POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 75. Tamat



Bab 75 Pocong Baper


"Hmmm, baiklah. Tapi aku nggak jamin rasanya bakalan enak, ya."


Tangan Arya mengelus sayang helaian rambut Anta yang hitam legam, panjang dan halus.


"Nggak apa-apa. Yang penting Arya yang buat. Buruan dong, Anta udah lapar, nih," pinta Anta dengan suara manja.


Arya tersenyum mendengarnya. Dia senang kalau Anta bersikap manja seperti itu. Arya merasa menjadi suami siaga yang selalu dibutuhkan. Dia mau Anta hanya meminta ke padanya bukan orang lain. Arya lantas mengecup bibir sang istri dengan mesra.


"Woi! Masih ada aku di sini! Bikin mupeng aja!" Raja bangkit lalu pamit pada semuanya untuk menjemput Rara menuju kampus mereka.


Dita juga sudah melepas kepergian Anan yang mengantar Dira dan Adam ke sekolah. Dia merasa, keluarganya sudah sangat sempurna. Dita bersyukur akan segala nikmat dan kebahagiaan yang Tuhan telah berikan padanya meskipun ada saja cobaan yang datang silih berganti menerpa.


Tiba-tiba, ponsel Arya berdering. Pria itu lalu meraih ponsel dari saku celananya. Nama "Jin Settan" tertera di layar ponselnya. Hasil typo dari kata Jin Setta menjadi Settan yang tak pernah mau dia ubah lagi. Raut wajah Arya seketika berubah. Dia terlihat panik.


"Kita ke rumah si Jin sekarang!" ajak Arya.


"Ada apa?" Setta bangkit dari kursinya.


"Setta mau melahirkan," sahut Arya.


Seketika itu juga Anta mengajak Dita ikut serta menuju ke rumah Setta. Ada rasa lega juga di hati Arya karena tak jadi pusing membuat martabak. Anta juga akhirnya mau sarapan dengan kue cubit yang dia beli dari pedagang yang sempat Arya lintasi kala menuju rumah Setta.


***


Beberapa menit sebelumnya…


Pagi itu, Setta sedang menyiapkan sarapan untuk Jin. Seketika dia menunduk untuk menatap sepasang kaki jenjangnya. Dia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari area selangka miliknya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Jin yang muncul dengan seragam yang rapi.


"Pe-perutku sakit, Jin. Aku juga merasakan ada yang menetes," ucap Setta.


Sontak saja, Jin menatap ke arah yang dilihat sang istri. Dia melihat ada aliran air yang mengalir di kaki Setta kala itu.


"Kamu kok ngompol?" tanya Jin.


"Aku nggak ngompol, Jin! Ini tuh–"


Seketikan Jin mulai panik. Dia mulai sadar kalau Setta akan melahirkan.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Jin dengan panik.


"Aku akan siapkan tas perlengkapan melahirkan, ya. Kamu siapkan mobil," ucap Setta.


"Nggak enggak! Aku gendong kamu ke mobil, terus aku yang ambil tas kita terus kita ke rumah sakit, terus–"


"Jin Sayang, semua akan baik-baik saja," ucap Setta berusaha menghentikan kepanikan suaminya.


Jin sempat mengatur napasnya yang mulai terasa cepat itu.


"Oke."


Jin lalu menggendong Setta untuk memasuki mobil. Dia langsung berlari menuju kamar untuk mencari tas perlengkapan melahirkan yang sudah Setta siapkan sebelumnya atas anjuran Dita. Bahkan saat itu Dita membantu Setta.


Namun, karena terburu-buru dan masih mengalami kepanikan, Jin terpeleset lalu jatuh. Kaki kirinya terkilir setelah mengantuk kaki meja ruang tamu yang ia lintasi. Jin berteriak mengaduh. Kakinya sangat terasa sakit jika ia paksakan berdiri. Pada akhirnya, Jin menghubungi Arya untuk meminta pertolongan.


...***...


Sementara itu di sekolah Dira dan Adam yang sudah dibuka kembali, Disya langsung menghampiri Adam dan Dira.


"Ayo, ikut aku ke belakang gudang sekolah!" Disya menarik tangan Adam.


"Eh, jangan pegang-pegang! Aku nggak suka ya kamu pegang-pegang si Adam!" larang Tania.


