ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-54



...❄️...


...❄️...


...❄️...


...Andai saja mencintai semudah itu.. Dan percaya tak akan menyisakan tanya.. mungkin saja, semuanya tak akan jadi seperti ini....


Tok...Tok...


"Juliet.. sayang.. aku sungguh minta maaf. Aku benar-benar tak berniat membohongi mu. Aku menyesal. Ku mohon jangan marah lagi. Hem?" bujuk Romeo.


Setelah pertengkaran mereka sebelumnya, dan menyisakan Romeo yang tak bisa berkata apa-apa setelah melihat wajah Juliet yang menangis hanya bisa membiarkan istrinya kembali mengurung diri didalam kamar.


Sialan. Seharusnya aku tidak menyiapkan kamar terpisah! gerutu Romeo sedikit menyesali keputusannya.


Dan andai saja malam itu James mengatakan yang sebenarnya bahwa di sana ada Rebecca dan juga keluarganya yang sedang menunggu, mungkin Romeo tak akan mengikuti James sampai-sampai dirinya tak sadar saat Juliet sedang memperhatikan mereka.


Atau mungkin akan jauh lebih baik, jika sedari awal Romeo sudah menceritakan semuanya tentang Rebecca, tentang kisah cintanya yang bahkan berakhir dengan buruk.


Meskipun akan terasa tak nyaman karena ia harus menggali lagi semua ingatan dimasa lalu tentang cerita yang bahkan hampir tak Romeo ingat lagi. Sama seperti kenyataan tentang Rebecca yang pernah ada dalam hidupnya, Romeo benar-benar lupa sampai mereka bertemu lagi malam itu.


Tak sekalipun terlintas dalam pikiran Romeo bahwa ia akan bertemu lagi dengan wanita dari masa lalunya. Karena bagi Romeo, semua itu sudah terlupakan.


Tapi kini lihatlah. Entah mengapa kisah yang bahkan tak pernah ia ingat justru menjadi bumerang dalam perjalanan menapaki kisah masa depannya bersama Juliet.


Apa semua ini benar-benar salah ku? yang benar saja!


...Tok..Tok.....


"Aku sungguh-sungguh Juliet. Aku minta maaf. Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Becca. Malam itu sungguh pengecualian.. percayalah padaku. Kau ingin aku melakukan apa? berlutut di sini sampai besok? atau kau ingin aku membawa Becca kesini, kerumah kita agar kau bisa mendengarnya sendiri bahwa malam itu bukan keinginan ku untuk bertemu dengannya?" Romeo menghela nafas pasrah.


"Tapi semalam kamu mengijinkan wanita itu untuk menggandeng tanganmu dengan mesra!" Sahut Juliet dari dalam.


"Itu tidak mesra sayang. Becca hanya memegang tangan ku sebentar. Tidak lebih." Romeo meluruskan.


"Tolong jangan seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa agar kamu bisa percaya dengan apa yang ku katakan.!"


"Becca hanya masalalu. Dan sampai kapanpun, masalalu hanya akan tetap menjadi masalalu. Sedangkan kamu.. kamu berbeda Juliet."


"Becca! Becca! Becca! Kamu bahkan menyebut namanya seperti itu. Pergi saja temui wanita itu! Aku benci padamu!"


Lagi-lagi Juliet meluapkan kemarahannya pada Romeo. Memang tak nyaman rasanya saat seperti ini.


Juliet jug ingin bersikap seperti biasa. Seolah-olah dia tak melihat semuanya, seolah-olah dia tak mengharapkan apapun dari Romeo, dan bersikap tak peduli dengan apa yang pria itu lakukan diluar sana.


Tapi bagaimana lagi jika hatinya tak mau melakukan itu. Juliet tidak mati rasa. Bagian dalam dirinya tersakiti saat melihat Romeo bersama dengan wanita dari masalalu nya.


Dan Juliet membenci perasaannya yang seperti ini... perasaan yang membuatnya tak bisa menatap Romeo tanpa mengatakan bahwa yang Juliet inginkan adalah Romeo hanya menjadi miliknya seutuhnya.


Romeo yang hanya melihat pada dirinya, dan hanya terus memikirkan tentangnya. Bukan wanita lain. Egois memang. Tapi inilah yang Juliet rasakan.


