
Bab 69 Pocong Baper
"Tolongin aku, Bunda, hiks hiks hiks," ucapnya. Gadis itu benar-benar terlihat lemah di hadapan Dita.
Anan ingin sekali memeluk tubuh sang putri yang semakin tak bertenaga, begitu pun dengan semuanya. Anan bahkan sudah bersiap mengangkat kedua tangannya, siap-siap untuk memeluk putrinya nya, sebelum tiba-tiba Dita menahan tangan suaminya.
"Dia dia bukan Dira, Yanda," bisik Dita.
"Maksudnya Bunda?" Anan mengernyit.
"Ingat kata Ratu Sanca, hutan ini banyak penipu yang mencoba menipu kita," sahut Dita.
Seketika Anan tersadar. Anta lantas berseru keras seraya menunjuk.
"WOI! BERANINYA KAMU TIRU ADIKNYA ANTA!"
Anta lantas menghampiri sosok yang mirip dengan Dira dan menjambaknya. Dia menyeret sosok itu dan membenturkannya ke batang pohon jati dengan kencang.
"Ouch! Pasti sakit tuh, Kak," bisik Raja di samping Arya.
"Tau kan gimana kalau Anta lagi ngamuk?" Arya sampai menggeleng kepalanya berkali-kali.
"Taulah, makanya situ masuk dalam kumpulan suami suami takut istri, hahaha. Sama ama Yanda, tuh," bisik Raja.
"Oh, gitu. Maksud elu apa ya, Ja? Mau gue panggilin Yanda dan kasih tau ke dia, hah? Yand–"
Raja langsung membekap mulut Arya. Dita, Anan, dan Anta sampai menoleh ke arah keduanya.
"Bukan apa-apa, kok. Eh, coba lihat itu yang mirip Dira tadi ngilang!" tunjuk Raja.
Anta tersadar sosok yang ingin dia aniaya tadi menghilang. Namun, tiba-tiba sosok lainnya datang. Ratu Sanca meminta mereka untuk waspada. Dita jadi tersadar jika mereka tengah dihadapkan oleh sosok makhluk yang mendekat dengan mulut yang terbuka lebar. Makhluk itu menjerit begitu keras di hadapan Dita sebelum terbang menghilang, lenyap di dalam kegelapan hutan. Makhluk itu tak dapat menyerang Dita.
"Bunda, nggak apa-apa, kan?" tanya Anan yang sudah kepalang panik.
"Aku nggak apa-apa, Yanda." Dita menghela napas panjang.
Yanda meminta yang lainnya untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, selang waktu kemudian, Raja dan Arya sampai termangu sebentar, mereka mendengar bisikan. Keduanya saling melihat satu sama lain. Mereka tidak tahu suara siapa yang baru saja mereka dengar. Keduanya menyadari bahwa mereka telah terpisah jauh dengan rombongan lainnya.
"Haduh, elu sih pake ngajak berhenti," sungut Arya.
"Aku kepo tadi siapa yang manggil, kirain si Adam nyusul," sahut Raja.
"Ya kali si Adam nyusul! Udah pasti itu setan, Ja!" tukas Arya.
"Ya udah ayo buruan susul Yanda!" ajak Raja yang jalan mendahului Arya.
Saat kedua pria tampan itu melangkah maju untuk menyusul, tiba-tiba terjulur tangan pucat dengan kuku yang tajam muncul di samping kepala Arya.
Kuku tajam itu menunjuk ke arah sesuatu. Raja menoleh dan akhirnya tahu. Ada sosok yang saat ini tengah Arya gendong di punggungnya. Makhluk hitam itu memberi gestur penunjuk jalan di mana Arya harus melangkah maju.
"Anak kingkong kayaknya mau ngasih tau jalan," ucap Raja.
Sekilas, sosok yang menempel di punggung Arya memang mirip gorila dengan ukuran cebol. Arya sampai perlahan menoleh ke wajah sosok yang wajahnya menyerupai wajah anak kecil tetapi bersimbah darah dan penuh luka borok. Tubuh sosok itu memiliki rambut tebal seperti gorila.
"Ya Allah serem amat ini bocah! Elu ngapain, sih, pakek minta gendong sama gue?" sungut Arya yang mencoba melepaskan diri dari makhluk itu tetapi tak bisa.
Sosok menyeramkan itu malah tertawa cekikikan menanggapi Arya.
"Kayaknya dia mau nolong kita," ucap Raja.
"Tapi gue pegel gendong dia, Ja! Elu aja nih yang gendong!" tukas Arya.
"Dia milih kamu, Kak, bukan aku!" Raja menahan tawanya.
Akhirnya, Arya terpaksa mengikuti arahan sosok itu. Mereka menyusuri sepanjang jalan setapak tanah hutan. Benar saja, Raja melihat cahaya senter yang menunggu dirinya. Yanda Anan tengah menatap kepada Arya dan Raja dengan ekspresi wajah yang dingin seraya berkacak pinggang.
"Kalian itu pada ngapain, sih? Udah lama banget ditungguinnya. Bukannya nyari Dira yang bener malah ngajak main anak jin," keluh Anan.
"Yeeee, ini gara-gara si Raja denger suara Adam, taunya suara setan. Lagian ini anak Jin nempel sendiri Yanda, dia ngikutin kita," sahut Arya.
"Hahaha, lucu banget kan anak jin ini. Mana dia kasih tau jalan tadi buag kita," sahut Raja.
"Tapi gue pegel, Ja!" seru Arya dengan kesal.
"Ya ampun, kasian amat sih suamiku. Hayo, adek gemes turun dari Om Arya!" pinta Anta mendekat.
Namun, sosok astral yang diduga anak Jin itu tak menggubris kata-kata permintaan Anta.
Dita akhirnya berjalan mendekat lalu bertanya, "kamu tahu tempat anak saya diculik?"
Sosok itu mengangguk.
"Berapa lama lagi jalan yang harus kami tempuh?" tanya Dita lagi.
Kali ini dia bertanya sembari menepuk bahu Arya. Sosok itu akhirnya turun dari punggung Arya. Sontak saja Arya langsung meregangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal setelah merasakan bagai memikul satu karung beras.
"Kalian mau ke Villa Mahardika? Harusnya jangan lewat sini," ucap sosok itu.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....