ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-42



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Saat bangun keesokan paginya, samar-samar Juliet melihat sosok yang sepanjang malam terus menghiasi mimpinya. Wajah itu kini tengah tersenyum dan menatap penuh puja pada dirinya. Tanpa Juliet sadari, ia sendiri pun ikut tersenyum.


Sungguh mimpi yang aneh. Karena hal seperti ini tidak akan pernah terjadi dalam dunia nyata. Jika di pikir-pikir untuk apa Romeo menatap nya seperti itu? Pria itu bukan kekasihnya. Ckck. Ada-ada saja.


"Morning princess. Bagaimana tidurmu, nyenyak?" suara khas milik Romeo perlahan-lahan mulai menyeruak memenuhi indera Juliet. Tubuh Juliet seketika beraksi. Sesuatu yang baru ia ketahui. Ini benar-benar gila. Bagaimana bisa sebuah suara bisa membuat tubuhnya bergejolak seperti ini. Mimpi sialan!


"Kau masih ingin tidur, hem? Aku menunggu mu bangun." Juliet mengernyit sambil menghela nafasnya. Berhentilah mengganggu tidurku. Ku mohon! Batinnya berteriak.


"Ju-li-et" Lagi. Lagi. Lagi. Kenapa dengan suara pria ini. Tolong berhenti lah. Aku tidak ingin memimpikan mu lagi. "Juli-et..?" Tunggu. Apa ini? apa benar ini hanya mimpi?


Tapi suaranya terdengar begitu nyata. Tiba-tiba saja potongan kecil dari mimpinya semalam kembali menyerbu ingatan Juliet.


Mimpi itu adalah tentang ciuman liarnya bersama Romeo. Ah, lihat. Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa aku memimpikan hal erotis seperti itu dengan Romeo sebagai pemeran utamanya. Jika pria itu tahu, bisa-bisa aku ditertawakan.


Berhentilah Ju-li-et! Bangun sekarang, oke! Kau harus berhenti berpikiran mesum sepagi ini.


"Hemm...itu hanya mimpi." Gumam Juliet sambil merentangkan tangannya ke dua arah, hingga salah satu tangannya mengenai sesuatu.


"Kau bermimpi? mimpi apa?" Suara milik Romeo kembali menyentak kesadaran Juliet. Ia pikir suara itu hanyalah halusinasi saha, namun saat merasakan sisi lain ranjang nya bergerak, ia sadar bahwa ini bukan mimpi lagi.


Deg ..


"Juliet...?"


Sekarang Juliet benar-benar sadar sepenuhnya. Saat ia berniat menjauhkan diri, ternyata gerakan pria disampingnya lebih cepat. Romeo sudah lebih dulu menarik tangan Juliet dan menguncinya rapat.


"Rom, apa yang..?" Juliet berhenti sejenak untuk memejamkan matanya. Berpikirlah Juliet. Berpikirlah. Jangan bersikap berlebihan.


"Pagi.." sapa Romeo. Lagi-lagi pria itu tersenyum.


"Sejak kapan Lo di sini?" Juliet menghela nafas dengan cepat kemudian menghembuskan nya di detik berikutnya. Ia harus bersikap tenang. Bukankah Romeo memang seperti ini? pria yang suka menggoda dan terkadang bersikap kekanakan.


"Sudah sejak tadi." sahut Romeo. Pria itu juga tersenyum begitu manis. Aneh. "Aku melihat wajahmu yang sedang tidur. Sangat menggemaskan. Aku sampai berpikir, apakah kau benar-benar istriku?" Juliet mengernyit semakin bingung. Tidak biasanya Romeo menggunakan gaya bicara seperti ini saat mereka hanya berdua.


Biasanya mereka akan menggunakan bahasa yang terkesan cuek dan juga sangat-sangat biasa. Tapi kali ini Kenapa...


"O, ya. Apa yang kau mimpikan tadi? apakah itu tentang aku?" Tanya Romeo sengaja mengulang pertanyaan sebelumnya. What? Apa aku mengatakan sesuatu dalam mimpi ku? tidak kan? tidak mungkin. Wajah Juliet bersemu.


Sadarlah Juliet. Pria ini adalah Romeo. Pria yang harus kau hindari! peringat nya dengan tegas. Ia tidak boleh terkecoh sedikitpun.


Hanya dengan menunjukkan respon yang berlebihan, bisa saja menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka. Kau sudah diperingati!


"Apaan sih Lo! Lepasin tangan gue." Juliet berguling untuk menarik tangannya dari kuncian Romeo. Pria itu hanya tersenyum saat Juliet berhasil melepaskan diri.


Juliet yang sudah terbebas segera bangun kemudian menguncir tinggi rambutnya yang sedikit berantakan. "Lo gak ke kampus? biasanya Lo kan udah pergi jam segini." kata Juliet mengingat kebiasaan Romeo yang selalu meninggalkan rumah sebelum pukul sembilan.


"Gue gak kemana-mana. Hari ini gue Free. Urusan kampus juga udah beres semua." jawab Romeo masih terus memperhatikan Juliet. "Gue mau ngajakin Lo ke pergi. Gimana?"


Lihat. Benar bukan? pria itu baru saja mengubah gaya bicaranya lagi. Apa yang membuat mu harus ragu Juliet. Pria ini adalah Romeo. Pria yang bahkan membuat pernikahan palsu hanya demi keuntungan dirinya!


...Bukankah kau juga begitu?...


