POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 74. Anta Hamil



Bab 74 Pocong Baper


"Dita, ini terakhir kalinya aku mengabdi pada keluargamu. Raja akan menemukan penerusku dan membangkitkan kekuatan aku bersamanya," ucap Ratu Sanca.


"Kau pasti kembali, Ratu Sanca." Dita tersenyum lalu pergi keluar bersama Anta dan Arya. Mempercayakan sisanya pada Ratu Sanca.


Namun, apa yang dikatakan Ratu Sanca sesungguhnya benar. Hari itu kali terakhir pertemuannya dengan Dita. Hari terakhir masa pengabdiannya pada keluarga Prayoga. Villa Mahardika lantas terbakar. James berteriak tak rela ketika melihat Nyi Ratu kesayangannya musnah. James sampai menyusul ke dalam. Tenggelam dalam kobaran api yang semakin dahsyat.


Untungnya beberapa mobil polisi telah tiba di tempat kejadian. Jin berhasil meyakinkan kepala polisi di wilayah desa tersebut untuk datang ke Villa Mahardika. Para anggota sekte sesat itu juga ditangkap dan diamankan.


Raja menggeser Adam. Dia akhirnya yang menyetir mobil Anan untuk menuju ke rumah sakit. Menyelamatkan Dira dan juga Anta yang terluka. Adam jadi ikut menangis karena khawatir dengan kondisi Anta dan Dira. Tania sampai menenangkan nya. Dia juga merelakan kain kafannya kotor demi Adam. Sesekali menyodorkan ujung kain kafan untuk Adam agar dapat menyeka air mata dan cairan bening dari hidung pemuda itu.


Sementara itu, Anan dan Dita memberikan keterangan terkait kejadian perkara. Jin juga bisa menyelesaikan kasus pembunuhan berantai di pasar malam. Begitu juga dengan kasus kematian Cindi dan Pak Kepsek Ari. Dalang semuanya adalah Miss Hana yang dibantu oleh James dan Icha.


Dita juga membeberkan kematian tragis tentang keluarganya Tania. Mereka tidak dalam kondisi liburan melainkan dihabisi di rumah. Begitu juga dengan Dira yang menceritakan tentang kematian Mia ada Jin. Dia juga mengatakan kalau kemungkinan adik tirinya James yang bernama Icha juga telah tewas.


...***...


Pagi itu, Anta memuntahkan isi perutnya. Ia merasa sangat pusing dan mual. Arya sampai kewalahan saat meminta istrinya untuk sarapan. Pasalnya, wanita yang sangat ia cintai itu selalu menolak untuk sarapan. Mual di perutnya tak pernah bisa Anta tahan. Makanan yang ia masukkan selalu keluar begitu saja.


"Sebaiknya kalian ke dokter kandungan. Bunda mau kita lebih yakin dan kondisi kehamilan Anta baik-baik aja," ucap Dita seraya tersenyum.


"Iya, Bunda. Nanti aku akan bawa Anta ke dokter," sahut Arya.


Dita mengangguk.


"Kalian ke dokter temennya Bunda aja. Biar Bunda nggak sungkan tanya gitu sama dia kalau mau tau perihal kehamilan Anta sebelum kalian kembali ke Jepang," ujarnya saat Anta sedang berada di kamar mandi.


"Sepertinya, kita akan tetap tinggal di sini, Bunda. Kita nggak balik ke sana," sahut Arya.


"Waduh, mau tidur di mana? Di sini udah penuh, Kak. Belum lagi ada dedek bayi nanti," sahut Raja yang muncul seketika lalu meraih roti panggang selain cokelat buatan ibunya.


"Gue juga tau, Ja. Gue udah dapat rumah yang mau gue beli. Malahan tetanggaan sama Setta dan Jin," kata Arya.


"Oh iya, rumah sebelah mana?" Anan datang menimpali.


Di belakangnya ada Adam dan Dira yang menyusul bersama Tania.


"Yang sebelah kanan belakang. Katanya pemilik rumah nggak betah sering dapat gangguan para hantu," ucap Arya.


