ROMEO & JULIET

ROMEO & JULIET
RJ-41



...❄️...


...❄️...


...❄️...


Saat tiba di kediaman Wiratama, Juliet langsung pergi ke kamarnya. Tubuhnya terasa lelah. Padahal hari sebelumnya, ia baik-baik saja. Apakah karena ia terjaga semalaman? entahlah.


Yang pasti, saat ini Juliet hanya ingin tidur. Tubuhnya perlu di istirahatkan begitu juga dengan isi kepalanya. Beruntung lah saat itu tidak ada siapapun di dalam kamar.


Karena kamar itu memang selalu kosong pada jam-jam tertentu. Dan hal itu membuat Juliet merasa lebih nyaman. Sepertinya, kali ini Romeo pergi lagi. Dan Juliet tak ingin ambil pusing akan hal tersebut.


Romeo bebas melakukan apa saja yang ia mau. Jika pun ada seseorang yang bisa menghentikan dirinya, tentu saja bukan Juliet orang nya. Karena ia tidak berpikir untuk melakukan hal itu.


Juliet tidak ingin ikut campur tentang urusan pribadi Romeo. Meskipun ia tidak suka dengan kebiasaan pria itu yang suka berpesta setiap kali berkumpul dengan teman-teman nya, Juliet tetap tidak akan mengomentari hal tersebut.


Ia cukup tahu diri dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang istri kontrak. Ditambah lagi dengan adanya telepon dari Romeo semalam, sudah cukup untuk mengingatkan dirinya dimana posisinya saat ini.


Lagi pula tidak ada apapun diantara mereka. Jika pun Romeo selalu berhasil menggodanya, ataupun bahkan terkadang bersikap perhatian, itu bukan sesuatu yang bisa dianggap serius. Pria itu hanya sekedar bersikap baik. Dan mungkin memang seperti itulah sifatnya.


Dan tentu saja Juliet juga harus melakukan hal yang sama. Ia tidak ingin di salah pahami saat memberikan respon pada Romeo. Juliet tidak ingin membuat pria itu kesusahan jika ia sampai memiliki perasaan padanya.


Setidaknya, hanya ini saja yang bisa Juliet lakukan untuk menghormati kontrak mereka.


Juliet tidak ingin menjadi pihak yang menyusahkan di kemudian hari hanya karena segelintir perasaan semu. Garis batas harus ditarik terlebih dahulu, dan ialah yang harus melakukan itu.


...❄️...


Tok..Tok.. "Nona, ini saya Naina." panggil pelayan dari depan pintu. Naina, adalah pelayan yang mengurus keperluannya saat ia tiba di kediaman itu.


Juliet membuka pintu dan membiarkan Naina untuk masuk ke dalam, "Ada apa Naina?"


"Tuan besar meminta saya mengantarkan minuman ini untuk anda nona. Katanya anda harus menghabiskan susu ini, agar tubuh anda kembali segar. Wajah anda juga terlihat pucat."


"Wajah ku? benarkah?" Juliet menyentuh kedua pipinya untuk sesaat. Ia pikir rasa lelahnya bisa ia sembunyikan. Tapi sepertinya ada juga yang menyadarinya.


"Benar nona. Karena itu, minumlah susu ini."


Mendengar hal itu Juliet hanya mengangguk lalu menerima minuman tersebut. Dalam hatinya terasa sedikit hangat. Dirumah itu, sepertinya hanya papa Wiratama dan Naina lah yang memperhatikan dirinya dengan tulus.


Dalam hitungan detik, Juliet sudah mengosongkan isi gelas tersebut. Benar saja, tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya. "Sampaikan terimakasih ku pada papa. Dan terimakasih juga untuk mu Naina." ucap Juliet sambil tersenyum ramah.


"Baik nona. Saya akan kembali lagi nanti jika makan malam sudah siap. Saya permisi."


"Hem."


Setelah Naina pergi, tubuh Juliet terasa melayang. Matanya benar-benar terasa berat. Ia seperti mabuk, padahal tidak.


Dan yang ia minum sebelum adalah susu, bukan obat tidur. Tapi Kenapa ia begitu mengantuk?


Dan dalam hitungan menit saja, tubuh Juliet sudah dikuasai sepenuhnya, ia pun tertidur. Tidur dengan lelap tanpa mengetahui apapun lagi.


...❄️...


Pukul 7 malam, Romeo baru kembali kerumah. Saat melewati meja makan, papanya sudah berada di sana.


"Papa." seru Romeo yang langsung menghampiri meja makan. "Udah pulang. Kapan sampai?" tanya Romeo lagi. Entah kenapa perasaan nya terasa lebih baik.


"Kamu dari mana Rom, jam segini baru pulang." balas Wiratama tidak menjawab pertanyaan Romeo sebelumnya.


"Romeo ada urusan tadi pa. Juliet mana, belum turun ya?" Romeo meletakan tas di kursi dan duduk di depan papanya.


"Papa sudah perintahkan Naina untuk memanggil istrimu." Romeo mengangguk. Ia menuangkan segelas air lalu meminumnya habis.


"Bagaimana perjalanan nya pa, semuanya lancar?"


Belum lagi Wiratama menjawab pertanyaan tersebut, Naina sudah turun dan berdiri tidak jauh dari keduanya..


"Tuan, nona tidak membuka kamarnya. Bahkan nona tidak menjawab panggilan saya." lapor Naina.


Mendengar hal itu, keduanya pun sama-sama mengernyit. "Biar aku aja pah." sela Romeo cepat. Ia langsung berdiri kemudian naik ke lantai dua.


Romeo tidak perlu mengetuk ataupun meminta ijin, karena itu adalah kamarnya juga.


