
Di balik pintu tersebut, Mia melihat sebuah ruangan lain yang kosong dengan sedikit perabotan di dalamnya. Terdapat sebuah ranjang kayu berlumut di sisinya dengan kain kapan putih yang terdapat bercak tanah yang ada di permukaanya.
"Tempat apa ini, Wo?" tanya Mia.
"Sepertinya ini tempat eksekusi." Bowo yang tinggi besar sampai menunduk.
"Eksekusi? Aku mau ambil gambar dulu kalau gitu." MIa lantas mengeluarkan ponselnya untuk menangkap gambar.
Mia melangkah mendekati ranjang kayu dan meja-meja tua itu. Dia memeriksa apa pun yang dia temukan di sana. Tempat itu terlihat seperti tempat kosong yang sudah lama tak digunakan. Namun, si genderuwo itu bilang kalau tempat itu merupakan tempat eksekusi.
Semakin mengarah ke dalam, Mia menemukan tangga menuju ruang bawah tanah. Banyak debu serta benda-benda yang terasa dingin dan lembap saat disentuh. Tiba-tiba, Mia teringat akan mayat kepala itu. Sekali lagi terbersit dan bertanya-tanya di dalam hati, siapa yang menghabisi nyawa Wahyu?
Bagaimana seseorang bisa tega melakukan hal keji itu? Untuk apa semua itu dilakukan. Biasanya hanya tertinggal potongan tubuh berupa jari karena tercecer, kali ini tanpa kepala dan kaki. Namun, identitas korban diketahui.
Pertanyaan-pertanyaan ini seperti menjadi racun yang membuat Mia
a terus-menerus memikirkannya, seakan-akan serangkaian peristiwa ini tak ada satu pun yang memiliki jawaban tentang pelaku pembunuhan di rumah hantu pasar malam.
Di saat Mia mengamati mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa membantu menemukan petunjuk tentang menghilangnya orang-orang di rumah hantu pasar malam sampai petunjuk tentang kematian Wahyu tersebut, tiba-tiba ia merasakan sentuhan dingin di lehernya. Bulu kuduknya meremang.
Mia menoleh menatap kebelakangnya, lalu terperanjat.
"Bodoh! Aku lupa kalau lagi ditemenin genderuwo. Pantesan aja merinding," gumam Mia kala melihat Bowo bersusah payah merangkak di belakangnya.
Lorong di ruang bawah tanah yang sedang mereka lewati itu tak muat bagi Bowo untuk berdiri tegak. Sama seperti sebelumnya juga dia membungkuk.
"Kamu yakin mau lanjut?" tanya Bowo.
"Iya, kadung sampai sini. Aku penasaran banget, Wo," sahut Mia.
Mia melangkah perlahan menuju ke arah ujung lorong yang ditutup oleh tirai putih tetapi lusuh tersebut. Sekilas ia melihat sosok dengan wajah perempuan menyeringai saat dia membuka tirai.
"PERGI DARI SINI!"
Sosok perempuan itu lalu menghilang.
"Astaga! Kamu lihat itu, Wo?" tanya Mia yang langsung tersentak mundur.
la merasa bahwa baru saja dirinya memikirkan hal sinting bertemu dengan hantu. Akan tetapi, ia yakin baru saja melihat sesuatu di sana dan itu bukan imajinasinya. Sesuatu ingin mengganggu dirinya, termasuk sentuhan dingin tepat di lehernya tadi bukan berasal dari Bowo.
"Ada yang lain yang berada di sini," ucap Bowo.
"Kalau kamu bisa ketemu sama mereka, coba tanya aja, Wo, mereka mau apa," tukas Mia.
"Kamu mau aku mencari dia?" tanya Bowo lagi.
"Iya, kamu cari keberadaan makhluk astral itu. Nanti kalau udah ketemu ajak ke sini."
"Aku yakin, Wo. Aku nggak akan kenapa-kenapa. Ayolah bantu aku biar lebih cepat cari informasi kita bagi tugas," titah Mia pada genderuwo yang menjaganya.
Meskipun ada keraguan pada Bowo ketika hendak meninggalkan Mia, tetapi karena ingin selalu menuruti apa yang Mia mau, Bowo akhirnya meninggalkan Mia di lorong itu. Ia menghilang untuk mencari perempuan tadi.