"Oh, rumah yang itu. Emang di situ mah Om Lee sama Tante Uwo sering nge date. Tante Silla juga suka ke sana bareng pocong yang di siskamling. Mereka double date saling bersaing dengan pacar masing-masing," sahut Adam seraya terkekeh.


Sontak saja semuanya menimpali dengan tawa menanggapi pernyataan Adam. Anta keluar dari dalam kamar mandi. Wajahnya terlihat pucat.


"Sayang, kamu mau makan apa? Kamu harus sarapan yang banyak kayak biasanya, ya. Aku nggak mau mendengar ada bantahan," ancam Arya.


Anta mengangguk lemah meski dengan berat hati. Arya sampai menggendong sang istri menuju dapur. Didudukannya Anta di sebuah kursi makan terdekat.


"Ya ampun, romantis amat sih masih pagi gini," celetuk Raja.


"Sirik aja, luh! Makanya buruan kawin, eh nikah maksud gue sama si Rara!" sahut Arya.


"Apa?! Kak Raja mau nikah sama Rara?" Tania memekik tak percaya.


"Ya, kalau aku udah lulus kuliah dan Rara mau kenapa nggak," sahut Raja.


Semua mata menoleh ke arahnya.


"Yeee, masih baperan amat luh jadi pocong! Katanya udah move on! Lagian bukannya balik sono ke alam luh! Harusnya kan elu udah tenang," sungut Adam.


"Halah! Kalau Tania pergi nanti kamu yang galau," sahut Dira.


Dita dan Anan menatap tajam pada Adam. Begitu juga dengan Anta, Arya, dan Raja yang ingin tahu.


"Adam, suka sama Tania?" tanya Dita.


"Pada ngapain, sih, ngeliat aku kayak gitu? Ah, tau ah Bunda! Adam mau berangkat sekolah. Ayo, Ra!" Adam menarik tangan Dira seketika agar beranjak dari kursinya. Dia tak mau para keluarganya melihat wajahnya bersemu menahan malu.


Keduanya lantas pamit pada semua anggota keluarganya. Adam juga meraih Tania untuk ikut serta menuju ke sekolah.


"Yanda, buruan! Nanti kita telat!" seru Adam dari dalam mobil Anan.


"Waduh, cinta pertama si Adam sama pocong, nih?" bisik Dita di tengah keluarganya itu.


"Kayak siapa, ya, Bun? Dulu juga ada tuh cewek yang cinta pertamanya sama pocong tampan, ya kan?" Anan mengerling.


"Dih, pede banget! Cinta pertama aku kan sama Pak Herdi, Yanda," kata Dita.


Wajah Anan langsung berubah kesal.


"Apa? Sama ayah aku?" Arya menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan, bukan! Bukan Herdi yang ini, kok. Herdi sebelumnya." Dita langsung mengabaikan kedua tangannya depan Arya. Dia menoleh ke arah Anan yang sudah menghilang dari sampingnya.


"Waduh, Yanda ngambek nih!" Dita langsung menyusul Anan dan memeluknya dari belakang sebelum keluar menuju halaman depan.


"Mereka masih romantis lucu gitu, ya," ucap Arya.


Anta mengangguk. Wanita yang memang tengah hamil muda itu mendesah lega saat seteguk air putih mengalir di tenggorokannya yang kering.


"Kau mau sarapan apa, Sayangku?" tanya Arya seraya menunjuk roti panggang atau nasi goreng.


Arya sangat bahagia karena mendapat kesempatan untuknya merasakan kehadiran sang jabang bayi. Kali ini ia akan memenuhi segala yang Anta inginkan dan menjadi ayah terbaik.


"Anta mau martabak cokelat, deh," lirihnya.


"Apa? Sepagi ini mau martabak? Aku cari di mana, Nta?"


Siapa bilang suruh nyari! Anta mau martabak buatan Arya," pinta Anta dengan suara lemah.


Arya menghela napas berat. Dia bahkan tak pernah memegang alat-alat dapur sebelumnya. Dan sekarang Anta malah memintanya untuk memasak. Sulit dipercaya, tapi ia harus menuruti sang istri. Jika tidak, Anta bisa merajuk dan tidak akan makan nantinya.


"Arya, kok bengong?" tanya Anta


...*****...


...Bersambung dulu, ya....