
"Mungkin hantu di kantor ini butuh hiburan juga," celetuk Mia seraya bergidik.
"Tapi ada yang lebih serem lagi dibandingkan hantu dalam toilet. Kalau soal hantu yang seram sih, tepat di samping kantor Mbak Mia yang di lantai bawah sini, ada sebuah ruangan kosong yang selalu digunakan untuk meeting besar atau seminar," ucap Mang Udin.
"Maksud kamu ruangan yang seperti kafe itu?" tanya Mia.
Udin menjawab dengan anggukan kepala.
"Kan, kalau sedang tak digunakan untuk meeting, biasanya dipakai untuk tempat makan. Pas banget di situ juga ada dapur kecil, Nah, di sana ternyata ada penunggu Buto Ijo, yang suka mengganggu karyawan yang berkata kotor di tempat itu. Bahkan pernah beberapa kali ada karyawan yang kesurupan, karena si Buto tak suka dengan sikap karyawan yang suka berkata kotor."
"Jadi, di sini banyak hantu gitu?" tanya Mia.
"Iya jelas, Mbak. Ada lagi, nih, cerita Ibu Fifi yang jadi satpam lantai bawah. Dia itu dikenal sebagai karyawan perempuan tangguh dan kuat soalnya dia sanggup bekerja lembur terus," ucap Mang Udin yang menyukai cerita horor itu.
"Oh, saya tau Ibu Fifi yang katanya pemberani karena sering menginap di kantor dan ambil shift malam, kan?" tanya Mia.
"Nah, bener tuh, Mbak. Waktu itu kan saya bilang ke Bu Fifi supaya hati-hati, karena di sini ada hantu yang suka mengganggu. Eh, Bu Fifi cuma tersenyum sambil terus berkeliling."
"Terus?" tanya Mia.
"Ya, saya ke ruangan satpam ikut jaga aja dari pada saya takut bersih-bersih jam malam di lantai bawah. Nah, katanya pukul dua pagi, Bu Fifi mulai mengantuk lalu mencoba untuk tidur di ruang UKS. Pas lagi duduk di bangsal, tiba-tiba dia merasa merinding dan saat menoleh, dia melihat ada satu keluarga yang kata dia mukanya rusak ditambah ada hantu perempuan daster putih," ucap Mang Udin mulai bergidik takut seraya menengok ke kanan dan kirinya.
"Serius, Mang? Terus si Bu Fifi bagaimana habis lihat itu?" tanya Mia yang terlihat sangat penasaran.
"Dia langsung lari sambil marah-marah. Terus habis itu dia nggak mau shift malam lagi," sahut Mang Udin.
"Duh, seram juga, ya." Mia merasa bergidik ngeri. Bulu kuduknya mulai meremang. Namun, tiba-tiba saja dia menampar pipi Mang Udin.
"Aduh! Kok, saya ditampar, Mbak?" tanyanya.
"Mau mastiin aja kalau Mang Udin itu manusia, hehehe."
"Saya jelas manusia, Mbak! Duh, sakit banget lagi tamparannya." Mang Udin mengeluh seraya mengusap pipinya.
"Maaf deh, Mang." Mia terkekeh.
Seorang rekan kerja Mia yang bernama Bayu datang menghampirinya.
"Kenapa, Yu?" tanya Mia seraya merapikan berkas-berkas kerja miliknya.
"Ponsel kamu mati, ya?" tanya Bayu.
"Sebentar, deh." Mia meraih tas dan memeriksa ke dalam. Ponsel pintar miliknya ada di sana. Dan benar saja, Ponsel itu dalam keadaan lowbat. Dia kembali bertanya pada Bayu.
"Memangnya kenapa, Yu?" tanya Mia lagi.
"Kamu belum liat berita terbaru, ya?" tanya Bayu.
Bayu lantas menyalakan layar televisi di ruangan tersebut.
