POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 43 - Di Cinema 22



"Oke, oke. Mia minta gue buat kasih izin dia ke TKP," jawab Jo.


"Kenapa elu kasih, Jo?"


"Ya, gue pikir dia wartawan yang bijak dan bisa buat berita bener."


"Tapi, itu kan nggak boleh sembarangan di up media. Kenapa elu–"


"Nyatanya dia nggak up berita itu, kan?" Joshua balik menuding.


"Karena Mia hilang! Pasti masih ada yang elu sembunyikan lagi, kan?" tuduh Jin.


"Beneran, Jin, nggak ada yang gue sembunyikan. Gue juga udah suruh anak buah buat cari tapi nggak ketemu. Mungkin aja dia pergi ke mana gitu," sungut Joshua.


"Pergi dengan ninggalin mobilnya? Nggak mungkin, Jo."


"Pokoknya gue nggak ada hubungan sama hilangnya Mia, titik!" Joshua lantas pergi begitu saja meninggalkan Jin yang masih larut dalam pikirannya.


Joshua menuju ke rumah sakit untuk menemani istrinya operasi. Namun, Miyako tak ada di sana. Dengan segera Joshua menghubungi istrinya yang ternyata sudah duduk manis di rumah. Perutnya juga kempes seperti sedia kala. Bahkan saat Joshua pulang, Miyako tampak semakin cantik dengan kulit bersinar dan terlihat kencang.


***


Hei, Tommy. Kau mau pergi menonton dengan kami?" tanya Diana.


"Hmmm boleh juga, kapan?" tanya Tommy.


"Malam ini, kau mau ikut?" tanya Diana.


"Wah boleh juga," sahut Tommy.


"Eh tapi kita akan membawa pasangan, sebaiknya kau bawa si anak baru itu, siapa namanya duh... Jessie. Kau ajak saja si Jessie," ucap Diana.


"Aku, ajak Jessie? Hmmm coba nanti aku akan mengajak dia," ucap Tommy.


...***...


Dira sedang membantu ibunya menyiapkan makan malam. Hari itu, Dita sengaja memasak steak daging lengkap dengan kentang goreng, dan potongan dadu sayuran jagung dan wortel di piringnya.


Adam melangkah masuk ke area dapur untuk menemui Dira. Pemuda itu menanyakan pada adiknya tentang kado yang akan mereka berikan pada Icha.


"Emangnya kamu belum beli? Dira sih udah ada dompet lucu buat Icha," tukas Dira.


"Gue lagi repot banget ngurus eksul band baru sama Fasya sampe lupa diundang ultah sama Icha. Enaknya kasih apa, ya?" gumam Adam.


Dita memperhatikan gerak-gerik para buah hatinya dengan saksama. Kedua telinga dan sepasang mata miliknya menyimak seraya mengiris bawang bombay di meja dapur seberang Dira dan Adam.


"Bunda nggak usah memperhatikan aku kayak gitu, deh. Icha bukan temen spesial aku, kok," sahut Adam.


Dita membalasnya dengan tawa kecil di wajahnya. Rupanya Adam paham kalau ibunya sedang mencuri dengar dan mengira Icha pacarnya Adam.


"Kalian mau pesta ultah di mana?" tanya Dita.


"Diajak nonton sama makan di Mall Kota," sahut Dira.


"Oh begitu. Asek deh jadinya Bunda bisa pacaran lagi sama Yanda nonton film di rumah pakai proyektor," ucap Dita.


"Bunda, bantuin dong kasih kado apa nih buat Icha?" tanya Adam.


Tatapan mata sang bunda itu mulai menajam mencari jawaban Adam yang malah kikuk menundukkan kepalanya.


"Kadoin barbie aja apa mainan masak-masakan," sahut Dita terkekeh.


"Bunda, please deh!" Adam merajuk.


"Kasih boneka teddy bear aja, Dam. Beli di toko kado yang mau ke arah pasar," ucap Dita.


"Ya udah deh. Aku ke sana dulu beli kado," sahut Adam.


"Eh, tapi Bunda udah bikin steak ini siapa yang makan?" tanya Dita.


"Kita tetep makan, Bunda. Nanti jam tujuh baru on the way ke Mall Kota. Soalnya Icha ngajakin nonton midnight," sahut Dira.


"Tapi, jam sepuluh harus udah pulang, loh. Nanti yanda kalian marah," ancam Dita.


"Insya Allah, Bunda!" Dira terkekeh seraya mencuci tangan.


