POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 33. Wartawan Bernama Mia



"Maksud Mbak ini apa, ya?" tanya Dira lagi.


"Saya tahu, kok, soal hantu perempuan gaun merah. Dia pernah coba nakutin saya pas motor saya mogok di depan rumah tersangka itu," ucap Mia.


Dira mencoba menelisik lebih lekat wajah Mia. Gadis itu membetulkan posisi kacamatanya. 


"Saya juga bisa lihat pocong perempuan yang ngikutin kembaran kamu dari tadi. Saya juga tahu kalau kamu sama kembaran kamu dari tadi ngobrol sama pocong itu," ungkap Mia. 


Kali ini, penuturan Mia sukses membuat Dira menganga.


"Mbak, bisa lihat hantu?" tanya Dira.


"Tadinya nggak, tapi setelah saya diganggu sama jin bahkan dinikahi sama dia, saya jadi bisa lihat hantu," ucap Mia.


"Hah? Maksudnya Mbak ini nikah sama suaminya Kak Set?" tanya Dira. 


"Maksud kamu Kak Set itu siapa, ya?" Mia mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Itu, loh, kepala polisi yang konferensi pers tadi," tukas Dira.


"Oh, maksud kamu Pak Jin si polisi tadi? Duh, bukan dia tahu. Ini jin makhluk astral, makhluk gaib. Sebelas dua belas lah kayak genderuwo," tukas Mia.


"Oh … jin yang itu hehehe." 


"Oh iya perkenalkan nama saya Mia," ucapnya seraya mengulurkan tangan pada Dira.


"Saya Dira," ucap gadis itu menyambut uluran tangan Mia.


"Kok, aku penasaran ya kenapa Mbak bisa nikah sama jin," tukas Dira.


"Hmmmm, mau denger ceritanya?" tanyanya.


Dira menjawab dengan anggukan kepala mengiyakan.


...***...


Satu tahun yang lalu…


Mia baru saja pindah ke Kota Sura bersama suaminya. Pernikahan yang baru dijalankan selama satu bulan itu sangat harmonis. Mia mengikuti suaminya pindah karena mendapat tawaran pekerjaan yang bagus di kota itu.


Malam itu, sang suami baru saja pamit di pukul sembilan untuk menuju ke luar negeri dan mendapat tiket murah untuk keberangkatan malam. Sebenarnya, suaminya meminta Mia untuk pulang saja ke Kota Bunga, tetapi Mia malah mendapat berita bagus di Kota Lurik itu. Sehingga, Mia memilih untuk tetap tinggal. Toh, sang suami pergi hanya untuk dua hari.


Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Mia sedang menyelesaikan laporan terkini tentang berita pungutan liar berdalih sumbangan sukarela di sekolah negeri yang seharusnya gratis tanpa biaya tambahan apa pun bagi para pelajarnya. Mia masih saja belum terlelap.


Suara ketukan pintu terdengar mengejutkan perempuan itu. Mia memberanikan dirinya beranjak bangkit dari kursi kerja yang terbuat dari kulit itu. Dia hendak berjalan untuk membuka. Iris cokelat itu langsung melotot lebar saat mengintip seseorang pria yang tak asing di ingatannya dari balik tirai.


"Mas Herman?" Mia menatap tak percaya pada suaminya yang kembali lagi ke rumah sewa mereka.


Mia membukakan pintu. Pria itu tersenyum lalu mulai masuk ke dalam rumah. Dia menggunakan baju kantor dan juga tas di tangan kanannya. Mira mengamati sosok lelaki yang baru saja masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi itu. 


"Mas, kok pulang lagi?" tanya Mia.


Meskipun meragu, tetapi entah kenapa sosok Herman di matanya sangat terlihat berbeda. Kedua mata lentik wanita itu mulai berbinar-binar seketika saat melihat wajah pria yang begitu tampan dengan hidung mancung dan juga kulit kuning langsat itu.


"Aku bikin minum, ya," ucap Mia.