"Sayang.. Juliet.. bukan dulu pintunya. Akan aku katakan semua yang ingin kamu ketahui. Aku bersumpah jika aku tak akan menyembunyikan apapun. Hem..?"


Meskipun merasa serba salah dengan situasi sekarang tapi dalam hatinya Romeo merasa sangat senang. Baginya, kemarahan Juliet adalah sebuah kecemburuan. Dan kecemburuan hanya akan ada karena Juliet juga memiliki perasaan padanya.


"Aku juga janji gak akan pernah ngucapin nama itu lagi di depan kamu, Maaf ya?" Romeo masih belum mau menyerah.


"Juliiii...? Juliet.." Panggilnya dengan lebih lembut. "Juliet sayang..?"


Karena tak lagi mendapatkan respon dari istrinya, Romeo pun akhirnya memilih untuk menyerah. Pada akhirnya, Romeo memang harus memberikan waktu pada Juliet untuk sekali lagi memikirkan semuanya.


Apakah wanita itu akan percaya dengan perkataan serta perasaannya ataukah justru sebaliknya..


Karena mau dipikirkan berapa Kali pun, hasilnya tak akan baik jika mereka membicarakan masalah di saat salah satu dari mereka masih tak bisa berpikir logis.


Lebih baik Romeo menunggu hingga kemarahan Juliet mereda. Jika memaksa, maka apapun yang akan dikatakannya tak akan berguna. Yang ada mereka hanya akan terus berdebat. Romeo lelah.


"Baiklah." kata Romeo lagi setelah menghela nafas panjang. "Akan ku biarkan kamu memikirkan semua ini. Tapi tolong, berikan aku kesempatan untuk membuktikan semuanya padamu, Juliet. Karena aku sungguh-sungguh. Aku mencintaimu." kata Romeo dengan suara rendah.


"Keluarlah.. Aku tidak akan bicara lagi. Aku juga tidak akan memaksa mu. Kalau kamu bahkan tak ingin melihatku, maka aku juga bisa pergi untuk sementara.. tapi tolong.. tolong jaga dirimu dengan baik. Aku tahu malam itu aku melakukan kesalahan. Tapi sungguh. Itu bukan keinginan ku. Maaf...."


Setelah mengatakan semua isi hatinya, Romeo pun meninggalkan kamar Juliet dan kembali ke dalam kamarnya sendiri.


Sepertinya mereka memang perlu waktu untuk merenungkan kembali bagaimana seharusnya hubungan mereka berjalan.


Apa yang mereka inginkan, dan apa yang mereka harapkan dari satu sama lain..


Hubungan seperti ini, memang tak akan mudah untuk dijalani..Karena sejak awal, mereka telah memulainya dengan sesuatu yang salah..


...❄️...


...SEOUL (Korea Selatan)...


"Hasil pemeriksaan menunjukkan suatu kemajuan yang signifikan Mr.Adam. Dan jika perkembangannya terus seperti ini, saya yakin nyonya Dena bisa sembuh dari penyakitnya." sahut dokter Lie dengan tenang.


"Kita akan melihat hasil pemeriksaan terakhir yang akan di lakukan minggu depan. Jika hasilnya sesuai dengan hasil yang kita harapkan, maka dalam waktu dekat, nyonya Dena sudah bisa pulang." Itu adalah kabar baik diharapkan Adam dalam setiap doanya.


"Baik dokter. Terimakasih."


Setelah bicara dengan dokter Lie tentang hasil pasca operasi kangker getah bening yang diderita istrinya, Adam pun kembali keruang VVIP.


"Bagaimana hasilnya? apakah semuanya baik-baik saja? apa hasil operasinya berjalan dengan baik?" tanya Dena. "Semoga saja penyakit ini segera hilang. Aku rindu cucu-cucu ku." lirihnya.


Yang dikhawatirkan Dena saat ini sesungguhnya bukanlah kesehatannya sendiri, melainkan cucu-cucunya yang saat ini sedang terpisah jauh dari mereka.


Dena dan Adam sepakat untuk menyembunyikan pengobatan yang dilakukan agar tidak membuat cucu-cucu mereka khawatir. Karena itulah, mereka menyamarkan pengobatan sebagai liburan hari tua.


