POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 63. Rahasia James



Bab 63 Pocong Baper


James dan Icha membawa Dira ke sebuah motel atas perintah Hanako di luar kota, dekat Desa Alamanda. Desa tempat Icha lahir. Di desa itulah, mereka percaya kalau sebentar lagi orang tua mereka akan dibangkitkan kembali.


"Kakak mau liat rumah lama kita, ya, Cha. Kamu jagain Dira. Jangan sampai kamu lepas ikatan dia!" titah James seraya mengusap kepala adiknya. Lalu, pemuda itu angkat kaki dan meminta sang adik untuk mengunci pintunya.


"Iya, Kak."


Icha memastikan ikatan di tangan dan kaki Dira yang tengah terbaring di atas ranjang besi itu telah kuat. Icha juga merasa lelah. Ia barengan tubuh mungilnya yang mulai bertambah kurus itu di atas sofa. Kemudian, kedua mata lentik itu terpejam.


Sementara itu, James menuju rumahnya yang lama di atas perbukitan. Dia menaiki delman menuju danau. Lalu, dia akan berjalan masuk sekitar sepuluh menit menuju sebuah rumah tua.


"Yakin turun sini, Den?" kata Pak Kusir.


"Iya, Pak. Kenapa memangnya?"


"Di sini serem, Den, banyak memedinya."


"Masa sih, Pak? Ini rumah keluarga saya, Pak. Saya mau kontrol rumah ini soalnya saya mau bersihin buat liburan," ucap James.


"Oh, gitu. Hati-hati aja ya, Den," tukasnya lalu memacu kembali kuda delman miliknya.


James hanya tersenyum seraya melambaikan tangan pada si kusir delman. Saat pindah ke kota, rumah satu lantai dengan ruang bawah tanah itu memang tidak dijual. Ayahnya menjadikan rumah itu sebagai villa peristirahatan kala mereka hendak berlibur ke Desa Alamanda.


Dikelilingi banyak pohon jati dan berbagai tumbuhan liar lainnya, lingkungan villa tersebut sangat asri. Di bagian belakangnya juga ada danau yang airnya menyegarkan. Saat Icha dan James kecil, mereka kerap mendayung perahu sampai ke tengah danau. Banyak ikan kerap menghampiri jika Icha melemparkan butiran pelet makanan untuk mereka.


James membuka pagar besi yang mulai tak kokoh itu. Bagi orang sekitar, rumah itu hanyalah villa kosong yang menyeramkan. Mereka kerap mendengar suara jeritan pria dan wanita yang merintih minta tolong. Namun belakangan ini hanya rintihan seorang wanita yang terdengar. Membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar jadi meremang.


Pintu sudah terbuka. la melangkah masuk. Dilihatnya sebuah ruangan yang cukup besar dengan dipan kosong di pojok tembok. Di satu kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan tersebut, terlihat seseorang perempuan tengah duduk dan bersenandung seraya mengusap perut yang membuncit itu.


"Nina bobo oh nina bobo, kalau tidak bobo digigit nyamuk, hihihi."


Suaranya menggema memantul dari dinding-dinding batu, membuat suasana di tempat tersebut terasa jauh lebih mencekam. Wanita berusia empat puluh tahun itu menoleh menatap James. Perempuan itu menyeringai.


"James, anakku," jawab perempuan itu dengan suara yang lebih lembut.


Raut wajahnya saat tersenyum menyeringai ditambah dengan warna mata yang putih pekat itu menyeramkan. Rambut yang terurai panjang hingga punggung itu tampak awut-awutan.


James masih menatap perempuan itu. Dia duduk dengan anggun di atas kursi tua, sementara kebaya dan kain jarak yang dia kenakan mulai lusuh. Bagian tubuh bawahnya ditutupi selimut yang terlihat menjuntai menyentuh lantai kayu, selimut kesayangan milik Icha.


James bisa melihat dengan jelas posisi duduk wanita yang merupakan ibu angkatnya itu. Dari perutnya, tampak kandungannya kini terlihat semakin besar.


"Maafkan aku, Mih. Aku terpaksa melakukan ini semua demi Icha. Aku hanya ingin menjaganya," ucap James berhenti sebentar.


Wanita itu masih menatap James dengan ekspresi melotot sembari menyeringai.


Sekarang, James bahkan tak berani melihat wajah perempuan yang terlihat berbeda dari kali terakhir ia lihat itu. Perempuan yang pernah memeluknya dengan erat, serta merengkuhnya dengan kasih sayang itu saat dia menjadi anak yatim piatu.


Lingkaran hitam di sekitar mata terlihat mencolok, diikuti kulit putih pucat dengan kuku jari yang sudah panjang. Selain itu, tubuhnya begitu kurus kering, hanya terlihat perut buncitnya saja yang dia belai terus-menerus. Sebegitu kurus tubuh wanita itu, sampai siapa pun dapat melihat tulang yang menonjol di kedua tangannya.


"Sebentar lagi anak ini akan lahir. Anak yang akan aku tumbalkan untuk Ratu Masako agar bisa kembali ke dalam tubuh Dira," lirih James.


Wanita itu tak menanggapi ucapan James. Dirinya bagaikan mayat hidup yang bahkan tak punya lagi tujuan hidup. Sejak anak tirinya merudapaksa dirinya sampai hamil, gangguan kejiwaan wanita bernama Miranda itu mulai terganggu. Ditambah melihat suaminya yang tergantung terbalik dengan luka sayatan di sekujur tubuh. Luka itu dibiarkan menganga seolah darah segar itu memang sengaja dikucurkan membasahi lantai berpola dari sekte sesat tersebut. Perlahan-lahan, Tuan Rama akhirnya meregang nyawa kehabisan darah.


Ironisnya, James datang ke tempat tersebut sebenarnya bukan sekadar untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan dosa yang pernah dia perbuat terhadap keluarganya Icha, tetapi dia justru ingin menuntaskan tugas yang diberikan kepadanya dari Hanako.


"Maafkan aku ya, Mih. Aku sayang sama papi, dan mami. Tapi, aku lebih sayang sama Icha. Aku janji akan jaga Icha dengan baik, aku akan bahagiakan dia, dan nggak boleh ada siapa pun yang bisa menyakiti Icha," ucap James.


...******...


...Bersambung dulu, ya....