
Bab 68 Pocong Baper
"Yanda, lihat itu!" Dita menunjuk sebuah kabut asap yang memperlihatkan siluet seseorang berada di dalamnya.
"Apa dia mau kita mengikutinya?" tanya Anta.
"Ummmm, kita coba ikuti. Anta kamu Bunda tunggu di sini, ya. Kamu terus kabarin Jin supaya nanti bisa minta bantuan dengan cepat. Ini ada ht buat komunikasi kita kalau sinyal hape hilang," tukas Anan.
"Nggak, Yanda, Anta ikut!" sahutnya.
"Bunda juga ikut," sahut Dita.
"Ayolah, biarkan kami para pria yang menghadapi mereka," ucap Anan.
"Adam aja sama Tania ada di sini. Kalian berani, kan?" tanya Anta.
"Aku mau ikut tau, Kak. Tapi, ya udah aku sama Tania tunggu mobil," ucap Adam.
"Oke, kalau begitu. Tapi Yanda mohon, Arya sama Raja ekstra jagain Bunda sama Anta, ya?" Anan menoleh pada Raja dan Arya.
"Siap, Yanda!" sahut Arya dan Raja dengan kompak.
Anan lantas turun dari mobil diikuti oleh lainnya. Sebuah mobil pick-up melintas. Sang sopir menatap keluarga Prayoga dengan ekspresi yang janggal. Mungkin pria itu bertanya apa yang mereka lakukan di tempat seperti itu, dekat hutan.
Dita mengangguk seraya tersenyum kepada pria paruh baya si sopir pick-up yang sempat melajukan mobilnya lambat. Dia menyadari jika pria itu menunjukkan gelagat ngeri yang ingin segera dia tumpahkan, tetapi tak jadi saat menatap mata Anan yang tajam laksana pisau. Tak lama si sopir akhirnya mengerti, ia mengangguk dan melambaikan tangan sekilas. Lalu, beranjak pergi melanjutkan perjalanan.
"Di dalam hutan gelap, jangan pernah percaya kepada siapa pun," ucap Ratu Sanca.
Dita mengangguk. Kini, mereka menghadapi kegelapan hutan yang mulai menelan mereka. Anan meraih sebilah golok yang ia bawa. Raja juga mengeluarkan tas berisi senter, air minum, obat-obatan, tali, dan pisau lipat. Begitu juga dengan Arya.
Anan mengeluarkan golok itu dari sarungnya. Dia akan pergunakan untuk memangkas akar semak belukar. Setelah mengucap basmalah, keluarga itu mulai melangkah memasuki hutan.
Mereka menelusuri jalan yang ditumbuhi oleh tumbuhan bersemak duri, menerjang apa pun yang ada di hadapannya. Dita meyakinkan kepada Anta, bila apa yang baru saja dikatakan Ratu Sanca benar adanya.
"Ketika kalian terjebak di dalam hutan yang gelap, kalian harus waspada. Jangan pernah percaya kepada siapa pun, bahkan kepada bayanganmu sekali pun!" ujar Ratu Sanca.
"Berarti, kita harus saling waspada dan saling menjaga," tukas Dita.
Anta mengangguk.
"Hutan akan mengajarkan kalian arti dari tipu daya," imbuh sang ratu ular seraya menyusuri hutan belantara itu lebih dulu.
"Emang yakin, nih, jalan ke villa yang dimaksud si Icha lewat hutan? Nggak ada jalan lain yang lebih mudah diakses dengan mobil gitu?" celetuk Raja.
"Mana Yanda tau! Emang GPS nya bawa kita lewat sini. Tuh, kabut asap itu juga jalan di depan kita," sahut Anan.
Seketika angin yang berembus kencang membuat semuanya terasa merinding. Dita semakin mengawasi dengan saksama karena banyak sosok yang mengamati mereka dari segala sudut, menunggu mereka lengah sebelum menelan bulat-bulat untuk tersesat.
Entah sudah berapa lama mereka menembus kedalaman hutan yang semakin lama terasa semakin kelam. Anan meminta keluarganya untuk beristirahat sejenak setelah melihat wajah sang istri dan putrinya yang mulai pucat. Rasa letih serta kelelahan menembus tanah yang tidak rata memaksa mereka mengeluarkan segala tenaga yang dia miliki.
