
Setta berkunjung ke rumah Dita untuk belajar membuat bolu karamel yang lezat ala Dita. Tasya juga datang untuk ikut serta. Hari menjelang magrib, Dita menyarankan agar Setta pulang diantar Adam. Namun, pemuda itu belum pulang.
Untungnya, saat Setta hendak memesan taksi, Adam dan Dira sudah datang.
"Tuh, mereka udah pulang, Ta." Dita menunjuk pada kedua anaknya. Lalu, sepasang mata itu menajam.
"Maaf, Bunda, tadi kita ketemu hantu yang minta tolong. Tau sendiri kan, Bun, kalau kita nggak bisa nolak," ucap Adam.
"Hadeh, kalian ini. Eh, antar Kak Setta pulang dulu. Bunda bukannya takut dia diganggu setan, pasti Setta bisa menghadapi setan itu. Hanya saja kondisinya udah hamil besar, Bunda takut aja tiba-tiba brojol, hehehe." Dita meringis pada Setta.
"Bunda, ih, terlalu berlebihan!" sahut Setta.
"Antar naik motor matic Bunda, ya?" tanya Adam.
"Ya udah tapi hati-hati," ucap Dita.
Sebuah mobil sedan milik Joshua datang memasuki pagar rumah. Sang istri keluar dari mobil tersebut membawa es buah untuk Dita. Sepasang mata lentik milik Miyako mengarah pada perut Setta dengan wajah sumringah.
"Ini siapanya Bu Dita?" tanya Miyako.
"Ini temennya anak saya. Sudah saya anggap sebagai anak sendiri." Dita lalu memperkenalkan Setta.
Tangan Setta terulur menjabat tangan Miyako. Mendadak dia melihat sosok mengerikan seperti kuntilanak sedang tersenyum menyeringai. Sosok itu bahkan sedang menyantap bayi hidup-hidup dengan lahap. Setta langsung buru-buru melepas jabatan tangannya dari Miyako.
"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Joshua menghampiri Setta.
"Siapa, ya?" tanya Setta.
"Istrinya Jin, kan? Saya rekan kerjanya du kantor polisi. Nama saya Joshua," ucap Joshua.
"Oh iya, saya ingat pernah ketemu kamu di kantornya suami saya," sahut Setta.
Joshua dan Miyako lalu pamit. Pandangan Dira masih menelisik ke arah Miyako dan Joshua.
"Bunda ngerasa nggak kalau Bu Miyako itu aneh? Masa dia ngeliatin perut Kak Setta terus," ucap Dira.
"Mungkin ngiri dia pengen cepet-cepet hamil kayak Setta," ucap Dita.
"Tapi, Bunda, saya lihat sesuatu yang mengerikan dari Miyako," ucap Setta. Dia lantas menceritakan hal yang mengerikan yang ia lihat.
"Wah, berarti kuntilanak terbang di komplek ini ya dia, Bun," ucap Adam.
"Hmmmm, tapi kita nggak punya bukti, Dam. Yang jelas sekarang Setta harus hati-hati karena Miyako mengincar dia," tukas Dita.
"Ya udah kalau gitu mending Kak Setta tinggal sama kita biar kita bisa jagain," ucap Dira.
"Ya nggak bisa gitu, Ra. Lagian juga di rumah baruku banyak yang jagain. Kalian tenang aja," sahut Setta.
"Banyak yang jagain? Setan maksudnya?" tanya Adam.
"Iya." Setta mengangguk seraya tersenyum.
...***...
"Njing, gue sarankan elu berhenti aja. Apa yang mau elu lakukan ini terlampau nekat. Ini bukan perkara barang mahal, tapi nyawa kita!" Seorang pria bernama Johan memperingatkan kawannya yang bernama Teguh.
Namun, pria kurus dan tinggi itu tidak mau diberi peringatan.
"Udah deh, Han! Elu diem aja," ucap Teguh.
"Ayolah, Guh, jangan gara-gara elu lihat warga baru ini tajir. Terus gue juga denger-denger kalau dia punya duit banyak dan barang mewah. Jadi, elu mau ngerampok, kan?" tuduh Johan.
"Gue bilang diem aja," ucap Teguh.
"Kita baru tinggal dua bulan di sini, Guh. Jangan nekat dulu buat ngerampok di sini!" ucap Johan si pria tambun yang tubuhnya lebih pendek.
"Udah sih diem aja!" seru Teguh Lagi.
"Oh, gue tahu nih kalau elu lagi dikejar hutang sama Bang Japra, kan? Gue tahu sendiri betapa mengerikannya manusia yang sudah menjelma menjadi setengah setan itu kalau lagi marah kalau utangnya belum elu bayar, iya kan?" tuding Johan.
Teguh hanya menyeringai pada Johan yang berjalan di belakangnya sembari menatap Teguh.
"Eh, Babi Kampung! Elu udah dimasukkin ke penjara gue pikir bakal bisa berubah, nggak jadi maling lagi. Lah, sekarang malah kumat."
Johan terus mencoba memberi peringatan kepada Teguh agar bocah itu mengurungkan niatnya.
Johan sadar jika niatan Teguh akan mengancam nyawa mereka berdua, tetapi Teguh hanya tersenyum seolah dirinya sudah menyumpal kedua telinganya, tak mau mendengar sepatah kata pun yang terus menerus keluar dari mulut rekannya itu.
"Njing! Gue nggak sedang bercanda ini." Johan benar- benar tidak habis pikir lalu melanjutkan omelannya lagi, "Elu sendiri aja kalau mau maling. Gue sih nggak mau! Gue masih sayang dengan nyawa gue. Gue nggak mau dipenjara kayak elu, Njing!" omel Johan.
Teguh yang sedari tadi menahan diri akhirnya tertawa terbahak- bahak melihat perubahan wajah Johan. Ia tak menyangka dapat membuat temannya itu terus mengoceh.
"Halah, Han, Han, bawel banget luh!" kata Teguh mencibir sahabatnya.
"Tapi, suaminya polisi, Guh!" tukas Johan.
"Gue udah cek tadi, suaminya lagi tugas malam. Istrinya sendirian tau," ucap Teguh.
"Halah, asu! Terus elu mau apain istrinya? Gue nggak mau ikut-ikutan!" Johan memilih untuk melangkah pergi tetapi Teguh menahannya.
"Niat gue bukan ngerampok sebenarnya, Han. Gue curiga sama istrinya," ucap Teguh.
Johan menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada Teguh sampai mengernyitkan dahi.
"Maksud elu, Guh?" tanya Johan.
"Gue juga tidak akan senekat itu, sampai berani melakukannya di atas tanah sekotor dan terkutuk seperti ini. Gue cuma penasaran saja sama si wanita itu, atau setidaknya alasan kenapa dia tinggal di tempat seperti ini. Suaminya tau apa nggak soal dia. Lagian untuk sekelas wanita kayak gitu, sangat jarang ada yang mau menunjukkan jati dirinya hidup di tengah-tengah masyarakat seperti ini. Mereka biasa mengasingkan diri, menjauh dari hiruk pikuk kehidupan bermasyarakat. Tapi, tetap melakukan ritualnya untuk bertahan diri. Hanya itu alasan yang gue benar-benar ingin tahu Han. Apa tujuan dia ada di sini. Kalau pocong yang ada di belakang elu itu, kan, cuma bisa ngelihatin kita doang. Dia nggak akan melakukan apa pun. Sedangkan wanita itu bisa melakukan sesuatu yang mengerikan kepada kita. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan," jawab Teguh panjang lebar.
"Po-pocong, Guh?"
...*****...
...Bersambung dulu, ya....