ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-12



...❄️...


...❄️...


...❄️...


...Romeo tidak menyukai saat seperti ini. Dimana waktu berjalan dengan begitu lambat. Romeo juga tidak menyukai saat seseorang dengan begitu mudah memperlihatkan kelemahan di hadapannya....


...Romeo berharap waktu berjalan dengan begitu cepat....


...Tapi tentu saja itu hanya lah keinginan semu yang berada dalam pikirannya. Yang terjadi adalah kenyataan tidaklah berlaku demikian. Justru sebaliknya.....


...DUAR!...


Romeo menutup pintu dengan cukup keras. Ia juga menjatuhkan tas yang berisikan cake dan cokelat ke atas lantai dan meninggalkan nya begitu saja.


Mendengar suara yang begitu keras menyentak kesadaran Juliet yang semakin menipis, tentu saja hal itu membuat Juliet terkejut kemudian mengusap cepat wajahnya. Sementara di luar sana suasana kembali terdengar hening.


Hanya suara keras yang berasal dari pintu tempat dimana Juliet bersembunyi yang sempat terdengar. Setelah nya Juliet tidak mendengarkan apapun lagi. Karena keheningan yang tiba-tiba tersebut Juliet merasa sesuatu telah terjadi.


Saat membuka pintu Juliet juga tidak menemukan siapapun di depannya. Hanya dua paper bag yang tergeletak di lantai tanpa tanda kepemilikan.


Apakah tas tersebut milik seseorang? Romeo kah?apa pria itu sengaja meletakkannya di sana? tapi kenapa? ataukah tas itu milik orang lain? tapi siapa? tidak ada yang datang ke apartemen itu selain dirinya dan Romeo? atau jangan-jangan...


Juliet mendengus heran kemudian berjongkok untuk memeriksa isi paper bag tersebut.


"Cake..? Cokelat?" Juliet semakin heran setelah memeriksa isinya. "Siapa yang ulang tahun? kenapa cake ini di sini?" Juliet mengambil kedua paper bag tersebut.


"Rom..? Lo udah balik?" Juliet memanggil Romeo dengan suara nya yang terdengar sedikit serak, ditambah hidung nya yang sedikit tersumbat membuat suara Juliet terdengar aneh. Tidak ada jawaban.


Sebenarnya Juliet merasa sedikit lega jika yang membawa paper bag itu bukan Romeo. Setidaknya Romeo tidak akan melihat wajahnya yang Juliet yakini sedang terlihat memalukan. Juliet berharap bisa membersihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum Romeo pulang.


Tapi jika bukan Romeo yang membawa paper bag tersebut, lalu siapa? setahu Juliet tidak ada orang lain yang akan datang selain Romeo. Ayah mertua nya, hal itu juga sangat mustahil. Juliet pun kembali mencari ke semua tempat.


Juliet mencari ke balkon. Tidak ada. Kembali ke pantry, juga tidak ada. Satu-satunya tempat yang belum Juliet periksa hanyalah kamar pria itu.


"Rom...?" Juliet mengetuk pelan pintu di depan nya, "Rom, Lo di dalam kan?" Juliet masih menunggu, namun tidak ada jawaban. Dengan hati yang bertanya-tanya Juliet memberanikan diri untuk membuka pintu. Dengan perlahan Juliet memutar ganggang kemudian melihat ke dalamnya, "Rom Lo di dalam?" panggil Juliet sekali lagi masih menenteng kedua paper bag di tangannya.


Kamar itu juga kosong. Juliet tidak mendapati sedikit pun jejak keberadaan Romeo di sana.


"Kok gak ada. Masa sih bukan Romeo? terus siapa dong? Masa cake nya jalan sendiri?" Juliet semakin di buat bingung.


Sebenarnya Romeo berada di dalam kamar mandi. Ia sengaja berdiam diri di sana dan tidak menjawab panggilan Juliet sekali pun ia mendengar dengan jelas semua yang di katakan gadis itu.


Romeo merasa buruk saat melihat gadis itu menangis dengan tubuh meringkuk. Romeo benci melihat nya.


Baru saja Romeo selesai membasuh wajahnya ponsel di saku celana nya bergetar lama. Seseorang sedang menghubungi nya..


..."Bar-bar wife Calling''...


Tulisan yang tertera di layar ponsel Romeo. Tanpa pikir panjang Romeo pun menjawab ponsel nya..


"Kenapa?" Jawab Romeo menatap kepada cermin memperhatikan pantulan dirinya. "Lo dimana? Lo belum balik ke apartemen kan?" Juliet terdengar ragu dengan pertanyaan nya.


"Gue dirumah." sahut Romeo lagi. "Apa? Lo di rumah? di apartment maksud Lo?" Romeo menyeka pelan wajahnya dengan handuk. "Hem. Kenapa?"


