POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 46 - Dia Akan Kembali



"Iya, Kak! Aku bersihkan kukunya dulu," seru si gadis.


"Siapa nama kamu? Ca?" tanya Mia.


Sosok gadis itu hanya tersenyum.


"Kalian memanfaatkan darahku, kan?" tanya Mia.


"Hmmmm, Nyi Ratu bilang darah Mbak berharga. Pantas saja genderuwo itu begitu menyukai Mbak. Soalnya darah Mbak wangi. Terus mengandung kekuatan untuk dijadikan media … santet." Gadis itu lantas tertawa.


"Korban pembunuhan yang hilang itu untuk apa?" tanya Mia.


"Untuk persembahan, hehehe. Agak sakit dikit ya, Mbak." Gadis itu memasukkan jarum suntik ke lengan Mia lalu menghisap beberapa 50 ml darah dari si perempuan yang lagi-lagi tak bisa berkutik.


"Kalian menjadikan aku pembunuh melalui darahku. Aku tak mau lagi menjadi pembunu!" seru Mia.


"Ini takdir, Mbak. Jalani saja seperti perempuan sebelumnya," tukasnya.


"Kenapa bukan darahmu saja?!" pekik Mia.


"Kata Nyi Ratu, darah aku kotor. Sedangkan, darah Mbak bersih. Sejak kecil aku dan kakakku suka bermain menjadi pembunuh, Mbak. Rasanya sangat menyenangkan," ucapnya.


"Kamu sakit jiwa! Benar-benar sakit jiwa!" seru Mia.


"Ca, buruan! Nanti Nyi Ratu marah!" Sosok pemuda berwajah bule berdiri di pintu ruangan tersebut.


"Iya, Kak."


"Aku pernah lihat kalian di pembukaan Kafe Backdoor. Apa jangan-jangan kalian yang membunuh Wahyu, si pemilik kafe itu?" terisak Mia.


"Orang yang melanggar perjanjian harus dihukum, Mbak." James tersenyum menyeringai.


Adiknya sedang berjongkok di hadapan Mia, menyuapi perempuan itu dengan nasi putih. Pandangannya sayu melihat perubahan tubuhnya yang kian bertambah kurus.


Icha awalnya tak banyak bicara dengan Mia. Ia juga tak menunjukkan ketertarikan. Bagi Mia satu-satunya orang yang terkadang bisa dia ajak bicara adalah teman halusinasinya sendiri.


Padahal, Icha seringkali menemani Mia di kala kesepian mulai memenuhi isi kepalanya. Gadis itu akan duduk di sampingnya, memperhatikannya. Ada keinginan untuk menolong Mia dan mengeluarkannya dari sini. Namun, Icha sadar dengan segala konsekuensi bila ia melakukan hal itu. Icha tak bisa menerima nasib naas karena bagaimana pun, Nyi Ratu sudah menuliskan takdir untuknya.


"Buruan, Ca!" seru James.


"Biar dia makan kenyang dulu, Kak," ucap Icha.


Setelah Mia melahap habis nasi yang disuap oleh Icha, wanita itu berniat untuk pergi. Namun tiba-tiba saja genggaman tangan Mia menghentikan dirinya. James yang tadinya hendak pergi juga berbalik menoleh kepada Mia yang terpasung.


Mia menatap Icha dengan sorot mata yang kosong. Tak lama kemudian, dia mengatakan sesuatu. Sesuatu yang membuat Icha dan James tak bisa berkata apa-apa.


"Ratu Masako, sudah menemukan tubuh yang baru."


Icha dan James saling menatap dengan terperanjat. Lalu, keduanya bergegas pergi dari ruangan tempat Mia dikurung.


...***...


Terjadi kegaduhan setelah Mia mengatakan hal itu. Terlihat dengan kedatangan sosok Nyi Ratu yang bertanya kepada dirinya, apakah benar apa yang baru saja Mia katakan bila mana Ratu Masako sudah menemukan pengganti dari tubuhnya yang baru. Mia hanya bisa mengangguk lirih. Tak lama kemudian, sosok Nyi Ratu menyinggung kejanggalan bahwa tak ada mungkin Ratu Masako telah datang karena semua persembahan yang dilakukan masih kurang.


