
Bab 55 Pocong Baper
Joshua tampak gusar saat memasuki rumah. Dia berteriak memanggil istrinya. Namun, sosok itu tak jua datang sampai dia terlelap.
Pukul setengah tiga pagi, sosok Miyako memasuki rumah tanpa ketahuan oleh para penjaga. Dia melewati kebun kosong dan masuk lewat belakang rumah. Joshua mendengar suara dari dalam rumahnya dan bergegas bersiaga.
Kedua matanya seketika terkesima melihat pemandangan mengerikan yang tersedia di hadapan saat ini. Tubuh Miyako memakai daster yang bersimbah darah sedang duduk terpaku tiada pergerakan di atas kursi goyang. Hanya sedikit darah menetes di sudut bibirnya.
Miyako merasa lemas dan tiada berdaya. Dia harus berburu mendapatkan bayi yang masih segar dalam kandungan. Dia tak akan bisa kembali ke wujud manusia karena masih lemas. Dia akan tetap berwujud seperti itu.
Entah sampai kapan Miyako akan berhenti melakukannya karena semuanya sidah terlanjur. Dia mengadakan ritual perjanjian iblis demi menuju hidup abadi dan awet muda. Mendapatkan apa pun sesuai yang dia mau. Miyako rela melakukan apa pun.
Joshua mendekat dan memanggil nama Miyako. Dia memeluk sang istri dengan erat. Dia sudah tak bisa mengendalikan diri dan tak bisa meninggalkan Miyako.
***
Pagi itu saat Setta membeli sayuran dan bahan untuk masak lainnya di sebuah warung dekat rumah, para ibu terlihat bergunjing tentang kuntilanak terbang yang sudah menunjukkan diri dan memakan korban.
"Bu, kenapa gugup begitu? Apa penampakan itu mengganggu Ibu?" tanya Setta pada penjual sayur.
"Nggak, Non Setta, saya belum pernah ketemu sama kuntilanak terbang itu, amit-amit jangan sampe. Saya cuma kepikiran aja dua bulan yang lalu itu…."
"Dua bulan yang lalu itu kenapa?" Setta tampak mengernyit.
"Adik saya baru melahirkan terus anaknya diculik kunti tetapi ibu mertua dan suaminya nggak ada yang percaya. Adik saya malah dibilang gila karena ditemukan bersimbah darah dan pegang tangan bayi sambil nangis deket wc. Mereka bilang adik saya depresi dan bayinya dihabisi lalu dibuang dalam kloset," ucapnya sambil terisak.
"Oh, jangan-jangan memang bayinya dihabisi sama kuntilanak terbang," sahut Setta.
"Iya mungkin aja, Non. Tapi keluarga itu nggak ada yang percaya. Meskipun beda kampung, tapi buktinya kuntilanak itu udah pindah ke sini. Apa Non tau kalau kuntilanak itu warga baru istrinya polisi?" tanyanya.
Setta tertawa kecil dibuatnya.
"Kok, Non Setta tertawa?"
"Saya warga baru di sini dan istri polisi, Bu, berarti saya bisa jadi tersangka, dong," sahut Setta.
"Ih, bukan Non yang ibu maksud. Warga baru dua blok yang di Jalan Melati," tukasnya.
"Ummm, perasaan Bunda Dita dan keluarganya pada tinggal di sana. Apa jangan-jangan warga baru itu yang ada di seberang rumah mereka, ya?" gumam Setta.
"Non Setta, hati-hati ya di rumah. Kuntilanak terbang itu belum ketemu," ucap salah satu warga yang menyimak sedari tadi seraya melihat perut besar Setta.
"Kayaknya Non Setta tahan banting. Rumah horor aja dia tempat dengan tenang. Nggak suka diganggu, gitu?" tanya Ibu Gina.
"Nggak, Bu, alhamdulillah udah temenan," ucap Setta seraya tertawa.
Akan tetapi, tak ada warga yang merespon tawanya dengan tawa yang sama. Mereka malah menatap Setta dengan aneh.
"Saya cuma bercanda, ibu-ibu. Kan, kalian bilang saya harus pakai ini itu sebagai penangkal, jadi saya lakuin semua perintah ibu-ibu semua. Terima kasih ya sudah perhatian sama saya dan suami," ucap Setta berbohong dan mencob menyenangkan hati para tetangganya.