"Jangan bohong deh Lo. Kalau Lo dirumah emang Lo dimana? kok gue gak liat Lo?" Romeo keluar dari kamar mandi. Juliet menoleh ke arah suara pintu yang terbuka sedikit terperangah..


Sialan!


"Kenapa? Lo kangen gue?"


Juliet mematikan panggilan pada ponsel nya. Mata keduanya saling terkunci. Juliet berjalan mendekat kepada Romeo "Lo sengaja kan?" Romeo diam tak bergeming sedikitpun.


"Lo sengaja mau nakutin gue? gue panggil-panggil Lo gak jawab. Gak mungkin kan Lo gak denger teriakan gue?" Juliet ingin marah pada Romeo karena sengaja mempermainkan dirinya. Tapi melihat wajah Romeo yang tidak menunjukkan ekspresi apapun membuat Juliet sedikit terganggu.


"Ini paper bag Lo kan? gue nemuin di depan pintu." Juliet menyerahkan kedua paper bag di tangan nya kepada Romeo.


Tapi dengan sikap angkuhnya Romeo melewati Juliet begitu saja, "Ambil aja buat Lo." ujar Romeo terdengar kesal.


"Buat gue?" ulang Juliet masih sedikit heran. "Kalau Lo gak mau buang aja. Gampangkan." ujar Romeo kembali bersikap menyebalkan.


Juliet mendengus kesal, "Kalau Lo gak mau kenapa Lo beli. Mubasir tau. Lo gak tau apa banyak banget orang di luar sana yang kelaparan dan gak punya makanan sedikitpun. Tapi Lo di sini malah buang-buang makanan. Sayangkan jadinya."


Romeo mendekap kedua tangannya, dan menatap tajam pada Juliet, "Kalau gitu ambil buat Lo. Jadi gak mubasirkan makanan nya. Gitu aja ribet banget." ujar Romeo dengan alis terangkat. Lagi-lagi pria itu bertingkah sangat-sangat menyebalkan. Juliet bersumpah tidak akan ada lagi pria seperti Romeo dalam hidupnya.


Jika saja Juliet tidak berada di apartemen milik pria itu, ingin rasanya Juliet menghantamkan tinjunya ke wajah arogan yang sedang menatap tajam pada dirinya.


"Ya udah gue ambil. Makasih. Lain kali kalau mau di buang lebih baik gak usah beli." Juliet melewati Romeo begitu saja kemudian berjalan keluar sambil menghentakkan kakinya kesal.


Melihat Juliet yang sudah kembali mengoceh disertai dengan sikapnya yang sudah kembali normal membuat Romeo merasa sedikit lebih baik.


...❄️❄️❄️...


Juliet mengiris beberapa potong kue dan meletakkan nya di atas piring. Masing-masing dua potong. Sementara menunggu Romeo keluar dari dalam kamar Juliet memakan kue nya dengan perlahan..


"Rom Lo beneran gak mau makan cake nya?" seru Juliet dengan suara yang cukup nyaring.


Romeo yang berada di dalam kamar bisa mendengar suara Juliet dengan jelas.


...From: Romeo...


Juliet mendengus saat membaca pesan singkat tersebut. Entah kenapa Juliet merasa jika Romeo sedang bertingkah aneh. Pria itu tidak seperti biasanya.


"Lo serius?" Seru Juliet lagi. "Lo lagi marah ya? kenapa Lo sembunyi di kamar sih? Lo gak mau ketemu gue? atau Lo emang benar-benar lagi marah sama gue?" Suara Juliet dua kali lebih nyaring dari sebelumnya.


Hening sejenak. Juliet menunggu Romeo menjawab pertanyaan nya. Tidak lama kemudian suara pintu yang terbuka kembali terdengar..


"Berisik banget sih Lo. Makan aja kenapa sih. Masukin aja semua ke mulut Lo. Habisin kalau Lo mampu. Kenapa harus teriak-teriak? gue gak budek." Romeo berdiri di depan pintu kamar nya menatap lurus kepada Juliet dengan wajah kesal.


Dengan cepat Juliet turun dari atas kursi kemudian menghampiri Romeo, "Lo marah kan? Lo marah sama gue kan? maaf. Kata-kata gue barusan emang kelewatan." ujar Juliet terlihat menyesal. Ia mengira jika Romeo kesal padanya karena perkataan yang di ucapkan nya sebelumnya. Tentang membuang makanan dan lainnya. Juliet pun menyesali lidahnya yang terlalu cepat berucap.


Setelah berpikir sejenak Romeo pun membalik tubuh Juliet hingga posisi gadis itu membelakangi dirinya, "Habisin kue Lo sana." Romeo mendorong pelan Juliet hingga berjalan kembali ke arah pantry.


"Lo yakin gak mau? Cake nya enak kok. Gak kemanisan juga."


"Gak. Buat Lo aja."


"Tapi gue beneran gak bohong. Enak banget kue nya. Sumpah."


"Lo habisin aja semua." Cake itu emang buat Lo.


