
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Makan malam bersama dengan papa Wiratama pun berakhir dengan baik. Setelah selesai makan malam, ketiganya sempat berbincang sebentar sambil bertukar pikiran tentang berbagai macam hal.
Meskipun awalnya Juliet masih merasa canggung saat berdekatan dengan Romeo karena pertengkaran mereka sebelumnya, tapi setelahnya.. semuanya baik-baik saja.
Juliet tak bisa mengabaikan sikap manis yang Romeo tunjukan saat bersama dirinya tadi.
Mau marah pun tak akan ada gunanya jika Romeo terus saja melakukan hal-hal yang membuat Juliet tak bisa berhenti tersenyum.
"Sayang...?" Romeo berdiri dibelakang Juliet yang saat ini sedang membereskan peralatan makan malam.
Romeo memeluk Juliet dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher istrinya, "Sayang.." panggil Romeo lagi dengan suara lembut nyaris berbisik. Ya Tuhan, cobaan apa lagi sekarang..
"Rom lepasin. Kamu gak liat aku lagi ngapain?" kesal Juliet karena tak tahan dengan Romeo yang mulai berulah. "Mau aku bantuin?" tawar Romeo tapi setelahnya pria itu menggigit gemas pundak Juliet.
"Auuww.. emangnya kamu Vampir apa!" celetuk Juliet saat merasakan gigi Romeo menancap di pundaknya. Tidak sakit sih, hanya saja sensasi yang ditimbulkan setelahnya benar-benar terasa aneh. Terutama bagi jantung Juliet.
"Awas ah, Jangan ganggu, aku bisa sendiri." Juliet lagi-lagi mendorong Romeo untuk menjauh. Tapi dasarnya Romeo, pria itu tak mau mendengarkan peringatan Juliet sedikitpun.
"Gak apa-apa. Biar aku aja." Romeo menggeser dan juga membilas tangan Juliet dari sisa sabun. "Kamu tunggu aja di sana." Romeo menunjuk meja makan dengan dagunya.
Juliet pun melakukan seperti yang Romeo perintahkan. Jujur saja, saat ini ia merasa cukup lelah untuk berdebat. Karena itulah, Juliet hanya bisa memandangi punggung lebar Romeo yang sedang melakukan pekerjaannya dengan telaten.
"Aku mau bilang terimakasih buat malam ini. Dan maaf juga untuk sebelumnya." Romeo menghentikan pekerjaannya sesaat.
Kala itu Romeo berbalik untuk menatap langsung ke mata Juliet. Deg.. jantung Juliet kembali berdebar cepat. Padahal itu hanya perkataan biasa, tapi kenapa hatinya menjadi seperti ini.
"Kamu tahu, aku sungguh-sungguh saat mengatakan kalau aku jatuh hati padamu. Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan." Romeo melepas sarung tangannya dan perlahan menghampiri Juliet.
Saat ini adalah waktu terbaik yang bisa Romeo pikirkan untuk memperbaiki citranya dimata Juliet. Romeo tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara mereka.
"Saat ini, satu-satunya wanita untuk ku cuma kamu Juliet. Tidak ada wanita lain." Tanpa disadari, dalam hitungan detik, Romeo sudah menjulang diatas Juliet. Juliet pun harus menengadahkan kepalanya untuk bisa melihat netra Romeo.
Netra yang menatapnya dalam. Seakan-akan mata itu memiliki magnet yang membuat Juliet tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Perasaan ku akan terluka kalau kamu meragukan ketulusan ku seperti ini." Tidak hanya Juliet, tapi wajah Romeo pun menghangat.
Saat Romeo memperhatikan manik indah Juliet dengan seksama, Romeo tak bisa mengalihkan tatapannya, manik Juliet yang berkedip-kedip saat menatap matanya terlihat sangat menggemaskan.
"Aku bukan hanya menyukaimu. Tapi aku mencintaimu ju-li-et..." Lagi-lagi pernyataan itu. Pernyataan yang membuat dada Juliet terasa hangat.
Dalam hatinya, Juliet sangat menyadari bahwa kedekatan mereka saat ini adalah sesuatu yang berbahaya, tapi anehnya Juliet tak bisa mendorong Romeo untuk menjauh. Juliet tidak ingin melakukan itu.
Persetan dengan perasaan atau apapun. Yang Juliet inginkan saat ini hanyalah pria di depannya. Romeo yang menatapnya dengan mata sayu namun begitu menusuk. Romeo yang menyebut namanya dengan begitu indah.. dan Romeo yang mencintai dirinya sampai hari ini.
Semua ini adalah alasan yang cukup untuk membuatnya berpegang erat pada perasaannya, bahwa ia juga mencintai Romeo. Bahkan saat aroma hangat yang mencapai penciuman nya, saat itu semuanya terasa buyar.
