POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 21. Bermalam di Sekolah



Pada suatu hari, James menunjuk Adam, Dira, Disya, Fasya, dan Cindi atas saran Icha, untuk menjadi panitia persiapan acara pengenalan ekstrakurikuler. Di mana acara tersebut akan menampilkan pentas seni dan pengenalan ekstrakurikuler agar para murid angkatan baru bergabung.


Dira dan lainnya akan menjadi perwakilan kelas sepuluh yang mewakili macam-macam ekstrakurikuler di sekolah. Malam itu, dua pasang anak remaja yang kembar itu terpaksa menginap di sekolah untuk mengikuti persiapan acara yang akan diadakan esok harinya. Acara tahunan itu selain menunjukkan prestasi antar ekstrakurikuler, besok juga akan berisi bazar kuliner dan pagelaran musik serta kesenian lainnya.


Sama seperti acara-acara sebelumnya panitia OSIS dan perwakilan kelas, mempersiapkan segalanya sejak jauh hari. Memastikan seluruh kegiatan akan berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Sampai ketika satu hari sebelum acara dilaksanakan, kami memutuskan untuk menginap di sekolah malam sebelum acara.


Panggung berukuran 3 x 3 meter itu sudah berdiri di lapangan basket sekolah. Ada berbagai pernak pernik bazar yang sudah terpasang rapi. James juga menyewa jasa sound sistem milik Raja dan sudah dilakukan sound check. Kedatangan Raja sontak saja membuat para siswi kegirangan.


Pocong Tania sampai sibuk menghalau. Meski tak terlihat, ia sukses membuat dorongan pada siswi-siswi yang akan mendekat dan akhirnya saling menyalahkan teman lainnya. Setelah selesai, Raja pamit. Tak lupa ia mengacak-acak rambutnya Adam dan Dira. Sontak saja, para murid jadi tahu kalau Raja kakak dari si kembar Dira dan Adam.


Setelah menyantap nasi goreng, pada pukul sembilan malam nyaris seluruh perangkat acara sudah siap. Para panitia hanya tinggal bersenda gurau menikmati malam. Duduk beramai-ramai di tengah lapangan. Mereka menikmati malam yang sangat indah dengan langit cerah bertabur bintang.


"Fas, beli gorengan, yuk!" ajak Adam.


"Kenapa lu, takut?" cibir Fasya.


"Yeeee, gue bukan takut setan kayak elu. Gue takut sama banci yang suka ngambek deket tukang gorengan," sungut Adam.


"Lah, gue juga takut, Dam, kalau sama banci itu," sahut Fasya.


"Gue minta temenin Tania aja lah!" Adam lalu pergi menuju penjual gorengan bersama Tania. 


"Orang mah minta ditemenin karena takut ketemu setan. Lah ini ada orang minta ditemenin pocong karena takut banci, ckckckc." Disya yang melihat Adam dan Tania berdecak seraya duduk di samping Fasya bersama Dira.


Saat itu ada belasan orang murid yang masih kelihatan di lingkungan sekolah. Canda tawa juga terdengar bercampur dengan percakapan seru antar mereka. Tawa nyaring Cindi dan Icha juga terdengar lantang di dalam lingkungan sekolah. Sementara waktu berjalan terus menuju tengah malam.


Seru ya nginep begini sama teman-teman. Aku seneng banget soalnya bebas ngobrol sama kalian, nggak ada guru dan orang tua di sini," tukas Icha.


"Tapi, banyak nyamuk tau!" sahut Disya.


"Eh, kakak elu sama anak OSIS yang lain mana?" tanya Fasya pada Icha.


"Kak James pulang sama anak OSIS yang lain, makanya kita yang disuruh nginep," sahut Icha.


"Hmmm, pantesan kita dijadiin panitia. Taunya kita mau ditumbalin suruh jagain ini dekorasi buat acara besok," keluh Dira.


Para murid yang menginap, lantas berkumpul dengan cara duduk di lapangan. Tepat berada di depan panggung. Dira duduk menghadap bagian belakang gedung.


Gadis itu mengamati bagian belakang sekolah. Ada sosok Bu Ros yang sedang mengintip.


