
Sontak saja Jin meminta semuanya menunduk. Sepasang suami istri keji itu lantas kabur meninggalkan rumah mereka. Tanpa ragu lagi, Jin segera melayangkan tembakan ke arah Brian. Lubang di punggungnya membuat pria itu tersungkur.
Jane langsung berlari tetapi dua anak buah Jin berhasil menembak kaki wanita itu. Dira dan Adam bergegas menolong Fasya. Pemuda itu tertembak di bagian perut kirinya. Sontak saja, Jin segera menghubungi ambulans.
"Gue nggak apa-apa, kok. Kalian tolong Disya aja," lirih Fasya.
"Disya nggak apa-apa, Fas. Dia udah siuman tuh. Justru luka elu lebih bahaya dari Disya," ungkap Adam.
Sementara itu, Dira sudah menangis sesenggukan. Fasya mengusap pipi gadis itu.
"Gue nggak apa-apa, Ra," lirihnya lalu menutup mata.
"Fasya!" Dira mengguncang tubuh pemuda itu karena mengira Fasya sudah menemui ajalnya.
"Sakit, Ra! Jangan kenceng-kenceng!" pekik Fasya.
"Masih aja bercanda, Luh! Udah jangan buat kita khawatir!" pekik Adam.
Lalu dia menoleh pada Jin.
"Kak, ambulans-nya suruh buruan! Kita butuh bantuan, nih!" seru Adam.
"Iya, Dam, ini lagi diusahakan biar mereka cepetan sampai sini," ucap Jin seraya meringis menahan sakit di kepalanya.
"Aku cek Disya dulu, Tania kamu jagain Fasya, nih," ucap Dira.
Pocong baper itu sudah memperlihatkan wajah cemas sedari tadi. Ia tampak ketakutan. Adam sampai tak habis pikir dengan mengomelinya sedari tadi.
"Disya, kamu udah sadar, kan? Disya bangun!" Dira menepuk pipi Disya dengan pelan untuk menyadarkan gadis itu dari pingsannya.
"Ra, kamu nggak apa-apa, kan?" Disya lantas memeluk Dira dengan erat seraya menangis.
"Aku nggak apa-apa. Kamu juga nggak apa-apa, kan?" tanya Dira.
"Nggak apa-apa, Ra. Tapi kepala aku pusing," ucapnya.
Gadis itu lalu menangkap tubuh Fasya yang sudah terbaring lemah. Kali ini Fasya tak sadarkan diri seiring banyak darah yang terus mengalir. Jin berusaha menahan kuat luka di perut Fasya untuk menghentikan tekanan darahnya.
"Fasya kenapa, Ra? Dia nggak apa-apa, kan?" tanya Disya mulai panik dan menghampiri kembarannya.
"Dia pasti nggak apa-apa. Dira yakin Fasya kuat," tukas Dira meskipun raut wajahnya tak bisa berbohong. Dira sangat cemas akan keadaan Fasya.
Sementara itu, Adam melihat sosok Jane yang tangannya sudah diborgol ke belakang. Tania mengikutinya setelah Fasya sudah berada di tangan Disya dan Dira.
Adam memastikan kondisi Brian yang ternyata sudah tak bernyawa. Para makhluk astra yang rata-rata anak-anak itu mulai bermunculan. Tubuh mereka banyak yang terlihat tak utuh. Beberapa dalam kondisi tubuh hancur dan masih bersimbah darah.
Sosok hantu bergaun merah juga muncul. Dia mendekat ke arah Brian dan memukulinya. Ia juga menginjak tubuh Brian berkali-kali. Sementara itu, Tania menghampiri sosok Jane. Dengan gemas Tania memukul wajah Jane.
"Ampun tolong hentikan! Ampun sakit!" Jane terus menjerit. Dia mencoba melindungi wajahnya dari pukulan Tania yang tak kasat mata dengan bahunya.
"Kok, dia bisa ketakutan gitu? Terus pipinya pada merah siapa yang pukul?" Salah satu anak buahnya Jin berbisik dengan rekannya.
"Gue juga nggak tahu kenapa bisa begitu. Jangan-jangan dipukulin setan," bisiknya.
"Ah, hari gini masih percaya setan! Tahayul aja luh," jawab rekan lainnya dengan nada berbisik juga.
Sontak saja arwah Brian keluar dari tubuhnya. Ia melihat bingung ke arah dirinya yang tampak seperti hologram.