Dengan perlahan, Romeo menghampiri sisi ranjang untuk menyentuh pelan pipi Juliet. Romeo berniat membangun Juliet dengan cara yang tepat. Ditepuknya perlahan pipi gadis itu seraya memanggil namanya dengan lembut.


"Juliet.. bangun Julie. Kau harus makan malam." panggil Romeo perlahan. Juliet bergeming. Nafasnya masih saja begitu teratur, yang artinya gadis itu masih tertidur dengan pulas.


Melihat usaha pertamanya belum berhasil, Romeo berniat ingin melanjutkan perbuatannya sambil menggoda Juliet.


Tapi saat melihat wajah Juliet yang teduh, hari Romeo bergetar. Seperti ada yang menggelitik di dalam sana, dan rasanya menyenangkan. Jarang-jarang ia bis menyaksikan hal seperti ini. Karena biasanya Romeo selalu tidur di atas sofa.


Wajah Juliet yang terlelap sungguh manis. Bahkan dadanya berdebar lebih cepat dari sebelumnya.


"Juliet.." panggil Romeo sekali lagi. Kali ini dengan suara sedikit berbisik. Tangannya masih terus menyentuh pipi lembut Juliet seakan-akan Romeo tak bisa berhenti melakukan hal tersebut.


"Bangun sayang. Kau harus makan malam." panggil Romeo. Kali ini wajah nya cukup dekat dengan telinga Juliet.


Alih-alih terbangun, Juliet hanya melenguh sesaat kemudian membalik posisi tidurnya hingga wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Romeo.


Deg..


Deg..


"Ap..apa.. kenapa.." posisi Juliet yang tiba-tiba begitu dekat dengan Romeo membuat Romeo tak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya terasa kaku dan menolak untuk berpindah.


Lagi-lagi wajah Juliet bagaikan magnet yang menarik kewarasan Romeo.


"Ahh.. kenapa kau sangat menggemaskan seperti ini Juliet. Apa kau benar-benar istriku? Kau cantik sekali." Romeo membelai pipi Juliet sekali lagi. Ditatapnya wajah itu cukup lama. Seperti dirasuki sesuatu, Romeo pun mengecup bibir ranum didepannya.


Lembut dan manis disaat yang bersamaan. Begini kah rasanya? bibir Juliet benar-benar nikmat untuk Romeo.


Wah.. seperti aku benar-benar akan gila. Pikir Romeo yang menolak untuk berhenti. Darahnya yang mengalir dengan cepat di sekujur tubuhnya membuat dada Romeo semakin berdebar kencang.


Entah karena sentuhan Romeo ataukah karena sedang mengigau, tiba-tiba saja Juliet juga mengalungkan tangannya di leher Romeo dan menarik tubuh Romeo agar lebih dekat.


Juliet sempat merintih sesaat saat beban tubuh Romeo berada di atas dirinya, tapi setelah nya nafas nya kembali teratur.


Berbahaya. Ini benar-benar berbahaya. Alarm lain berdentang dalam kepala Romeo, tapi tubuhnya kembali menegang saat menyadari posisinya saat ini.


Hanya dalam hitungan detik, isi kepala Romeo kembali kacau. Ia tidak bisa memikirkan hal lain kecuali merengkuh apa yang ada di depannya.


Dorongan yang teramat besar dalam dirinya terus mengatakan jika ia hanya perlu menikmati bibir ranum Juliet.


Bibir selembut dan semanis madu yang membuat Romeo menggila hanya dengan mengecupnya sesaat.


Katakanlah ia sedang mengambil kesempatan. Tapi itu bukan salah Romeo sepenuhnya. Juliet lah yang menarik nya lebih dekat hingga mereka menjadi seperti saat ini.


"Juliet.. sayang.. kau bangun?" panggil Romeo sekali lagi memastikan kesadaran gadis itu. Tapi tidak ada jawaban apapun. Dan gila nya hal itu membuat batin Romeo bersorak kegirangan. "Kau yang membuat ku melakukan ini Juliet."


Saat Romeo kembali ******* bibir Juliet, gadis itu tiba-tiba saja membalas ciuman Romeo. Hal itu membuat Romeo semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Tubuhnya terasa panas dan keras secara bersamaan. Sesuatu dalam dirinya berteriak untuk segera dilepaskan.


...Sadarkah kau apa yang sedang kau lakukan sekarang?...


"Tunggu. Apa yang sedang ku lakukan?" Romeo tersentak lalu menjauhkan dirinya dari Juliet.


"Ahh... sial. Sial. Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Ini berbahaya! Benar-benar bahaya!" Bisa-bisanya aku berubah menjadi pria mesum hanya karena kewaspadaan Juliet menurun.


Tidak bisa dibiarkan. Sebaiknya aku pergi. Jika diteruskan lagi, bisa-bisa Juliet berada dalam bahaya. Ah.. sial. Aku benar-benar seperti binatang buas.


Setelah menangani perasaan nya yang sempat tak terkendali, Romeo pun memilih untuk keluar dari kamar.


"Dimana Nak Juliet?" tanya Wiratama saat melihat Romeo kembali keruang makan seorang diri.


Wajah Romeo kembali tersipu. "Juliet? Juliet lagi tidur pa. Papa makan aja duluan, Romeo nanti aja sama Juliet, kalau Juliet udah bangun." kata Romeo, yang kemudian berjalan kearah taman.


Pipinya masih terasa hangat. Bisa-bisa ia melakukan hal seperti itu. Mencuri ciuman Juliet saat gadis itu sedang tertidur lelap.


"Bagaimana kalau Juliet tau?" Ah.. sialan. Semoga saja tidak."


...❄️...


...❄️...


...❄️...