
Bab 60 Pocong Baper
Kevin baru menyadari bahwa di telapak tangannya muncul luka misterius yang sama dengan luka yang membuat Sandara dan Maya telah tergeletak tak berdaya. Semakin lama semakin banyak luka melepuh memenuhi tubuh pria itu. Begitu juga dengan istri dan anaknya.
Tania berusaha untuk bergerak tetapi dia tak bisa. Dia hanya bisa menangis melihat ibunya tersiksa menjelang ajalnya. Gadis kecil itu berteriak seraya menangis dan akhirnya meregang nyawa. Sementara itu, Sandara juga mulai berteriak melengking dan menjerit histeris.
Kevin juga mulai meraung dan menangis. Dia merintih menahan sakit yang disebabkan luka-luka misterius yang ada di tubuhnya dan menggerogoti. Tidak berhenti di situ, Kevin juga merasakan rasa gatal luar biasa di sekujur tubuh. Dia mulai mencakar-cakar wajahnya sendiri berharap rasa gatal itu berkurang. Sama seperti Maya yang kulit pipinya mulai mengelupas, Kevin juga merasakan hal yang sama.
Satu per satu keluarganya telah tumbang termasuk selingkuhannya, Cindy. Jeritan memekakkan telinga terdengar bersahut-sahutan dari Sandara dan Kevin. Akhirnya, Sandara meregang nyawa di hadapan Tania setelah dia berusaha merangkak menuju kebarah Tania. Telapak tangan Sandara meninggalkan jejak darah di lantai.
Tiba-tiba, tubuh Kevin diseret oleh sesuatu yang tak dapat dia lihat. Di atas lantai marmer itu, Kevin mencoba bertahan sekuat mungkin dengan mencakar-cakar karpet lantai tebal yang ia lewati. Bahkan tubuhnya terbawa menaiki tangga dengan posisi terbalik.
Kevin berusaha mencengkeram sisi tangga yang terbuat dari kayu itu hingga kuku- kuku jarinya mulai patah. Kevin sampai diseret hingga menempel di langit-langit rumah dengan kulit terkelupas dan banyak luka berongga yang tercipta.
Luka yang bermunculan di tubuh pria itu, kini menyebarkan aroma busuk dengan darah kehitaman yang tampan menetes membasahi lantai.
"Adam, tolong keluargaku," lirih Tania yang hanya bisa menangis.
Sosok pocong itu tak dapat berbuat apa-apa melihat keluarga ibunya yang mulai tewas satu per satu. Tubuh Kevin yang menempel di langit-langit rumah itu tampak mengerikan hingga tidak ada lagi tangisan pria itu terdengar. Hanya jeritan kesakitan yang semakin lama semakin lemah.
Tania mulai menyadari di hadapannya muncul sosok Mia yang didampingi sosok hitam dengan tanduk sedang menatap dirinya dengan sorot bola mata merah. Sosok yang bernama Yagi itu lantas menuju ke tubuh Kevin. Dia mulai merobek wajah pria itu.
Tania sampai tak sanggup melihatnya. Tubuh Kevin jatuh dan mulutnya yang menganga menyisakan segumpal daging yang sudah terkoyak-koyak di lantai. Tania tak menyangka kalau hari di mana ia ingin melepas rindu dengan ibunya akan berakhir mengerikan seperti ini. Di malam jumat kliwon itu, dia harus melihat keluarga ibunya terbantai diiringi dengan hujan deras yang seakan tak pernah berhenti.
Mia menoleh ke arah Tania dengan tatapan memohon dan berkata lirih, "Katakan pada Dira, tolong bunuh aku."
"Mia, Mia, Mia, cukup ya, jangan katakan itu lagi," ucap Hana yang datang bersama James dan Icha.
"Miss Hana?" Tania menoleh ke arah suara itu.
"Wah, siapa ini? Kenapa kau bisa keluar dari wilayah sekolah?" Hana menyeringai ke arah Tania.
"Nyi Ratu, lihat siapa?" tanya Icha.
"Temannya James, gadis tumbal sekolah," sahut Hana seraya tertawa.
"Temanku? Yang mana?" tanya James.
"Tania, anak pemilik rumah ini. Kevin yang memintaku untuk memilihmu, Tania. Saat itu, dia memang pengikut yang baik. Tapi kini, keyakinannya mulai goyah. Dia dan Cindy akan pergi setelah melimpahkan semua kesalahannya pada Ari. Jadi, ini peringatan untuk kalian. Jangan coba mengkhianatiku, atau kalian akan mendapatkan akibat seperti ini," ucap Hana mengancam James dan Icha.
Keduanya mengangguk bersamaan. Ketakutan jelas terpancar di wajah mereka.
"Bersihkan tempat ini! Aku akan membuat mereka seolah-olah pergi bertamasya ke luar negeri," ucap Hana.
Hana lalu menghampiri Mia. Dia meraih kedua bahu wanita itu.
"Tugasmu malam ini sudah selesai, istirahatlah bersama Yagi-mu."
Hana lantas menuntun Mia untuk mengikuti dia dan Yagi. Tubuh Mia menurut ke arah Yagi menuntunnya. Dia tak kuasa mengendalikan dirinya sendiri lagi. Bagi Mia sekarang, mati adalah jalan satu-satunya untuk mengakhiri penderitaannya menjadi iblis pembunuh.
Setelah Yagi dan Mia pergi, tubuh Tania dapat kembali bergerak. Dia memeluk ibunya seraya menangis. Menjerit sejadi-jadinya. Lalu, Tania pergi menuju ke kediaman keluarga Prayoga untuk mengadu.
...***...
Dita baru saja selesai menghubungi Anan. Dia melihat sosok Tania datang tiba-tiba dan tersungkur memeluk kakinya.
"Tania, kamu kenapa sayang?" Dita meraih bahu Tania.
"Bundaaaaaaa." Tania langsung menangis sejadi-jadinya.
Adam dan Dira baru saja selesai makan malam. Mereka lantas melanjutkan dengan menonton televisi. Akan tetapi, suara tangis Tania terdengar dan membuat keduanya penasaran. Mereka menuju ke arah Tania dan Dita.
"Wartawan yang hilang itu, dia datang bersama sosok Jin jahat atau iblis aku nggak ngerti. Dia ngebunuh mami dan keluarganya," ucap Tania seraya terisak.
"Wartawan yang hilang? Maksud kamu Mbak Mia?" tanya Dira.
Tania mengangguk.
"Tadi kamu bilang apa? Dia datang sama sosok iblis?" tanya Dita.
Tania lantas menceritakan apa yang dia lihat. Pembantaian tak kasat mata dan sadis itu terjadi kepada ibunya dan keluarga barunya. Tania bahkan tak bisa bergerak karena pengaruh makhluk bernama Yagi itu. Dia juga menceritakan keberadaan James dan Icha beserta Miss Hana. Adam dan Dira seketika terperanjat.
Ponsel Dira yang sedang berada di saku celana tidurnya berdering, Disya menghubunginya.
"Kenapa, Dis?" tanya Dira setelah mengucapkan salam.
"Nyalain tv sekarang, cari NCTV! Ada dua berita mengejutkan tentang sekolah kita!" seru Disya.
Dira lantas meraih remote tv dan menekan tombol angka tujuh tempat saluran NCTV berada.
...*****...
...To be continued...