"Pemirsa TV8 News, Pesawat Boeing 212 dengan rute Indonesia ke London dipastikan jatuh di sekitar perairan dekat Laut Dalam. Insiden tersebut mengingatkan kembali pada kecelakaan pesawat komersial Boeing 313 yang jatuh ke laut dan menjadi sorotan global. Pemerintah masih mengupayakan usaha pencarian meskipun rasanya sulit ditemukan. Bahkan, sudah banyak keluarga penumpang yang harus merelakan kepergian anggotanya karena bangkai pesawat tak dapat ditemukan juga sampai saat ini. Sebelum terjadi kecelakaan nahas tersebut, Pilot Zakaria mengirimkan izin lewat radio untuk belok akibat cuaca buruk, namun tidak ada peringatan mayday yang dikeluarkan. Ada 162 penumpang dan awak pesawat dalam penerbangan tersebut yang telah dinyatakan tewas," ucap sang pembawa acara berita terkini kala itu.
Bayu menunjukkan nama suami dari Mia, Herman Suganda. Pria itu masuk dalam daftar nama penumpang. Sontak saja Mia berusaha menghubungi nomor suaminya tetapi tidak aktif.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Yu? Barusan aku makan siang sama Mas Herman. Semalam dia juga pulang karena katanya tidak jadi berangkat," ucap Mia.
Bayu menatap lekat pada rekan kerjanya seraya terperanjat.
"Jangan bercanda, deh. Jelas-jelas suami kamu ada di daftar penumpang, Mia. Gini aja, deh, sebaiknya kita ke posko buat tau kelanjutannya lebih dalam," tutur Bayu.
Untuk memastikan kabar kecelakaan dan kebenaran tentang daftar penumpang tersebut, Bayu mengajak Mia mengunjungi posko darurat Boeing 212. Mia setuju dan menurutinya.
...***...
Malam itu di posko darurat, Mia bertemu dengan adiknya Herman. Dia baru saja dihubungi oleh pihak kantor tempat Herman bekerja. Yugi diminta menghubungi Mia untuk memberitahukan mengenai mobil Herman yang masih diparkir di garasi kantor.
Akhirnya, Mia mengizinkan Yugi untuk mengambil mobil itu. Toh, Yugi ternyata punya kunci serep mobil kesayangan Herman yang seminggu lalu diberikan seolah Herman ingin Yugi menjaganya dengan baik. Namun, alasan Herman memberikan kunci itu karena berniat untuk mengganti mobil.
Yugi membawa Mia pulang ke rumah orang tua Herman untuk melakukan tahlilan. Meskipun berat, tetapi Yugi, adiknya Herman, memutuskan untuk memberitahukan pada orang tuanya kalau Herman tidak mungkin ditemukan selamat. Apalagi ada saksi mata yang melihat pesawat tersebut meledak sebelum jatuh ke perairan Laut Dalam.
Banyak karangan bunga yang sudah hadir dari rekan kerja dan perusahaan tempat Herman bekerja sebagai ungkapan bela sungkawa. Jarak dari rumahnya dan rumah orang tua Herman kebetulan tidak jauh sekitar dua kilometer saja. Mia memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Sebaiknya kamu nginep di sini aja, Mia. Nanti ibu sama kakakmu juga ke sini. Mereka sedang dalam perjalanan kan naik kereta," ucap sang ibu mertua.
"Mia mau ambil pakaian ganti dulu, Bu, nanti Mia nginep di sini, kok," ucapnya.
"Biar diantar sama Yugi, ya."
"Iya, Bu, boleh kalau gitu." Mia mengangguk.
Dia bersama sang adik ipar pergi ke rumahnya mengendarai sedan baleno warna biru. Selama di perjalanan, keduanya hanya terdiam. Pemuda berusia dua puluh tahun itu memang memiliki sifat pendiam dan pemuda yang introvert. Selalu saja Mia yang buka suara lebih dulu untuk memulai perbincangan. Namun, malam itu hati Mia sedang sedih. Dia masih berharap semuanya hanya mimpi dan Mas Herman benar-benar masih hidup dan ada bersamanya sejak kemarin.
"Tunggu di sini dulu ya, Gi. Aku ambil baju dan perlengkapan lainnya dulu," pinta Mia saat sampai di halaman depan rumahnya.
"Iya, Mbak." Yugi mengangguk dan masih nyaman di atas kursi kemudi itu.
Pria itu menyalakan sebatang rokok mild miliknya saat melihat sang kakak ipar masuk ke dalam. Namun, kedua matanya terbelalak saat melihat bayangan seorang pria di balik jendela kala Mia masuk dan menyalakan lampu. Yugi mematikan api rokoknya lalu turun dari mobil.
...******...
...Bersambung dulu, ya....