"Ada apa dengan ku? Kenapa aku begini?" pekik Brian.
"Maria? Ke-kenapa, kenapa kau ada di sini?" tanyanya.
"Aku menjemput mu, Tuan. Lihat, di sana banyak anak yang sedang merindukanmu!" Maria menunjuk ke arah para hantu anak kecil korban kekejaman Brian dan Jane.
Mereka makin mendekat dan mengepung Brian.
"Jangan dekati aku! Pergi kalian!" seru Brian ketakutan.
Dia bahkan meminta tolong pada Jane, tetapi istrinya itu tak dapat melihatnya. Jane malah sibuk ketakutan karena dipukuli oleh sesuatu yang tak bisa dia lihat.
"Hentikan! Jangan pukul istriku!" pinta Brian.
"Bodo amat! Aku nggak peduli! Teman-teman, bawa pria brengsek ini ke tempat kalian!" seru Tania.
"Dia emang pantes di gituin," ucap Adam.
"Hajar dia teman-teman! Jangan kasih ampun! Kalian bisa tarik dan tendang dia, pokoknya hajar aja dia, Maria. Kalian habisi saja bajingan itu," pekik Tania.
"Dia kan udah habis, udah game over," bisik Adam.
"Oh iya lupa."
Maria menuruti Tania. Hantu bergaun merah itu mengangkat gaunnya sedikit, lalu menendang tubuh Brian dengan kesalnya.
"Makan nih akibatnya! Rasakan ini karena kamu aku sampai mati begini, rasakan ini hiaaaat!" pekik Maria.
Sontak saja para hantu anak-anak itu ikut serta memukuli Brian. Lalu, mereka menarik tangan dan kaki Brian. Mereka lantas menyiksa Brian sampai puas dan menghilang ke ruang bawah tanah. Mungkin saja sudah kembali ke alam mereka, begitu pikir Adam. Hantu Maria lantas meminta maaf pada Adam dan lainnya karena kerap bergentayangan di sekolah. Kini, dia sudah tenang dan akhirnya pamit.
"Makasih ya semuanya. Saya mau pamit dulu," ucap Maria lalu memeluk Tania.
"Iya Maria, selamat jalan, ya," ucap Tania.
"Kamu belum mau pergi?" tanya Maria.
"Kayaknya aku belum bisa pergi. Bu Ros bilang aku meninggal bukan karena kecelakaan, tetapi ada yang sengaja membunuhku atau menumbalkanku. Makanya aku penasaran siapa yang buat aku mati begini," ucap Tania.
"Baiklah kalau begitu. Jadilah hantu yang lebih baik dan berguna lagi, ya," tukas Maria lalu pamit.
"Tuh, dengerin Tan! Eh, emang iya Bu Ros pernah bilang gitu?" bisik Adam.
"Iya, pernah." Tania mengangguk.
"Dah semuanya!" Maria dan hantu anak-anak itu melambai pada Adam dan lainnya. Mereka menghilang ke dalam sinar terang di ujung sana tepat di dekat ruang bawah tanah.
Tak lama kemudian, beberapa mobil polisi dan ambulans datang ke rumah Brian dan Jane. Mereka menangkap Jane yang sudah tak sadarkan diri habis dipukuli Tania.
Sementara itu, Disya dan Jin sudah ditangani oleh pihak medis. Tubuh Fasya juga sudah diangkat menuju ke dalam mobil ambulans. Dia akan segera dibawa ke Rumah Sakit Keluarga.
Ponsel Jin berbunyi, Dita dan Anan menghubunginya. Mereka sudah tahu semuanya dari berita terkini yang tengah meliput kejadian di rumah tersebut. Sementara itu, Herdi sibuk mengipasi Tasya yang tengah tak sadarkan diri saat mengetahui keadaan Disya dan Fasya.
Seperti biasa, bukan hanya Jin, tetapi Adam dan Dira juga terkena omelan yang panjang dari bundanya. Kini, mereka hanya bisa berdoa semoga keadaan Fasya baik-baik saja.
Dira masuk ke dalam mobil ambulans bersama Disya menuju ke rumah sakit menemani Fasya. Sementara, Adam masuk ke dalam mobil Jin mengawal ambulans ke rumah sakit setelah luka di kepala Jin sudah diobati pihak medis.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....