ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-40



...❄️...


...❄️...


...❄️...


...Tin...Tin.....


Suara klakson mobil yang cukup bising terus dibunyikan secara bersahut-sahutan tepat dibawah jendela kamar Romeo.


Seseorang yang entah siapa, kini sedang berusaha untuk membangunkan dirinya, dan tentu saja hal itu dilakukan dengan sengaja.


Awalnya, Romeo pikir itu adalah ulah orang iseng. Karena itulah ia sengaja mengabaikan kebisingan tersebut. Tapi lama kelamaan, suara itu semakin menjadi-jadi.


Romeo yang mulai merasa terusik pun mau tak mau harus bangun dari tempat tidurnya untuk memastikan apa yang terjadi di bawah sana. "So Fucking Damn!"


Dengan kepala yang masih terasa berat, Romeo pun menyeret tubuhnya ke arah balkon. Sinar matahari yang terik semakin membuat penglihatan Romeo kabur. Sepertinya pagi ku memang tidak bisa damai ya? celetuk nya dalam hati.


Sampai di tepian balkon, Romeo menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa biang kerok yang telah merusak paginya yang tentram dan damai.


Saat tahu siapa orang itu, Romeo hanya bisa menghela nafas seraya mengelus dada. Semua kebisingan itu adalah ulah dari salah satu sahabatnya. James.


"Kenapa aku harus melihat mu sepagi ini! kau pikir siapa dirimu. Dasar bocah tengik!" Romeo kesal setengah mati. Harus ku apakan manusia ini?


James yang memang sudah menunggu Romeo sejak tadi, kini tengah melambaikan tangan sambil tersenyum karena berhasil membangunkan Romeo. Jangankan merasa sungkan, James bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun setelah apa yang dilakukannya.


"Hei... kau bangun? Akhirnya." Ckck.. Romeo menggeleng tak habis pikir. Ada-ada saja. Beruntung, James adalah sahabat Romeo. Jika orang lain, mungkin saja saat ini ia sudah menyiramkan air pada pria itu.


Melihat Romeo yang masih memijit pelipisnya, James kembali bersuara; "Ayolah kawan! Cuci wajah mu. Kita harus segera pergi." seru James lagi. Pria itu masih menengadah ke atas, sambil duduk santai di atas kap mobil nya.


"Apa pintu nya belum dibuka?" tanya Romeo dengan suaranya yang terdengar serak.


James menoleh sesaat, lalu menengadah kembali. "Sudah." Ah, sialan.


"Lalu Kenapa kau harus berisik di bawah sana jika kau bisa langsung masuk ke dalam? kau kan bisa mengetuk kamar ku brengsek!" Bukankah seperti itu cara James biasanya, lalu kenapa sekarang ia harus membuat keributan seperti ini. Romeo benar-benar tak habis pikir.


Mendengar cacian dari sahabatnya, sungguh membuat James merasa terhibur, sepertinya Romeo masih belum sadar sepenuhnya. "Itu bukan kamar mu lagi kawan. Ada penghuni lain di sana. Aku tidak mungkin masuk begitu saja. Meskipun saat ini malaikat cantik itu sedang menghilang." James kembali memamerkan cengiran absurdnya.


Romeo mengusap wajahnya sekali lagi, "Kau gila." Sampai kapan pun sahabatnya itu memang akan selalu seperti ini. Berbuat sesuka hati. "Masuk saja. Aku akan turun sebentar lagi." kata Romeo masih bercampur kesal.


Tapi James tetap tidak peduli pada kekesalan Romeo. Yang terpenting baginya adalah ia bisa membangunkan pria itu, dan membereskan urusannya. "Oke..."


Setelah meninggalkan balkon, Romeo langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajah nya yang terasa tebal, kemudian ia juga mengganti jubah tidur dengan kaos berwarna hitam dan juga celana Jogger berwarna putih.


Padahal, bukannya James tidak tahu bahwa saat ini ia masih teler, bahkan kepalanya masih terasa begitu berat untuk diajak beraktivitas, tapi pada akhirnya, James tetap saja berulah.


Alhasil, mau tak mau Romeo harus menghilangkan mabuknya secara paksa.


...1 massage...


...From: Juliet...


..."Aku dan papa dalam perjalanan pulang."...


...❄️❄️...


"Ada apa kau datang sepagi ini? kelihatannya hanya aku yang mabuk." cibir Romeo sambil memijit pangkal hidungnya.


"Pagi? kau bilang ini pagi? tadi memang pagi kawan. Tapi lihat jam ku, ini hampir siang." balas James menyodorkan jam tangannya pada Romeo.