Lantas apakah dirinya melewatkan sesuatu yang sangat penting? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Apakah mungkin ada garis darah Ratu Kencana Ungu pada diri Mia? Sedangkan garis darah itu hanya masih tersisa pada keturunan Dita. Atay mungkin ada yang salah dengan Kitab Hitam yang pernah dirinya baca?


"Nyi, bagaimana ini?" tanya James.


"Aku akan buat persembahan terakhir dan memastikan perkataan perempuan ini," ucapnya.


"Dengan mencari tumbal di sekolah apa di pasar malam?" tanya Icha.


"Aku akan pastikan pada Pak Ari tentang kesiapannya mencari tumbal lagi di sekolah karena pasar malam telah ditutup," imbuhnya.


"Aku tetap ingin James membawanya ke sini. Kau harus buat dia menyukaimu, lalu siap menjadi budak cintamu dan rela mengorbankan apa pun untukmu, James!" titahnya.


"Baik, Nyi Ratu." James lantas menyalakan sepeda motornya dan bergegas pergi bersama Icha.


Di ruang kosong hampa itu, Mia sendiri tidak mengerti maksud apa yang sedang dikatakan ketiga orang yang dia curi dengar itu. Mia bahkan terlihat seperti sosok uzur yang sedang meracau sendirian. Namun di balik semua ini, Mia tertegun memikirkan untuk apa ia mengatakan semua ini kepada Icha seakan-akan hal ini harus diketahui oleh banyak orang.


Tak lama kemudian, Nyi Ratu berdiri di hadapan Mia. Ia berkata kepada perempuan itu bahwasanya cepat atau lambat bahaya akan datang ke tempat Keluarga Prayoga. Salah Mia membawa Dira ikut serta sehingga Nyi Ratu dapat mengendus darah Ratu Kencana Ungu yang kuat di tubuh gadis itu.


Tidak ada waktu lagi menunggu sampai semuanya benar- benar siap. Bila sampai sedikit saja melakukan kesalahan, waktu berbulan-bulan yang sudah mereka habiskan di tempat ini akan menjadi sia-sia.


...***...


James semakin mendekati Dira. Bahkan ia menggunakan pelet ajian asmara pada gadis itu. Namun, perlindungan gaub gadis itu sangat kuat. Tak ada gangguan sihir dan makhluk astral yang dapat mengganggunya.


Tania bahkan pernah mendapati James memantrai minuman untuk Dira. Sontak saja dia beritahukan pada Adam dan yang lainnya saat itu. Adam berhasil menggagalkan keinginan James. Dia langsung mengajak Dira ke kantin. Fasya dan Disya mengikuti bersama Tania.


"Gue heran kenapa James niat banget mau pelet adek gue?" gumam Adam.


"Mungkin emang James suka banget sama Dira," sahut Disya.


"Masa, sih?" tanya Dira.


Tania mengangguk menanggapi, "bisa jadi."


"Nggak juga. Gue rasa ada maksud lain yang James mau dari Dira. Kita harus tanya sama Icha soal ini," tukas Fasya.


"Tapi, Icha udah seminggu nggak masuk katanya sakit," sahut Disya.


"Ra, elu nggak suka sama James, kan?" tanya Fasya memastikan.


Dira menggeleng. Pandangannya kini fokus pada Bu Ros.


"Bu Ros ngapain di bawah pohon jambu?" tanya Dira.


Gadis itu lantas menghampiri Bu Ros.


"Ngapain, Bu?" tanya Dira.


"Saya mau jambu itu terus pakai sambal rujak, enak kali, ya," sahut Bu Ros.


"Hah? Maksudnya Bu Ros ngidam?" tanya Dira.


"Iya, nih." Hantu itu mengusap perutnya.


Sontak saja Adam dan yang lainnya tertawa.


"Bu Ros emang suka gitu. Suka ngaku-ngaku ngidam. Emang bayi di dalam perutnya masih hidup apa? Dia nggak mikir, ya," lirih Tania.


"Bu Ros tunggu sini, ya. Nanti Dira beliin rujak di seberang," ucap Dira.


"Saya maunya jambu di pohon itu," tukas Bu Ros bersikeras.


"Oh, ya gampang itu mah. Dira bawa sambalnya lebihan ke sini. Terus nanti Dira minta tolong Pak Beni ambilin jambu itu, ya," kata Dira seraya tersenyum.


"A-apa? Beni?" Bu Ros lantas menghilang.


...*****...


...Bersambung dulu, ya…...