Enam orang wanita itu menggeleng bersamaan kecuali Setta.
"Ada apa dengan kuyang, Bu?" tanya Setta.
Bu Ita melanjutkan ceritanya. Hantu ini dipercaya bergentayangan untuk menghisap darah bayi yang baru lahir atau bayi-bayi yang usianya belum genap dua tahun. Agak mengerikan memang, tetapi para ibu itu terdengar antusias mendengarnya. Setta hanya menyimak tanpa ada rasa ingin membantah karena pernah bertemu secara nyata.
"Harusnya pak hansip sering berjaga kala malam hari dekat rumah Non Setta, apalagi rumah itu ada yang mau punya bayi," ucap Bu Ita.
"Nggak apa, Bu, saya masih aman," sahut Setta.
"Kuyang ini serem, loh, dia pernah tertangkap warga di desa saya dulu. Menurut cerita warga, wujud kuyang ini luar biasa mengerikan. Wujudnya digambarkan seperti sosok kepala wanita yang berwajah mengerikan tanpa badan, tetapi bisa terbang dengan isi perut yang bergelantungan.
"Ih, mual banget bayanginnya," celetuk ibu penjual sayur.
"Jadi ipar saya itu baru melahirkan waktu itu terus ipar saya itu berteriak-teriak. Tentu saja para tetangga berdatangan, termasuk saya. Adik saya bilang, kalau istrinya yang baru melahirkan itu melihat kuyang masuk kamarnya melalui ventilasi. Tentu saja kami panik. Benar saja, setelah itu ada warga lain yang melihat ada kuyang terus terbang ke arah ladang. Terus dikejar-kejar, tetapi kuyang itu hilang begitu saja," ucap Bu Ita menggebu-gebu.
"Tapi, itu kan kuyang, ini kuntilanak terbang," sahut Gina.
"Ya kali aja penampakannya sama," sahut Bu Ita.
"Bu ibu, saya duluan ya mau masak dulu udah laper soalnya," ucap Setta setelah selesai memilih sayuran dan bahan lainnya lalu membayar pada ibu si penjual. Setta pun pamit.
Memasuki gerbang, Setta melihat Lee si genderuwo yang sedang merayu genderuwo wanita besar penunggu rumah Setta.
"Hayo, Om Lee lagi ngapain pagi-pagi gini udah ngegombal di atas pohon? Nanti aku bilangin Silla, loh," ucap Setta.
Lee segera mendekat dan berbisik.
"Jangan diaduin ke Silla dong, Ta. Saya mau pendekatan sama Nyi Uwo dulu. Kalau saya ditolak nanti saya balik ke Silla lagi," ucapnya.
"Dih, dasar genderuwo playboy!" Setta mengusap perutnya dan berucap "amit-amit jabang bayi" di dalam hatinya kala melihat Lee.
"Setta, hati-hati ya. Semalam aku lihat kuntilanak terbang yang lagi viral itu terbang di sekitar sini. Kekuatannya sangat terasa dan rasanya saya juga nggak bisa lawan dia. Tapi tenang aja, saya sama nenek kamu dan Si Bopeng berusaha tutup aura hamil kamu supaya kunti itu nggak nyium. Tapi kalau kamu sering berkeliaran keluar rumah begini, bisa aja aroma kamu ninggalin jejak," ucap Nyi Uwo kala menghampiri.
"Hmmm, begitu ya. Ya sudah terima kasih sudah menjaga saya ya, Nyi. Nanti saya buatkan ayam sama kemenyan. Doakan saja semoga si dedek bisa lahir dengan selamat," pinta Setta.
"Apa perlu saya bilang Bunda Dita biar bantu jagain kamu?" tanya Lee.
"Hmmm, saya nggak enak ngerepotin Bunda Dita. Saya mau masak dulu, ya," ucap Setta menuju dapurnya.
Namun, Lee tetap bersikeras akan memberitahukan pada Dita tentang kondisi Setta yang sedang diincar oleh kuntilanak terbang. Siapa tahu Ratu Sanca juga bisa membantu menjaga Setta.
*****
Bersambung dulu, ya.