POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 61. Dira Diburu



Bab 61 Pocong Baper


Saluran televisi tersebut memberitakan mengenai mayat kepala sekolah SMA Pandai Sentosa yang ditemukan tanpa kepala dengan tubuh tak utuh di sebuah hutan luar kota. Diduga korban mengalami serangan hewan buas dan dicurigai terkadang harimau. Meskipun warga sekitar masih meragukan kebenaran tersebut. Pasalnya memang korban kerap berburu kulit hewan harimau.


Lalu, berita mengejutkan lainnya datang dari penemuan jasad wanita di sebuah hotel. Korban diidentifikasi bernama Cindy, siswi SMA Pandai Sentosa. Korban dicurigai mengakhiri hidupnya sendiri karena ditemukan tergantung. Ada alat uji kehamilan yang ditemukan di kamar mandi. Sehingga penyanyi pendatang baru itu diperkirakan tengah mengalami depresi dan mengakhiri hidupnya sendiri.


"Tidak, itu tidak benar! Aku yakin sekali kalau Pak Ari dan Cindy dihabisi oleh Miss Hana!" seru Tania.


"Jadi, sekarang bagaimana Bunda?" tanya Dira.


"Kita harus tetap tenang. Bunda juga belum tahu apa yang Hana inginkan dengan mendatangkan Yagi itu," ucap Dita.


Ponsel Dita berdering, Anta menghubunginya.


"Bunda, minta Ratu Sanca untuk membuat pagar gaib lebih kuat. Lanjutkan dengan pembacaan al fatiha dan ayat kursi berkali-kali. Hanako masih hidup, dia akan membangkitkan Ratu Masako dengan tubuh yang sesuai. Jika dia tidak bisa menemukan Anta maka Bunda harus menjaga Dira. Anta, Arya, sama Yanda lagi menuju bandara untuk pulang ke sana," tuturnya.


"Kamu tahu dari mana, Nta?" Dita mulai panik.


"Yanda sama Arya barusan ketemu pria yang mengaku mantan anggota sekte yang sedang mencari Anta. Keluarganya dihabisi oleh Hanako tapi dia selamat. Dia sakit hati dan tak mau menuruti Hanako lagi. Dia cerita kalau Hana pergi ke Kota Bunga untuk cari Anta dan keluarga Anta. Jadi kalian harus berhati-hatilah," jelas Anta.


"Dia sudah ada di sini, Nta. Dia sudah memiliki Yagi dan mengendalikannya untuk menghabisi nyawa orang," ucap Dita.


"Astagfirullah, Yagi? Kita akan bergegas, Bunda. Kalau bisa jangan di rumah. Cari tempat aman," ucap Anta.


Anan langsung meraih ponsel di tangannya Anta untuk berbicara pada Dita.


"Kalian ke rumah Setta. Di sana Yanda rasa akan lebih aman. Banyak makhluk astral di sana yang bisa membantu kalian apalagi mereka sudah baik pada Setta. Jin juga bisa membantu menjaga kalian," ucap Anan.


"Yanda, apa Bunda bisa melewati ini? Apa Bunda bisa menjaga anak-anak?" Dita semakin terlihat cemas.


"Bunda yakin sama kekuasaan Allah. Yanda sama Anta dan Arya pasti akan bergegas ke sana. Yanda udah telepon Jin, dia pasti bakalan ke rumah jemput kalian," ucap Anan dari dalam ponsel Dita.


Suara deru fortuner silver tiba di depan rumah Dita. Anan benar, Jin datang bersama Setta untuk menjemput Dita dan yang lainnya. Dita lantas menyudahi sambungan ponselnya bersama Anan.


"Ada apa, Bunda?" Dira terlihat mulai panik.


Sementara itu, Adam membukakan pintu untuk Setta dan Jin.


"Malam ini kalian tidur di rumahku. Om Anan udah cerita semuanya," tutur Jin.


Adam menoleh pada Dita yang menganggukkan kepala.


"Kita harus melindungi Dira, Dam," ucap Dita.


"Ada apa dengan Dira, Bun?" tanya Adam dan Dira berbarengan.


"Nanti Bunda jelaskan di rumah Setta. Kalian bawa barang-barang seadanya. Sementara ini jangan pergi sekolah dulu," ucap Dita.


"Ayo, kata Om Anan kita harus bergegas!" ajak Setta.


Ratu Sanca dan Silla juga ikut serta membantu menjaga Dira.


