
Dira terkejut kala kaca jendela mobil milik Mia diketuk dari luar.
"Kamu lagi apa di sini?" Jin mengetuk kaca jendela mobil itu. Ia tersentak dengan keberadaan Dira malam itu.
"Kak Jin? Dira bisa jelasin ini." Gadia itu keluar dari mobil milik Mia.
Dira menjelaskan keberadaan dia di sana karena Mia. Semua dia jelaskan dengan detail dengan harapan kalau ia akan bertemu dengan para arwah korban yang menghilang dan dibunuh di kawasan pasar malam itu.
"Terus kamu bisa liat arwah mereka, Ra?" tanya Jin.
"Nggak ada, Kak," Dira menggeleng, lalu melanjutkan lagi ucapannya, "Dira sempet mikir kalau arwah mereka ditahan di suatu tempat. Kan, ada tuh batas gentayangan arwah. Dia nggak akan bisa pergi ke mana-mana kecuali ada manusia yang punya energi dan aura yang sama yang bisa membawa pergi. Contohnya Adam sama Tania. Kan tadinya Tania cuma bisa gentayangan di sekolah, tetapi sejak ketemu Adam, dia bisa ikut dan muncul Adam ke mana aja, kan?"
"Dira, Kak Jin nggak ngerti kamu jelasin apa itu. Kayaknya si Setta yang cocok sama kamu dan paham sama penjelasan kamu," tukas Jin seraya menggaruk kepala belakangnya.
"Woaaah, ada Pak Jin di sini. Apa kabar, Bro? Long time no see, ya?" Joshua mendekat dan menepuk bahu Jin kala itu.
Raut wajah Jin berubah. Dia terlihat tak menyukai keberadaan Joshua di sana.
"Elu ngapain di sini?" tanya Jin.
"Oh iya, gue lupa bilang kalau gue dipindahkan di sini. Gue langsung ditunjuk menangani kasus ini karena elu terlalu lama, Bro. Jadi, elu nggak diperlukan lagi di sini." Ada nada kesombongan pada Joshua kala itu. Dia bahkan menarik jaket Jin dan menepuk bagian dada bidang pria itu
"Elu pikir elu bakalan lebih mudah menemukan pelaku? Ini complicated, Bro!" Nada suara Jin mengejek seolah sengaja menyamakan dengan nada suara Joshua kala itu. Dia juga menepis tangan Joshua dari jaket yang ia kenakan.
"Gue bakal tutup kasus ini dengan sukses paling lama satu bulan," tentangnya.
"Elu tanya aja sama dia, dia aja yang biasa lihat set–" Ucapan Jin langsung terhenti seiring dengan tarikan tangan Dira di ujung bawa jaketnya.
"Eh, ngapain anak kecil ada di lokasi TKP ini? Apa dia selingkuhan elu?" tuding Joshua.
"Jaga ucapan elu, ya! Dia ke sini sama Mia, kata dia salah satu wartawan yang datang ke TKP.
"Mia? Rosmia Suyatna?" tanya Joshua.
"Dira nggak tau nama lengkap Mbak Mia siapa. Tadi kebetulan ketemu di jalan. Terus Mbak Mia mau anterin saya pulang, tapi katanya mampir sini dulu," ucap Dira berbohong.
"Sialan si Mia. Demi berita dia telantarin bocah malam-malam gini. Terus orangnya mana?" tanya Joshua.
"Dira juga nggak tau. Dira pikir dia masih di dalam," sahutnya.
Joshua lantas meminta anak buahnya untuk memeriksa ke dalam dan seluruh wilayah tempat kejadian perkara. Sementara itu, Jin menghubungi Anan. Dia memberitahukan keberadaan Dira yang ada di sana.
"Duh, mati deh Dira! Habis deh Dira dimarahin sama Yanda sama Bunda," ucap gadis itu seraya menggigit ujung kuku jari jemarinya.
...***...