"Kopi pahit aja, ya," pintanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Hah, kopi pahit? Tumben banget, biasanya Mas Herman minum kopi susu," gumam Mia.


Meskipun Mia masih bertanya-tanya di dalam hati sembari membuatkan kopi pesanan pria itu. Terdengar seruan Herman yang menyuruh Mia untuk beristirahat dan wanita itu mengiyakan ucapan suaminya itu setelah dia membuat kopi.


Sedangkan Herman langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya di sana. Selang beberapa waktu kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk berwarna putih yang melilit di pinggangnya.


Tubuh Mia tersentak ketika ada sentuhan di bahunya. Herman mendekati Mia yang sedang membuat kopi. Tubuhnya hanya berbalut handuk. Pria itu lantas melempar handuk yang membalut tubuh kekarnya itu ke sembarang arah.


"Ini kopinya, Mas." Mia tak biasanya menjadi sangat kikuk.


"Makasih, sayangku," ucap pria dengan senyum menawan itu. 


Dia melemparkan senyuman yang kelihatan begitu manis sebab pria itu memiliki lesung pipi. Herman tiba-tiba menarik tangan Mia dan membawanya untuk menyentuh dada bidang itu. 


"Mas, nggak capek, kah?" tanya Mia.


Mia sampai tak berkedip melihat dada bidang suaminya yang begitu memanjakan matanya. Tubuh kekar dengan otot-otot yang ada di lengan tangannya seakan meronta-ronta hendak keluar dari tubuhnya itu membuat Mia menelan cairan saliva lebih berat. 


"Mas nggak capek, kok. Mas kangen sama kamu," tutur Herman yang lalu menyeruput kopi buatan Mia.


"Mas, awas panas–" 


Seruan Mia terhenti karena terjangan benda kenyal di bibirnya yang ********** dengan ganas. Setelah pagutan itu selesai, Mia lantas menelan kasar salivanya saat Herman berjalan menuju saklar lampu yang ada di samping pintu kamar. Dia segera menekannya. Dengan sekejap kamar itu kelihatan gelap gulita. 


Pria itu membopong tubuh Mia dan membawanya naik ke atas ranjang membuat Mia semakin gugup. Herman membuka semua kain yang menutupi tubuh indah Mia. Dengan sekejap kedua insan itu sudah polos tanpa satu helai benang pun. Herman mulai mencumbu istrinya malam itu.


Keesokan harinya, Mia mendapati suaminya telah menghilang. Ada sebuah catatan kecil di atas meja yang mengatakan kalau suaminya itu telah berangkat kerja dan akan mampir saat makan siang nanti 


Namun, keanehan mulai terjadi. Ada beberapa rekan kerja yang mulai bergunjing tentangnya. Akan tetapi, menurut Mia yang penting dia bekerja dengan baik itu sudah cukup tanpa peduli dengan apa yang dikatakan oleh banyak orang tentang dirinya. 


Mia mulai mendapat teror dari sekolah-sekolah yang namanya disebut pada berita terbarunya. Para sekolah itu bahkan menyewa preman untuk memberi efek jera pada Mia. Akan tetapi, Herman selalu berhasil para preman itu lari tunggang langgang.


Siang itu Herman menghubungi Mia. Dengan malas dia langsung menyambar ponsel tersebut. Dilihatnya nama "Si Suami Hebat" tertera di panggilan masuk tersebut. Sontak saja Mia yang tadinya merasa malas, langsung tersenyum sumringah. Wanita itu buru-buru mengangkat panggilan telepon tersebut sembari membenarkan posisi duduknya.


"Hallo Sayang,  tumben sekali kok siang hari kamu menelepon aku?" tanya Mia dengan begitu manjanya di dalam telepon.


"Sayang, aku sudah di bawah kantormu. Ayo, kita makan bersama siang ini!" ajak Herman dari dalam ponsel.


"Baiklah Sayang, tunggu aku, ya," balas Mia lagi dengan begitu manja dan panggilan telepon pun selesai. 


...*****...


...Bersambung dulu, ya....