"Dam, minta Fasya sama Disya ikut sama kita. Orang tua mereka lagi keluar kota karena undangan pernikahan kerabatnya. Bunda yakin Tasya sama Herdi bisa menjaga diri karena ada di lingkungan pesantren," pinta Dita.


"Disya emang tadinya mau nginep sama Dira. Kalau Fasya mau ngajak Adam nginep di rumahnya," sahut Dira.


"Ya udah, buruan suruh mereka bersiap!" titah Jin.


"Setta, kamu baik-baik saja, kan?" Dita mengusap perut besar Setta.


"Insya Allah aku baik-baik aja, Bunda. Oh iya, Lee sama Nyi Uwo mau bawa pasukan temen-temen dia buat bantu jaga. Kemaren Lee juga cerita kalau dia merasakan hawa jahat di sekitar rumah artis Sandara. Lee pikir ada yang mau santet keluarga itu," ucap Setta.


"Dibantai?" tanya Jin tak percaya.


Tania mengangguk.


"Aku coba suruh anak buahku buat kontrol rumah kamu, ya," ucap Jin yang lalu menghubungi anak buahnya untuk memeriksa rumah kediaman Sandara.


Setelah semuanya siap, mereka menuju ke kediaman rumah tusuk sate milik Jin dan Setta. Rumah yang disinyalir membawa kesialan bagi penghuninya. Namun, bisa membawa keberuntungan jika bisa bertahan apalagi mampu mengendalikan para makhluk astral dengan baik.


Sesampainya di rumah Jin dan Setta, dan bersiap mengatur rencana untuk menyembunyikan Dira, anak buahnya Jin menghubunginya. Rupanya, artis Sandara dan keluarganya dikabarkan tengah pergi liburan. Tidak ditemukan tanda-tanda yang aneh di rumah tersebut. Bahkan data penumpang Sandara dan keluarganya juga ditemukan menuju ke New York.


"Cek kamera cctv di bandara, pastikan kalau penumpang itu benar-benar penyanyi Sandara!" perintah Jin lalu memutus sambungan ponsel itu.


Tania masih menangis seraya memeluk Dira. Tak akan ada pemakaman yang akan dilakukan untuk penghormatan terakhir pada Sandara. Pasalnya tubuhnya saja tidak ditemukan dan entah bagaimana James dan Icha membersihkannya.


...***...


Di rumah James dan Icha, sosok Hanako mulai terlihat mempersiapkan diri.


"Kali ini, aku akan mempersembahkan darah suci dan menyantap tubuh gadis itu. Maka tubuhnya akan menyatu di dalam tubuhku lalu Ratu Masako akan bangkit melalui aku. Aku yakin kekuatan kami tak akan tertandingi," ucap Hana yang baru saja memberi daging mentah pada Mia.


Icha dan James mengintip. Namun, Hana tahu akan hal itu. Dia lantas memanggil keduanya.


"James, buat Dira menemuimu. Bawa dia ke sini!" titah Hana.


"Baik, Nyi Ratu." James mengangguk lalu mencari ponselnya untuk menghubungi Dira.


"Icha, kalau dia sudah kenyang, kunci kembali kamar ini," pinta Hana.


"Baik, Nyi Ratu."


Tak lama kemudian, James kembali.


"Dira nggak angkat telepon dari saya, Nyi Ratu," kata James.


"Apa kau bisa menghubungi dia, Ca?" Nyi Ratu menoleh pada Icha.


"Ummmm, aku coba." Gadis itu lantas menghubungi ponsel Dira.


Tak ada jawaban dari Dira. Icha bahkan menghubungi Adam. Tetap tak ada jawaban. Bahkan mereka juga tak membalas pesan singkat whatsapp Icha dan James.


"Apa mereka sudah tahu, ya?" bisik Icha pada kakaknya.


"Tau soal apa?" bisik James.


"Ya, soal ini semua. Mereka udah tahu kalau kita jahat, Kak," ucap Icha seraya menunduk menahan tangis.


"Coba hubungi Disya!" titah James.


Icha mengangguk. Lalu menghubungi Disya. Namun, Disya mengaku sedang pergi ke luar kota bersama ayah dan ibunya. James akhirnya melapor pada Nyi Ratu.


"Kalian tahu rumah mereka?" tanya Hana.


Icha mengangguk.


"Kita ke sana sekarang!" seru Hana.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....