"Urusan elu apa? Bukannya tadi baper sama Kak Raja?" Adam menatap sinis pada Tania.


"Oh, tadi baper sesaat doang, kok. Eh, bentar deh. Adam cemburu ya kalau aku masih suka sama Kak Raja?" Tania mulai menggoda Adam.


"Pede banget luh jadi pocong. Gue cuma mau elu konsisten. Suka sama Kak Raja apa gue?" Adam berkacak pinggang.


"Kalau bisa deket sama dua-duanya, kenapa nggak? Hihihi." Tania terkekeh.


"Heh, aku nggak mau ya disama-samain sama pocong. Masa saingan aku pocong, sih?" Disya bersungut-sungut.


"Justru itu hal yang unik loh, Dis. Kapan lagi saingan ama pocong ngerebutin gue," ucap Adam.


"Hidih! Adam bikin ill feel!" Disya lantas mendorong Adam.


"Tinggalin aja, Dis! Kita cari adek kelas yang lebih ganteng dari dia," sahut Tania yang kini berjalan sejajar dengan Disya meninggalkan Adam.


Adam lantas mengejar kedua gadis itu


"Hadeh, percintaan pocong baper dan manusia usil ini sangat membagongkan, ckckck." Dira sampai menepuk dahinya sendiri.


Gadis itu lantas terkejut kala tangannya digenggam oleh Fasya.


"Kalau kamu sekarang punya aku," ucap Fasya.


"Loh, kok? Pakai aku kamu pula? Eh, ini sekolahan Fasya jangan kayak gini!" tegas Dira.


"Biar aja!" Fasya tersenyum kala menarik tangan Dira menuju ke belakang gudang.


Di sana mereka melihat Ibu Ros sedang meringkuk menangis.


"Bu Ros, kenapa?" tanya Dira.


"A-aku, aku nggak sengaja, Dira," sahutnya seraya terisak.


"Nggak sengaja kenapa?" Dira kini berjongkok di hadapan Bu Ros.


"Aku nggak sengaja buat dia kecelakaan. Aku nggak nyangka kalau malam itu, dia bisa lihat aku," isaknya.


"Lihat siapa?" Dira makin tak mengerti.


"Pak Beni, Ra. Dia kecelakaan semalam pas pulang jaga sekolah. Aku denger barusan dari murid lain kalau Pak Beni baru aja meninggal. Terus Bu Ros nangis," sahut Disya.


Bu Ros lantas menunjukkan pada Dira kalau ternyata yang menghamili dan menghabisi nyawa Bu Ros adalah Pak Beni.


"Harusnya kamu seneng, Bu, kalau dia mati. Berarti dendam kamu terbalas," sahut Tania.


"Nggak boleh gitu, Tan!" bisik Adam.


"Aku emang takut sama dia, aku juga mau dia mati biar dendam aku terbalas. Tapi, pas denger dia meninggal aku jadi sedih, huhuhu," isak Bu Ros.


"Hmmmm, kayaknya ada yang mau minta maaf, tuh." Dira bangkit kala melihat arwah Pak Beni tiba-tiba hadir di dekat mereka.


Bu Ros menoleh, dia menatap tak percaya. Rupanya benar kata Dira, Beni datang untuk minta maaf dan menjemput Ros. Arwah wanita itu akhirnya mau memaafkan. Mereka lantas pamit pergi dan menghilang.


"Kenapa aku belum bisa pergi, ya?" tanya Tania yang sebenarnya tampak sedih.


"Mungkin nunggu sampai gue nikah, hahaha," sahut Adam.


"Liat Kak Raja nikah aja aku bakalan stres apalagi liat kamu yang nikah, huaaaaaa!" Tania lantas menangis sampai Adam berusaha menenangkannya.


"Pergi aja, yuk! Aku muak sumpah liat mereka," ketus Disya seraya melangkah pergi.


Dira dan Fasya hanya saling tatap dan tersenyum malu.


"Nanti kita nonton, yuk!" bisik Fasya.


"Ayuk!" Dira tersenyum dengan manisnya.


******


Tamaaaaaat….


Terima kasih untuk pembaca setia keluarganya Prayoga. Untuk sementara ini, keseruan kisah keluarga mereka berakhir dulu, ya.


Kalian mampir ke Terjebak Cinta Sang Musuh dan Mr.Vampire, I Love You!


Akan ada giveaway kejutan di sana. See you there!