"Sekarang?"


"Kalau Lo gak keberatan.''


...❄️...


"Hai Juliet. Senang melihat mu lagi." James menyapa keduanya saat mereka baru saja keluar dari mobil. "Hai James, aku melihat mu lagi." sahut Juliet, kehilangan minatnya.


"Thanks buddy. Kau penyelamat hidupku." James merangkul Romeo sambil tersenyum. Juliet hanya diam menyaksikan keduanya. Ia juga tidak bertanya apa alasan Romeo membawa dirinya kerumah itu.


Apa ada pesta lagi? tapi kenapa pesta di pagi hari?


"Ayo! Masuklah. Seseorang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu." kali ini James bicara pada Juliet. Meskipun sedikit mencurigakan, tapi Juliet tetap mengunci rapat mulutnya. Ia hanya mengangguk.


"Rachael, kemarilah. Lihat siapa yang datang!" seru James saat mereka tiba di salah satu ruangan. Tepatnya seperti ruang bersantai keluarga. Hanya saja dia kali lebih besar dari ukuran biasa, yang artinya keluarga James adalah keluarga yang berada.


"Siapa Rachael?" akhirnya ia bertanya juga. Meskipun awalnya ia tidak peduli, tetap saja ia tidak ingin membuat kesalahan. Terutama pada seseorang yang belum pernah ia temui.


"Saudari perempuan James. Masih duduk di bangku sekolah." bisik Romeo menatap manik Juliet. "Lalu?" Romeo menelan selivanya sebelum mereka benar-benar duduk.


"Adik James cukup dekat dengan kami. Dan tanpa sengaja ia tahu tentang,-


"Kak Romeo?" suara khas gadis remaja menginterupsi keduanya. Juliet dan Romeo sama-sama melihat ke sumbernya suara.


Gadis bernama Rachael itu sedikit berlari saat menghampiri keduanya. "Inikah orang nya? halo, aku Rachael." gadis berambut sebahu dengan mata berwarna jambrut terang itu mengulurkan tangannya pada Juliet.


"Hai.. aku Juliet." balasnya, berusaha untuk tersenyum ramah.


"What? Juliet?" seruan protes terdengar begitu lantang dari mulut gadis remaja tersebut. "Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa kak Romeo bertemu dengan Juliet? kita bukan sedang syuting film atau sebagai nya bukan?"


Tidak hanya James, Romeo pun ikut tertawa mendengar celotehan Rachael. Berbeda lagi dengan Juliet, ia sedikit terperangah karena menyadari bahwa reaksi yang diberikan gadis remaja itu sama Persia seperti reaksi nya dulu saat tahu bahwa pria yang akan di jodohkan dengan dirinya adalah Romeo.


"Aku pun memikirkan hal yang sama dengan mu, awalnya. Tapi itu benar adanya. Aku Juliet Dominique. Senang bertemu dengan mu Rachael." Balas Juliet menanggapi tatapan tak percaya adik dari sahabat suaminya tersebut.


"No way! Ini benar-benar suatu kebetulan yang aneh. Dan kalian menikah?" lanjutnya menjejali pertanyaan lain..


"Coba kau tanyakan saja pada pria itu." kini Juliet menyerahkan akhir dari klarifikasi tersebut pada Romeo.


Karena menurutnya, pria itulah yang berhak memutuskan bagaimana hubungan mereka akan di jelaskan disini.


Mendengar hal itu Rachael pun langsung berbalik pada Romeo. Meskipun tatapan gadis sedikit aneh, namun hal itu tidak mengusik Juliet.


"Apa kalian menikah kak?" tanya Rachael. Gadis itu terlihat penasaran namun juga enggan untuk mendengar kebenaran nya di saat yang bersamaan.


"Benar. Kami menikah beberapa waktu lalu di Indonesia. Dan untuk sementara, kami akan menghabiskan bulan madu di sini."


Juliet sedikit terkejut mendengar pengakuan Romeo. Apakah Rachael sebuah pengecualian sama seperti James?


"Tapi untuk satu alasan, pernikahan kami masih di rahasiakan. Jadi, kau termasuk salah satu orang beruntung yang tahu akan rahasia ini." Jelas Romeo yang kemudian mengusap lembut kepala Rachael layaknya seorang kakak. Seperti pria itu meminta untuk dimaklumi.


Tapi respon yang diberikan gadis itu sedikit tak terduga. Rachael justru menepis tangan Romeo dengan wajah yang sudah ditekuk.


"Beruntung apanya? aku lebih suka jika aku tidak tahu kebenaran tentang kakak yang sudah menikah dibandingkan penjelasan seperti ini. Menyebalkan!" katanya sambil menghentakkan kaki. Wah.. gadis itu sedang merajuk rupanya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Rachael pun langsung melarikan diri tanpa mengatakan apapun lagi. James yang duduk berseberangan dengan keduanya pun hanya bisa mengelus dada saat melihat kepergian sang adik.


"Maafkan adik ku. Gadis itu memang sering bersikap semaunya. Tolong jangan masukkan kedalam hati."


Juliet hanya mengangguk. Sebenarnya ia justru tidak ingin memusingkan hal tersebut. Lagi pula ini bukan negara asalnya. Ia tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan hubungan apa yang sedang ia jalani dengan Romeo.


Jika pun ada yang harus melakukan hal tersebut, mungkin Romeo lah orangnya. Bukan Juliet.


...❄️...


...❄️...


...❄️...