Semuanya sudah siap. Hanya tinggal membantu ibunya memanggang daging.


...***...


Tania datang merebahkan diri di kamar Adam setelah dari kamar Raja yang sepi. Tania merindukan kehadiran Raja rupanya. Adam keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamarnya dengan bertelanjang dada.


Kini, tangan Tania sudah tak terikat meskipun masih dalam balutan kafan pocongnya. Gadis itu tak sanggup melihat tubuh Adam yang hanya terlilit handuk di bagian bawahnya. Sementara kedua tangan Adam sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Kenapa, Luh?" tanya Adam.


"Jangan sok seksi deh depan aku! Buruan pakai baju!" seru Tania.


"Lah, salah sendiri main muncul aja."


"Lah, jadi setan kan bisa muncul kapan pun dia mau!" sungut Tania.


Adam akhirnya menyerah untuk berdebat. Dengan segera ia memakai pakaian.


"Ngapain elu megangin dada elu?" tanya Adam.


"Aku takut deg deg-an liat kamu kayak tadi. Kamu kan pandai membuat hati para gadis merasa jantungnya berdegup kencang," sahut Tania.


"Perasaan elu yang tadi bilang kalau elu itu setan. Nah, mana ada setan ngerasain jantungnya berdetak, hahaha." Adam sampai menahan perutnya karena sakit untuk tertawa.


Pluk!


Tania langsung mendaratkan bantal ke wajah Adam. Sosok pocong itu bangkit dan langsung menghilang.


"Dasar, pocong baperan!" lirih Adam.


...***...


Di Cinema 22, James dan Icha sudah hadir di sana. Icha sudah memesan tiket untuk enam orang. Sementara itu, James memesan paket popcorn dan soda di sana. Tak lama kemudian Adam dan Dira datang. Lalu pada akhirnya Fasya dan Disya yang menyusul di belakang.


Icha mendapat acungan jempol dari James karena berhasil membawa Dira ikut serta. Rupanya, Icha memesan tiket untuk menonton film zombie. Sebenarnya Adam takut dengan zombie. Dia lebih baik bertemu hantu ketimbang membayangkan sedang bersama zombie.


Namun, Adam akhirnya terpaksa menurut karena demi menghilangkan rasa penasaran pemuda itu terhadap menonton makhluk zombie, film yang sedang trend di kota itu.


"Hai, semua! Wah, kita sudah berkumpul ya di sini," sapa Icha.


"Ini kado buat kamu," ucap Dira seraya memberikan paparan bag anda gadis itu.


Yang lainnya juga melakukan hal sama.


"Terima kasih, ya," ucap Icha.


"Mohon perhatian Anda, pintu teater satu telah dibuka. Para pengunjung yang sudah memiliki tiket dipersilakan memasuki teater."


Suara wanita dalam Cinema 22 yang memberikan pengumuman saat film akan dimulai sudah terdengar.


"Yuk, kita masuk!" ajak James. Pemuda itu hendak mendekati Dira, tetapi Fasya sudah bersiap menghadangnya.


Kedua mata James dan Fasya saling tatap dengan tajam.


"Sepertinya ada yang cemburu," bisik Icha pada Disya.


"Masa sih, si Fasya cemburu? Masa dia suka sama Dira," lirih Disya.


"Wah, sepertinya film ini akan seru," ucap Adam.


"Halah, bukannya kamu takut sama zombie?" celoteh Dira.


"Huh, kata siapa? Sama setan aja gue nggak takut apalagi zombie," sahut Adam.


Mendadak seketika, sosok wanita berambut panjang acak-acakan menutupi wajah, menghadang di pintu masuk teater satu. Dia memakai dress selutut warna merah yang terdapat noda darah. Ada bekas darah di sekitar kakinya yang busuk. Sontak saja Disya berteriak melihatnya.


"Kamu kenapa, Dis?" tanya Icha.


"A-aku, aku–"


"Pasti Disya ngerasa liat kecoa, ya?" Dira langsung ambil alih sebelum Disya keceplosan.


Disya lantas mengangguk.


"Ayo, pada cari bangku!" ajak Adam.


Sementara itu, Dira menatap tajam pada sosok yang dia yakini hantu itu.


"Jangan coba-coba, ya, nakutin kita. Awas loh. Nanti kamu aku gencet di pintu besar itu," ancam Dira dengan berbisik sebelum hantu perempuan itu mendekatinya.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....