POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 41. Tetangga Baru Depan Rumah



Icha mendatangi Dira dan Disya sepulang sekolah.


"Kalian tahu, nggak–"


"Enggak!" sahut Dira dan Disya berbarengan.


"Yeeee, makanya jangan potong ucapan aku dulu." Icha mendengus kesal.


"Ya udah buruan ada apa?" tanya Disya.


"Pasar malam kan ditutup, soalnya kasus penemuan mayat tanpa kepala dan potongan jari tangan masih didalami sama pak polisi," ucap Icha.


"Oh, kalau soal itu sih Dira tahu," sahut Dira.


James datang mendekat, tetapi Fasya dan Adam yang baru sampai setelah dari kamar mandi langsung menghadangnya.


"Biasa aja, dong!" seru James.


"Elu mau ngapain deketin adek gue?" tantang Adam.


"Suka-suka gue, dong. Gua mau ajak dia nonton film avatar, kenapa nggak suka?" James balas menantang.


"Gue nggak suka!" Fasya langsung mengucap lebih dulu sampai membuat Adam menoleh padanya.


"Gue nggak butuh pendapat elu!" James mendorong dada Fasya lalu beralih pada Dira.


"Gimana, Ra, minggu besok nonton, yuk!" ajaknya.


"Duh, gimana ya?" Dira menoleh pada Adam, Disya, dan Fasya.


"Itu hari ulang tahun aku, loh. Ayo, kita kita nonton terus makan, gimana?" Icha buka suara.


"Wah, kalau Icha yang ajak gue juga mau. Gue diajak, kan, Cha?" tanya Adam.


"Iya, dong! Kalian semua aku–"


"Cha, kok jadi ajak mereka?" James memotong pembicaraan adiknya.


Icha menarik James menjauh lalu berbisik, "kalau kakak mau nonton bareng Dira, biarin aja aku ajak mereka semuanya. Aku yakin Dira mau ikut."


"Hmmm, ya udah deh." James akhirnya mengalah.


"Oke, kalian semua ikut. Tapi, Cindi mana, ya? Kok, udah seminggu nggak kelihatan," ucap Icha.


"Pulang kampung atau liburan kali ke luar negeri," sahut Adam.


"Bisa jadi, sih." Icha mengangguk.


***


"Bunda, aku pamit, ya. Nggak lama, kok. Paling cuma satu minggu manggung di Kota Semanggi," tutur Raja yang sudah meletakkan kopernya ke dalam mobil.


"Ya udah, kamu sama yang lain hati-hati, ya. Ingat, ya, cuma manggung. Jangan coba-coba datengin tempat angker buat uji nyali!" ancam Dita seraya mencubit perut Raja.


"Iya iya ampun, Bunda! Nggak bakalan uji nyali ke sana!" seru Raja seraya mengaduh.


Dira dan Adam pulang dari sekolah. Gadis itu menyerahkan daftar permintaan oleh-oleh pada Raja.


"Ini minta oleh-oleh banyak banget kayak bon belanja," tukas Raja.


"Udah sih, tolong penuhi permintaan Dira. Adik Kak Raja yang paling cantik," ucapnya.


"Gue juga ya, Kak. Gue minta topi, tas, kaus–"


"Kaos aja!" Raja memotong ucapan Adam seketika.


"Huhhhh!"


Raja dan teman-teman satu grup band-nya itu lalu pamit.


Seiring dengan mobil van milik Raja dan kawan-kawan pergi, tiba-tiba sebuah mobil box dan mini suv hitam datang dan berhenti di seberang rumah mereka. Tasya keluar dari rumahnya yang juga penasaran.


"Kayaknya tetangga baru kita, Ta," ucap Tasya.


"Aku rasa juga begitu." Dita mengangguk.


Sepasang suami istri turun dari mini suv tersebut. Si pria berperawakan tinggi 180 cm tetapi tubuhnya kurus dan tegap. Rambut hitamnya cepak. Dia memakai baju kotak-kotak dan celana jeans. Sementara istrinya bertubuh sintal dengan tinggi 165 cm. Rambutnya panjang, hitam, dan bergelombang. Kulitnya kuning langsat tetapi pucat. Keduanya tersenyum pada Dita dan Tasya sebelum masuk ke dalam rumah.


...***...


"Dam, tolong buka pintu!" seru Dita yang sedang memasak untuk makan malam.


Adam yang sedang bermain jengga dengan hukuman menjenggut rambut di kepala bersama Tania itu akhirnya bangkit. 