"Syukurlah sayang, karena operasinya berjalan dengan baik. Dan hasilnya juga sama. Kita hanya perlu menunggu sampai depan. Jika semuanya tak berubah, maka kita bisa segera kembali ke Jakarta." Adam menggenggam erat kedua tangan Dena dan menciumnya dalam.


"Terimakasih sudah bertahan melewati semua ini sayang. Terimakasih."


Mendengar kabar itu, netra Dena berbinar bahagia, bahkan air matanya tanpa disadari telah jatuh membasahi pipinya. "Syukurlah." katanya lega. "Setelah ini kita bisa bertemu dengan cucu-cucu kita lagi."


Adam tersenyum lembut sambil mengusap pelan pipi istrinya tercinta, "Kau benar sayang. Setelah kau keluar, kita bisa mengunjungi Juliet, dan setelahnya kita juga bisa bertemu dengan Lily."


Dena mengangguk bahagia, "Hem. Aku sudah rindu sekali melihat wajah cucu-cucu kita."


...❄️...


...Ring... Ring...Ring.....


Romeo mengerjapkan matanya saat mendengar suara nyaring yang berasal dari ponselnya sendiri. Ponsel itu tepat berada di dekat bantalnya.


'Papa Calling' melihat nama yang tertera dilayar Romeo mengernyit sesaat lalu setelahnya langsung menjawab panggilan tersebut..


"Ya.. Hallo pa? ada apa?" sahut Romeo sambil mengumpulkan nyawanya setelah bangun tidur.


"Kamu dan Juliet sudah makan?" tanya Wiratama dari seberang sana. Romeo melihat jam ditangannya, pukul 7 malam. "Belum pa. Romeo tadi ketiduran. Ini juga baru bangun. Kenapa? papa mau ngajakin kita dinner?" Romeo mengusap wajahnya sambil merenggangkan punggungnya yang sedikit kaku.


"Baguslah kalau begitu. Papa sudah beli makanan untuk makan malam. Kita makan malam bersama. Sekalian papa mau melihat bagaimana rumah baru kalian. Papa sudah di jalan *dan s*ebentar lagi akan sampai."


"Hah? apa..?" Romeo terkejut. Buru-buru Romeo berlari keluar dari kamarnya sambil memegang erat ponsel yang ditempelkan di telinganya. "Papa serius? papa udah dekat mana?" matilah..


Romeo berlari menuju ke jendela untuk melihat keluar, tidak ada siapa-siapa di sana.. syukurlah..


"Iya. Sudah masuk ke area perumahan yang kamu bilang itu. Sebentar lagi juga sampai. Sudah ya.. papa tutup dulu telepon nya."


Klik..


Astaga!


Wajah Romeo berubah panik saat tahu papanya sudah sangat dekat dengan rumah mereka. Romeo benar-benar tak mengira jika di saat seperti ini papanya akan datang berkunjung. Bagaimana ini? gumamnya, panik.


Yang pertama kali dilakukan Romeo adalah mendatangi kamar istrinya..


...Tok..Tok..Tok....


Romeo kembali mengetuk pintu, tapi kali ini bukan ketukan ramah yang membujuk seperti sebelumnya.


"Juliet buka pintunya. Sayang.. ini penting. Papa sedang di jalan menuju rumah kita. Kita harus bersiap-siap, sekarang!" teriak Romeo semakin panik. Romeo hanya takut jika Juliet masih tak ingin bicara pada dirinya. Apa yang akan dikatakan papanya jika tau mereka tinggal serumah namun memiliki kamar terpisah. Ditambah lagi mereka sedang bertengkar. Matilah..


"Juu....-


Ceklek.. pintu di depan Romeo terbuka. ya Tuhan terimakasih.


"Kamu bilang apa? Papa ada di sini?" tanya Juliet memandang Romeo dengan bola matanya yang berkedip-kedip. Istrinya sudah mengenakan piyama..dan sangat wangi.


Hah.. Apa yang aku pikirkan! Wajah Romeo memerah..


"Iya.. papa baru aja nelpon. Katanya papa sudah dekat.." ulang Romeo sekali lagi..


"Jadi kamu mau aku gimana?"


Tin..


Tin..


"Nah.. itu pasti papa, ayo!"


...❄️...


...❄️...


...❄️...