"Lalu...?"


"Kapan Juliet kembali?" tanya James mengalihkan pembicaraan.


Romeo mengernyit, "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang nya?"


"Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu saja."


Ckck. "Sejak kapan kau mulai ikut campur dengan kehidupan pribadi ku? apa kau benar-benar kurang kerjaan?" kali ini nada bicara Romeo terdengar dingin.


Entah kenapa ia tidak suka jika orang lain membicarakan istrinya. Apalagi jika orang-orang mulai penasaran tentang Juliet. Hal itu cukup membuat dirinya merasa tak nyaman.


"Bukan seperti itu. Dengar kan aku dulu." pinta James terlihat serius. "Ini tentang Rachael." sambung James.


"Rachael ingin bertemu dengannya, maksud ku istrimu." Rachael adalah adik perempuan James, gadis belia, berusia limas belas tahun yang juga cukup dekat dengan Romeo. Bisa di katakan, Romeo adalah sosok pria idaman Rachael. Cinta pertamanya.


Hanya saja, Romeo tidak menganggap serius bagaimana gadis itu melihat dirinya, selama ini Romeo hanya memperlakukan Rachael sama seperti James memperlakukan Gadis muda itu. Sebagai seorang adik kecil.


"Jadi kau bilang padanya?"


"Tidak sengaja."


"Tidak sengaja?" ulang Romeo meragu.


"Malam itu, kau tahu, setelah party Gabe." James mulai bercerita. "Aku kehilangan ponselku. Tepatnya aku lupa dimana terakhir kali aku meletakkan ponsel itu."


"Dan Rachael mengambil nya?" sela Romeo menebak.


"Tidak. Bukan seperti itu. Tapi tapi bisa jadi, entahlah. Yang aku tahu keesokan paginya, Rachael membangunkan ku, dan mulai menjejali pertanyaan yang membuat rasa mabuk ku menghilang."


"Yah kau tahu sendiri bagaimana sikap gadis itu. Dia sungguh bersikeras pada apa yang dilihatnya." Romeo kembali mengernyit. Ia belum bisa menebak bagian mana yang membuat gadis lima belas tahun itu mengetahui kebenaran tentang Juliet.


"Di dalam ponselku ada photo pernikahan mu dan Juliet." jelas James lebih detail. Ah, tentu saja. Photo pernikahan, What...? sialan.


"Aku tahu waktu itu kau melarang ku untuk mengambil gambar. Karena kau bilang itu hanya pernikahan kontrak. Aku tahu. Hanya saja saat itu aku merasa sangat disayangkan jika aku tidak memotret walaupun hanya satu gambar dari hari penting itu." ujar James membuat pembelaan atas perbuatannya.


Romeo kembali diam. Kepala yang tadinya sudah terasa lebih baik kini mulai terasa pening kembali.


"Karena gambar itu juga, sejak kemarin Rachael terus memaksa ku agar bisa bertemu dengan mu dan juga, Juliet." James tersenyum penuh sesal. Tapi ia juga tidak berdaya.


"Katanya gadis itu ingin memastikan nya sendiri." tambah James mengulang poin penting dari cerita nya tersebut.


"Ahh.. Kau ini. Ada-ada saja. Bukankah sudah ku katakan jika pernikahan kami rahasia, bagaimana bisa kau mengambil photo itu diam-diam lalu menyimpan nya. Kau benar-benar ceroboh."


"Aku tidak tahu akan seperti ini. Hanya saja aku benar-benar tidak berdaya. Aku juga sudah berusaha menjelaskan padanya dengan membuat alasan jika photo itu hanya editan dan sebatas untuk bersenang-senang saja. Tapi kau tau sendiri bagaimana Rachael, dia tidak akan percaya semudah itu padaku kawan. Sorry."


Satu lagi masalah yang akan membuat Romeo menguras isi kepalanya. Meskipun Rachael terlihat seperti gadis manis pada umumnya, tapi gadis itu cukup berbahaya jika menyangkut sesuatu yang bersifat rahasia.


Dan jika sudah begini, maka Romeo lah yang harus memikirkan jalan keluarnya. Jika mengelak, mungkin saja Rachael akan membocorkan rahasia pernikahan nya didepan teman-teman mereka. Benar-benar bahaya.


"Akan ku bicarakan dengan Juliet." putus Romeo.


Mendengar keputusan Romeo, James merasa lega. Akhirnya, ia bisa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan konyol adik perempuannya yang selalu tergila-gila pada sahabatnya sendiri.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menunggu kabar baik dari mu dan Juliet."


...❄️...


...❄️...


...❄️...