
"Jadi, ada kejadian yang terjadi tahun kemarin sebelum kita sekolah di sini. Ada satu siswa yang dinyatakan hilang sejak pagi sampai menjelang pulang, padahal tas dan perlengkapan sekolahnya masih ada di dalam kelas," ucap Icha.
"Terus dia ilang ke mana?" tanya Cindi.
"Nah itu dia, nggak ada yang tau dia ke mana. Ponsel dia aja masih ada di tasnya dia. Jadi sebelum pulang, seisi sekolah melakukan pencarian siswa yang hilang itu. Udah dicari ke setiap sudut gedung sekolah." Icha meraih sepotong pizza sejenak dan meneguk cola dalam kemasan kaleng.
"Dia diculik sama hantu baju merah?" tanya Disya yang sudah menyelamatkan sepotong pizza bagiannya dari Dira.
"Emang nggak berapa lama kemudian, si siswa hilang ditemukan. Ditemukan di dalam salah satu bilik toilet yang ada di pojok belakang itu. Dia lagi duduk diam dengan wajah pucat dan lemes banget," sahut Icha.
"Dia ketakutan sama hantu baju merah, gitu?" Adam gantian bertanya.
"Kayaknya gitu. Jadi, kalian bisa bayangkan seserem apa hantu perempuan baju merah itu. Mana bisa menculik lagi," ucap Icha.
"Perasaan nggak serem, deh," gumam Adam setelah melihat Bu Ros sedang mengintip.
"Saya nggak culik dia, kok. Orang dia ketiduran di toilet." Hantu Bu Ros berseru.
Dira, Adam, Fasya, dan Disya sontak menoleh pada hantu itu.
"Dia bilang mau ngumpet di toilet pojok situ gara-gara takut dihukum sama Pak Senja. Terus dia malah ketiduran di toilet," aku Bu Ros.
"Buahahaha." Sontak saja Dira, Adam, dan Fasya tertawa. Hanya Disya yang masih agak takut karena Bu Ros menyeramkan. Mulutnya masih mengeluarkan busa. Wajahnya pucat dengan lidah terjulur.
"Kalian kenapa ketawa? Masa aku cerita serem, kalian ketawa. Kalian nggak asik, nih!" tukas Icha.
"Bukan gitu, Ca. Ini si Adam barusan kentut," sahut Dira.
"Loh, kok gue?" Adam menunjuk dirinya sendiri. Tania yang kini menertawainya.
"Udah diem aja," bisik Dira.
"Saya mau dong pizza-nya! Saya ngidam, nih!" seru Bu Ros.
"Hmmmmm." Dira yang tak tega lantas meraih sepotong pizza lalu membawanya ke arah toilet yang di pojok.
"Dira mau ke mana? Mau ke toilet, ya? Kok, bawa pizza?" tanya Icha.
"Biar sekalian buat makan," sahut Dira berlalu begitu saja.
"Dira jorok, ih, masa makan di toilet. Lagian berani banget dia ke sana," ucap Icha.
"Lagian, ada gitu udah jadi hantu masih ngidam," lirih Adam berdecak menghina.
***
Malam makin larut, Dira dan Disya sudah terlelap kekenyangan. Sementara itu, Adam dan Fasya dimintai bantuan oleh Pak Beni memasang spanduk acara besok yang sempat putus tali ikatnya.
Cindi yang tak tahan buang air kecil, meminta Icha untuk mengantarnya ke toilet. Mereka terpaksa menuju ke toilet yang ada di pojok karena jika ke lantai atas, rasanya jadi malas ke sana.
"Buruan, Cin!" pinta Icha.
"Iya, tunggu situ bentar." Cindi masuk ke dalam bilik toilet.
Setelah Cindi selesai, ia membuka bilik toilet dan saat dia keluar dia melihat sosok perempuan berbaju merah berdiri di depan pintu. Cindi menelisik dari ujung kaki sampai ke bagian atas. Semua ciri-cirinya sama dengan yang diceritakan oleh Icha, sangat menyeramkan.
Melihat itu semua, Cindi lalu kembali masuk ke bilik toilet dan menutup pintunya, dia jadi tak berani keluar.