Setelah Bowo pergi, dengan hati- hati Mia menyibak tirai. Ia ingin memastikan bahwa ia tak salah melihat. Namun, sudah tak ada siapa pun di sana. Perempuan itu masih berjaga dengan ponsel di tangannya untuk mengambil gambar.
Mia lalu berbalik saat tiba-tiba terdengar suara wanita tengah berbisik tepat di telinga. la tersentak sebelum menoleh, lalu menyibak tirai itu kembali, tetap tidak ada apa- apa. Sosok penampakan tadi pasti sudah mengacaukan pikirannya. Mia mengumpat sembari mengendalikan napasnya.
Tak ada apa pun di sini, kecuali perabotan tua berdebu dengan benda-benda usang yang tak lagi terpakai. Mungkin polisi sudah sempat menyisir tempat ini dan mengamankan benda-benda penting.
Mia tak jua pergi karena masih ingin memeriksa tempat itu. Di hadapannya ia menemukan sesuatu disembunyikan di sebuah kotak kayu besar. Sebuah ruangan dengan banyak lukisan relief di dinding.
Di sana tergambar penyatuan tubuh manusia yang satu dan yang lainnya agar bisa terbentuk makhluk baru. Seperti gambar sosok monster. Dari gambar relief tersebut, Mia berasumsi kalau gambar itu merupakan petunjuk. Entah pelaku sedang melakukan ritual sesat atau memang eskperimen menyeramkan seorang psycopath.
Mia menuju ke dalam kotak kayu. Dia membongkar tempat itu dengan kedua tangan, lalu mengangkat bagian atasnya dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan suara bergesek yang membuat dada tersentak.
Mia sadar bila melakukan seperti ini lagi, cepat atau lambat petugas yang ada di luar akan memergoki dirinya dan tentu hal ini bisa menjadi sesuatu yang buruk karena dianggap merusak tempat kejadian perkara.
Setelah bersusah payah membuka kotak peti itu dengan hati-hati, Mia mendapati banyak foto. Dalam permukaan polaroid yang terletak itu, ada beberapa foto pengunjung rumah hantu dengan segala ekspresi ketakutannya.
Ada yang membuat Mia merasa janggal. Beberapa polaroid ada yang diberi tanda "X" dengan spidol merah. Salah satunya adalah wajah dari Wahyu, korban dengan kepala terpenggal tadi.
Mia juga menemukan buku cokelat yang dibuat dari kulit kambing. Di dalamnya ada tulisan latin yang aneh. Mia yakin tulisan itu merupakan sebuah petunjuk entah itu tulisan mantera atau tulisan petunjuk lainnya.
Tak hanya itu, Mia juga mendapati sekantong kain. Agak lembab dia sentuh. Dan kantong main itu mulai menimbulkan bau busuk menyeruak kala Mia mengangkatnya. Rasa penasarannya sudah memenuhi isi pikirannya kala itu.
Mia membuka kantong kain tersebut dan mencoba merogoh isinya. Perempuan itu menarik salah satunya dan mendapati jari kelilingking manusia. Mia tersentak dan langsung membuang kantong kain itu. Dia hampir saja berteriak, tetapi dengan segera ia bekap mulutnya sendiri.
Polisi pasti belum sampai ke sini sehingga bukti-bukti dalam peti kayu itu masih ada. Mia terdiam sesaat, sebelum dengan cepat dia segera mengambil gambar dengan ponselnya. Mia yakin bukti-bukti ini pasti tak akan mudah sampai ke media jika dia tak segera mengambil gambarnya.
Tiba-tiba, Mia merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Perempuan itu yakin kalau sosok itu pasti Bowo. Mia memantapkan diri sebelum menoleh. Ia takut kalau Bowo membawa sosok hantu yang menyeramkan untuk dia lihat. Biar bagaimanapun juga, Mia harus akui kalau dia masih suka ketakutan jika melihat sosok hantu. Apalagi yang wajahnya seram.
"Gimana, Wo? Kamu bawa hantu tadi ke –"
Ucapannya terhenti, sepasang mata lentik itu terperanjat ketika melihat sosok yang hadir di belakangnya bukanlah Bowo.
BUG!
Mia tak sadarkan diri kemudian ketika tongkat baseball menghantam wajahnya dengan keras.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....