
Bab 58 Pocong Baper
Hari itu pukul delapan malam, Tania mengajak Adam dan Dira menuju ke rumahnya. Fasya dan Disya juga mengikuti.
"Itu bukannya si Cindy, kenapa dia ada di rumah aku, ya?" gumam Tania.
Para remaja itu menelisik ke arah rumah Tania. Tampak ibunya Tania tengah berbincang dengan Cindy. Rupanya Sandara dan Cindy sedang membicarakan project baru tentang lagu lama milik Sandara yang akan diremake dan Cindy nyanyikan.
"Kita sembunyi dulu, mantau!" titah Dira.
Hanya Tania yang bergerak maju ke arah ibunya. Dia ingin mengamati lebih dekat.
"Tante ke dalam dulu, ya? Tante mau ambil surat kontrak pemakaian lagu itu," ucap Sandara.
"Oke, Tante." Cindy mengangguk dan tersenyum.
Tak lama kemudian, sebuah mobil yang ditumpanginya anak perempuan berusia lima tahun dan seorang pria bernama Kevin datang.
"Hai, Key!" seru Cindy.
"Hai, Tante!" Anak perempuan itu lantas berlari menuju ke dalam rumah dan berseru memanggil ibu asuhnya, yaitu Sandara.
Cindy bangkit lalu memeluk Kevin tiba-tiba dan memberi kecupan di bibir pria itu.
"Heh, nanti istriku tau!" Kevin buru-buru melepasnya.
"Habisnya aku kangen banget sama kamu," ucap Cindy.
"Ya, tapinya jangan di sini. Nanti malam jam sepuluh, temui aku di Hotel Nirmala di kamar biasanya," bisik Kevin.
"Oke." Cindy mengerling genit.
Tania sangat geram akan hal itu. Bisa-bisanya ibunya bertahan dengan pria hidung belang cap kadal buntung ini. Sandara dan anak asuhnya datang. Sudah dua tahun ini dia mengadopsi Maya untuk menjadi anak asuhnya setelah ibunya Maya, sekretaris Sandara meninggal karena kecelakaan misterius.
Kevin yang meminta Sandara untuk mengasuh Maya. Padahal, anak itu merupakan anak kandung dari Kevin dari sekretaris istrinya kala itu. Entah sudah berapa kali Kevin sering gonta-ganti pasangan dan selingkuh dari Sandara.
Cindy lalu pamit setelah segala urusan dengan Sandara selesai. Tania kembali pada Adam yang bersembunyi di taman seberang rumah Tania. Gadis ini menangis terisak karena menahan kekesalannya pada Kevin, di pelukan Adam.
"Yang sabar ya, Tania." Dira mengusap punggung pocong itu.
"Kasian banget mami aku terus-menerus disakiti sama si Kevin. Tapi mami aku sabar banget huhuhu."
"Iya iya, udah jangan nangis lagi. Nanti kita balas aja, kita kerjain si Kevin," ucap Adam.
"Terus, kamu nanti gimana?" tanya Dira.
"Aku tetap di sini. Aku mau mengamati mami dan si cunguk itu dulu," sahut Tania.
Adam dan lainnya akhirnya mengangguk setuju. Mereka pun pulang. Tania lalu melompat ke dalam rumahnya. Dia ingin sekali menakuti Kevin.
Tak lama kemudian setelah Dira dan yang lainnya pulang, sebuah sedan tua warna hijau botol memasuki kawasan komplek dan berhenti tak jauh dekat taman seberang rumah Tania. Tampak James dan Icha turun dari mobil itu bersama perempuan bertudung hitam. Mereka mengamati kediaman Sandara, si penyanyi yang terkenal itu. Sosok Mia hanya duduk menunduk di kursi belakang.
"Bersiaplah," ucap si wanita bertudung.
"Baik, Nyi." James dan Icha mengucap bersamaan.
...***...
Langit terlihat mendung dan mulai hujan rintik lalu menjadi hujan yang deras diiringi gemuruh yang menggelegar. Sandara kini sedang duduk bersama putri asuhnya di sebuah kursi goyang, menikmati malam yang dingin seraya menonton tv dari rumah bersama dengan keluarganya.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Sandara pada suaminya yang tengah bersiap-siap pergi.
"Aku diundang party sama temen aku. Paling pulang besok. Kamu sama Maya aja tidurnya!" titah Kevin.
"Hmmmm, kamu tuh nggak berubah-ubah, ya. Masih aja mikirin hidup sendiri." Sandara mengeluh.
"Ya udah, aku duduk dulu di sini main sama kalian," ucap Kevin.
Anak perempuan itu memberikan sebuah mainan barbie. Lalu, mengajak Sandara bermain. Mereka tertawa bersama-sama bersenda gurau saling berbagi cerita. Lalu kembali menatap layar televisi.
Kevin berkata dalam hati seraya mengulas senyum sembari mengusap rambut istrinya. Sebentar lagi tujuannya akan tercapai. Dirinya sudah mengurus semuanya pada pengacara dan penyanyi saingan Sandara itu.
Kevin semakin tersenyum kala dapat mengubah status dirinya yang selama ini selalu berada di bayang-bayang nama Sandara. Pernikahan ini telah mengekangnya. Dia tak sabar akan mengubah status yang dia miliki ini dengan risiko nyawa untuk anak Sandara dan putrinya yang ia ajukan sebagai tumbal.
Angin berembus lebih kencang dari biasanya, membuat Sandara menutup semua jendela. Maya tetiba ingin buang air kecil. Sandara beralih pada Kevin lalu kemesraan itu mulai tercipta. Bibir mereka bertaut saat putri kecil itu pergi.
Tanpa mereka sadari kehadiran Tania sedang sesenggukan menangis di sudut ruangan. Lalu, sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Maya yang baru keluar dari kamar mandi, berjalan gontai menuju ke arah Sandara dan Kevin yang sedang bercumbu di balik sofa.
"Ma-mi, Ma-mi…."
Suara Maya terdengar parau dan tercekat.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....