Setelah itu, beberapa kali dia sedikit membuka pintu untuk mengintip keluar, sosok perempuan itu ternyata masih saja berdiri di tempatnya.
"Itu beneran setan baju merah yang tadi bukan, sih? Masa sih ada setan? Terus si Icha ke mana lagi?" gumam Cindi dengan kesal.
Sementara itu, rupanya Icha sedang menangis ketakutan di depan toilet. Tania tak sengaja menampakkan diri saat jatuh di hadapan Icha karena ketakutan menginjak katak.
Tania lantas membangunkan Dira untuk menolong Icha.
"Masih di dalam, hiks hiks." Icha menunjuk ke arah dalam toilet.
"Dari tadi?" tanya Dira lagi.
"Iya hiks hiks. Kayaknya dia ketemu hantu perempuan berbaju merah yang gentayangan di toilet itu. Terus bisa aja dia pingsan," ucap Icha.
Dira menuju ke dalam toilet dan mencari Cindi. Gadis itu tengah duduk di dalam toilet duduk tersebut.
"Cindi! Kamu di mana?" tanya Dira.
Setelah yakin mendengar suara Dira. Cindi baru berani keluar.
"Kamu takut, Cin?" tanya Dira.
"Nggak, kok. Aku masih mulus tadi jadi agak lama," sahut Cindi berbohong.
"Oooo, ya udah ayo balik ke kelas!" ajak Dira.
"Eh, kalian udah denger berita terbaru, nggak?" Fasya datang dari arah depan gerbang sekolah bersama Adam.
"Kabar apa?" tanya Dira.
"Nih, ada di video tok tok lagi viral. Ditemukan sepotong kaki manusia bagian bawah sebelah kiri, di belakang wahana rumah hantu pasar malam," ucap Fasya menunjukkan layar ponselnya.
Dira meraihnya. Ia teringat dengan sosok hantu yang bertemu dengannya dan tubuhnya terpotong-potong.
"Eh, aku mau angkat telepon dulu, ya." Cindi menjauh seraya berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
"Gue jadi penasaran, kayaknya gue pengen ke sana lagi. Kali aja bisa nemuin hantunya dan bisa cerita tentang kematiannya," ucap Adam.
"Dira juga pengen ke sana, deh. Tapi, nanti kalau ketauan bunda dia bisa ngomel," sahut Dira.
"Ya, jangan bilang sama bunda, lah!" tukas Adam.
"Aku nggak ikut, ah, aku takut!" sahut Icha masih terisak.
"Dia kenapa?" tanya Fasya.
"Aku ketemu pocong, huaaaaa!" Icha makin menangis lalu berlalu duduk di bawah tiang bendera.
"Pocong?" tanya Adam.
"Pocongnya Tania," sahut Dira.
Sontak saja Adam dan Fasya tertawa. Tak lama kemudian terdengar teriakan Disya. Gadis itu berteriak karena ketakutan merasa sendirian di ruang kelas yang gelap. Dira dan yang lainnya langsung menghampiri.
"Yah, ngompol dah si Disya," gumam Fasya.
...***...
Tepat pukul dua belas malam, Adam yang duduk menghadap bagian belakang sekolah sesekali melihat beberapa ruangan kelas yang kelihatan gelap dan kosong, hanya cahaya dari lampu lorong yang menerangi dengan penerangan redup
Adam mengamati gedung sekolah yang sebenarnya masih termasuk bangunan tua, mungkin umurnya sudah beberapa puluh tahun. Meski pernah direnovasi, bangunannya sangat kuno dan klasik. Selasar memanjang di depan kelas-kelas, di atasnya ada atap yang ditunjang tiang kayu, dengan lantai berkeramik kuno.
Ketika menjelang malam, suasana lingkungan sekolah memang agak menyeramkan. Beberapa pohon juga berdiri di sekeliling lapangan, tempat favorit para kuntilanak bersenda gurau.
Pantas saja ada beberapa penampakan yang lalu lalang di depan perpustakaan, dan juga di pojok belakang ruang guru. Biarpun teduh di siang hari, tetapi seram kalau di malam hari.
Sekelebat bayangan melintas. Adam yakin melihat sosok wanita dari ruang kepala sekolah baru saja pergi.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....