
Bab 70 Pocong Baper
"Tapi kita ngikutin GPS lewat sini loh sampai masuk hutan," sahut Anan.
"Keluarga Mahardika sudah lama meninggalkan villa itu setelah peristiwa aneh yang merenggut setengah keturunannya," tuturnya.
"Nama kamu siapa? Kamu penunggu hutan ini?" tanya Anta.
"Namaku Wiro, anak genderuwo penunggu hutan ini," jawabnya.
"Anak kingkong kali, luh," celetuk Arya.
"Arya!" seru Anta.
"Lah emang dia berat, Yang. Berat banget sumpah kayak bawa anak kingkong, mana bau lagi!" sahut Arya.
"Arya! Jaga ucapan kamu!" tukas Anan.
"Iya, Yanda, maaf ya." Arya bersembunyi di belakang tubuh Anta.
Sosok Wiro lalu mendekat ke arah Arya sembari menyeringai.
"Kakak itu mirip sama saya, makanya saya suka digendong kakak," ucap Wiro.
Sontak saja semuanya sampai tertawa terbahak-bahak. Apalagi Raja yanv tertawa sangat puas.
"Berarti gantengan gue sama elu makanya dia pilih gue," ucap Arya seraya menepuk kepala Raja.
"Kalau gantengnya disamain sama dia mah, aku ogah, Kak." Raja kembali tertawa.
Dita lantas meminta keduanya diam. Dan setelah jeda keheningan yang panjang di antara mereka tercipta untuk menyimak pada Dita, Anta akhirnya mengatakan dengan suara yang lirih, "ada apa, Bunda?"
"Kayaknya Bunda denger ada yang manggil Wiro," ucap Dita.
"Oh, itu mami aku. Pasti nyuruh aku pulang deh buat makan," sahut Wiro.
"Genderuwo manggil mami, sok elit luh!" tutur Arya.
"Eh, kalau kamu berani menghina mami aku, kamu pasti sudah mati di tangan mami," ucap Wiro.
"Mami kamu yang mulutnya nganga lebar, bukan?" tanya Anta.
"Bukanlah! Mami aku cantik kayak aku. Kalau yang mulut lebar itu mah Lisa, dia emang suka bikin manusia tersesat selamanya di hutan sini," ucap Wiro.
"Cakep amat nama hantunya Lisa," celetuk Anan.
Dita lantas menahan Anan dan Arya agar jangan lagi mencibir.
"Jadi, kamu bisa antar kami ke Villa Mahardika?" tanya Dita.
"Bisa. Kalian tuh harusnya lewat barat. Ada gerbang masuk di sana," ucap Wiro.
"Tapi bukannya di map dibilang buntu nggak ada jalan?" tanya Anan.
"Karena warga takut sama villa itu makanya ditutup dan dibilang buntu. Siapa pun yang masuk situ pasti hilang. Mereka dihabisi buat tumbal," tukas Wiro yang berjalan mendahului.
"Kamu nggak mau izin sama mami kamu dulu? Nanti kamu dicariin loh. Saya takut kamu dikira diculik sama kita," ucap Dita.
"Kampret! Dia bisa lari gitu ngapain tadi minta gendong," sungut Arya.
"Kan tadi dia bilang kamu mirip sama dia, hahahaha," sahut Anan.
"Sial! Untung mertua sendiri," keluh Arya.
Anta hanya bisa menepuk punggung suaminya agar tetap tenang menghadapi cibiran Anan dan Raja.
...***...
Tak lama kemudian, Wiro dan rombongan keluarga Prayoga sampai di sebuah villa. Untungnya, James sedang mengantar Hanako menuju sebuah tempat pertemuan dengan para pengikut baru yang sudah direkrut dan siap bergabung.
Icha yang berpura-pura kembali tak tahu tentang kejadian yang menimpa ayah dan ibunya serta kejahatan James, diminta untuk tetap di villa menjaga Dira dan Mia. Tubuh Mia tengah terbaring terikat dan dipersiapkan untuk bangun nanti malam bersama sosok Yagi untuk menghabisi satu keluarga sebelum melakukan ritual dengan tubuh Dira.
"Sepertinya, aku tak merasakan hawa makhluk lain di sini. Apa penghuninya sedang pergi?" tanya Ratu Sanca.
"Ada penghuni lain, kok. Coba rasakan lagi," ucap Wiro.
"Ini aura tubuh Dira dan manusia lainnya," tukas Ratu Sanca.
"Mungkin itu si Icha," sahut Dita.
Anan lalu mendorong pintu gerbang kayu, melangkah menyusuri jalan setapak memasuki Villa Mahardika. Tidak ada yang mengurus tempat ini setelah tragedi sinting itu menurut penuturan Wiro.
Menurut makhluk yang menyerupai anak kingkong itu, ada pembantaian yang terjadi ketika pesta pernikahan adiknya Tuan Mahardika berlangsung. Semenjak itu, keluarga itu tinggal di kota dan tak pernah berkunjung kenbali.
Namun, setahun belakangan ini ada yang kembali menempati villa tersebut. Hanya saja, semua tampak misterius. Ada suara jeritan dan teriakan. Ada tangisan juga yang membuat para warga merinding ketakutan ketika melintasi tempat ini. Pelh karena itu, penduduk setempat menutup akses jalan ke villa tersebut.
"Kamu pernah coba periksa ke dalam sini?" tanya Anta.
"Nggak boleh sama mami. Kata mami aku ada makhluk yang kuat yang menunggu tempat ini baru-baru ini. Mami aja takut," jawab Wiro.
"Lalu, kenapa kamu ikut masuk ke sini?" tanya Dita.
"Aku penasaran mau ikut kalian. Baru ini aku lihat manusia manusia pemberani seperti kalian. Bahkan kalian punya penjaga ratu ular," ucap Wiro yang sesekali menoleh pada Ratu Sanca.
Akhirnya mereka sampai di halaman depan di mana rumput yang ada di tempat dulu Wiro pernah bermain dengan hantu sekitar yang sebagian dihuni oleh anak-anak calon tuyul, telah kering kelontang. Sejenak, Wiro terdiam seakan menghirup udara yang sudah lama tidak pernah dia rasakan.
"Dulu, keluarga Mahardika banyak piara tuyul buat dijual. Aku sering main ke sini buat main sama mereka, hehehe," ucap Wiro.
"Hooo, kelam juga ya tuh keluarga Mahardika," ucap Anta.
"Kayaknya itu keluarganya Icha, kan? Temennya si Dira yang ngasih tau tempat ini," tutur Raja.
"Bunda pikir juga gitu," sahut Dita.
Wiro lalu berujar dengan suara yang lekat, "Kediaman ini mati setelah kutukan itu ditancapkan di tanahnya. Setelah mami aku bilang ada makhluk lain yang menguasai tempat ini."
"Makhluk lain?" tanya Dita.
"Dia benar. Aku merasakan aura makhluk lain mulai bangkit. Aku merasa dia merupakan … Yagi," ucap Ratu Sanca.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....