
Bab 72 Pocong Baper
Raja mendorong tembok kayu setelah seakan-akan mendapat sebuah bisikan misterius di dalam telinganya. Ia merasakan embusan angin dari bagian dalam di antara sela pada dinding kayu yang terjingkat.
"Siapa sih yang dari tadi manggil aku?" gumam Raja.
"Kalau manggilnya pakai nada tinggi, berarti si Bunda yang manggil elu. Kalau pakai bisik-bisik berarti setan," sahut Arya terkekeh.
"Rese luh, Kak!"
"Baru tau apa Kalau gue demen banget ngeresein luh, hehehe."
Arya dan Raja menoleh sesaat tembok dinding terdorong ke belakang oleh Anta. Mereka langsung tercekat melihat Dira yang terduduk tak sadarkan diri. Kedua tangan dan kaki diikat. Anta langsung menepuk pipi adiknya. Sementara Arya bergegas melepas ikatan Dira.
"Kak Anta," ucap Dira lirih.
"Iya, ini Kak Anta datang buat Dira." Anta lantas memeluk adiknya yang langsung menangis.
Dira pikir hidupnya akan berakhir malam itu. Kepalanya dipukul sampai dia tak sadarkan diri. Darah segar juga masih mengucur dari pergelangan tangannya tang disayat. James menggunakan darah itu untuk persembahan setelah tubuh Dira ternyata tak bisa dimasuki dan dijadikan media oleh Ratu Masako.
"Kak, tolongin Icha. Dia yang nolong Dira tapi dia dibawa paksa sama James," pinta Dira.
"Iya, nanti Kak Anta tolong. Sayang, kamu ambil mobil buruan buat bawa Dir ke rumah sakit. Anta udah coba neken luka ini. Dan Raja, lekas hubungi Bunda!" titah Anta.
Pintu ruangan mereka terbuka semakin lebar. Sosok Hanako muncul bersama James.
"Wah, sungguh reuni yang mengharukan," ucap Hanako.
"Heh, nenek lampir! Dia nongol lagi, gue pikir elu udah mati!" ketus Arya.
"Halo, Asahi Sayangku!" Hanako menyeringai menatap Arya.
"Nama gue Arya, bukan Asahi!" serunya.
"Kau tetap Asahi untukku. Susah payah mereka mencari kalian di Jepang, kini malah kalian hadir sendiri di hadapanku. Ide menggunakan adik kalian ini benar-benar hebat. Tapi sayangnya, adik kalian terlalu bodoh dan lemah!" Hanako tertawa.
"Heh, elu tuh yang bodoh! Dasar perempuan setan!" seru Anta.
Arya dan Raja sampai tak percaya mendengar Anta yang mulai bisa memaki.
"Anta, Anta, kau itu yang bodoh. Kau tak paham juga ya kalau sebenarnya tubuhmu yang paling dinantikan oleh sang ratu. Ditambah dengan kekuatan ibumu yang kami tunggu untuk melipat gandakan kekuatan sang ratu nantinya, hahahaha." Hanako terlihat puas setelah rencananya berhasil dan membawa keluarga Anta berkumpul untuk dimusnahkan.
Hanako lalu kembali tertawa dengan puasnya sampai Raja melempar bekas kasa bernoda darah yang berantakan di atas meja, menyimpan mulut Hanako.
"Fuah! Dasar kurang ajar!" pekik Hanako.
Raja dan Arya malah gantian puas menertawai Hanako.
"James, siapkan pasukan untuk menangkap mereka!" titah Hanako.
"Baik, Nyi Ratu." James segera memanggil beberapa anggota sekte untuk bersiap.
"Raja, kamu gendong Dira! Biar Kak Anta sama Arya yang menghadapi mereka!" seru Anta.
Sementara itu, Ratu Sanca mulai mengerti setelah dia dan Dita serta Anan dihalangi oleh sosok Mia yang mencoba menahan diri agar tidak dikendalikan oleh Yagi. kejadian tragis yang menimpa Mia telah terjadi. Dia jadi tahu jika suatu hari nanti akan ada sang ratu yang kembali ke tempat ini. Sosok yang dinantikan akan muncul membawa dengan seorang wanita yang akan menyerahkan semua kekuatannya untuk membangkitkan sang ratu kegelapan.
"Tolong bakar tubuhku," ucap Mia dengan lirih.
"Apa?" Dita menatap tak percaya.
"Jangan, Bunda!" Dira yang digendong oleh Raja berteriak dengan segenap sisa kekuatannya.
"Dira!" Anan langsung memeriksa kondisi putri bungsunya.