Tak ada permintaan, tak ada kata persetujuan atau apapun saat mereka memulai semuanya. Juliet hanya memejamkan matanya begitu bibir lembut dan hangat milik Romeo menyentuh dan ******* dalam miliknya.
Perasaan ini. Getaran ini, bahkan rasa ini.. adalah semua hal yang Juliet inginkan dari Romeo. Pria ini adalah miliknya. Kekasihnya, dan juga jiwanya..
"Romm..-
Tangan Romeo yang besar dan hangat menyentuh dirinya dan semua itu membuat tubuh Juliet seperti terbakar..
Gilanya, inilah yang ternyata diinginkan Juliet. Romeo menciumnya, memeluk nya dan juga menyentuhnya..tepat seperti yang pria itu lakukan sekarang..
Kedekatan dan kehangatan seperti ini adalah sesuatu yang mereka butuhkan. Semuanya jauh lebih terasa nyata dibandingkan dengan mendengar pernyataan secara berulang..
"Bolehkah?" bisik Romeo dengan nafas memburu..Juliet tidak menjawab. Mulutnya terlalu sibuk untuk mencari dan menemukan bibir Romeo yang beralih.. "Dorong aku kalau kamu menolak apa yang akan aku lakukan padamu Juliet.. aku menginginkan mu."
Juliet tahu jelas bahwa itu adalah peringatan yang seharusnya bisa saja membuatnya berlari dan pergi meninggalkan Romeo saat itu juga.
Dan hal itu sangat jelas sudah dikumandangkan pada dirinya, tapi mengapa..? mengapa Juliet merasa enggan untuk menurutinya.
Juliet tak akan bisa mendorong Romeo untuk menjauh, karena sejujurnya Juliet juga menginginkan hal yang sama seperti yang Romeo inginkan.
"Juliet?" bisik Romeo mendesak. Nafas pria itu terasa hangat dan harum membelai wajahnya dimalam yang dingin ini.. Juliet mengangguk.
Ini adalah persetujuannya, dan inilah ketulusan terbesar dari hatinya yang terdalam..
Mendapatkan persetujuan dari Juliet, tanpa ragu-ragu lagi Romeo pun mengangkat tubuh Juliet dalam sekali sentakan membuat tubuh Juliet sedikit terkesiap.
Tapi Setelahnya, Juliet melupakan semuanya karena terlalu terbuai dengan sentuhan bibir Romeo yang menyapu lehernya dan juga memagut bibirnya dengan begitu lembut dan mendamba.
Dengan sendirinya Juliet melingkarkan tangannya erat dileher Romeo. Juliet menyerahkan semuanya pada pria itu. Kemanapun dan apapun yang akan Romeo lakukan pada dirinya, Juliet akan siap menerimanya..
...❄️...
Saat Romeo menapakan kakinya dengan hati-hati diatas tangga, Juliet mengumpat dalam hati.. ia menjadi sedikit tak sabaran karena sadar bahwa Romeo memerlukan usaha yang cukup besar untuk bisa membawa mereka hingga tiba dikamar yang sialnya terlalu jauh..
Juliet bisa saja turun saat itu juga, dan menarik Romeo agar lebih cepat. Tapi ia tak mau merusak suasana yang sudah Romeo ciptakan..
"Kamar ku atau kamarmu?" tanya Romeo dengan susah payah. Saat Romeo menatap matanya menunggu, wajah Juliet kembali merona, "Apa itu penting sekarang? terserah saja."
"Oke. Kamar ku." putus Romeo yang saat itu menyadari bahwa pertanyaannya barusan terdengar konyol. Jelas-jelas mereka tahu bahwa hanya kamarnya saja yang saat ini tersedia..
Dengan senang hati Romeo membuka pintu kamarnya lalu menutupnya dengan sekali gerakan.
"Ummmhhh..." Juliet kembali terkesiap saat merasakan dingin di punggung nya. Semua itu karena Romeo menyudutkan tubuh Juliet ke tembok yang hanya berjarak satu meter dari tempat tidur.
Ini terlalu lama!
"Bisa kita lewati saja ritual ini?" mata Romeo berkabut. Srrraaattt.. kancing piyama Juliet berjatuhan kelantai. Piyama itu sudah terbelah menjadi dua.
"Jujur saja aku suka merobek seperti ini." Romeo tersenyum memamerkan sederet giginya yang putih bersih. Prianya benar-benar terlihat tampan..
Dan gilanya, Juliet juga menyukai cara yang dilakukan Romeo. Cara ini jauh lebih cepat untuk mereka berdua mendapatkan apa yang mereka inginkan..
"Aku mencintaimu Juliet.. sangat-sangat mencintaimu.." bisik Romeo saat kembali mengangkat tubuh Juliet dan mendesaknya lebih dalam..
"Aku juga..aku mencintaimu.."
...❄️...
...❄️...
...❄️...