"Syukurlah udahan. Habis tali pocong aku ditarik si Adam." Tania melenguh lalu bangkit ke arah dapur menggoda Dita.


Adam membuka pintu. Pria tinggi yang tadi tetangga barunya berdiri di hadapan pintu.


"Halo, saya tetangga baru kamu. Saya mau kunjungan sama istri saya sekalian berkenalan. Apa boleh?" tanyanya.


"Siapa yang datang, Dam?" tanya Dita muncul dari arah dapur.


"Tetangga baru kita katanya, Bun." Adam berseru.


"Suruh masuk aja, Dam!" titah Dita.


Namun, Tania malah menatap agak takut pada sang wanita tetangga baru itu.


"Halo, saya Joshua. Ini istri saya namanya Miyako," tukasnya memperkenalkan diri.


Dita mendekat dan melayangkan senyum. Dira yang mendengar ada yang berkunjung lantas menuruni anak tangga. Dia sempat bertatapan dengan Tania yang mengangkat bahunya tak tahu.


Tetangga tersebut berkunjung membawakan oleh-oleh khas dari Kota kelahirannya. Tetangga yang ada di seberang rumah itu memperkenalkan diri sebagai pasangan suami istri yang baru menikah tiga bulan yang lalu. Mereka bilang kalau mereka sempat tinggal di apartemen, tetapi sang istri memilih untuk pindah ke rumah cluster.


Dita meminta Dira untuk mengambilkan minum. Dita lalu mempersilakan para tamunya untuk masuk dan duduk. Adam lantas memperhatikan suami istri itu dengan saksama. Dira datang membawakan dua cangkir teh manis hangat.


Selama berbincang-bincang, Joshua meneguk secangkir teh manis hangat yang sudah disediakan di atas meja. Miyako juga buka suara. Dia merupakan wanita keturunan Jepang yang merantau ke kota Joshua sebelumnya. Setelah tiga bulan yang lalu dia menikah dengan Joshua lalu pindah karena suaminya itu dipindahtugaskan.


"Maaf, apa ibu sedang hamil?" tanya Dita karena melihat perut wanita itu agak buncit.


"Bukan, Bu. Saya punya penyakit yang harus segera di operasi," jawabnya.


"Oh, maaf kalau begitu bukan maksud saya–"


"Nggak apa-apa, Bu. Suami saya juga sudah mencari rumah sakit terbaik di sini," ujar Dini menutup cerita.


Keduanya lalu pamit. Dita mengantar mereka ke depan gerbang. Saat di depan gerbang, Joshua dan Miyako berpapasan dengan Bu RT yang tengah hamil besar.


"Ini sudah sembilan bulan, ya?" tanya Miyako.


"Iya, Bu Miyako. Hehehe, namanya kayak merek magic com saya, dah. Semoga Bu Miyako sama Pak Joshua betah tinggal di komplek ini, ya," tutur wanita berambut keriting itu.


"Pasti lucu, ya, bayinya. Seneng banget rasanya bisa punya anak." Miyako tersenyum menyeringai.


"Bukannya Bu Miyako lagi hamil?" tanya Bu RT.


"Bukan, Bu, ini tumor," sahut Joshua.


"Duh, maaf ya. Saya nggak tahu." Bu RT Maryam meminta maaf kemudian.


"Kamu mau cepet-cepet punya anak ya, Sayang?" tanya Joshua seraya menggenggam tangan istrinya.


"Ya, Sayang. Makanya aku mau cepet-cepet operasi," ucap Miyako mengangguk. 


Kedua suami istri itu lantas pamit menuju rumah Tasya. Namun, Miyako tetap saja menatap ke arah perut Bu Maryam.


Di rumah Dita.


"Dira kok kayaknya nggak suka sama cewek itu," ucap Dira.


"Sama, aku juga," sahut Tania.


"Nggak boleh bilang gitu main bilang nggak suka. Jangan suuzon gitu," tukas Dita.


"Tapi Dira ngerasa ada aura yang aneh sama cewek itu, Bunda," ucap Dira.


"Sama, aku juga," sahut Tania.


"Dari tadi ikutan Dira mulu, Luh! Ayo, main lagi!" ajak Adam menarik tali ikatan pocong Tania.


"Bundaaaaa, nih anaknya nakal!" seru Tania yang ditarik paksa oleh Adam.


"Adaaaam! Jangan nakal sama Tania!" seru Dita.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....