"Kita istirahat dulu, kita minum dulu," ucap Anan seraya meneguk sebotol air yang Raja bawa.
"Bunda jadi khawatir sama Adam. Dia digangguin para makhluk halus ini nggak, ya?" gumam Dita.
"Kayaknya Adam deh yang bakalan usilin mereka, Bun," sahut Anta.
Setelah Anta menenggak habis sisa isi dalam botol, ia menengadah melihat ke daun-daun yang melindungi mereka dari sinar rembulan purnama di luar sana. Entah keputusan apa yang akan ayahnya ambil selanjutnya.
Setelah setengah jam mereka mengendurkan otot-otot kaki, Anan berdiri.
"Apa bisa kita lanjutkan?" tanya Anan.
Dita mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Anan. Wanita itu mulai bangkit dari tempatnya duduk, Mereka lantas menyusuri jalan yang sudah dibuka oleh Anan. Anta lantas merasa sesuatu seperti sedang mengamati mereka. Anta berhenti sebentar, menoleh ke segala sisi yang dirinya curigai. Anta merasa ada sepasang mata yang tak mau melepaskan keberadaan mereka. Sementara Anan, Raja, dan Arya masih menebas semak belukar yang ada di depan.
Anta mencoba mengamati setiap sela pohon-pohon besar. Tiba-tiba, pandangannya tertuju melihat wajah seseorang mengintip dari sela pohon. Anehnya ketika mata mereka bertemu, sosok itu menghindar, menghilang begitu saja. Anta mulai penasaran dan ingin mendekat. Namun, tiba-tiba Dita mengejutkan dirinya. Dita menatap putrinya lekat-lekat sebelum pandangannya beralih melihat ke pohon yang sama.
"Bunda udah bilang kalau kita harus waspada dan jangan peduli dengan sekitar. Mengerti!" titah Dita.
"Baik, Bunda."
Berbekal senter yang ada di tas ransel. Anan dan para lelaki masih berjuang untuk menebas semak belukar yang ada di depan. Di belakang Anta terdengar suara langkah kaki yang bergerak menginjak gemersak rumput.
"Siapa itu?" tanya Anta membuat yang lainnya menghentikan langkah.
Anta yakin mendengar suara dari langkah kaki yang seperti berjalan menapak mengikuti. Dita sendiri juga mendengar hal yang sama. Namun, matanya tampak teguh, tak tergoda untuk mencari tahu.
"Sudah, Nta, jangan pedulikan!" tukas Anan.
Mereka melanjutkan lagi medan yang semakin sulit menguras tenaga dan emosi. Parahnya lagi, tetes hujan mulai perlahan turun menembus rindangnya daun, menetes membasahi mereka berdua yang terbalut jaket tebal.
Angin berembus makin kencang membuat suhu udara sekitar yang semakin dingin. Membuat napas mereka semakin tersenggal habis. Bahkan tangan Raja dan Arya yang menggenggam batang senter mulai gemetar.
"Berhenti!" pinta Anan.
Dia sempat merasa bimbang ketika di persimpangan antara pohon-pohon yang dirinya lihat, terdengar suara yang ia kenal di telinganya.
"Yanda, tolong aku!"
Anan langsung berhenti, ia mengarahkan senter ke sana kemari, mencari tahu di mana sumber suara itu berasal. Sampai jantungnya berhenti berdetak saat melihat bayangan dari sosok yang dirinya kenal. Anan melihat Dira memakai pakaian compang-camping sedang berdiri, menatap dirinya sembari melambai-lambaikan tangan ke arahnya.
"Dira ketemu, Bunda!" seru Anan.
Dita mendekat. Dia menatap sosok putrinya dari dekat, wajahnya terlihat mengiba. Garis ekspresi yang disampaikan Dira terlihat kalau dia nampak menderita. Genangan air mata yang keluar dari sudut mata pun terlihat jelas di wajah gadis itu.
"Tolongin Dira, Bunda, hiks hiks…."
...*****...
...To be continued ...