Tak terasa sudah satu bulan Mia tak ditemukan. Parahnya lagi, Dira juga tidak menemukan Bowo, si genderuwo yang selalu menjaga Mia di dunia manusia. Namun, Dita dan Anan memperingatkan Dira agar tidak terlalu dalam ikut campur dengan kasus menghilangnya Mia. Meskipun begitu, Dira tetap merupakan saksi karena Mia terakhir bersamanya.
Sebenarnya, Joshua yang terakhir bersamanya. Namun, polisi itu menutupi jejaknya karena jika ia mengaku maka akan ada pernyataan kalau ia membiarkan Mia memasuki tempat kejadian perkara. Lalu, hal itu akan berlanjut kepada pertanyaan kenapa ia membiarkan wartawan tersebut mengendalikannya lalu kemungkinan masa lalu tentang video mabuk dan mesumnya akan dicari.
"Akhirnya gue bisa ketemu sama elu di sini," ucap James saat mendekati Dira yang ada di taman belakang sekolah.
Pemuda itu memang sengaja mencari keberadaan Dira akhir-akhir ini. Sosok Tania tampak berdiri di sudut taman mengamati. Di sampingnya ada Bu Ros yang sedang mengunyah buah belimbing wuluh yang masam dengan dalih ngidam.
James malah terkekeh geli melihat ekspresi kebingungan yang ditampilkan gadis cantik di depannya.
"Gue, eh aku mau minta maaf. Aku menyesal dulu suka marah-marah kalau ketemu sama kamu," sesalnya.
Gadis itu kembali menatap heran ke arah pemuda yang sama, kakak dari Icha temannya itu.
"Oh, nggak apa-apa. Dira juga udah lupa malah nggak engeh kalau Kak James suka marah-marah dulu," jawab Dira singkat sambil hendak berlalu.
Namun, sebuah tarikan di tangannya membuatnya berhenti melangkah dan itu dikarenakan cekalan pemuda tadi.
"Ada apa?" tanya Dira.
"Besok jalan, yuk! Kita nonton, gimana?"
"Dira harus tanya bunda dulu takutnya dia nggak ngasih izin," ucap gadis berambut panjang itu singkat. Gadis itu lalu kembali melangkahkan kakinya setelah jabatan tangannya terlepas.
"Tunggu! Apa perlu aku yang minta izin ke bunda kamu?" tanya James ragu.
"Nggak usah."
"Tapi, aku boleh kan kenal kamu lebih dekat?" tanya James lagi.
Dira tahu kalau ada keanehan pada diri James kala itu. Namun, ia merasa ingin mengikuti alur permainan yang sedang James buat kala itu. Gadis itu mengangguk dan mengajak James kembali duduk di bangku taman.
Kini keduanya duduk bangku taman dengan kesibukan pikiran mereka masing-masing, karena ternyata tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka.
"Ada yang aneh sama si James," gumam Tania.
"Aneh gimana?" tanya Bu Ros.
"Ya aneh aja, tumben banget mau deketin Dira. Pasti asa udang di balik bakwan," ucap Tania.
"Kayaknya enak, tuh. Duh, aku jadi laper. Aku mau ke kantin dulu, ya," ucap Bu Ros lalu menghilang.
"Ini kita diem begini aja?" tanya Dira memecah keheningan.
"Aku rasa aku sudah jatuh hati padamu, Dira," gumamnya dengan menarik satu ujung bibirnya.
"Hah? Kamu bilang apa?" Dira sampai mengernyitkan dahi.
"Lupakan, deh. Hmmm, sebaiknya aku pergi saja. Sampai jumpa!" Pemuda itu beranjak dan melambaikan tangan pada Dira. Dia beranjak pergi tanpa menunggu persetujuannya. Dira menatap aneh lalu akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas.
"Sebaiknya kamu hati-hati sama dia, Ra. Rasanya aku nggak percaya sama mulut manisnya itu," tukas Tania mengejutkan Dira karena tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Astagfirullah! Bangun-bangun makan ayam penyet!" seru Dira dengan spontan.
"Enak, tuh. Semoga Bunda Dita masak ayam penyet nanti siang," ucap Tania seraya terkekeh.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....