cucu kita. Meskipun aku yakin Romeo akan berbesar hati."
Kekhawatiran yang sama pun di rasakan oleh Adam. Tapi bagaimana lagi, mereka harus menyiapkan Juliet sebelum semuanya terlambat.
"Semua akan baik-baik saja. Yakinlah. Dan setelah cucu kita menikah, kau harus fokus dengan pengobatan mu. Kau sudah berjanji sayang." ujar Adam menenangkan istrinya.
"Aku tahu."
...❄️...
"Morning Oma. Morning Opa." Sapa Juliet dengan wajah yang jauh lebih ceria, karena Juliet tidak ingin membuat orang-orang yang di cintai nya selalu mencemaskan dirinya. Dena dan Adam juga turut merasa senang melihat perubahan yang di tunjukan oleh Juliet.
"Selamat pagi cucu Oma." balas Dena.
"Selamat pagi sayang." ujar Adam juga.
Dengan semangat yang sama Juliet duduk di sebelah opanya dan berhadapan langsung dengan wanita paruh baya yang sangat Juliet sayangi.
"Mau sarapan apa sayang? roti, atau nasi goreng?" tanya Dena memegang piring di tangan nya. Sudah menjadi aturan jika sarapan akan selalu di siapkan oleh Oma Dena. Dan semua anggota keluarga harus bergantung penuh pada wanita itu.
"Juliet mau nasi goreng saja Oma. Terimakasih." sahur Juliet sambil tersenyum.
"Baiklah. Karena ini hari adalah hari spesial, Oma akan memberikan dua potong sosis dan dua telur mata sapi untuk menambah semangat." Dena menyiapkan sarapan untuk cucunya dengan perasaan bahagia.
Juliet yang melihat wajah orang terpenting dalam hidupnya berseri-seri membuat Juliet turut merasakan kebahagiaan tersebut. Dengan begini, setidaknya Juliet bisa sedikit memberikan kenangan manis untuk opa dan Oma nya.
Juliet akan merindukan saat-saat seperti ini setelah ia menikah nanti.
...❄️...
Setelah kembali ke kamar, Juliet mengambil ponselnya. Dan disaat yang sama juga, ponsel di tangannya bergetar.
..."Romeo Calling"...
"Halo?" sahut Juliet setelah dering keempat. "Lo dimana? Lo pulang sendirian? kok gak bangunin gue? Lo marah karena gak gue antar pulang semalam?" ujar Romeo mencecar Juliet dengan banyak pertanyaan.
"Gue udah dirumah. Maaf gak bangunin Lo. Soalnya Lo kelihatan capek juga. Jadi gue minta jemput supir gue." jelas Juliet dengan sebenarnya. Hening sejenak. Juliet sempat berpikir jika Romeo akan kembali marah pada dirinya, "Ya udah gak apa-apa. Gue kira Lo pulang naik taxi. Nanti gue jemput Lo di kampus. Gue mandi dulu.".
"Tapi Rom, Gue.." belum lagi Juliet menyelesaikan kalimatnya, Romeo sudah lebih dulu mematikan panggilan nya.
Alhasil Juliet pun hanya mengirimkan sebuah pesan;
...To: Romeo...
..."Jemput gue di rumah aja jam 1. Gue gak ke kampus."...
Setelah mengirimkan pesannya, Juliet kembali berbaring di atas tempat tidur. Mata Juliet terasa berat.
......"Randy Calling (3 calling)"......
..."You have 3 text massage"...
...❄️...
...❄️...
...❄️...