"Serius?"


Romeo mendudukkan Juliet kembali di kursinya, "Makan kue Lo. Gue minum aja." ujar Romeo yang berjalan ke arah lemari penyimpanan dan mengambil sebotol wine.


"Lo minum alkohol juga? Lo kan masih.." Juliet tidak melanjutkan kata-katanya. Ia takut jika ucapannya akan membuat Romeo semakin kesal.


"Alkohol bisa jadi teman yang baik saat Lo ngerasa gak baik-baik aja." sahut Romeo. Juliet mengerutkan alisnya. "Lo serius? jadi Lo sering minum?"


Romeo mendelik, "Gak juga."


Juliet terlihat lega, "Syukur deh. Gue kira Lo alkoholik."


Romeo mengernyit, "Segitu buruk nya gue dimata Lo? Cih."


"Bukan gitu maksud gue. Kalau bisa enggak kenapa harus. Alkohol bukan satu-satunya jalan buat nyelesain masalah kan? jadi maksud gue.."


"Lo Sama kaya bokap."


Setelah mengatakan kata ambigu tersebut, Romeo kembali meninggalkan Juliet seorang diri. Romeo berjalan ke arah balkon dan berdiam di sana cukup lama. Sementara Juliet hanya menatap lekat punggung Romeo dalam diam seraya menghabiskan cake dari piringnya.


Juliet mendengus kesal, "Kenapa lagi sih ni orang. Bikin bingung aja."


...❄️❄️❄️...


Juliet mendatangi Romeo dan berdiri di sebelah laki-laki itu. Keduanya menatap pada titik yang berbeda.


"Lo ada masalah?" tanya Juliet. Romeo memalingkan wajahnya sejenak, "Kalau Lo mau cerita gue siap kok dengerin Lo. Lo bisa cerita apa aja ke gue."


Romeo tertawa kecil, ia merasa lucu mendengar perkataan gadis yang sedang berusaha menghibur dirinya, padahal sangat jelas siapa di antara mereka yang baru saja menangis hingga tersedu-sedu kemudian menyembunyikan diri.


Romeo menghadap kepada Juliet dan sedikit mendekatkan wajahnya, "Kenapa Lo berpikir kaya gitu? padahal..." Romeo menatap mata Juliet dalam. Lo yang lagi sedih.


"Lo kenapa?" tanya Juliet yang merasa aneh dengan tatapan yang di berikan Romeo padanya.


Romeo memutuskan pandangan nya secepat kewarasan yang masih tersisa pada dirinya. Romeo menunduk sejenak, "Lo mau pulang? udah jam delapan malam. Opa sama Oma Lo pasti khawatir." ujar Romeo yang baru saja memeriksa jam tangan nya.


Juliet menggeleng, "Antarin gue ke hotel aja. Gue lagi gak mau pulang."


Lagi-lagi Romeo menatap Juliet lama. Kali ini lebih seperti berpikir dalam.


"Gue telpon Opa Lo bentar."


"Gak usah." cegah Juliet menahan tangan Romeo. Ia tidak ingin membuat keluarga nya khawatir. Juliet hanya ingin menenangkan diri sebentar sebelum ia siap memulai kembali harinya yang pasti akan terasa begitu melelahkan.


"Gak bisa. Lo gak gue ijinin tidur di hotel. Kalau Lo gak mau pulang lebih baik Lo tidur di sini. Di apartment calon suami Lo." bantah Romeo dengan tegas sekaligus mempertegas status nya di hadapan gadis itu.


"Tapi.."


Romeo kembali menyela, "Gak. Pokoknya gak. Pilihan Lo cuma ada dua. Tidur di sini malam ini, atau pulang ke rumah Lo."


Kedua pilihan tersebut bukan lah yang Juliet inginkan. Apartemen Romeo ataupun rumah nya akan terasa sama. Sama-sama akan mencekiknya. Juliet tidak ingin memilih salah satunya.


"Rom.."


"Pulang atau Lo tidur di sini?" ujar Romeo yang masih kekeh dengan keputusan nya.


Juliet menghela nafas berat, "Gue pulang aja." putus Juliet setelahnya.


Tapi ternyata pilihan Juliet tidak menghasilkan apa-apa, Romeo justru menarik tangan Juliet dan membawanya kembali ke dalam kamar.


"Lo tidur disini. Gue bakal ngomong sama opa dan Oma Lo." setelah mengatakan itu, Romeo kembali meninggalkan Juliet seorang diri di dalam kamar.


"Diktator banget sih Lo. Dasar nyebelin." Juliet mencibir kesal pada Romeo. Jika tidak mengijinkan Juliet untuk pulang, kenapa juga pria itu harus memberinya pilihan. Juliet benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Romeo. Bagi Juliet Romeo adalah satu-satunya pria arogan terabsurd di dunia.


...❄️...


...❄️...


...❄️...