"Tapi, Nak, itu jalan satu-satunya agar dia bisa terbebas dari makhluk Yagi," ucap Dita.
"Dira, ini jalan satu-satunya. Mbak sangat tersiksa, Dira. Mbak mau bebas dari setan brengsek ini!" seru Mia.
"Tapi, Mbak Mia…."
"Tolong bantu Mbak kalau kamu memang berniat untuk membantuku. Cepat bakar aku sebelum Yagi benar-benar menguasai aku sepenuhnya. Aku sudah tak kuat lagi untuk menahannya," ucap Mia.
Anan menoleh pada Dita yang akhrinya mengangguk. Anan bangkit dan meminta Ratu Sanca untuk mengeluarkan api. Namun, sosok Yagi itu mulai muncul dan menyerang. Ratu Sanca lantas melawan makhluk tersebut.
"Cepat Anan, bakar dia!" Ratu Sanca memberikan percikan api di kayu kursi terbengkalai yang coba Anan patahkan.
Dita dan Raja membawa Dira menjauh. Gadis itu masih menjerit dan menangis kala melihat tubuh Mia akhirnya terbakar bersama sosok Yagi.
"Relakan dia, Ra. Itu yang terbaik buat Mbak Mia. Dia berhasil memilih untuk tetap mati menjadi manusia yang baik daripada menjadi pengikut iblis," ucap Dita.
Ratu Sanca menggiring tubuh Mia yang sudah terbakar ke sudut ruangan sampai jatuh ke anak tangga menuju ruang bawah tanah. Mengejutkan Anta dan Arya yang tengah berkelahi dengan Hanako.
"Di mana Anta?" tanya Anan.
"Lagi berantem sama Hanako bareng Kak Arya," sahut Raja.
"Sial, Yanda mau susul mereka." Dita menahan Anan.
"Bawa Dira dulu dan ambil mobil!" titah Dita.
Namun, terdengar suara klakson mobil di depan villa.
"Kayak suara klakson mobil Yanda," ucap Dita.
"Terus, siapa yang bawa mobil Yanda?" tanya Anan.
"ADAM!" pekik Dita dan Anan berbarengan.
Keduanya langsung bergegas menghampiri arah suara klakson mobil.
"Waduh, bisa gawat ini kalau Bunda tahu aku yang ngajarin Adam nyetir." Raja hendak menyusul tetapi ia terlupakan oleh Dira yang masih duduk lemah di lantai.
"Sorry, Ra, maaf ya Kak Raja sampe lupa hehehe."
Dira mengulurkan kedua tangannya pada Raja yang langsung menggendongnya. Keduanya menyusul Dita dan Anan kemudian.
"Kalian mau ke mana?" James menghadang bersama beberapa pengikut Hanako yang terlihat bagai mayat hidup itu. Mereka terhipnotis untuk mengikuti perintah Hanako.
"Siapa kamu? Minggir dari sini!" seru Anan.
"James, di mana Icha?" tanya Dira.
"Apa yang kamu katakan sampai Icha berani melawan, hah?!" pekik James.
"Kebenaran memang harus diungkap, James. Di mana Icha?!" Dira mulai berteriak sampai Raja tersentak karena teriakan adiknya sangat kencang di telinga kirinya.
"Aku memilih setia pada Nyi Ratu. Jadi, aku mengirimnya menyusul kedua orang tuanya, hahaha," sahut James.
Sontak saja Dira langsung menangis. Kini, Raja mengerti. Bisikan bisikan yang tadi menuntunnya adalah sosok arwahnya Icha. Tak bisa memunculkan diri tetapi bisikannya sampai ke telinga Raja. Pemuda itu meletakkan adiknya di kursi. Dia dan Anan hendak berkelahi dengan James dan yang lainnya. Dita menahan luka sayatan di tangan Dira lebih kuat. Meminta bantuan Ratu Sanca untuk menghentikan darahnya.
Tiba-tiba, Dita menemukan sebuah buku sketsa di lantai bawah lemari dekat dengan kursi Dira. Buku itu dekat di kaki Dita. Sepertinya, Icha yang sengaja ingin Dita mengetahui itu semua. Dita meraihnya saat Anan dan Raja semakin menyadari alasan mereka sengaja dibawa ke tempat ini. Bagai ketakutan yang datang terlambat menyelimuti tubuhnya yang mulai letih, Dita kini tak sanggup menatap sketsa gambar Ratu Masako mengenakan tudung berwarna hitam tengah berdiri di antara dua manusia yang saling menyatukan tubuh, seperti sedang bersenggama. Sosok itu akan datang mengendalikan Anta. Harusnya Anta jangan datang menyusul ke sana.
...*****...
...Bersambung dulu ya....