Di bagian gedung paling pojok itu, ada toilet yang amat sangat jarang digunakan. Sehingga keadaannya jadi sedikit menyeramkan, kotor lembab berdebu. Pantas saja Ibu Ros betah berada di situ.


Para murid juga lebih sering menggunakan toilet yang lain, atau diam-diam menggunakan toilet guru.


Di sebelah toilet yang di pojok itu, ada rumah dinas yang tidak ditempati. Namun, bagian dapur rumah dinas itu biasa digunakan bila ada kegiatan yang ada acara memasaknya, atau untuk hanya sekadar membuat minuman panas dan mie instan para penjaga sekolah. 


Mang Diman, si penjaga sekolah lebih memilih menempati rumah dinas yang do samping kiri kantin karena lebih terang pencahayaannya. Mang Diman dan istrinya juga jadi lebih dekat jika harus menuju ke gerbang sekolah dan pos satpam.


Adam datang membawa seplastik gorengan, padahal Cindi sudah memesan dua kotak pizza berukuran besar menggunakan ojek online. Dira dan Disya bertatapan penuh pemahaman. Pantas saja Icha semangat mengajak Cindi karena dia royal dan bisa diandalkan untuk urusan traktir. 


"Hantu? Kalian percaya hantu hari gini?" cibir Cindi. 


"Emang kamu nggak percaya hantu?" tanya Dira.


Cindi menggeleng sambil tertawa dan menyantap sepotong pizza beef and cheese di tangannya. Padahal sosok Tania sudah menjulurkan lidah dan menghina Cindi di sampingnya.


"Kamu punya cerita apa? Coba cerita!" pinta Disya pada Icha.


"Nih ya, kata Kak James, toilet dan dapur yang berdampingan itu ada cerita seramnya. Kalian tau nggak kenapa toilet belakang itu sangat jarang digunakan?" tanya Icha.


Sontak saja, Fasya, Disya, Adam, Dira, dan Cindi menggelengkan kepalanya. 


"Oh iya ya, kan aku belum cerita hehehe. Mau lanjut, nggak?" tanya Icha lagi.


"Lama luh! Buru cerita!" ketus Adam.


"Ih, Adam mah gitu, nggak ada manis-manisnya sama cewek. Ya udah aku lanjut, nih. Cerita yang aku dengar dari Kak James itu, mereka pernah mendengar cerita itu juga dari kakak kelas sebelumnya, terus turun temurun dari kakak kelas sebelumnya, terus –" 


"Terue terusan terus lagi, gue sumpel mulut elu pakai kardus pizza!" ancam Adam.


"Adam!" Dira menatap tajam pada Adam.


"Kesel gue, Ra. Dia mau niat cerita apa ngelawak," cibir Adam. 


"Iya iya, ini aku lanjut cerita. Katanya, dulu banyak siswa yang sering melihat penampakan hantu perempuan berbaju merah. Penampakannya nggak selalu malam, siang hari pun kadang hantu itu muncul. Penampakannya nyaris selalu di dekat toilet itu," ucap Icha.


Adam, Dira, Fasya, Disya dan Tania saling menatap. Pasalnya mereka tahu hantu perempuan berpakaian serba merah itu adalah Bu Ros. Tepat di hari kematiannya, Bu Ros sedang menggunakan pakaian jas dan rok warna merah dengan motif garis vertikal warna putih.


"Terus lanjutannya, gimana?" tanya Disya.


"Bu Ros aja aku panggil ke sini. Biar kita dengarkan cerita langsung dari narasumber, gimana?" Tania buka suara.


"Yang ada nanti pada takut kalau dia ke sini," sahut Adam dengan spontan.


"Adam ngomong sama siapa?" tanya Icha. Ia dan Cindi menatap aneh pada Adam.


"Kamu, sih," bisik Dira di samping Adam.


"Gue lupa," sahut Adam.


"Lanjut lagi aja ceritanya, Cha!" Fasya berusaha mengalihkan pembicaraan agar Icha melanjutkan cerita horornya.


"Oke deh, nih kalian semua dengerin, ya."  Icha tersenyum menyeringai seolah ingin menakuti dengan cerita seramnya.


...*****...


...Lanjutannya besok, ya…...